Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
Episode 6


__ADS_3

Matahari pagi yang sudah memancarkan cahayanya membuat Rara belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Alarm di ponsel miliknya mungkin sudah beberapa kali berbunyi tetap saja tidak dapat membangunkan Rara dari tidur nenyanknya.


“RARA.. BANGUN..” teriak mamanya yang mampu membuka mata Rara dengaan sejekap.


Rara melihat jam di dinding yang sudah jam 7 pagi. "Astaga gue kesiangan!", kata Rara sembari berlari menuju kamr mandinya yang tak jauh dari ranjang kamarnya.


Dengan kecepatan kilat, Rara mandi dan berdandan untuk berangkat kerja. Sebelum dia berangkat, dia mengecek kembali isi tasnya. “Kunci rumah, dompet, hmm udah semuanya, oia, handphone”,kata Rara.


***


Kalau tidak karena kecelakaan yang tadi di jalan yang dia lewati mungkin saja Rara tidak akan terlambat. Rara yang sudah sampai di kantor, dia melihat jam di tangannya yang sudah jam 09.00, dan tandanya dia sudah terlambat 1 jam.


Rara mengendap-ngendap dan melirik ruangan Tian, Rara mendaratkan bokongnya perlahan dan mengembuskan nafas panjang. Ia lega karena saat ini Tian dan Dimas tidak ada di ruangannya.


“Darimana aja kamu, jam segini baru masuk kantor?!” kata Tian yang membuat Rara terhenti untuk meminum air.


“Eh.. Pak Tian..” Pekik Rara.


“Maaf, Pak! Ee..ee..” ucap Rara terpotong-potong.


“Ee..ee.. apa?” kata Tian penuh penekanan.


“Tadi di jalan macet karena ada yang kecelakaan, ciyus deh, pak,” kata Rara dan langsung menundukkan wajahnya.


“Oh, Iya udah,” ujar Tian dengan tenang. Rara tidak percaya dengan apa yang di katakan bosnya itu. Karena biasanya jika Rara telat, Tian seperti akan mencari gara-gara pada Rara untuk berantem.


Wah, perasaan gue enggak enak nih, ucap Rara dalam hati


“Kamu ikut saya ke dalam,” suruh Tian.


‘kan...’kan... firasat gue bener, mana mungkin nih orang baek sama gue dalam satu malam, kata Rara dalam hati.


“Hari ini saya maafin kamu,tapi dengan satu syarat,” kata Tian sambil duduk di kursinya.


“Syarat,Pak?” tanya Rara.


“Nih, kamu liat ‘kan berkas yang banyak itu, bantu saya untuk mengecek semua itu karena besok akan saya pakai untuk rapat,” kata Tian sambil menunjukkan beberapa tumpukan kertas di meja sofa yang seakan memang akan dia berikan pada Rara.


Hal ini juga membenarkan dugaan Rara dengan sikap Tian yang baik padanya.


“Ha? Sebanyak itu pak?” Kata Rara yang membelakakan matanya.


“Hmm,” angguk Tian.


“Ingat, besok sudah harus selesai!” Perintah Tian lalu meninggalkan Rara sendiri di ruangan Tian.


Tak terasa jam sudah menunjukkan tengah malam dan Rara belum juga pulang dari kantor.


Kelopak mata Rara seakan tidak dapat di tahan untuk


***


Tok..tok..


“Pak, ini file-file yang Bapak minta” kata Rara sambil menyodorkan berkas.


Tian dan Rara mereka berdua hari ini cukup sibuk dengan proyek baru dari perusahaan, sedangkan Dimas hari ini dia sedang sibuk ke lapangan dimana proyek itu di kerjakan. Sampai-sampai Rara tidak sempat untuk makan siang


membuat dia menyesal tidak bisa menggunakan kupon gratis dari restaurant Gendut.

__ADS_1


Selama mereka duduk berdekatan sekali-kali mereka berdua mencuri pandang dan tidak di sadari satu sama lain. Mereka sibuk dengan aktivitasnya


masing-masing, tapi akhirnya Tian berdehem memecah keheningan diantara mereka


berdua.


“Ehem”


Tidak ada respon sedikit pun dari Rara.


“Ehem!”


Mendengar deheman Tian membuat Rara melihat sekilas dan kembali ke aktivitasnya.


“Lebih baik kamu istirahat dulu, kamu makan siang sana,”perintahnya.


Dengan perintah dari Tian, Raratanpa permisi dia langsung lari ke mejanya mengambil kupon makanan dan menuju pergi ke Restaurant yang tak jauh dari kantor.


Dengan kecepatan penuh, Rara langsung pergi karena kupon itu hanya dapat di gunakan saat makan siang dan sialnya lagi, batas waktu kupon itu berakhir hari ini.


Rara cukup menyesal tidak menggunakannya di hari-hari kemarin.


“Teh, ini kuponnya masih bisa kan, belom jam 1 ‘kan…” kata Olivia sedikit memelas.


“Tumben kamu jam segini baru nongol,” kata teteh Tuti pelayan restaurant itu.


“Iya, biasa lah Pak Bos,“ ungkapnya.


Dengan terburu-buru Rara makan yang seorang diri karena memang waktu sudah menunjukan waktunya kembali kerja.


Sepertinya siang ini Rara kesal karena dia tidak dapat menikmati makan siangnya dengan nyaman, padahal dia sangat menyukai ayam bakar di restaurant itu. Bahkan dia harus kembali ke kantor dalam keadaan tergesa-gesa.


Sampai di kantor kembali, Rara hendak naik lift di bersamaan dengan seorang pria yang seakan mengikuti Rara sedari dia masuk ke kantor yang membuat Rara sedikit aneh dengan tingkah lakunya. Karena dari awal masuk lift


“Hai, brother,” kata pria itu yang bernama Thomas


“Hy bro, gimana kabar lo? Akhirnya lo menetap juga di Jakarta, udah bosen dengan cewek-cewek Korea? Kata Tian.


“Ya, gimana nyokap suruh gue balik, moga aja disini ada yang bikin gue betah ya” sahut Thomas.


“Tian, siapa wanita cantik ini?” tanya Thomas.


“Siapa? Cewek ini? Dia sekretaris gue,” Tanya Tian.


“Sih, Dimas??”


“Tenang dia tetep jadi sekretaris utama gue kok, oia kamu kenalin ini pak Thomas dan Thomas perkenalkan dia Rara,”  kata Tian.


“Dia juga temen gue,” kata Tian menegaskan perkataannya dan Thomas mengangguk memahami maksud dari Tian.


“Ok, hai, Ra, senang berkenalan denganmu,” sembari tersenyum,Thomas menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Senang berkenalan dengan anda juga pak Thomas,” kata Rara menyodorkan tangannya juga, alih-alih berjabat tangan Thomas langsung memeluk Rara yang membuat Rara mematung.


Thomas melepaskan pelukannya dan terlihat Rara merona dengan perlakuan Thomas, tetapi berbeda dengan mereka, Tian melihat tak percaya dengan perlakuan sepupunya itu.


“Sorry, ini pelukan perkenalan.. teman Tian berarti teman gue juga, bukan begitu Bapak Tian,” katanya sambil mengedipkan matanya.


Lagi-lagi Rara terdiam dengan perlakuan Thomas.

__ADS_1


“Kata siapa?!” tanya Tian


“Kata gue barusan Tian,” jawab Thomas.


“Udah, ayok kita ngobrol di dalam,” Tian menarik tangan Thomas.


 “Udah puas dapat pelukannya? Sekarang kamu buatkan kami minuman!” perintahnya.


“Ha??  Baik Tuan Christian.”


Kata dan tindakan Rara berbeda, dia masih saja berdiam diri diantara mereka Bram dan Thomas.


Seketika Thomas merasakan aura gelap dari keduanya. Rara dan Tian saling memberikan tatapan mematikan yang membuat Thomas tersenyum.


Tiba-tiba Dimas yang baru datang pun merasakan aura gelap itu dan dia


mencoba menghapus aura itu dengan menyapa Thomas.


“Siang Pak Thomas, lama tak bertemu” sapa Dimas.


“Hai Dim, aah.. ayok kita ke dalam sepertinya di sini gue merasakan aura mistis yang mencekam .. bulu kudu gue tiba-tiba berdiri tuh,” ajak Thomas yang langsung membuka pintu ruangan Tian. Mengerti maksud


Thomas membuat Dimas yang hanya menganggung menyetujui ajakan Thomas.


“Kamu cantik, aku tidak akan menyerah,” kata Thomas yang lagi-lagi mengedipkan matanya dan masuk kedalam ruangan.


Olivia yang masih terpukau seakan terhipnotis dengan kata-kata serta perlakuan Thomas.


“Kamu cepetan buat minuman kenapa masih disini? Kamu suka dengannya?”


“ha? Maksudnya?”


“Sudah sana.”


Tak lama Rara mengetuk pintu sambil membawa 3 cangkir teh dan membawanya ke dalam. Dia membawa dan langsung meletakkannya di meja lalu keluar, mata Thomas tak henti menatap Rara di sisi lain Tian pun menatap Rara sampai Rara menghilang di balik pintu. Melihat kedua orang yang masih menatap pintu seakan dapat melihat apa yang dilakukaan Rara di balik pintu membuat Dimas berdehem sehingga kedua orang tersebut kembali kedalam dunia nyata.


“Tian, sih Rara sudah punya pacar belum?” bisik Thomas.


Mendengar itu Tian langsung menatap Thomas dengan tajam.


“Slow bro, gue cuman nanya,” jawab Thomas.


“Hmm mungkin gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama Rara,” katanya dengan senyum.


“Dasar gila!”


Akhirnya Thomas memberitahu tujuannya datang ke kantor Bram yaitu memberitahu bahwa adiknya akan segera menikah, mendengar itu Tiandan Dimas tak percaya karena adiknya Thomas yang bernama Tania yang super tomboy serta manja. Dia menikah membuat mereka tak percaya dengan apa yang Thomas bilang.


Mereka larut dalam obrolan mereka sampai akhirnya suara telepon dari ponsel Thomas dan mengharuskan Thomas untuk pulang karena dia harus mengantar mama dan adiknya berbelanja.


Tak seperti biasanya Bram mengantar Thomas sampai depan lift.


“Ga perlu sampe anter gue begini kali Ti, buat gue terhura aja..”


“Iya.. ya udah pulang sana,”suruh Tian.


“Eh, Rara mana?” tanya Thomas sambil celingak-celingkuk mncari keberadaan Rara yang tak berada di mejanya.


“Udah gak usah pamit-pamit segala,” Kata Bram dengan sedikit kesal.

__ADS_1


“Ya deh, ga usah cemburu gitu dong,” ledek Thomas.


***


__ADS_2