
"Kamu kenapa mbak, kok duduk disitu?" tiba-tiba ibu Fatma mengagetkan Sarah. Lalu Sarah buru-buru menghapus air matanya agar tidak terlihat sang ibu.
"Ibu kok bangun?"
"Iya, ibu haus tadi lupa tidak membawa minum ke kamar." jelas Bu Fatma.
"Ya sudah Bu, Sarah masuk dulu." Sarah berlalu meninggalkan sang ibu. setelah kepergian Sarah ibu Fatma menoleh kebelakang melihat ada apa gerangan, ternyata di sana ada Arvan dan alvin, mu mungkin Sarah mendengar sesuatu yang mereka bicarakan sehingga anak perempuannya menangis.
Ibu Fatma tidak jadi masuk ke dapur ke tujuan awal mengambil air, memilih kebelakang menemui Arvan dan Alvin.
"Sudah malam belum pada tidur?" tanya Bu Fatma membuat dua pria dewasa itu menoleh bersamaan.
"Eh ibu, kok blm tidur?" sambut Arvan lalu berdiri memberi ruang pada mertuanya itu untuk duduk.
"Iya belum, masih ingin cari udara segar." Jawab bu Fatma mencari alasan.
"Jadi kenapa kalian belum tidur?Apa ada yang penting untuk di bicarakan tanya Bu Fatma kembali. "Ibu takut mengganggu."
__ADS_1
"Tidak ada yang penting Bu, hanya mengobrol biasa." jawab Arvan.
"Kalo begitu boleh ibu tanya sesuatu?"
"Emmm apa itu Bu?" tanya Arvan ragu. sedangkan Alvin hanya menatap Bu Fatimah khawatir.
"Apa sebenarnya yang kalian rencanakan kepada Sarah putri ibu?" Tanya Bu Fatma dengan tenang. Bu Fatma menunggu menit demi menit namun tidak ada yang berani menjawab. "Kenapa diam? Apa pertanyaan ibu ada yang salah?"
"Lebih baik saya masuk dulu Bu," pamit Alvin, agar menantu dan mertua itu bicara dengan leluasa. Hal tersebut di anggukan oleh ibu Fatma dan juga Arvan.
"Saya tidak ingin Sarah dan Arsa kesepian Bu, biar mereka ada yang menjaga setelah saya tidak ada nanti." Jawab Arvan pelan namun terdengar jelas.
"Nak Arvan, hidup seseorang tidak ada yang dapat menentukan bahkan seseorang dokter sekalipun. hidup mati seseorang itu ada ditangan tuhan, jadi ibu mohon jangan buat putri ibu bersedih karena rencana kalian yang tidak masuk akal itu." ujar Bu Fatma panjang lebar.
"Saya mengerti Bu, maaf jika rencana saya ini menyinggung perasaan ibu juga menyakiti Sarah, tapi saya mohon jika suatu saat terjadi sesuatu kepada saya, ibu harus memastikan Alvin yang akan mendampingi Sarah selanjutnya." jelas Arvan, "karena saya tau Alvin sangat mencintai Sarah Bu." sambungnya.
"Rejeki jodoh dan maut sudah ada yang atur nak, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang itu." Bu Fatma mencoba menasihati menantunya. " Jika nanti suatu saat Sarah dan Alvin bertemu dan mereka menikah, berarti memang mereka jodoh, dan untuk saat ini...." suara Bu Fatma tercekat karena tidak sanggup mengatanya. namun dia harus memberi penjelasan yang tegas kepada Arvan menantu nya itu. " Jika benar akan diagnosa dokter itu, ibu mohon bahagia Sarah untuk terakhir kalinya." Kini ibu Fatma telah menitikkan air mata.
__ADS_1
"Ibu tidak pernah membedakan mu dengan Hendra, kalian semua anak ibu, jika kalian bahagia maka ibu pun akan ikut bahagia nak, tapi jika kalian seperti ini, maka ibu pun akan sedih, bukan hanya Sarah atau ibumu, tapi ibu mertua mu ini juga punya hati nak." tetesan air mata Bu Fatma semakin deras. Arvan pun memeluknya agar tenang. "jangan buat Sarah semakin sedih." ibu mohon." Arvan hanya mengangguk dan juga menetes kan air mata nya. dia tidak mengetahui jika ibu mertua nya itu akan merasa tersakiti.
Jadi kini dia berjanji hanya akan fokus pada istri dan anaknya, sedangkan Alvin biarlah dia mencari jalan sendiri jika masih menginginkan istrinya. dia hanya berdoa semoga semoga mereka berjodoh.
"Maafkan saya Bu." tiba-tiba Arvan sudah duduk bersimpuh di hadapan Bu fatma. "saya tidak tau jika niat baik saya menyakiti hati ibu dan juga Sarah, sekali lagi saya minta maaf." Ucap Arvan dengan mencium punggung tangan ibu Fatma.
"Jaga putri ku nak, dia sangat mencintai mu, jangan buat hatinya tersakiti seperti masa lalu." ucapan Bu Fatma langsung membuat Arvan tertegun, benar sekali ucapan mertua nya. dia pernah menyakiti wanita tercintanya itu, namun dia melupakan hal itu dan kini perbuatannya akan menyakiti nya kembali.
"Ibu benar, aku terlalu egois tanpa memikirkan perasaan kalian." Arvan mengangguk dengan memeluk lutut ibu Fatma.
.
.
Bersambung
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰
__ADS_1