
"Sejak kapan kamu di Jakarta Al?" tanya Sarah membuka percakapan.
"Beberapa hari yang lalu Bu, bagaimana kabar ibu, lama tidak bertemu?" jawab Alvin panjang.
"Kami baik, bagaimana kalian bisa bertemu?tanya Sarah pada Alvin dan Arvan.
"Sejak 2 Tahun yang lalu sayang, Alvin ke Jakarta dan kami tidak sengaja bertemu." jawab Arvan dengan tenang, karena tidak seperti itu kejadiannya.
"Kok aku tidak tau honey, ada apa rupanya?"
"Aku lupa memberi tau mu sayang..."
"Bagaimana dengan mu Nika, apakah yang di Toko kemarin adalah Alvin?"
"Emm iya Bu benar."
"Kenapa kamu tidak menyapa ku?"
"Saya..."
"Sudahlah makanan sudah datang sebaiknya makan dulu" sela Arvan saat Alvin akan melanjutkan kalimatnya.
Sarah pun tidak membantah, mereka dengan hikmat menikmati makanannya. Namun tidak dengan Alvin, dia selalu mencuri pandang mantan gurunya itu. pemandangan itu tidak luput dari pandangan Nika dan Arvan.
Makan malam hari ini selesai, karena Arvan kurang fit maka pulang terlebih dahulu, namun Alvin juga mengikuti mereka.
__ADS_1
"Kami pulang dulu Al, kalo kalian mau lanjut silahkan" Arvan pamit ada pemuda pemuja istrinya itu.
"Kami juga sebaiknya pulang pak arvan, Bu Sarah, karena ada yang harus saya kerjakan di Jogja."
"Kenapa terburu-buru, nikmati dulu Jakarta bersama Nika! bukan begitu Nika?" goda Arvan, walau Arvan tau jelas jawabnya.
Alvin hanya tersenyum kaku dengan tanggapan Arvan. Karena makan malam ini sudah di rencanakan oleh Arvan dan Alvin.
Mereka berpisah di lobby, mobil hitam metalik menghampiri mereka, Sarah masuk terlebih dahulu dan di susul Arvan.
"Kami duluan Al, sebaiknya kamu singgah ke rumah, berkenalan dengan Arsa anak kami." Jelas Arvan di dalam mobil.
Alvin tersenyum "Mungkin lain kali pak, jaga kesehatan anda."
"Al, Nika saya duluan ya, kalian hati-hati." Ucap Sarah dan melambaikan tangan kepada mereka berdua.
"Honey, boleh kah aku bertanya?" Sarah membuka percakapan mereka.
"Apa itu sayang?"
"Ada apa Antara kamu dan Alvin?Aku tidak tau kalian dekat?
"Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya bertemu dengannya dan mengajak makan bersama, itu saja. Jelas Arvan. "Apa kamu mencurigai ku?" Arvan menatap Sarah.
"Tidak hanya heran saja, namun jika ada permainan diantara kalian berdua jangan libatkan aku maupun Nika " jelas Sarah dan itu membuat Arvan kuatir.
__ADS_1
"Sayang tidak ada yang seperti itu dengan kami."
"kalian laki-laki memang tidak bisa di tebak." Sarah pun mengalihkan pandangannya ke arah jalanan dan Arvan memeluk nya dari belakang " Aku mencintai mu."
Sesak rasa hati Arvan, dengan kondisi nya yang sangat tidak dia inginkan. "Bagaimana bisa aku meninggalkan mu Sarah?" batin Arvan. " Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kebersamaan kita sangat singkat?"
" Honey, Kamu tidak kenapa?"
"Tidak ada." jawabnya singkat dan mempererat pelukannya. Ada yang aneh yang di rasakan oleh Sarah namun dia tidak tau itu apa.
.
.
"Al, jangan libatkan aku dalam permainan mu!" Ucap Nika tegas di depan Alvin. " Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak suka jika aku terlibat dengan Bu Sarah ataupun pak Arvan."
"Tenang kan dirimu Nika, Aku tidak melibatkan mu apapun dalam hidupku, jadi jangan Ge'er duluan."
Ucapan Alvin sangat membuat Nika murka, akhirnya dia keluar dari mobil Alvin dan menutup nya dengan kasar. dan berlari di seberang jalan untuk menghentikan taksi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Happy Reading