
Pagi ini, Dimas yang menjemput Tian di rumahnya. Tian tidak bisa menahan lagi apa yang selama ini dia lihat, dia tidak mau kalau Dimas merasakan sakit di selingkuhi sama seperti dia dahulu.
“Dia selingkuh,” kata Tian yang sekarang duduk di kursi belakang mobilnya.
“Siapa?” tanya Dimas yang melihatnya dari kaca spion.
“Siapa lagi?! Ya, pacar kamu,” kata Tian yang menghentikan aktifiasnya membaca berita melalu tablet miliknya.
“Pacar? Selingkuh? Bagaimana mau di selingkuhin, kalau saya aja belum punya pacar,” ucap Dimas.
“Lalu wanita itu?” tanya Tian dengan heran.
“Wanita yang mana lagi?” Dimas yang benar heran dengan semua pertanyaan bosnya.
“Rara,” kata Tian yang dengan malas menyebut nama wanita itu.
“Oooh, sih Rara,” kata Dimas yang menyadari siapa yang Tian maksud.
“Hmm.. Sebenarnya saya dengan Rara itu...” kata Tian yang tiba-tiba terputus karena suara telepon ponsel Tian yang berdering.
Karena telepon yang mengenai kerjaan itu membuat Tian lupa akan cerita Dimas yang tertunda. Hal inilah yang di syukuri oleh Dimas. Karena saat ini bukan hal yang tepat untuk Dimas menceritakan siapa Rara sebenarnya.
Hari ini lagi dan lagi Tian harus merasakan amarah karena sekretarisnya itu, bagaimana Tian tidak kesal, dia harus melihat pemandangan ganjil di depan matanya, dia melihat Rara yang tengah asyik berbicara dengan beberapa pria. Tian sangat heran Rara memiliki daya tarik apa sampai Rara memiliki daya pikat untuk banyak pria. Hal itu membuat dia teringat masa lalunya dengan Rara saat mereka berdua masih sangat dekat. Dia ingat betul
bagaimana Rara sangat populer di kalangan pria, karena memang Rara pribadi yang menyenangkan dan mudah bergaul.
Entah apa yang merasuki Tian, sedari tadi pagi sampai setelah makan siang, mood Tian benar-benar buruk, itulah yang di anggap oleh Rara.
Hari ini Tian sedikit berbeda dari hari kemarin, bahkan lebih berbeda dari pertama mereka bertemu. tatapan Tian pada Rara seperti tatapan singa yang mau makan maksanya, membuat Rara cukup takut. Ketakutan Rara semakin menjadi saat dia harus bekerja di ruangan Tian karena ulah Tian yang lagi-lagi memberikan berkas-berkas pekerjaan yang sangat banyak dengan waktu yang sangat singkat. Rara melirik Tian yang tengah berdiskusi dengan Dimas, sedangkan Rara masih sibuk dengan tugasnya yang sudah lebih dari 3 jam dia kerjakan belum juga selesai. Rara mengeluh dalam hati, entah ini pekerjaannya yang sangat banyak atau Rara yang kerjanya sangat lambat karena semua kerjaannya dia tidak selesai-selesai. Bahkan setiap telepon yang masuk, harus Dimas yang mengangkat telepon itu, untung saja Dimas melakukannya dengan
sukarela.
Rara kembali melirik Tian yang seperti acuh tak acuh dengan apa yang baru saya dia lakukan pada Rara.
Tangan dan tubuh Rara mulai pegal, matanya mulai merah dan rasanya panas. Bahkan sangat sibuknya, Rara sampai lupa akan makan siang. Dan saat Rara melihat jam yang ada di tangannya, ternyata jam sudah menunjukan jam 1. Rara menghembuskan nafas dengan kesal, karena dia hari ini harus melewatkan jam makan siang.
Dia yang sendirian di ruangan,” Kalau ini berkas deadline, kenapa dia baru ngasih berkas ini sekarang?” gerutu Rara yang masih berkutik dengan file-file yang berserakan di meja ruangan bosnya.
Pintu ruangan yang terbuka, dia melihat Tian membuat Rara cukup terkejut, dia takut jika ocehannya pada bosnya itu di dengar oleh Tian. Bisa-bisa dia tidak bisa pulang dengan selamat hari ini.
Tian yang sudah duduk di kursinya tanpa ada perbincangan antara mereka, suasana ruangan sangat hening, hanya suara ketikan jemari Tian di keyboard komputer yang terdengar. Tian sesekali melirik Rara yang terlihat sangat fokus.
“Ehem,” deheman Tian yang memecah keheningan.
Rara hanya menoleh sekilas dan kembali lagi fokus dengan pekerjaannya.
“Ehem!” deheman Tian yang sedikit keras. Dan lagi-lagi Rara hanya menoleh tanpa berkata apapun.
“Kayaknya kamu istirahat dulu,saya enggak mau kalau nanti Hotel ini masuk dalam hotline berita mengenai karyawan yang di siksa oleh atasannya,” kata Tian.
“hahahaha, Bapak kayak tidak mengenal saya aja, saya ‘kan strong,” ucap Rara.
“’kan kita sudah kenal selama...”kata Rara yang tiba-tiba terhenti. Sedangkan Tian yang mendengarnya membelalakkan matanya dan menatap Rara dengan tajam. Dan seketika teringat memori ingatannya, di saat
Tian yang seperti marah besar dengan Rara.
Rara tiba-tiba merasa sesak dalam dadanya, seakan dia kekurangan oksigen.
“Selama.. dua bulan, maksudnya Pak,” ucap Rara yang mencoba mencairkan suasana.
Tok..tok..
“Permisi Pak Tian, ada Bapak Vian hendak bertemu,” kata Dimas.
__ADS_1
“Suruh dia
masuk,” kata Tian.
Dimas yang masuk ke dalam ruangan bosnya, merasakan
atmosfir di antara bos dan sepupunya yang seperti terjadi perang dingin di
antara keduanya.
****
Rara sangat bersyukur dengan kedatangan pria yang bernama Vian itu, jika tidak ada Vian mungkin saya dia sudah mati kekurangaan oksigen atau mungkin juga dia mati karena tatapan mata Tian yang mungkin saja mengeluarkaan
api karena sangking tajamnya.
Karena ijin dari Tian, Rara dapat makan siang di waktu makan siang yang telah usai. Siska yang sengaja mengunjungi Rara dan membawakan dia makanan Mekdi kesukaan Rara.
Rara bersyukur adanya Siska yang berada di kantornya, setidaknya dia tidak makan sendiri di kantin kantor.
“Lu, enggak makan berapa bulan?” tanya Siska yang terheran
melihat cara makan Rara.
“Hmm.. udah setaon lah,” canda Rara.
“Gue dari pagi enggak makan. Gara-gara Bos gue yang reseh setengah ampun,” gerutu Rara.
“Ra.. Rara!” ucap Siska yang sedikit meninggi.
“Apa sih?!” oceh Rara yang sedikit emosi.
“Tian ke sini?” bisik Siska.
“Tapi, dia sama cewek, aduh tuh cewek udah pake bajunya ngetat, terus kayak kekurangan bahan,” ucap Siska.
Rara dan Siska yang berdua tengan asyik cekak-cekikik membahas cewek yang bersama dengan Tian, membuat Tian yang mendegra tawa mereka sedikit risih. Akhirnya Tian meninggalkan wanita yang SKSD dengannya.
“Eh.. eh.. Tian ke sini,” bisik Siska yang bisa dapat membuat dia dan Rara tiba-tiba bermode diam.
“Ehem,” Deheman Tian.
“Hai, Tian,” ucap Siska.
“Hai, Sis,” ucap Tian.
“Eh, dikira gue, lu udah lupa sama gue,” kata Siska.
“Gimana kabarnya?” tanya Tian.
“Baik.. Baik.. lu?” tanya Siska balik.
“Ya, seperti yang lu liat sekarang, Baik juga,” ucap Tian.
“Adik ipar gue ini, enggak ngerepotin lu kan?” tanya Siska.
Ha? Adik ipar?,ucap Tian dalam hati.
“Ya, menurut lu?” ucap Tian.
“Ehem,” deheman Tian yang melirik Rara yang seakan pura-pura tidak mendengar.
“Sorry, nih Sis, bukannya mau ngusir, cuman, kayaknya gue harus bawa sekretaris gue balik kerja soalnya dia masih banyak kerjaan,” kata Tian.
__ADS_1
“Iya, gue ngerti kok, lagian gue cuman di manfaatin sama adik ipar gue yang tersayang ini,” Kata Siska.
“Ya, udah gue pamit. Ra, salam ya, buat Reza,” bisik Siska.
Ternyata perkataan Siska terdengar oleh Tian, padahal Siska berbisik.
Reza?? Kenapa gue selalu denger nama itu? Siapa sih Reza itu?,Kata Reza kesal dalam hati.
Rara mengikuti Tian bahkan sampai masuk ke ruangan Tian, karena Rara ingat kalau pekerjaan dia sedari pagi belum juga kelar.
Tian yang sudah duduk di kursinya melirik Rara yang sudah berkutik dengan pekerjaannya, sesekali Tian pun melirik sebuah kotak bento yang sengaja dia beli untuk Rara, tetapi Tian bingung untuk memberikan makanan itu untuknya.
Tian melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Rara duduk. “Ini makanya buat kamu,” kata Tian dengan sok cool.
“Ha?” Rara terperanga dengan yang di lakukan bosnya itu. Dia menatap makan siang yang terlihat sangat enak itu. Rara menatap Tian tak percaya dengan apa yang dia lakukan untuknya.
“Kenapa? Makanannya kurang?” tanya Tian.
“Bukan,bukan.. cuman... “
“Ga suka?!”
“Bukan juga.”
“Lalu? Gak mau? Kalau gak mau buang aja!” kata Tian dengan sebal dan
hendak membuang makanan yang dia beli ke tong sampah.
“Eh, Kok di bawa?” tanya Rara dengan heran.
“Kamu ‘kan gak suka, gak mau, ya ngapain masih di taro di meja,” ucap Tian dengan sebal.
“cuman saya tidak bisa makan dekat dengan bapak, ya, saya tidak enak jika saya doang yang makan,” ucap Rara.
“Aku sudah kenyang, udah kamu makan aja, “ kata Tian yang kembali ke tempat duduknya.
Tian menggeser sedikit komputernya, dia sesekali menatap Rara yang sudah memakan makanan yang dia beli dengan lahap. Dia membelikan makanan kesukaan Rara, dia masih mengingat kalau sahabatnya ini menyukai Chicken
Katsu dengan saus teriyaki.
Saat ini bukan hanya sesekali, tetapi dia fokus menatap Rara yang tengah makan dengan lahapnya. Sedangkan Rara berusaha makan senyaman mungkin, karena dia sadar betul kalau saat ini ada sepasang mata yang menatap dirinya tanpa berkedip.
“Dimas, saya tugaskan ke Bali untuk satu minggu. Jadi, saya harap kamu datang lebih pagi, karena selama seminggu kamu akan menjadi sekretaris sekaligus asisten saya,paham?” jelas Tian.
“Hmm,” kata Rara yang menggangguk sambil mulutnya yang mengunyah tanda mengerti.
“ Kamu, sabtu besok sibuk?” tanya Tian.
“Hmm... Sepertinya tidak,” ucap Rara.
“Kalau gitu, sabtu besok temani saya untuk ke acara pernikahan Rika sama Tomi,tetapi bilang dahulu sama sih Dimas, saya tidak mau kalau nanti... ,” ucap Tian seakan terputus.
Ha? Kak Dimas? Emang apa hubungannya sama Kak Dimas, jangan-jangan dia udah tahu kalau aku
sama Kak Dimas itu sepupuan?,ucap Rara dalam hati.
“Rika? Sepupu Bapak itu? Terus Tomi, maksudnya Bapak Tomi yang 2 hari lalu datang ke kantor?! Wah, orang ganteng cepet banget ya lakunya,” ucap Rara.
“Hmm.. tapi, kenapa bapak tidak membawa pacar bapak, hmm.. Siapa itu namanya??? Aah, Vivi..Vivi,” Ucap Rara kembali.
“Maksud kamu, saya tidak ganteng?!” tanya Tian yang setiap katanya penuh penekanan. Dan Tarra hanya menyengir merasa bersalah dengan kata-katanya.
“Hmm... bapak ganteng kok, cuman..” kata Rara yang terputus, langsung pergi membawa kotak bento bekas makannya untuk dia buang ke tong sampah.
__ADS_1
BERSAMBUNG ^^
****