
"melamun apa" Alvin merangkul bahunya seolah mereka sangat akrab
"gak ada, tempatnya bagus" jawab sarah
"mau menginap disini?
"gila aja Al, gimana Hendra dan lainya Kalau mereka mau balik, kan mobil kita bawa"
"mungkin juga acaranya sudah selesai Bu, ada mobil aku di sana, Hendra pasti tau"
"sejak kapan kamu kenal dengan Hendra Al?"
"lumayan lama, Hendra sering main ke kampus aku"
"ah apa, kampus? UPS Alvin keceplosan
"maksudnya kita sering bertemu di caffe dekat kampus Bu"
"eemmm gitu"
"i i-ya, kita sering nongkrong bareng dan akhirnya memutuskan untuk membuka Kafe bareng di Jogja"
"kamu asli sini?"
" orang tua saya Bu, kalo saya di mana tempat nyaman di sana akan tinggal"
"jadi Surabaya tempat yang nyaman buat kamu"
"iya"
"kenapa? ada alasan yang istimewa?"
"iya, sangat istimewa" Alvin menatap Sarah dibawah lampu-lampu yang temaram, ingin rasanya dia membawa wanita dewasa itu kedalam pelukannya, tapi dia tau Sarah pasti akan menolak. "Bu Sarah jangan siksa aku dengan perasaan ini" batin Alvin
"Al, kok ngelamun, mikirin apa sih, pacar kamu yang di Surabaya ya" goda Sarah " dasar anak muda"
"tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya Bu, wanita itu ada disini"
"Oya, siapa, kenapa tidak di kenalin tadi di kafe"
"sudah Bu, tapi dia nolak aku mentah-mentah"
"maksudnya"
"iya, tadi sudah aku lamar dan aku ajak nikah tapi orangnya gak mau"
"maksudnya gimana sih Al" karena kesal akhirnya Alvin memeluk Sarah dari belakang, Sarah kaget namun hanya membeku
"wanita itu sekarang ada dalam pelukanku Bu Sarah, dia yang begitu istimewa sampai-sampai aku tidak bisa pergi dari Surabaya"
"Al lepas, banyak yang lihat"
"Bu Sarah jawab dulu pertanyaan ku"
"apa itu"
"mau menikah dengan ku"
__ADS_1
"Al lepas, sudah mulai ngaco ya, kamu Mabuk"
" Bu Sarah jangan mengelak lagi dengan pertanyaan ku"
"Al lepas ah, mulai gak lucu kamu"
"saya bukan badut Bu Sarah, saya Alvin, laki-laki yang menyukai gurunya"
"Al ..."
"Bu Sarah tau gak" Sarah pun menggeleng " aku suka sama ibu itu lebih dari setahun yang lalu, saat pandangan pertama di toko buku saat hujan, lalu aku memutuskan untuk menjadi murid Bu Sarah"
dengan bercerita Alvin menenggelamkan wajahnya di leher Sarah
" sejak Bu Sarah masih jalan sama pak Dimas dan akhirnya Bu Sarah memilih pak Arvan" ada terasa basah di leher Sarah, apa Alvin menangis
"Al, ...."
"Bu Sarah Taukan bagaimana rasanya menyukai seseorang sendirian tanpa orang itu tau"
"Al tidak harus begini"
"bu Sarah, tolong pertimbangkan perasaanku sekali saja, beri aku kesempatan untuk membuktikan nya" kini Sarah sudah menghadap Alvin , menatap mata lelaki belia itu yang entah bagaimana dia bisa jatuh cinta pada dirinya.
"Al, kenapa harus aku, aku sudah tidak muda lagi"
"karena itu Bu Sarah, jadi aku menyukainya, tidak wanita lain"
"Al, bukan aku yang harus mempertimbangkan kamu, kamu yang harus mempertimbangkan perasaan kamu sendiri, pikir lagi kenapa harus aku"
"Al..."
"beri aku kesempatan Bu Sarah , aku akan tunjukan aku sungguh-sungguh dengan ucapan ku" Sarah hanya tersenyum getir melihat kesungguhan Alvin, seandainya itu Arvan dia pasti akan sangat bahagia.
"aku percaya Al, tapi itu tidak mungkin"
"apa yang tidak mungkin, apa Bu Sarah sangat mencintai pak Arvan"
"bukan begitu Al, banyak yang harus di pertimbangkan jika kita menjalin hubungan"
"apapun itu akan aku hadapi asal Bu Sarah memberi aku kesempatan"
"tidak Al, ini sama sekali gak lucu"
"Bu Saraaaahhh aahhhrr" Alvin meremas rambutnya karena putus asa, tidak dapat meyakinkan perasaanya pada wanita pujaan hatinya.
"kita balik aja ya Al" bujuk Sarah namun Alvin tidak bergeming, Sarah meninggalkan nya Alvin di sana dia menuju tempat Diaman dia memesan makanan dan minuman tadi. Sarah membiarkan Alvin memikirkan semua ucapan ya tanpa dia di sana.
*****
tepat jam dua malam, Sarah belum pulang, Hendra mencoba menghubungi namun sepertinya handphone Sarah mati. dia mencoba menghubungi Alvin Sama saja, nihil.
"mbak Sarah kemana sih" rasa frustasi seorang adik yang kehilangan kakak perempuannya.
"sabar hen, kamu istirahat aja dulu, kalau sama Alvin mbak Sarah pasti aman" Yuda mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"tapi tetap aja aku kuatir yud, kalo mbak Sarah kenapa-kenapa gimana coba, awas aja si Alvin akan ku hajar dia kalau dia datang" umpatnya
__ADS_1
"duh sabar dong, Alvin pasti menjaga mbak Sarah, berani apa bocah tengil itu"
"dia bukan bocah lagi yud, dia sudah seumuran kita, wajahnya aja yang imut"
"hahaha...bisa aja kamu, udah istirahat nanti juga pasti pulang"
Ting - handphone Hendra bergetar tertulis Arvan
"ada apa lagi sih nih orang"
"iya mas" jawab Hendra
"hend dimana Sarah, kenapa tidak bisa di hubungi" tanya Arvan dengan nada kuatir
"ada mas, mbak Sarah lagi tidur" bohong Hendra
"mas dimana". lanjut hendra
"aku di Jogja hen, baru sampai seharusnya sudah tadi siang sampai nya, tapi ada urusan jadi terlambat"
"mbak Sarah tau mas mau ke Jogja"
"tau, tapi ......"
"mbak Sarah marah??"
"emmm iya"
"sekarang mas jujur sama Hendra ada apa sebenarnya, sebelum mas ketemu mbak Sarah tolong jelaskan dulu"
"gawat kalo Hendra sudah bicara" batin Arvan
"gimana mas, jangan bikin mbak saya terus-terusan kecewa mas, kalian sudah tidak muda lagi, gak seharusnya seperti ini"
"oke hend aku akan jelaskan ke kamu, tapi bisa bertemu Sarah dulu"
"gak bisa, saya yang menentukan mas boleh ketemu mbak Sarah atau tidak"
"duh bakalan ribet kalau berurusan dengan Hendra" pikir Arvan
" oke hen kapan bisa ketemu,"
"besok pagi saja mas, saya mau istirahat dulu, besok aku kabarin dimana kita ketemuan"
Hendra menghela napas berat setelah menutup handphonenya.
"mbak kamu dimana" gerutu Hendra sendiri
.
.
.
bersambung
"
__ADS_1