Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
epi 40


__ADS_3

benar saja, akhirnya Sarah menerima permintaan Arvan untuk menikah.


"ya ampun Lia... beneran kan ini Lia" mami Arvan antusias saat mereka bertemu


"iya mami, ini Lia" mami Arvan memeluk erat tubuh Sarah, karena memang mami Arvan sangat menyayangi Sarah


"kamu kemana saja nak, tahu nggak Arvan kaya orang gila nyariin kamu di malang"


"iya mi, maaf " Sarah menunduk merasa bersalah.


"tapi itu sudah berlalu, sekarang kalian sudah bertemu lagi, mami seneng banget"


"makasih mi" Sarah di tinggal sendiri dengan maminya sedangkan dia sendiri berada di ruang kerja papinya dan disana Arvan sudah di tunggu.


"apa-apaan kamu Van, kan sudah aku bilang kamu akan menikah dengan Livi tapi mengapa malah dia kamu bawa kemari?"Andin mempertanyakan kehadiran Sarah di rumah besar mereka.


"lalu bagaimana pendapat papi" Arvan kini berbalik menghadap papinya


"benar kata kakakmu Van, para kolega kita sudah mengetahui berita itu dari media, jangan sampai itu memberikan citra buruk bagi perusahaan."


"Pi, aku akan menikah dengan Sarah, bukan dengan Livi"


"soal artikel itu Arvan akan urus" Arvan menarik napas berat" hidup Arvan sudah sepenuhnya untuk kalian, kali ini saja aku ingin memutuskan pilihan ku sendiri" ucapnya lesu

__ADS_1


"tindakan apa yang akan kamu ambil?apa dengan menikahi wanita itu urusanmu selesai?"


"setidaknya Arvan pernah sekali mengambil keputusan sesuai keinginan Arvan Pi"jelas Arvan


"terserah kamu saja, yang penting keputusan my tidak merugikan perusahaan" papi Arvan mengalah


"Pi, nggak bisa begitu" Andin masih belum mau mengalah.


"nanti papi cari jalan keluar untuk keluarga Livi" jawab papi tegas. entah itu benar akan menyelesaikan masalah atau hanya untuk menutupi rasa kuatir Andin.


*****


malam ini semua keluarga Arvan datang ke rumah Sarah untuk melamar, hanya Andin yang tidak kelihatan. ibu Fatma sangat bahagia karena akhirnya anaknya lepas dari rasa trauma karena cintanya.


Arvan menyematkan cincin berlian pada jemari Sarah, dengan senyum bahagia mereka saling berpandangan. tidak ada yang tidak bahagian malam ini, termasuk maminya Arvan yang memang sejak dulu sangat menyukai Sarah. ada Nisa yang juga sudah sangat akrab dengan Sarah juga Arvan.


"selamat sayang semoga lancar hingga akad pernikahan nanti" mami Arvan memeluk Sarah erat-erat di lanjutkan dengan pelukan ibu Fatma dan keluarga lainnya memberi ucapan selamat.


"jadi Daddy akan punya istri apa Nisa harus panggi momi?"tawapun pecah di tengah-tengah acara.


Namun tidak dengan Alvin dia hanya menyaksikan momen bahagia itu dari kejauhan dengan hati yang hancur. bagaimana tidak wanita pujaannya setelah sekian lama tapi ... ah sudahlah kalian semua tau bagaimana ceritanya.


Alvin mengutuk dirinya sendiri di kamarnya. kenapa Sarah tidak menjadi jodohnya, dia pun berandai-andai seandainya saja di lahir lebih dulu mungkin Sarah akan mempertimbangkan keberadaan nya, andai saja dia mengenal Sarah terlebih dahulu atau Sarah tidak mengenal Arvan atau apalah yang bisa membuat mereka berjodoh. aarrggg......Alvin mengumpat dan marah di dalam kamar apartemennya, di kamar lain ada Bara yang menyaksikannya sahabat nya terluka hingga meneteskan air mata. Alvin meraung kesakitan, menangis dan teriak, dia sudah tidak dapat mengontrol emosinya. semua barang yang ada di dekatnya di hambur di lempar dan di tendangnya. hatinya terasa teriris-iris. kelelahan membuat tubuhnya menggigil disudut ruangan yang gelap, dia merintih Tah henti-hentinya menyebut nama Sarah.

__ADS_1


Sungguh luka ini sangat dalam terasa. bagaimana bisa dia terluka sedalam ini, bagaimana bisa hatinya terpaut pada Sarah yang jelas dia lebih berumur darinya, bagaimana bisa dan bagaimana bisa itu yang tanam dalam benaknya. "Bu Sarah, tidak adakah kesempatan untukku untuk mencintai mu, aku tak sanggup melihatmu dengan yang yang lain" napas Alvin mulai sesak diapun tertidur di sudut ruangan itu


****


pagi ini Bara mencoba membuka kamar Alvin dan benar saja, kamarnya sudah hancur seperti kapal kalah perang. Bara melihat sahabatnya masih meringkuk di sudut ruangan namun tidak tega membangunkan nya.


Bara membereskan kamar itu dengan sangat pelan agar Alvin tidak terbangun.


"Bara.... kenapa bisa begini" suara berat Alvin membuat bara menoleh dan mendekati sahabatnya itu dan duduk disampingnya


"dia bukan jodohmu Al, kamu harus bisa terima itu"


"aku mencoba terima Bar tapi di sini sakit" Alvin memegang dadanya dan mencengkeram nya untuk menahan sakit.


"aku tau, dan kamu tidak boleh terpuruk seperti ini, kamu bisa Al" Bara mencoba menyemangati sahabatnya itu


.


.


.


happy reading

__ADS_1


__ADS_2