Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
Episode 3


__ADS_3

“Wanita tadi itu siapa?” tanya Tian pada Dimas yang membuat Dimas menghentikan langkahnya yang hendak meninggalkan ruangan Tian.


“Wanita?” tanya heran Dimas.


“Wanita yang di lobi,” ucap Tian.


“Oh, kalau yang bapak maksud wanita yang menyapa kita tadi, dia Rara,” terang Dimas.


“Dia baru 3 bulan di sini, sebelumnya dia menjadi sekretaris Pak Bima dari hotel


kita cabang kita yang ada di Jakarta Barat,” kata Dimas lagi.


Di lain tempat, Rara yang  berada di dalam perjalanan mengumpat dirinya sendiri.


Kok dia bisa ke kantor gue? Kok bisa sih ketemu dia lagi? Kok dia bisa kenal sama mas Dimas? Sejak kapan Dimas kenal Tian? Astaga.. begitu banyak pertanyaan di dalam otak Rara yang tanpa Rara sadari ternyata taksi online yang dia tumpangi sudah sampai di restaurant yang dituju.


“Udah lama nunggu?” tanya Rara.


“Gak juga, aku udah pesen makanan kesukaan kamu,” kata Reza.


Di kantor, Tian memikirkan siapa yang baru saja dia temui, perempuan yang tidak pernah dia lupakan. Rara yang dia temui adalah Rara dewasa walau wajah manisnya masih terlihat dan rambutnya yang sekarang panjang terurai menambah cantik di tambah dia kini sudah berani memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Sejak kapan dia berani berpakaian seperti itu?


“Dimas, masuk keruanganku,” perintah Tian dari telepon.


Tok..tok...  suara ketukan pintu yang di ketuk oleh Dimas.


“Aku mau kamu selidiki Rara, apakah Rara terlibat dalam kasus korupsi itu,” ujar Tian dengan nada dingin.


“Kami sudah menginvestigasi dan Rara tidak terlibat dalam kasus korupsi tersebut,” jelas Dimas.


“Tidak, Selidiki kembali! Tidak mungkin dia tidak terlibat dan mana mungkin sekretarisnya tidak tahu apa-apa, pokoknya selidiki kembali!” perintah Tian dengan tegas membuat Dimas yang mendengarnya terhenyak sesaat.


Tian mengingat kalau Rara baru saja mentransfer dirinya senilai 50 juta, dia menduga kalau duit itu adalah duit hasil dia membantu Pak Bima dalam korupsi.


Semua bukti yang ada menunjukkan kalau Rara memang tidak bersalah. Walaupun aku dan Rara sepupu, tetapi jika Rara terlibat otomatis aku tidak akan membelanya, pikir Dimas dalam hati.


Di lain tempat, kini Rara sedang menuju kembali ke kantor yang di antar oleh Reza. Di dalam perjalanan, Rara berharap kalau dia tidak akan bertemu kembali dengan Tian di kantor itu.


Tanpa di ketahui Rara, Tian adalah anak dari pemilik dari hotel dimana saat Rara bekerja.


Sampai di kantor, Rara yang hendak menuju lift terhenti saat namanya terpanggil, saat Rara menengok, ternyata Inka sahabatnya di kantor.


“Eh.. Eh, Ra, sudah liat sih anak bos belum?” tanya Inka.


“Astaga gue lupa, ia-ia dia kayak mana? Bener-bener kayak Goo Jun Pyo?” tanya Rara.


“hampir miriplah, yang jelas sih gantengan Goo Jun Pyo,” Ucap Inka.


“Emang lue belum ngeliat?” tanya Inka yang di jawab gelengan kepala oleh Rara.


“Kemana aja, semua orang udah ngebahas dia?” kata Inka menambahkan.


Pembicaraan mereka terhenti saat dua orang pria yang berjalan keluar lift. Seorang pria yang membuat para karyawan menatap terpesona oleh Tian. Siapa sih yang tidak terpesona dengan lelaki yang bahkan dapat membuat iri lelaki lain dengan proporsi tubuh yang bagus, tinggi  sempurna. Lelaki yang mampu membuat banyak wanita jatuh ke pelukannya karena ketampanan dan kekayaan yang dia miliki.


Berbeda dengan yang lain, Rara yang kembali melihat Tian walau Tian tidak melihatnya membuat Rara sepertinya ingin menghilangkan tubuhnya dan pergi ke planet Mars agar da tidak kembali bertemu dengan pria itu.


“Itu dia,” ucap bisik Inka.


“Siapa?” tanya Rara.


“Sih Goo Jun Pyo,” ucap Inka.


“Ooo,” kata Rara.


Tidak buruk, ujar Rara dalam hati.


***


Rara menaiki lift lantai 9 tempat dimana Presdir Hotel AW bekerja. Rara membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh anak dari Pak Adam.


Rara cukup terpanah dengan interior dari lantai bigbosnya ini bekerja.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Lisa sekretaris Pak Adam.


Rara melirik name tag wanita itu dan tersenyum,” Iya, Lis, aku di suruh Pak Andi membawa berkas untuk di tandantangani oleh Pak Adam,” ucap Rara.

__ADS_1


Lisa mengangguk,” tunggu sebentar,” ucapnya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari sang Presdir melalui telepon, akhirnya Rara di perbolehkan masuk ke ruangannya.


Rara yang di antar oleh Lisa ke ruangan Presdir. Dari belakang Rara melihat Lisa  dari atas kepala hingga kaki, Rara menyadari kalau Lisa wanita dewasa yang nyaris sempurna, dengan tinggi dan wajahnya yang cantik. Pantas saja Pak Adam memilih dia menjadi sekretarisnya, begitulah ungkapan Rara dalam hatinya.


“Terima kasih,” kata Rara saat pintu ruangan Presdir Lisa bukakan.


Rara menatap punggung pria yang ada di depannya.dengan badan yang tegap, sangat pas dengan setelan jas yang dia kenakan.


“Permisi,” kata Rara yang terucap pertama kali.


Dan begitu pria itu balik badan. “Kau,” ucap Rara tak percaya.


Tunggu..tunggu.. kok dia? Bukannya anaknya Pak Adam yang sebelahan sama mas Dimas tadi?, kata Rara dalam hati.


Pria itu menatap Rara tenang. Meskipun dia sangat terkejut.


“Silakan duduk,” katanya dengan tidak mengurangi kesopanan.


Masih dengan rasa kaget tak percaya, Rara segera duduk.


“Kamu Clara Anastasia, dari Hotel cabang kita yang di Jakarta Barat?” Pria itu membuka suara terlebih dahulu.


Rara menelan ludah,  perkataan pria yang ada di depannya itu sedikit membuat Rara takut, “I..iya,” Jawab Rara.


Pria itu membolak-balik berkas di tangannya, berkas itu adalah semua data Rara yang dia dapatkan dari asistennya Dimas.


“Aku belum memperkenalkan diriku secara resmi. Aku,” Christian Adam Williams, putra Adam William sekaligus CEO dari hotel ini,”  sebuah kata perkenalan dari Christian.  Suara yang tenang dan sedikit angkuh yang terdengar, dia menatap lurus Rara.


Rara yang di tatap oleh Tian membuat nyali Rara menciut, dia teringat tatapan tajam yang pernah Rara terima dari Tian sewaktu dahulu.


Rara menggeleng. Rara hanya bisa mengumpat di dalam hati. Dia tidak mengerti dengan apa yang sedang di rencanakan Tuhan untuknya. Jika tahu kalau putra dari pemilik hotel ini adalah Christian, mungkin ide untuk pindah ke hotel pusat tidak akan di setujui oleh Rara. Dia akan memilih untuk menandatangani surat pengunduran diri ketimbang surah pindah tugas.


Ternyata tidak ada yang lebih baik antara Pak Bima atau pria yang kini ada di depannya ini. “Jadi, kamu anak dari Pak Adam, CEO hotel ini?” Rara memastikan.


Tian menaikkan satu alisnya,” Apa kamu tidak tahu? W itu adalah William? serta A itu dari Alfred, kakekku. Dan tentu aku adalah CEO dari hotel ini sekarang,” ucap Tian. Tian merasa lucu dengan sebuah pertanyaan dari Rara. Tian heran, bagaimana bisa Rara tidak tahu kalau hotel ini milik keluarga Tian. Padahal seluruh negeri tidak ada wanita yang tidak mengenalnya.


“Apa kamu tinggal di tengah hutan selama ini?” tanya Tian.


“Hah?” Rara melotot.


“Jadi kini kamu seorang sekretaris?” tanya Tian.


“Apa aku harus mengatakan identitasku pada semua orang?” tanya Rara balik.


“Sudah, mana berkas yang harus aku tanda tangani?” tanya Tian menyudahi perdebatan antara mereka.


Setelah semua berkas di tanda tangani oleh Tian, Rara pamit dan meninggalkan ruangan Tian.


Saat Rara sudah sampai di ruangannya, tiba-tiba ada sebuah pengumuman kalau malam ini akan di adakan pesta penyambutan untuk Tian.


Mendengarnya, Rara sama sekali tidak tertarik dengan hal itu, bahkan dia berniat untuk tidak hadir ke acara penyambutan Tian. Bagi Rara, dia datang ke acara itu sama saja dia datang ke penyambutan singa di tengah hutan.


***


Di rumah, Rara yang berniat hendak tidur, tiba-tiba... “ RARA” Teriak Inka yang memasuki kamar Rara.


“Kok, lue pakaian begitu?” tanyanya


“Terus gue harus gimana?” tanya Rara kembali.


“’Loh, ‘kan, kita mau datang ke penyambut sih pewaris tahta, sih Goo jun pyo itu,”


kata Inka.


“Ih, males akh, mending gue tidur,” kata Rara yang terdengar malas.


“Enggak.. enggak bisa, udah pake ini,” kata Inka yang sudah melempar gaun malam ke kasur.


Karena Inka yang merenggek meminta Rara untuk ikut, membuat Rara mau tak mau menuruti sahabatnya ini.


Sampai disana,” wah, meriah banget,” ujar Rara takjub.


Ya, iyalah Rara, masa iya acaranya seadanya, secara dia ‘kan pewaris takhta, ujar dalam hati Rara.


Rara mencoba melihat keberadaan Tian di tempat itu dan saat apa yang dicari sudah ketemu, Rara dengan tersenyum sinis saat melihat pandangan yang terlihat oleh matanya.

__ADS_1


“Ini pesta penyambutan atau jumpa fans?” gerutu Rara.


Dari tempat duduknya, Rara memperhatikan Tian yang tersenyum ramah dengan para wanita yang ada di sekitarnya, hal ini yang membuat Rara emosi, karena sikapnya sangat berbeda jauh saat dia bertemu dengannya.


“Ra, nggak ke sana?” tanya Dimas.


“Kemana?” tanya Rara.


“Itu,kayak cewek-cewek itu,” ucap Dimas.


“Ikh, nggak akh, kasihan Pak Tiannya, ga liat tuh Pak Tian udah ga bisa nafas dikerubungi cewek-cewek, udah kayak  sampah di kerubungi lalat,” ucap Rara.


“Huss! Ngawur lu, awas di denger fansnya,” ucap Dimas berbisik.


“Wah iya juga, nti gue di bully. Daripada di sana mending gue ke sana ‘tuh, cacing-cacing di perut gue udah minta asupan makanan ” ucap Rara sambil menunjuk arah yang dia maksud.


“Astaga, Rara, minum obat cacing dong,” ucap Dimas yang membuat keduanya tertawa.


“Ya udah yuk, gue temenin, gue enggak mau kalau nanti ada berita kalau seorang karyawati cantik mati kelaparan di acara penyambutan anak pemilik Hotel AW,” kata Dimas yang langsung mendorong tubuh Rara ke arah tempat


makanan.


“Makan yang banyak Ra, jangan lupa di bungku buat orang rumah, anggep oleh-oleh,” ucap Dimas.


“Lah, iya juga, kenapa tadi gue enggak bawa Tupperware, ya?” bisik Rara.


Di seberang sana, Tian yang tadinya tersenyum tiba-tiba terlihat muram. Matanya tak henti memperhatikan interaksi antara Rara dan Dimas. Membuat Tian mendengus dalam hati. Semakin lama Tian memperhatikan hal itu membuat Tian benar-benar muak dengannya.


Saat hendak pulang selesai acara, Tian kembali dilihatkan pandangan yang sangat akrab antara asistennya dan sahabatnya itu.


Di dalam kamarnya, pemandangan antara Rara dan Dimas berhasil membuat Tian tidak dapat tidur dengan nyenyak, dia mengingat bagaimana Rara yang tertawa lepas dengan Dimas, tanpa disadari Tian, ternyata Tian merindukan senyuman sahabatnya itu.


Karena Tian tidak bisa tidur, dia memutuskan untuk mengambil minum dan meneguknya. Dan seketika dia menyadari kata-kata Dimas yang dengan kekehnya menjelaskan kalau Rara tidak terlibat dalam kasus korupsi yang tengah dialami atasan Rara dan juga Tian menduga kalau Rara dan Dimas memiliki hubungan special seperti pacaran atau mungkin suami istri.


Semakin memikirkan semuanya itu membuat Tian emosi, kenangan masa lalu antar Tian dan Rara terlintas di pikirannya, kenangan dimana Rara menjadi penyebab hubungan kisah cintanya dengan Jessica putus.


Tiba-tiba, Tian memiliki rencana balas dendam dengan cara membuat hubungan antara Rara dan Dimas putus dan rencana itu harus berhasil sama seperti halnya Rara yang berhasil membuat hubungan dirinya dan Jessica putus.


***


Pagi ini, Rara yang sengaja berangkat lebih pagi agar tidak bertemu dengan Tian atau setidaknya berpapasan dengan Tian. Dan alhasil, di ruangannya Rara hanya seorang diri.


Rara sampai membawa bekal dari rumah hanya untuk menghindari sahabatnya sekaligus bosnya itu. Entah apa yang di pikirkan oleh Rara sampai dia melakukan hal itu.


Rara menyantap bekal sarapan nasi goreng buatan mamanya sambi menonton drama Korea “Decendant of The Sun” dari laptop miliknya.


“Wooy, Ra, ada angin apa lu dateng pagi-pagi?” tanya Inka yang tidak diketahui kapan datangnya.


“Angin tornado,” ucap asal Rara.


“temenin gue makan yuk,” pinta Inka.


“Lu enggak liat kalau gue barusan selesai makan,” kata Rara.


“’Kan, gue minta temenin bukan ngajak lu makan,” ucap bela Inka.


“Ayok.. yah..yah..,” ucap Inka dengan memelas.


“Iya, iya, ayok,” kata Rara.


“Ayok, Rara cepetan” ucap Inka.


Lift yang menuju lantai 1 akhrinya terbuka, tiba-tiba orang yang dihindari Rara muncul dari pintu lift membuat Rara tersentak dengan apa yang di depannya. Rara terkejut seperti melihat hantu. Tak hanya Rara, Tian pun membelalakkan matanya melihat Rara yang ada di depannya.


“Loh, Ra, tumben udah dateng  jam segini,” ucap Dimas, yang membuat Tian tersentak dengan apa yang di dengar.


“Iya, Pak Dimas,” ucap Rara,


“Udah sarapan?” tanya Dimas.


“Ga usah kawatir Pak Dimas, Rara udah makan nasi goreng buanyak, sekarang dia mau temenin saya ke kantin,” kata Inka.


“Kamu deket banget sama wanita yang bernama Rara itu,” kata Tian memecah keheningan antara Tian dan Dimas di dalam lift.


“Kamu suka sama wanita itu?” tanya Tian.


Dimas yang terkejut dengan pertanyaan itu,” siapa yang tidak suka dengan wanita cantik seperti dia, pak,” ucap Dimas.

__ADS_1


Dimas sadar apa yang di maksud oleh atasannya itu, sama seperti yang lain, banyak yang salah menduga hubungan antara Dimas dan Rara. Yang mengetahui bahwa Dimas dan Rara adalah saudara hanya Inka, dan itu pun tanpa di sengaja saat Inka yang sedang berkunjung ke rumah Rara, terdapat Dimas yang tengah menginap di rumah itu. Awalnya Inka menduga kalau Rara dan Dimas adalah suami istri.


***


__ADS_2