
"Jadi sebaiknya apa yang harus aku lakukan tan?" Ucap Devan pada Intani ."Aku tidak tega melakukan ini pada Arvan, apalagi saat ini Sarah tengah hamil tua, aku takut jika akan terjadi sesuatu padanya nanti." jelas Devan sambil memijit keningnya yang merasa pusing.
"Tapi aku juga tidak tega melihatnya terkapar seperti itu Dev, Turuti saja kemauan Arvan, agar Sarah juga tidak tersiksa." sambung dokter Intani yang duduk di sofa dan memain kan pena yang ada di tangannya.
"Kamu sanggup merawat Sarah jika terjadi sesuatu nanti?"tanya dokter Devan menatap dokter Intani.
"Untuk urusan kandungan biar aku yang tangani Sarah, tapi jika jiwanya terguncang kita minta bantuan sama dokter hariz." jawab dokter Intani. "Bagaimana menurut mu?"
"Lalu Dengan keluarganya bagaimana?"
"Bukankah sudah jelas Arvan minta untuk merahasiakan?"
"Jadi gimana?"
"Minta Alvin membawa Sarah keluar bersama Arsa, nanti akan aku lakukan jika mereka sudah tidak ada."
"Jangan langsung, karena kalau Arvan pergi tanpa ada Sarah, aku takut Sarah berfikir sesuatu yang tidak-tidak."
"Iya, begitu saja sesuai rencana mu saja tan," jawab dokter Devan.
"lagi pula kamu sudah mengantongi surat dan tanda tangan dari Arvan, jadi apa yang kamu khawatir kan?" jelas Intani. "Rico tau kan akan hal ini?" tanya Intani kemudian.
"Sepertinya tidak."
"Ini sudah empat bulan Dev, melebihi permintaan Arvan yang hanya dua bulan saja, lihatlah tubuh yang kekar itu tinggal tumpukan daging tanpa otot."
"Baiklah lakukan besok! aku akan menghubungi Alvin nanti."
.
__ADS_1
.
"Bu Sarah, kita jalan cari udara segar bagaimana?"
"Tidak Al, aku merasa khawatir jika aku pergi Arvan akan meninggalkan ku."
"Bu Sarah sudah lebih dari empat bulan menunggu disini tanpa ada perkembangan, tidak masalah jika kita keluar sebentar." jawab Alvin kemudian.
"Begitu menurutmu?" tanya Sarah ragu.
"Ya begitu lah, biar dedek bayi yang ada di dalam perut juga tidak bosan Bu Sarah."
"Baiklah aku cuci muka dulu, kamu tunggu sebentar." Dengan senang hati Alvin menunggunya. "oh ya Al, tolong hubungi dokter Devan katakan jika kita akan keluar sebentar." ucap Sarah dari dalam kamar mandi.
"Baik Bu," jawab Alvin, tapi Alvin tidak melakukannya karena ini semua rencana Devan. Alvin pun tau alasannya. "semoga saja suatu saat jika rahasia ini terbongkar Alvin tidak diikut sertakan." batin Alvin.
"Tidak jauh Bu, ada kafe di dekat rumah sakit, kita kesana saja, bagaimana?"
"Iya." jawab Sarah singkat. Mereka pun berjalan menuju parkiran dalam diam.
Sesampainya di kafe.
"Silahkan nyonya , tuan, apakah sudah membuat reservasi?"
"Belum."
"Baik mari ikut saya jika belum." Sarah dan Alvin mengikuti pelayan menunjukan kursi untuk mereka. "Silahkan nyonya tuan, dan ini menu kita hari ini." pelayan menunjukan menu pada Alvin dan Sarah.
" Kita mau pesan apa Bu?"
__ADS_1
"Terserah kamu saja." jawab Sarah singkat, membuat sang pelayan bingung dengan hubungan suami istri yang ada di depannya. itu pikiran pelayan. Tapi dia tetap curi -curi pandang pada Alvin karena Alvin memang pria tampan dan tepat pada usia matang.
"Kenapa mbak? nanti istri saya marah lo kalau mbaknya lihat saya terus," Tegur Alvin pada pelayan dan membuat mata Sarah terbelalak."Tuh kan mbak, wajah istri saya sudah merah."
"Maaf tuan, maaf." pelayan itu meminta maaf pada Alvin.
"Bukan padaku, minta maaflah pada istriku, Dia sedang hamil, aku takut dia akan stres jika melihat mu seperti itu."
"Ah iya, maaf nyonya, saya tidak sengaja." ucapnya kembali. Tapi Sarah tidak bergeming.
" Ya sudah catat saja pesanan kami." Alvin menunjuk beberapa menu untuk mereka. meminta pelayan memutar kan lagi romantis. setelah menerima pesanan, pelayan pun pergi.
"Kamu kenapa to Al?aneh-aneh wae ." tanya Sarah yang agak kesal pada Alvin. tapi sebenarnya Sarah memang tidak suka jika Alvin di tatap seperti itu oleh wanita lain.
"Ndak apa-apa Bu, cuma mau godain Bu Sarah saja ."
"Jangan aneh-aneh."
"Iya Bu." Alvin senang dengan sikap Sarah, entah apa namanya itu tapi dia hanya suka saja.
.
.
BERSAMBUNG.
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰
baca juga yuk "KETULUSAN CINTA CACA."
__ADS_1