Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
epi 64


__ADS_3

"Kamu akan sampai kapan disini sih Al, dari pagi sekarang sudah siang, aku tidak enak dengan yang lain." Keluh Nika saat Alvin tidak pergi dari toko


"Jangan hiraukan aku nika, kerja saja dengan benar"


"Memangnya kamu ada rencana apa nanti sore?"


"Aku ada janji dinner dengan rekan ku, kamu mau menemani ku?"


"Tidak ada hubungannya denganku, jadi jangan libatkan aku dengan urusanmu."


"Hai...aku hanya mengajakmu dinner bersama rekan ku bukan memperkenalkan sebagai istriku," namun kalimat itu membuat Nika sangat marah.


"Siapa yang mau jadi istri mu, jika sikapnya dingin dan kasar seperti ini."


"Baiklah aku kembali ke hotel, aku jemput nanti pulang kerja, jam lima kan?" tanpa persetujuan Nika Alvin pun berlalu meninggalkan toko itu, padahal dia masih berharap dapat melihat Sarah di tempat itu.


"Kamu...." kesal sekali Nika dibuatnya. Tapi mau tidak mau dia hanya ikut Alvin nanti malam, kini Nika hanya melihat punggung tegak pria itu, pria yang dia harap dapat menjadi pendampingnya kelak, namun itu tidak mungkin, pria itu sudah mengakhiri hubungan mereka.


"Huh..dasar aneh, siapa yang mau jadi istri mu!" Ujar Nika kesal sendiri mengingat kalimat Alvin


"Kamu kenapa? pacarmu sudah pulang?" tanya Mery mengagetkan Nika.


"Dia bukan pacarku"


"Tapi aku lihat kamu menyukai nya"


"Tapi dia tidak menyukai ku.." keluh Nika pada Mery dengan menundukkan kepala.


"Bukan jodoh, ada cowok lain yang memperhatikan mu" Mery menunjuk lelaki di seberang jalan, ya ada Gio, barista handal kafe depan toko, dia beberapa kali mengajak Nika dinner namun Nika selalu menolak karena dia masih memiliki Alvin.


"Tapi aku tidak menyukainya..," jelas Nika.


"Apa kamu menyukai Alvin?"


"Dia tidak!" jawab Nika dengan suara lirih.


"Kalau begitu coba saja terima ajakannya," Mery mencoba memberi Sarah sahabatnya


"Ah kamu Mer" Nika kembali dengan aktivitas nya.


* Di kediaman Sarah*


"Bagaimana penampilanku?" tanya Arvan pada Sarah "


"It's oke." Jawab Sarah dengan memperhatikan suaminya dengan seksama. " Siapa yang akan kamu temui honey?"tanya Sarah


"Teman lama, aku harap kamu menyukai nya"


"Apa pendapat ku penting disini?"

__ADS_1


"Jelas sangat penting! dan aku harap kamu tidak marah.." ucap Arvan lalu memeluk erat istrinya.


"Jangan berfikir yang macam-macam, aku tidak menyukai itu"


"Tidak, hanya satu macam saja, yaitu mencintaimu." Jawaban Arvan membuat Sarah bahagia juga sedih, karena sikap Arvan yang berbeda, berbeda bukan tidak cinta, tapi ada sesuatu yang di sembunyikan, walau Sarah sudah mengetahui nya.


"Ayo kita berangkat" Arvan kembali menggandeng tangan Sarah.


"Mam, dimana Arsa? tanya Sarah pada mertuanya.


"Sedang bersama Bu Fatma, " jawab Mama Santi.


"Kami akan keluar Titip Arsa Mam, mungkin kami akan lama" Pamit Arvan.


"Jangan kuatir kan Arsa, dia akan baik-baik saja " jawab Mama Santi menenangkan anak dan menantunya.


"Baiklah Mam, kami pergi" Arvan dan Sarah pun keluar rumah dan mengendarai mobil mewahnya.


Ditempat lain


"Sudah siap?" tanya Alvin pada Nika.


"Kamu kenapa memaksa ku sih Al, dulu waktu menjadi kekasih mu aku tidak pernah kamu kenalkan pada teman mu?" namun Alvin tidak menjawab.


Mereka mengendarai mobil Alvin membelah jalanan ibukota yang padat.


Tepat di restoran Italia, begitu mewahnya restoran ini, sehingga Sarah tak pernah bosan mengagumi tempat ini.


Sarah tersipu malu mendengar ucapan suaminya, "Aku menyukai tempat ini, selalu saja ada yang baru di tempat ini." ucap Sarah


"Tuan Arvan, nyonya," sapa salah satu pramusaji dan menunjukan tempat duduk mereka. "Silahkan tuan, nyonya, disini meja anda"


"Terimakasih " ucap Arvan dingin seperti biasa. Berbeda dengan Sarah yang ramah.


"Mau pesan sekarang tuan?" tanya pramusaji kembali.


"Saya masih menunggu kolega, jika siap akan saya panggil" jawab Arvan


"Baik" pramusaji pun mundur teratur


Sarah asik melihat-lihat menu yang terpajang di sana. Berfikir menu apa yang iya inginkan.


Beberapa saat kemudian


"Selamat malam Pak Arvan, Apa kabar?" tanya Alvin yang sudah mendekat dan berjabat tangan.


Nika kaget melihat Alvin berjabat tangan dengan pak Arvan, karena Pak Arvan adalah salah satu pengusaha yang handal di bidangnya, di sana duduk ibu Sarah istrinya yaitu bosnya Nika.


Nika bingung harus bagaimana, Alvin tidak menjelaskan akan bertemu siapa dan dimana. Dan dia sekarang hanya memakai pakaian seadanya,

__ADS_1


Sarah meletakan buku menu dan akan menjabat kolega suaminya itu, namun setelah melihat siapa dia, Sarah menjadi ragu.


"Sayang masih ingat Alvin, siswa mu dulu?" tanya Arvan ringan walau sebenarnya dia berat untuk melakukan hal ini, dan dia tau istrinya pun tidak akan menyukai nya.


"Em... Hay Al, apa kabar?" Sarah mengulurkan tangannya, dan tersenyum.


"Tuhan senyum itu sangat memabukkan ku" teriakan hati Alvin. Alvin tidak langsung menjabat, dia masih terpesona dengan kecantikan wanita bersuami di depannya itu.


"Al.." Nika menyenggol Alvin agar menjabat tangan Bu Sarah. "Tidak heran jika Alvin bersikap demikian, Bu Sarah memang luar biasa, dia dapat berdandan menyesuaikan tempat, dia begitu cantik, Nika pun kagum dan juga iri padanya, luar biasa" batin Nika


"Apa dia kekasihmu?" tanya Arvan menunjuk Nika.


"Dia hanya teman pak!" jawab Alvin singkat


"Apa kamu tidak mengenalinya honey, dia Nika pegawai di toko" jelas Sarah karena dilihat Nika sangat canggung. "Duduklah Nika," Sarah menarik tangan Nika dan duduk di sampingnya.


"Kenapa suaminya mengajak Alvin untuk bertemu, bahkan waktu dulu Arvan sempat cemburu pada Alvin" batin Sarah berkecamuk memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Arvan.


"Baiklah kalian mau pesan apa?" tanya Arvan memecah keheningan. Lalu Arvan memanggil pramusaji dan di berikan nya beberapa lembar menu. selain yang sudah di pegang oleh Sarah.


Mereka asik melihat-lihat menu mana yang akan mereka pesan. Karena tidak paham Nika hendak bertanya pada Alvin namun di urungkan. Alvin menatap Sarah secara inten di balik lembar menu itu.


"Apa dia istri orang yang sering dia sebut? tapi sepertinya tidak mungkin" pikir Nika.


"Apa yang kamu pilih Nika?" Pertanyaan Sarah membubarkan lamunan Nika juga yang lainnya.


"Saya tidak tau Bu," jujur Nika.


"Baiklah biar aku yang pesan kan! mbak.." Sarah memanggil pramusaji.


"Baik nyonya" pramusaji mendekat dan siap dengan kertas dan pena ditangannya.


"Kami pesan, Carbonara, Ossobuco, honey mau pesan apa?"


" Beri aku Steak Fiorentina juga Tiramisu, kamu Al? lanjut Arvan


"Disamakan saja pak"


"Tambahkan juga Torrone, Granita, Orange Juice, thaitea juga Vanilla latte dingin"


"Saya ulangi nyonya"


"Tidak perlu, langsung saja bawakan apa yang kamu tulis " jawab Sarah ringan dengan tersenyum, lagi-lagi Alvin memperhatikannya. Sudah lama sekali dia tidak melihat senyuman yang menentramkan itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2