
Siang pun berganti malam, Setelah mendengar penjelasan Nisa yang bisa jadi rumusnya panjang kali lebar kali tinggi membuat Alvin tak bisa tidur dengan tenang, dia masih berusaha berkutat di meja kerjanya tapi sama saja, dia tidak bisa fokus melakukan apapun. sangking kesalnya dia mandi tengah malam (Oops).
"Gue harus mulai dari mana ?" gumamnya sambil mengacak rambutnya lalu mondar mandir sudah kayak setrikaan. "Apa mungkin gue harus berterus terang tentang apa yang disampaikan Nisa tentang Bu Andin pada Bu Sarah?" sambungnya lirih. "enggak, nggak mungkin, justru bisa jadi itu akan memperkeruh hubungan gue dengan Bu Sarah ." lanjutnya lagi. "aaahhh pusing gue."umpatnya dengan kesal lalu melemparkannya tubuhnya ke sofa, hingga menjelang pagi matanya pun masih terbuka lebar.
.
.
Kini Alvin sudah berada di kantornya berpakaian rapi dan wangi, padahal masih jam delapan pagi, kalau biasanya dia akan muncul jika sudah jelang sore, ruangannya pun sudah di tata tapi juga di semprotkan pengharum ruangan, semua karyawan heran melihat tingkahnya yang tidak biasa.
"Tumben bos, rapi amat." ujar salah satu pegawai saat berselisih jalan dengannya. lalu dia mengendus. "Wangi pula, ganti parfum ya?" Sambungnya Seolah menggoda sang bos tampan itu.
"Kepo lo." Alvin menjawab dengan ketus, sedangkan pegawainya hanya nyengir, dan berlalu meninggalkan Alvin yang sedang mengecek beberapa barang pesanan yang datang tadi malam dan belum sempat dia periksa.
"Tumben Lo pagi dah disini aja?" Ujar Bara yang tiba-tiba Muncul dengan kopernya. Alvin hanya melirik dan melanjutkan pekerjaannya . karena tau jika dia menjawab bakalan panjang urusannya dengan Bara karena si Bara adalah manusia paling suka berdebat. "Gue mau ke Bandung." ujar Bara sambil duduk di kursi yang tidak jauh dari Alvin tapi tetap asik dengan gadgetnya.
"Ngapain? Urusan kemarin kan sudah kelar." tanya Alvin tapi tetap fokus pada kegiatannya.
"Gue mau ngelamar Dinda." jawab Bara, dan Alvin pun langsung berhenti dan menatap Bara dengan seksama."Serius?" Alvin mencoba menyakinkan pendengaran nya.
"Hemm."
"Orang tua Lo?"
"Besok nyusul."
"Gue nginep di rumah Lo ya?"
"Emang biasanya Lo dimana?" namun Bara hanya nyengir saat di tanya Alvin yang seolah meledek Bara yang biasa numpang.
"Ya kan nanti ada orang tua gue datang juga."
"Serah Lo." jawab Alvin dan melanjutkan aktivitas nya.
"Gue denger Bu Sarah mau kesini?"
"Denger dari siapa Lo?" tanya Alvin seolah kesal karena berita tentang pujaan hatinya itu didengar Bara.
__ADS_1
"Dari Devi " dan pegawai yang di tunjuk hanya nyengir saat di tatap oleh Alvin. "Kenapa lagi?" Alvin hanya mengangkat bahu."Gimana sih Lo, buruan dah kawinin tu Bu Sarah, biar hidup Lo tenang, Sudah lewat kan masa idahnya?" ujar Bara kesal dengan sikap Alvin yang enggak gentle sama sekali. "Dan lagi biar junior Lo tu ke pake, masak cuma buat pipis doang." sambung Bara meledek Alvin yang masih perjaka Ting Ting.
"Sial lo." umpat Alvin. " Dan lagi Enggak segampang itu bro urusan gue sama Bu Sarah, ruwet ngerti ora koe." jawab Alvin dengan bahasa jawanya yang medok.
"ngerti gue ngerti, Dari dulu emang cinta Lo ribet Al, Pusing gue, apalagi kalau dah liat Lo di pojokan..Hedeecchh." Bara geleng-geleng mengingat kejadian lima enam tahun yang lalu, sungguh memalukan jika diingat sekarang.
"Anying Lo, temen susah bukan di doain, malah di ledekin, terus sana terus lanjutin ngeledek nya" Keluh nya.
"Lo sih nyari susah sendiri Al, yang datang banyak yang di cari yang enggak ada." Bara tekekeh.
"Tau ah, dah sana cabut Lo, salam sama calon istri Lo."
"Dinda Al."
"Tau gue, calon istri Lo kan?"
"Iya sih, tapi aneh kalo Lo bilang kek gitu." Alvin hanya memutar bola matanya lalu mengecek buku yang ada di depannya.
"Ya udah, gue cabut, gue kesini cuma mau pamit sama Lo dan bilang kalau rumah Lo gue pake bareng orang tua gue." jelas Bara.
"Alah, alasan Lo," jawab Alvin lalu menatap Bara." Lo mau memastikan Bu Sarah datang kesini kan?" sambungnya.
"Sekarang puas Lo, Bu Sarah belum nongol." ketus Alvin.
"Yang sabar, dan sekarang beneran gue pamit."
"Pergi Lo." usir Alvin, sedangkan Bara masa bodo dengan kegalauan sahabatnya itu.
"Gitu aja ngambek sih Al." lagi-lagi Bara menggoda Alvin.
"Dah lah Bar, mending Lo pergi gue enggak kelar-kelar nih kerjaannya." keluh Alvin yang mendengar ocehan Bara yang enggak jelas.
"Tapi gue masih pengen godain Lo Al."
"Jangan-jangan Lo nervous ya mau ngelamar Dinda." gantian kini Alvin yang menggoda Bara, dan benar saja tebakan Alvi tepat sasaran.
"Apaan sih Lo."
__ADS_1
"Lo takut di tolak kan?"
"apaan sih Lo Al." sekarang bara mulai malu.
"Benerkan kata gue, Lo ngatain gue padahal Lo sendiri dag dig dug mau ketemu camer." imbuh Alvin.
"Ya udahlah gue pergi, males lama-lama sama Lo" ucap bara karena kalah debat dengan Alvin," bye..."Bara pun pergi meninggalkan resto dan langsung bertolak ke Bandung, karena pasti disana Dinda sudah menunggunya.
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang, tapi yang di tunggu Alvin belum juga datang, kabar pun tak ada. Alvin bolak balik mengecek jam yang ada di tangannya juga ponselnya, dia mulai resah bolak balik seperti setrikaan, sama dengan yang ia lakukan tadi malam. bedanya sekarang hatinya cukup membuatnya marathon. hingga menarik napas panjang berkali-kali.
"Kok belum datang sih Bu Sarah," gumamnya. Alvin jadi sedikit berfikiran negatif karena ucapan Nisa kemarin. "Gimana kalau terjadi sesuatu?" Sambungnya, "Apa gue hubungi Nisa aja ya?" Ucapnya ragu. dan masih bersikap sama, mondar-mandir.
Drrttt Drrttt
Alvin melihat panggilan dari siapa. "Bu Sarah?"
"Halll...." sebelum Alvin melengkapi, kalimatnya sudah dipotong oleh Sarah.
"Al, tolong jemput Arsa dan arsi di rumah, sekarang." Ucap Sarah dengan napas memburu. " Cepat ya Al."
"Kenapa bu?" tanya Alvin dengan berlari dan mencari kunci mobilnya dan menuju parkiran.
"Nanti aku jelaskan Al, sekarang tolong jemput mereka dulu, saya terjebak macet."
"Baik Bu, saya berangkat."
"Cepat ya Al." ucap Bu Sarah mengulangi kalimatnya lagi.
Tuuttt
Panggilan berakhir.
"Ada apa lagi ini?" gumam Alvin dengan jantung yang berdetak kencang. Untung saja jarak Rumah Sarah dengan resto Alvin tidak sampai satu jam."Kira-kira Bu Sarah ada dimana sekarang?" karena Alvin melihat di sekitar tidak terlalu macet, walau memang padat jalanan. seperti itulah Jakarta.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰