
hari berlalu, bulan berganti arvan mulai sibuk belajar dan tanpa lia dia tidak bisa berbuat apa-apa. setiap langkah yang dicari adalah lia. arvan jarang sekali ikutan hang out bareng geng motor nya yang terkenal akan kenakalannya.
"ternyata mendapatkan cintamu sungguh tidak mudah lia"batin arvan demi tuhan dia kewalahan mengikuti jadwal belajar lia yang sungguh-sungguh menguras otak dan tenaganya. kalau di suruh memilih arvan lebih baik ikutan tawuran geng motor dari pada harus memeras otaknya menghitung dan mengingat sesuatu yang menurutnya tidak penting.
pagi ini arvan sudah mendapati lia duduk di kantin dengan wajah tertutup buku.
"rajin banget pagi-pagi sudah pegang buku saja" arvan sudah di depan lia yang asik sarapan nasi goreng telur sambil membaca. seperti biasa juga lia tidak mengindahkan sapaan arvan. arvan menarik buku menjauhkannya dari wajah lia dan benar saja, dia terganggu.
"kalo mau sarapan, sarapan aja gak usah ganggu orang. resek banget sih" lia mengambil bukunya dan membaca kembali.
"lia.. gak capek apa baca terus"
"gak" mendapat jawaban ketus arvanpun terdiam dan hanya makan dalam sepi.
"lia, jangan di cuekin dong temen aku" rama muncul dan duduk di samping arvan dan lagi, lia tidak merespon mereka berdua.
"gunung es nih van kalo begini caranya" celetuk rama. lia memang pendiam dengan orang yang tidak di ingin kan, tapi jika sudah pas dengan seseorang dia akan sangat menarik dan asik.
"sok tau" tangan arvan menjitak kepala rama, karena arvan sudah lebih banyak mengenal lia dari sebelumnya.
"gak terima banget sih lia aku kata in gunung es"
"calon pacar ku itu, jangan macam-macam" bualan arvan terdengar di seluruh kantin dan mulai menjadi pembicaraan publik, ada yang cemburu karena lia murid pintar dan cantik ada juga yang kesal karena merasa arvan tidak cocok dengan lia yang kesehariannya di kenal berandalan. para guru pun tidak luput dari menyayangkan kalo mereka pacaran. ada yang mencibir karena akan merusak nilai lia, ada yang mendukung mungkin lia akan membantu arvan dalam belajar.
sore ini sepulang sekolah jadwal belajar tambahan arvan di rumah lia, karena terlalu bosan jika di rumah arvan terus.
"belajar yang bener, bentar lagi ujian, aku gak mau gara-gara kamu nilai aku jadi jeblok" sungut lia pada arvan yang sepertinya enggan belajar.
"iya-iya, yang ini gimana?tunjuk arvan pada salah soalnya, lia mendekat dan tangan mereka bersentuhan. arvan merasakan debaran yang tak biasa, berdeda dengan lia yang menanggapinya biasa saja.
__ADS_1
"kayak gini caranya" lia menjelaskan secara detail agar arvan paham.
*****
hari ujian semester pun tiba, semua sibuk dengan belajar, belajar dan belajar.
"boleh nyontek gak li?" tanya arvan frustasi karena merasa kesulitan mengerjakan soalnya
"awas kalo berani" ucap lia lirih dengan mengepalkan tangannya. arvan nyengir kuda melihat itu. dan kembali berkutat pada pekerjaannya.
kesibukan semua siswa pun sama, ada santai dalam mengerjakannya, ada yang buru-buru dan ada yang panik.
ujian pun berlalu, hari menunggu pengumuman membuat hidup arvan tak tenang. karena banyak alasan mengapa dia panik, dan lia..ya lia terlalu santai.
"kalo nilai aku gak bagus dan tidak sesuai target apa kita tidak jadi pacaran li"tanya arvan dengan gelisah
"hemm" walau sebenarnya lia sudah sedikit memiliki rasa pada arvan. arvan sudah tau sebenarnya jawabannya akan sama, tapi dia masih penasaran kenapa dia bisa menolak cowok sekeren dia walau sedikit nakal. (menurut arvan sendiri tentunya)
"gak pake ke markas van, langsung pulang" tiba-tiba lia sudah didepan pintu memperingatkan arvan. dia hanya mengacungkan jempolnya tanpa menjawab.
hari pengumuman tiba, semua siswa berkumpul di mading yang Menjadi tempat menempelkan hasil ujian semua siswa.
"ayo van kita liat pengumuman nya" lia menarik lengan arvan yang malas, karena takut hasil nya tidak sesuai target
"malas aku li, palingan juga begitu"
"kamu gak yakin atas usahamu sendiri, atau memang kamu hak mampu"
"mendengar ejekan lia arvan naik darah"
__ADS_1
"oke, ayo kita lihat, kalo nilai aku bagus kamu harus terima aku jadi pacarmu di depan umum di depan mading itu juga, gimana?"
"syaratnya gak akal"
"lebih gak.masuk akal kamu li, sudah tau nilai ku jelek disuruh masuk sepuluh besar, itu tandanya kamu gak mau pacaran sama aku" arvan menarik tanyanya dari lia dan pergi. tapi kenapa ada yang nyeri di dalam sana. Seolah ada yang ter iris tapi tak berdarah.
akhirnya lia pun tak semangat melihat hasil ujiannya dan kembali ke kelas nya. di kelas pun sama lia sibuk dengan bukunya. membaca menutupi wajahnya.
"sekarang kamu resmi jadi pacar aku" tiba-tiba arvan memeluk lia dari belakang.
"maksudnya?" arvan melepaskan pelukannya dan pindah duduk di depan lia menangkup wajahnya
"jadi kamu belum lihat nilai?"lia menggeleng, arvan tepok jidat dan menarik lia melihat mading dan benar saja arvan masuk sepuluh besar peringat delapan dari dua puluh lima siswa. dan tentunya lia peringkat pertama.
"wah ada yang resmi jadian nih" rama merangkul pundak arvan. dan memberi bunga pada arvan. seketika arvan jongkok dan memberi bunga pada arvan.
"lia benar katamu kita pacaran bukan hanya senang-senang saja tapi harus saling mendukung dalam belajar, seperti yang pernah aku katakan untuk kesekian kali, maukah kamu menjadi pasangan ku?" arvan mengulurkan bunga pada lia.
terima terima terima terima . sorak siswa-siswa yang ada di sana. sebenarnya lia malu, tapi kasian jika dia harus menolaknya. lia menerima bunga dari arvan dan sorak sorai meramaikan acara katakan dengan bunga ala lia dan arvan
***FLASHBACK OFF***
"kok diem aja, lagi ngelamunin siapa" suara arvan mengagetkan sarah.
.
.
.
__ADS_1
bersambung