
"Dimasssss" kesal rasanya Arvan pada Dimas , tapi tak apalah lagian biar ada teman, kalo memang harus bersaing untuk mendapatkan sarah maka harus sportif. dan Arvan pun melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
****
"Dika lepas, apa mau kamu? lepasin gak??" Sarah berusaha melepaskan diri dari cengkraman dika yang sudah mulai gelap mata.
"Aku gak akan lepasin kamu sebelum aku dapat yang aku mau Sarah" suara bengis dika membuat Sarah merinding, mengingat kejadian dua tahun lalu. berontak Sarah tidak berarti karena dika terlalu kuat untuk dilawan.
"Dika lepas, jangan ulangi kesalahan yang akan bikin kamu menyesal Dika, aku mohon lepaskan aku Dika"
"Kamu gak berhak menilai aku menyesal atau tidak Sarah, aku cuma mau apa yang belum aku dapatkan" sarah menunduk dan memejamkan mata karena ketakutan, saat wajah dika mulai mendekat dan...
Brrruuggh.
Sarah masih terdiam membeku melihat Dika jatuh terpental di tanah. Arvan mendekat dan memeluk sarah, dia masih shock dengan apa yang terjadi. Arvan mengendong Sarah membawa ke kamarnya yang sudah berubah di VVIP.
Arvan meletakan tubuh Sarah di ranjang uang berukuran size king dengan ornamen yang mewah. Arvan dengan sabar membawakan air Sarah agar dia tenang dan menyelimuti tubuhnya. "jangan lupa bawa dia ke penjara dan pastikan dia tidak bekerja di tempat yang sama lagi dengan Sarah". Arvan berbicara dengan orang di sebrang dengan geram.
"Sarah, Sarah, Sarah gak papa pak arv6an?" tanya Siska yang panik saat melihat Sarah sudah terkulai lemas di balik selimut.
"Bu Sarah baik-baik saja, sekarang masih shock biarkan dia istirahat dulu saya akan menjaganya" ucap Arvan dengan melepas jaket bermerk nya. Siska bingung, harus berkata apa, karena sarah itu temanya sedangkan arvan? dia hanya orang tua wali, seharusnya yang lebih ber hak siapa sih disini? namun arvan tidak peduli dengan kebingungan siska dan menyuruhnya keluar.
"Mas Dimas dari mana aja sih, bu sarah kasian tuh" tegur siska pada dimas yang baru datang dengan ter gopoh-gopoh .
"Sarah dimana sekarang bu Siska??" tanya dimas dengan mengatur nafasnya.
"Tuh di kamar VVIP no 13" jawab Siska dan meninggalkan Dimas.
"VVIP?"
"Bu Siska maksudnya gimana ya??" katanya Sarah sekamar sama bu siska kenapa sekarang ada di VVIP?"
"Enggak tau mas, mas Dimas cek aja sendiri" dan Siska pun berlalu dari hadapan Dimas.
Dimas berjalan menuju kamar yang di sebutkan siska dan mengetuk pintu. pintu terbuka dan
"Pak arvan, katanya disini kamar dek Sarah, tapi kok yang muncul anda"
"mau apa kamu disini?"
"Mana dek Sarah"
"Tidur"
"Saya akan menjaganya pak, bapak boleh pulang, dan terimakasih sudah menjaga dek Sarah"
ucap Dimas dan nyelonong masuk kamar.
__ADS_1
"Maafin mas dek, gak bisa jaga kamu"
"Lebih baik kamu keluar dimas, sebelum saya marah" usir Arvan pada Dimas.
"Bapak saja yang keluar, saya yabg akan jaga dek Sarah"
"Dimas, ini perintah saya" ucapnya tegas serasa mengancam, namun Dimas tidak takut dengan tatapan itu, entah keberanian dari mana dimas menjawab Arvan.
"Bapak yang keluar atau kita berdua tetap disini" Arvan pun kalah dibuatnya, pantas saja dulu dia dibuat taruhan oleh teman-temannya, apa dia sebodoh itu. arvan pun memilih pilihan yang kedua yabg di ajukan Dimas,
Sudah jam 6 pagi, Sarah membuka matanya dengan berat, sepertinya dia kemaren melalui hal yabg buruk. ah Arvan, dimana dia??
pluk
"Aduh" rintih Sarah saat ada tangan yang tiba tiba melingkar di pinggangnya. perlahan sarah siapa pemilih lengan kekar itu.
"Arvan ngapain disni?terus aku dimana ini"batin Sarah.
Sarah perlahan memindahkan tangan arvan dan bergerah ke arah berlawanan.
"Hah.... mas Dimas, kenapa ada disini juga sih" dimas di sana masih tertidur dalam posisi duduk.
"Apa-apaan sih mereka ini, kayak tamu tak di undang, terus posisi macam apa ini?"
Gerakan sarah ternyata membangunkan arvan.
"Hah, ah iya" jawab sarah kaget karena didapati arvan yang menarik tubuh sarah dalam pelukannya.
"Arvan lepasin" ucap sarah pelan karena takut membangunkan dimas
"Kok pelan bicaranya, takut ketauan dimas?"
"Apaan sih kamu van, lepasin gak"
"Morning kiss dulu." Arvan memonyongkan bibirnya pada Sarah dan Sarah berpaling, Arvan terkekeh melihat kekesalan Sarah dan melepasnya. Sarah mengambil kesempatan itu dan masuk ke kamar mandi. saat keluar Arvan sudah duduk di sofa.
"Kenapa kalian ada disini sih? tanya Sarah." apa gak aneh kelihatanya ada dua cowok satu cewek." sarah duduk di sofa dan menunggu jawaban Arvan.
"Kamu gak ingat tadi malam?"
"Emang kenapa" Sarah mengamati pakai nya dan di rasa tubuhnya baik-baik aja, Arvan geli melihat tingkah mantan ke kasih nya itu.
"Emang kita ngapain" ceplos Sarah, akhirnya pecah tawa Arvan dan membangunkan Dimas.
"Sudah bangun pak, kenapa tidak bangunkan saya?" dimas mengerjakan mata dan mencari keberadaan Sarah.
"Kamu gak papa dek?" tanya dimas sambil mendekat dan duduk di samping sarah, melihat hal itu Arvan cemburu dan duduk di antara keduanya.
__ADS_1
"Arvan kenapa sih?"
"Jauhan kan bisa bicaranya. dan kamu Dimas ngapain nempel-nempel"
"Saya cuma tanya keadaan dek Sarah, pak Arvan."
"Bisa dari jauh"
"Saya mengecek apa ada yang luka?"
"Sudah saya cek semalam, sebelum kamu datang dan gak ada yang terluka" Sarah bingung dengan obrolan kedua pria yabg ada didepannya.
"Emang Sarah kenapa mas?" tanya Sarah saat Dimas melihat kondisi Sarah.
"Kamu gak ingat kejadian tadi malam dek?" Sarah berhenti sejenak dan memikirkan apa yang terjadi. tapi tidak menemukan jawabannya lalu menggeleng.
"Lihat pergelangan tanganmu" Arvan berbicara tanpa melihat Sarah dan Sarah pun mengikuti instruksi Arvan, ya lengannya memang sedikit memar dan sakit, tapi Sarah tidak mengingatnya.
Tok tok tok
Semua memandang kearah pintu.
"Buka dim"
"Ah iya pak" Sarah menoleh ke arah pintu dan tangan Arvan bergerak ke arah bahunya.
"Sarah kamu gak papa kan??" tiba-tiba Siska berlari dan memeluk Sarah.
"Emang semalam aku kenapa sih sis?" Siska memandang kedua pria yang ada di dalam itu.
"Tenang kami gak ngapa-ngapain" ucap arvan tenang
"Kamu gak ingat apa yang terjadi semalam sar?"
"Bilang terus terang aja sih sis, biar aku gak bingung gini!" dan Siska menceritakan apa yang terjadi semalam hingga arvan membawa nya ke kamar ini. sarah shock, tidak percaya. kenapa bisa dua kali dia terjebak dalam keadaan yang sama tanpa sadar sarah menangis di dada arvan dan di beri tepukan lembut di pundaknya.
"Mas Dimas sebaiknya kita keluar dulu yuk" ajak siska menarik tangan dimas, dengan berat dimas keluar dari kamar itu hanya meninggalkan sarah dan arvan
.
.
.
Bersambung
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰
__ADS_1