
Sudah dua hari Sarah dan lainnya menginap di rumah ibu Fatimah, rencana besok pagi mereka akan bertolak ke malang tanah kelahiran Arvan dan Sarah. Malam ini mereka asik barbeque di halaman belakang rumah itu, rumah yang sederhana namun sangat nyaman.
Sebenarnya Hendra meminta untuk merubuhkan bangunan itu kemudian membangun ulang namun ibu Fatma menolah karena itu rumah memiliki kenangan yang sangat banyak. kenangan di mana mereka harus melarikan diri dari kejaran Arvan saat Sarah telah di khianati walau itu hanya jebakan dari teman Hendra, dimana mereka bertiga berusaha mati-matian untuk saling melindungi, saat itu Hendra masih baru masuk sekolah menengah atas, dimana mereka saling bahu membahu untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibu Fatma menjual kue yang di titip-titipkan di toko-toko di bantu hendra, Sarah kuliah di sambi kerja part time di berbagai sekolah maupun Minimart dan setelah selesai kuliah dia di terima di sekolah ternama di kota itu, semua kenangan sangat berkesan untk ibu Fatma ingat.
Akhir ya Hendra hanya merenovasi tanpa merubah bentuk. Setelah Sarah keluar dari rumah itu mereka pun tetap bertiga karena di gantikan oleh Silvia istri Hendra.
"Lho Al kemana aja Kowe kok baru muncul?" tanya Hendra saat melihat Alvin di ambang pintu " ayo sini gabung!" Ajaknya.
"Sudah kemarin lusa cuma ada beberapa urusan jadi baru sempat datang." jawab Alvin sambil bergabung namun dia tidak bergabung dengan Sarah dan Arvan dia lebih menyapa pada ibu Fatma dan mertua Sarah.
"Baru muncul nak Alvin?" tanya ibu Fatma. " Alvin mendekat dan bersalaman layaknya anak dan ibu pada Bu Fatma. "katanya baru pulang ke Jogja, gimana kabar bapakmu?"
"Alhamdulillah sehat Bu, ibu gimana, sehat? di Jakarta beberapa bulan Alvin juga kangen sama ibu." jawab Alvin dengan logat jawanya.
__ADS_1
"La kowe ke Jakarta enggak mau singgah Lo di rumah Arvan." jawab bu Fatma walau sebenarnya dia tau duduk permasalahannya. "ya sudah sana gabung sama yang lain, biar ibu-ibu di sini nunggu yang di masak Mateng." Usir Bu Fatma agar mereka berkumpul.
Sarah hanya terdiam saat Alvin mendekati mereka, berbeda dengan Arvan yang seperti nya antusias menyambut calon ayah dari Arsa anaknya.
"Sini Al, kita ngopi bareng." panggil Arvan.
"Ah iya pak," dan Alvin pun mendekat kemudian di tuangkan kopi oleh Silvia.
Obrolan mereka berlanjut, hingga larut malam. dan kini hanya menyisakan pria-pria dewasa yang masih setia dengan kopi dan sedikit sisa barbeque mereka.
"pak Arvan yakin dengan keputusan nya?"
"Kalau saya tidak yakin saya tidak akan mengatakan ini tiga tahun yang lalu al."
__ADS_1
"Tugas tahun yang lalu itu sangat lama pak, kenapa tidak berobat dulu waktu itu?"
"Tidak bisa, karena memang sudah stadium Akhir, jika pun saya berobat belum tentu bisa sembuh, dan itu akan mempersingkat waktu saya dengan Sarah." jawab Arvan dengan tatapan kosong.
"Saya akan mengikuti apa yang anggap baik untuk Bu Sarah, dan itu akan memenuhi permintaan terakhir bapak pada saya." jawab Alvin. Arvan tersenyum dan menepuk pundak pria itu.
"Terimakasih, saya yakin keputusan saya sudah tepat."
Dibalik pintu ada Sarah yang mencuri dengar pembicaraan Arvan dan Alvin hanya meneteskan air mata, bagaimana bisa suaminya bisa melakukan ini padanya. Sedangkan dari jarak yang tidak jauh ada Hendra yang memandang sedih kakaknya, namun dia tidak bisa berbuat apapun. "semoga saja keputusan mas Arvan tidak salah" gumam Hendra dan kembali masuk ke kamar menyusul istrinya yang sudah tertidur pulas.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰