Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
epi 43


__ADS_3

"Aku turunkan di sekolah saja ya, sekalian mau mampir." ucap Alvin tanpa memperhatikan mimik wajah mereka.


"Tau gitu kan nggak usah bilang siapa dulu yang di antar Al" celetuk Berta sambil cemberut sedangkan Bayu hanya menepuk-nepuk pundak Berta agar bersabar.


*****


Sekolah sudah sepi saat Alvin memasuki pintu gerbang, dia perlahan memarkir kan kendaraanya dan memperhatikan sekitar mencari seseorang yang ia rindukan.


"Cari siapa sih Al" tanya Berta


"Enggak ada"


"Kok celingukan gitu, pasti cari orang kan."


"Resek kamu ber, aku parkir ini lho" jawab Alvin agak kesal, setelah mobil terparkir aman mereka pun turun.


"Ya sudah makasih ya Al, kamu sehat-sehat saja ya, jangan lama patah hati nya, kan masih ada aku yang siap gantiin cewek yang ninggalin kamu." goda Berta genit pada Alvin.


"Apaan sih ber, genit banget kowe(kamu)." celetuk Bayu saat mereka asik mengobrol Alvin melihat Sarah yang memasuki area parkiran dengan siska. Matanya tertuju pada sosok mungil yang membuatnya harus berjuang menjadi anak SMA selama dua tahun dan berakhir menyedihkan.


"Bu Sarah" panggil Nisa Sarah dan Siska menoleh, mereka pikir sudah tidak ada lagi murid karena sudah sore. merekapun menghampiri Nisa dan kawan-kawan nya.


"Kalian kok belum pulang katanya mau jenguk Alvin" Tanya Sarah yang belum menyadari kehadiran Alvin. sedangkan dari tadi Alvin dari tadi memperhatikan Sarah dengan seksama inci demi inci dan senyum yang bahagia rindunya terobati.


"Itu Alvin Bu" tunjuk Bayu Sarah menoleh kearah Alvin. pria itu terlihat seperti letih dan sayu tapi tetap saja tidak menyembunyikan ketampanannya.


"Apa kabar Al" tanya Siska yang tau Sarah masih bingung menghadapi alvin.


"Baik Bu Siska"


"Tambah sehat ya, kayak oppa-Oppa Korea" goda Siska.


"Iya Bu, benerkan Bu tadi Berta bilang gitu tapi nggak ada yang percaya." celetuk Berta dengan cemberut dan di tanggapi tawa oleh yang lainnya.


"Kalian bisa saja, ya sudah kami duluan ya kalian silahkan lepas kangen sama Alvin" pamit Siska dan menarik tangan Sarah pergi dari sana sedangkan Sarah tidak mengucapkan satu katapun. mereka pun berlalu dari hadapan pada siswa.

__ADS_1


"Kamu kenapa to, lihat Alvin bengong saja, inget lho ya dua Minggu lagi nikah, jangan mikir yang aneh-aneh." Omelan Siska membahana


"Saya nggak mikir aneh-aneh kok, cuma tadi kaget lihat Alvin kucel gitu" jawab Sarah.


"Kamu kasihan sudah menolak, nyesel?


"Kok gitu sis?"


"Ada Nisa lho di sana, takutnya dia tau sesuatu kan bisa bahaya."


"Tau apa, aku juga nggak ada hubungan apa-apa sama Alvin" jelas Sarah, bingung juga dengan ucapan nya Siska.


"Memang tidak ada apa-apa, tapi caramu memandang sudah berbeda Bu Sarah yang baik hati" dan itu menambah bingung Sarah.


"Apa iya kelihatan sis?" tanya Sarah yang ragu dengan sikapnya "aku itu cuma kasihan sama dia"


"Dia akan baik-baik saja Sarah, yang sekarang cukup kamu ingat adalah Arvan" Sarah merenungi ucapan Siska.


"Ya Arvan memang dia calon imanku" batin Sarah


Sarah merasa aneh sejak berangkat dari sekolah, seperti ada yang mengikuti nya. tapi dia tidak mengatakannya pada Siska.


Sesampainya di tempat yang mereka tuju Sarah dan Siska bergegas membeli apa yang di butuhkan, memilih-milih tawar menawar ya begitulah .


" Aku ke toilet sebentar ya" pamit Siska


"Iya jangan lama-lama"


"Iya sebentar kok" jawab Siska dan berlalu meninggalkan Sarah. Sarah masih mencari beberapa pernak perniknya yang masih kurang sesuai pesanan ibunya. tiba-tiba tangan seseorang melingkar di pinggang Sarah hal itu mengejutkan nya. dan melihat siapa yang datang.


"Alvin" Sarah memandang Alvin "lepas Al" banyak ornag.


"Kalau berdua berarti nggak apa-apa ya Bu?" goda Alvin.


"Al lepas"

__ADS_1


"Wah calonnya datang ya mbak, ganteng lho" kata ibu-ibu penjualnya.


"Iya Bu, ini kalau disuruh nunggu nggak mau, jadi saya nyusul" jawab Alvin santai.


"Al, apaan sih" Sarah menatap Alvin tidak percaya, namun Alvin tidak membalas tatapan itu, dia asik memilih seolah dia yang akan menikah, di luar dia terlihat luar biasa namun hatinya hancur. bagaimana tidak dia menemani wanita pujaannya memilih pernak-pernik pernikahan dan mempelai prianya bukan dia.


"Mana saja yang sudah di pilih" tanya Alvin.


"Yang ini mas"ibu-ibu penjual itu menunjukan pilihan Sarah dan di bungkusnya juga di bayar Alvin


"Al jangan aneh-aneh, sini aku yang akan bayar"


"Nggak apa-apa mbak, calonnya yang bayar itu wajar." Sarah kesal sekali dengan ibu penjual ini karena selalu saja memotong kalimatnya. setelah semua di bungkus Sarah jalan terlebih dahulu dan Alvin mengekor di belakangnya dengan belanjaan Sarah.


"Gimana sudah?ada yang kurang? tanya Siska yang sudah ada di samping Sarah. Melihat Sarah tidak membawa apa-apa Siska pun bingung. "terus mana belanjaannya tadi" sambungnya.


"Tuh" Sarah menunjuk kebelakang


"Alvin, sejak kapan kamu disini dek"


"Baru saja Bu Siska"


"Mau bantuin Sarah ya"


"Iya dong" jawabnya santai namun tidak dengan Sarah. dia justru kesal dengan tindakan Alvin. entah kesal karena apa. karena dia bukan Arvan atau karena dia yang selalu ada.


.


.


.


happy reading


kan Sarah jadi bingung๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”

__ADS_1


__ADS_2