
“Halo,” ucap Rara yang masih terkantuk.
“Cepat kamu turun, saya sudah di bawa!” suruh Tian yang sudah menunggu di depan rumahnya.
“Hmm,” jawab Rara seraya badannya yaang kini sudah terbangun.
Dengan terduduk Rara berusaha menyempurnakan kesadarannya. Saat Rara yang sudah benar-benar tersadar, dia melihat jam di ponselnyaa dan ternyata itu masih jam setegah 5 pagi.
Rara yang membulatkan matanya melihat layar ponselnya,”Nih, orang bener-bener deh,” gerutu Rara.
Kring...kring... suara ponsel Rara yang terus berbunyi karena Rara yang tak kujung juga keluar rumahnya.
“Iya, pak, sabar,” gerutu Rara melalui telepon.
Masih dengan pakaian tidurnya, Rara dengan berat hati meninggalkan ranjangnya untuk pergi keluar kamar.
***
Rasanya mata Rara benar-benar belum ikhlas untuk membuka, Rara yang kini sudah duduk di kursi penumpang dan Tian sudah melajukan mobilnya. Tiba-tiba mata yang sudah terbuka semakin lama semakin tertutup dan Rara tertidur pulas, dia tidak peduli dengaan ocehan yang akan di terima oleh Tian terhadap dirinya.
Mobil yang di kendarai Tian sudah sampai di parkiran basemant apartemennya.
Tiiiinnn.... suara klakson mobil yang Tian bunyikan mampu membangunkan Rara dengan terkaget.
“Udah puas tidurnya? Ayok keluar!” suruhnya.
Dengan setengah sadar, Rara keluar dan mengikuti Tian sampai ke apartemennya.
“Sana, masak!” suruhnya.
Di sana sudah semua bahan-bahan yang Rara butuhkan untuk dia membuat sayur lodeh, butuh waktu 30 menit Rara memasak sayur lodeh. Belum juga Rara memanggil Tian, wangi sayur yang telah matang mampu mengintrupsi Tian memasuki dapur.
Dengan inisiatif dirinya sendiri, Tian mengambil nasinya sendiri ke piring untuk dia makan. Tian yang tengah makan, sedangkan Rara melanjutkan tidurnya yang terganggu karena orang yang saat ini sedang makan dengan lahapnya di meja makan.
Entah Rara yang semalam tidur kemalaman atau bagaimana, Rara benar-benar merasakan kantuk yang sangat amat dalam, bahkan Rara masih dapat tertidur dengan pulas saat Tian menghantarkan Rara kembaali ke rumahnya.
“Dasar kebo,” umpat Tian yang melihat Rara masih dapat tertidur dengan nyamannya.
***
“Ra, tolong kamu ke ruangan saya,” pinta Tian.
“kamu.. cepet..cepet sini.. aku butuh bantuan kamu,” kata Tian dengan sangat cemas.
“Kenapa, pak?” tanya Rara yang ikut terlihat cemas.
“Kamu tahu kan berkas yang kemarin kita kerjakan itu?” tanya Tian dengan wajah cemas.
“Iya, tahu,kenapa?”
“Saya lupa taruhnya dimana,” jawab Tian.
“Astaga! TIAN!! Kok bisa lupa sih taruhnya dimana!” Nada Rara dengan sedikit tinggi.
“Udah, enggak usah ngomel, sekarang bantuin saya untuk cari kertas itu,” gerutu Tian.
“Waktu itu bapak taroh di mana berkasnya?” keluh Rara yang sudah lelah mencari seisi ruangan.
“Kalau enggak salah, aku simpen di laci itu,” ucap Tian sambil menujuk lemari.
“APA? Kok kalau enggak salah sih?” gerutu Rara.
“Seriusan? Kalau enggak ketemu gimana?” tanya Rara dengan putus asa.
“Ya, kalau kamu enggak ketemu, ya kamu buat lagi,” jawab Tian dengan santai.
Dengan mencoba mengatur emosinya, Rara mencoba mencari dengan sangat teliti di setiap tempat.
“Nah, ketemu!” seru Rara saat berkas yang dia cari telah di temukan.
“Nah, benarkan ada di situ,” jawab Tian.
“Gimana sih, lain kali yang benar taronya,” gerutu Rara.
“’Kan, aku sudah bilang kalau di lemari situ,” gerutu Tian.
“Kalau di situ kenapa tadi bapak cari enggak ketemu?”emosi Rara.
“Mana ku tahu,” jawan Tian dengan santai.
“Ya, udah kamu boleh pulang!” suruh Tian.
“Ha? Udah gitu doang?” tanya Rara.
“Terima kasih, ya, Ra,” sindir Rara.
“Makasih, Ra. Puas?!” kata Tian.
“Ya, walau enggak iklas, tapi saya puas kok,” kata Rara dengan senyum lalu pergi.
“Oh, iya, apa kamu sibuk?” tanya Tian yang mampu menghentikan langkah Rara.
“Tidak,” ucap Rara.
“Bagus, kebetulan, ayok,” kata Tian menarik tangan Rara.
Rara di ajak Tian ke sebuah supermarket dan,”buatkan aku ayam goreng,” kata Tian.
“Ha?!”
__ADS_1
“Udah, ayok,” katanya.
Dari belakang, Rara seakan mau memukul Tian. Nyebelin.
Tian yang dengan setia mendorong troli belanjaan mengikuti kemanapun Rara pergi.
“Kamu sering masakin Dimas, enggak?” tanya Tian.
“Kak Dimas?” tanya Rara yang menengok menantap Tian.
“Hmm”
“Enggak,”
“Oh, iya, Kak Dimas bukan pacarku. Dia sepupuku,” kata Rara sambil melangkahkan kakinya.
Dengan terdiam,” Jadi kamu sepupuan sama Dimas,” kata Tian dengan tersenyum. “Tunggu, jadi kamu
keponakan Pak Andi.” yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Rara.
***
Sampai di rumah, Tian memperhatian Rara dan akhirnya Tian masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah
kaos dan celana pendek yang di rasa cukup untuk Rara. Tian keluar kamarnya dan langsung memberikannya,” ganti dengan ini,” suruh Tian. Dan benar dugaan Tian pakaiannya dan celananya cukup walau tidak terlihat kebesaran.
Rara memulai aktifitasnya di dapur milik Tian,” sebenarnya kerjaan gue apa sih?” dumelan Rara yang sudah beberapa hari ini menjadi juru masak untuk Tian.
“Aaaaaaa” teriak Rara yang membuat Tian lari menghampirinya.
“Hey, hey, Ada apa? Kenapa teriak?” teriak Tian yang terkejut karena saat ini Rara memluknya.
“I...itu..” kata Rara sambil menunjuk ke lantai.
“Apa?!” tanya Tian dengan kesal.
“Kecoa,” teriak Rara.
Tian mengela
nafas,” Astaga! Aku pikir kamu terkena pisau,” ujarnya.
“Singkiran makhluk terkutuk itu!” teriaknya.
“Bagaimana aku bisa menyingkirkannya kalau kamu memelukku dengan sangat erat?”. Mendengar ucapan Tian,Rara yang langsung melepaskannya,”maaf.”
“Ini?” katanya sambil menyodorkan kecoa yang sudah dia bunuh kepada Rara.
“TIAN”
Tian yang tertawa sambil mencuci tangannya.”Sudah, dia sudah mati,” kata Tian yang menenangkan Rara.
“Kenapa? Kamu masih mau memeluk tubuhku yang indah ini?” tanya Tian mengejek.
“HYAK”
“Mau nonton,” ucapnya lagi dengan santai.
“Bagaimana kalau para sahabat-sahabat kecoa itu datang untuk melayat?” kata Rara dengan sedikit takut.
“Lalu kamu mau aku bagaimana?” tanya Tian.
“Duduk saja di sana,”ucap Rara sambil menunjuk ke kursi meja makan.
Tian menatap Rara, Rara yang merasa di tatap, Rara menatap Tian lagi dengan bingung. “Apa?” tanya Rara dengan sedikit sewot.
“Apa kamu menyuruhku duduk hanya sebagai alasan?” tanya Tian dengan berbisik.
“Maksudmu?” tanya Rara.
Rara dan Tian bertatapan, lalu Rara yang mengikuti arah mata Tian yang menatap tangan mereka yang masih bergandengan. Tepatnya Rara yang menggengam tangan Tian dengan sangat erat. Melihat hal itu, Rara buru-buru melepaskan tanganya dari tangan Tian.
“Sudah, masak sana, aku sudah sangat lapar,” ucap Tian yang sekaran berjalan duduk di kursi meja.
Beberapa menit kemudian.. sebuah aroma khas ayam goreng sudah sangat tercium menandakan ayam goreng sudah matang dan sudah siap untuk di hidangkan.
“Ini dia,” seru Rara lalu menaruh ayam goreng yang sudah di piring ke atas meja makan.
“Nasinya?” tanya Tian yang sudah tidak sabar menyantap ayam goreng yang sangat menggugah seleranya.
“Oh,iya, tunggu,” ucap Rara yang langsung mengambil 2 piring nasi untuk di hidangkan.
“PAK TIAN” teriak Rara saat Tian yang mencoba mematahkan sayap ayam.
“Baiklah-baiklah,” katanya dengan cemberut.
“Aku enggak makan sampai sebanyak itu,” kata Tian.
“Yang bilang untuk bapak semua siapa? Aku juga mau makan,” gerutunya.
“Oh, iya, kalau hanya kita berdua ga usah pake paak,” jelasnya.
“Lalu?”
“Tian, cukup dengan Tian,” jawab Tian.
“Oke.”
“Jadi, kamu bukan pacarnya Dimas. lalu pria yang waktu itu pasti pacarnya,” ucap Tian dengan suara pelan.
__ADS_1
“Kamu ngomong apa?”
“Enggak,” jawab Tian dengan menggelengkan kepalanya.
“Sudah makan,” ucap Tian.
Kini, mereka berdua tengah asyik makan ayam goreng tanpa ada lagi pembahasan di antara mereka berdua.
“Paak,” panggil Rara yang di jawab tatapan tajam oleh Tian.
“Ah, Tian, apa Kulitmu tidak kamu makan?” tanya Rara yang di jawab dengan tatapan takut oleh Tian.
“Kulitku?” tanya Tian dengan mengerutkan dahinya.
“Maksudnya kulit ayam,”
“Ini?” Tian yang mengangkat Kulit ayam yang dia memang pisahkan.
Rara yang mengangguk dengan sangat senangnya.
“Enak aja,” kata Tian dengan menaruh lagi kulit ayam di piringnya.
“Pelit!” gerutu Rara.
“Emang!” balas Tian membuat Rara mendengus kesal.
Rara yang tidak mau memperpanjang keributan akhirnya dia mengalah. Dan mereka melanjutkan makanan tanpa adanya lagi keributan.
Setelah selesai makan, Rara membawa piring bekas makan mereka dan hendak mencuci semua peralatan masak yang dia gunakan.
“Mau ngapain, Ra?” tanya Tian.
“Menurutmu?” cibir Rara lalu dia melanjutkan aktifitas mencuci piring.
“Mau di bantu?” tanya Tian.
“Hmm.. emang bisa?” tanya Rara menyindir.
“Awas, kamu duduk disana, aku yang cuci piringnya,” Tian yang menggeser tubuh Rara sedikit menjauh dari wastafel.
“Gini-gini aku bisa menjadi calon suami yang baik, tau,” jawab Tian dengan sombong.
“Iya..iya.. percaya,deh.”
Rara bertopang dagu dengan memperhatikan pria yang di depannya yang sangat telaten membersihkan setiap perabotan dapur. Akhirnya mengakui apa yang pria itu katakan padanya.
“Iya, saya tahu, saya gantengnya pake banget jadi, enggak usah sampe terpesona gitu juga, nih baru mencuci piring bukan yang lain,” kata Tian berhasil menyadarkan Rara.
“Dih, ge-ger.”
“Ra.” Panggil Tian.
“Apa?” jawabnya.
“Mau langsung pulang?” tanya Tian yang menghampirinya.
“Iya, tapi saya mau ganti baju dulu. Nti orang rumah bingung lagi aku pake pakean kayak gini,” kata Rara.
“Pinjem kamarnya ya, pak,” kata Rara yang langsung meninggalkan Tian.
“Ayok,” kata Rara yang sudah rapih dengan pakaian kantornya.
“Ra,”panggil Tian kembali.
“Hpnya,” kata Tian.
“Oh, iya, lupa,” kata Rara sambil mencabut ponselnya dari cas-an yang ada di dekat televisi.
“Dasar pikun!” celetuk Tian sambil tertawa renyah.
“Apa katamu?” tanya Rara dengan mendengus kesal.
“Enggak, tes kuping. Wah, ternyata kamu selain pikun, tapi juga sedikit budeg ya,” sindir Tian.
“Hu-uh, bisa enggak sih, sehari enggak ngeselin?” kata Rara dengan kesal.
“Aku ngeselin? Masa cowok ganteng kayak aku gini ngeselin?”
“Ra,” panggil Tian.
“Ra,” panggil Tian lagi.
“Rara,” panggil Tian kembali.
“Apa ‘sih?” Rara yang menengok kebelakang menjawabnya dengan kesal.
“Tes kuping,” jawab Tian dengan santai sambil tertawa.
“Mau nganterin, enggak?!”
“Iya..iya,” kata Tian yang mengikuti Rara.
“Ini buka pintunya,gimana?!”
BERSAMBUNG ^^
***
Jangan lupa likenya ya gais..
__ADS_1
Thanks dari Autor ^^