
Hari ini Arvan dan Sarah memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena banyak pekerjaan Arvan yang tertunda akhir-akhir ini, seringnya Arvan absen dari kantor jadi semua yang handel pekerjaan nya adalah Rico.
" Van, serius nih aku tanya?" Sarah membuka percakapan.
"Heem"
" Kamu kemaren sering keluar kemana aja sih?"
"Cuma ngopi sayang, dan itu pun di kafenya Hendra" jawab Arvan. "Kamu curiga sama aku?" Lanjutnya.
"Enggak " jawab Sarah dengan membuang muka.
"Aku gak akan macem-macem Sarah oke!" Sarah cuma mengangguk tanpa melihat sumber suara. Walaupun dirinya masih sangat kesal dengan suaminya yang mulai main rahasia-rahasiaan.
*FLASBACK OFF"
"Jika aku pergi apakah kamu akan mau memenuhi satu permintaan ku?" tanya Arvan tiba-tiba.
"Kamu kenapa Van? abis minum Baygon? " goda Sarah.
"Sayang, aku bertanya serius"
"Kamu kenapa sih?Aneh tau.
"Seandainya aku pergi apakah kamu menikah lagi?"
"Van jangan ngomong yang aneh-aneh ih, ngeri tau" ucap Sarah kesal karena ucapan Arvan, pikiran nya jadi kemana-mana." Kamu gak akan kemana-mana, kita akan membesarkan Arsa bersama Van, kamu sudah janji sama aku." ucapan Sarah di tanggapi dengan pelukan erat oleh Arvan.
"Maaf tidak seharusnya aku berkata seperti itu "
__ADS_1
.
.
.
"Aku ingin kamu menikah dengan Alvin" ucap Arvan tiba-tiba waktu makan malam bersama keluarga besarnya. Tidak ada komentar dari siapapun, mereka hanya menatap Arvan dengan tatapan tidak percaya.
"Aku ingin kamu Sarah Amalia menikah dengan Alvin" suara Arvan terdengar tegas namun bergetar. dia tau dia ingin Sarah bahagia, ada yang menjaganya jika kelak dia akan meninggal, namun dia juga tidak rela jika meninggal kan Sarah kesepian, karena itu dia mengharap ada seorang pria yang mencintai Sarah lebih darinya yaitu Alvin orangnya. dia orang yang tepat untuk menjaga Sarah selanjutnya.
"Daddy, kita bahas nanti ya, sekarang kita makan dulu" suara Sarah tenang tapi terdengar sedih.
"Aku ingin mengatakan ini disini, di depan kalian semua. Aku merelakan istriku Sarah Amalia menikah dengan Alvin Agustama setelah aku meninggal nanti".
"Van, cukup sudah aku sudah tidak tahan lagi. Maaf mam, ibu, Sarah duluan". Sarah meninggalkan meja makan dengan perasaan kesal, bagaimana bisa Arvan mengatakan seperti itu. "dia anggap aku apa coba " monolog Sarah sambil menyeka air matanya. dan menjatuhkan tubuhnya di kasur yang empuk.
"Mommy...." suara Arsa memaksanya bangun.
"Mommy jangan sedih ya."
"Kenapa mommy harus sedih sayang, kalo mommy punya Arsa bersama mommy."
"Mommy jangan marah pada Daddy" Sarah tidak membalas perkataan anak semata wayangnya itu, dia hanya mengelus kepalanya dan membawa di dadanya.
"Mommy, jangan menangis" Sarah tersenyum lalu memandang jagoannya itu.
"Ini mommy tersenyum, jadi Arsa tidak perlu khawatir lagi sama mommy, Oke. Ayo Arsa janji sama mommy? Arsa mengangguk dan mengulurkan jari kelingking nya pada Sarah.
"Janji."
__ADS_1
.
.
.
"Mengapa kamu memintaku menikah dengan orang lain sedangkan kamu baik-baik saja dan berdiri didepan ku, Hah" Amarah Sarah kini mulai memuncak. "dari semalam aku mencoba mencerna perkataan mu, tapi aku tidak menemukan pencerahan sama sekali" kini Sarah tergugu di pinggir ranjang membelakangi Arvan.
"Aku hidup tidak akan lama lagi sayang, aku ingin ada yang menjagamu saat aku tiada" jelas Arvan yang juga membelakangi istri nya.
"Tidak masuk akal sama sekali, apa otakmu sudah bergeser sehingga kamu mengatakan hal demikian"
"Aku tidak ingin melihatmu kesepian Sarah"
"Aku punya Arsa, tidak mungkin aku kesepian"
"Aku mohon"
"Bukankah kita hidup harus bahagia? Tapi kenapa kamu menempatkan kita di jurang seperti ini?" apa kamu bahagia bersama ku? ucap Sarah yang kini terisak.
"Aku pun tidak ingin seperti ini, tapi ini harus aku lakukan demi dirimu dan Arsa"
"Kalau tidak mau kenapa kamu lakukan, seharusnya kita berbahagia sampai akhir, tapi kamu ...." Sarah tidak dapat melanjutkan kalimatnya yang kini tangisannya kembali pecah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung