
Sementara di kota lain.
BUKK
BUKK
"Berengs** kamu Al, sialan Kowe(kamu)."
BUKK
BUKK
"Apa yang sudah kamu lakukan?"
BUKK
BUKK
Sementara orang yang di gebukin hanya berusaha menghindar tanpa membalasnya walau sesekali Bogeman Hendra melayang di pipi mulusnya. Setelah Hendra mulai lelah dan napas ngos-ngosan diapun berhenti dan duduk dengan lemas di samping Alvin.
"Apa yang sudah kamu lakukan Al?Tanya Hendra pelan.
"Kamu kenapa to? ada yang salah?"
"Brengs** emang kamu." Hendra meninj* lengan Alvin lemah. Alvin tidak menjawab apapun karena dia belum tau titik permasalahanya dimana.
"Apa yang kamu lakukan sama mbak Sarah sampai mas Arvan ingin menikah kan mu dengan mbak ku"
"A-aapa?" Alvin shock mendengar penuturan partner nya itu, dia tidak percaya akan apa yang dia katakan.
__ADS_1
"Kamu enggak usah sok kaget begitu Al, jelaskan padaku, agar aku tidak salah paham padamu" ucap Hendra. "kita partner bisnis juga teman, akan ada kecanggungan jika tidak segera di selesaikan "
"Tunggu Hen, apa maksud kamu dengan menikahi Bu Sarah?"
Hendra menarik napas dalam-dalam." Mas Arvan menginginkan kalian menikah." Melihat Alvin merasa masih bingung "kamu dan mbak Sarah". Alvin menjelaskan kembali.
"Jangan ngaco kamu Hen, Hubungannya apa coba aku sama Bu Sarah?" Alvin mencoba menghindar dari pertanyaan Hendra
"Mas Arvan sudah mengatakannya di depan ibu ku dan mertua nya." jelas Hendra.
"Enggak, itu enggak mungkin Hen, pak Arvan masih sehat, belum ada tanda-tanda bahwa kondisinya memburuk" Jawab Alvin lebih shock lagi.
"Maksud kamu apa? memburuk? Kamu tau semuanya Al?" kini Alvin gelagapan karena dia tidak mengontrol ucapannya. lalu dia mengusap wajahnya dengan kasar. " Shith."
"Aku jelasin Hen, Aku jelasin" ucap Alvin panik, karena merasa bersalah dengan Hendra.
Hendra dengan tatapan tidak percaya pada Alvin. Bagaimana bisa dia menyembunyikan masalah sebesar ini ada Hendra dan Sarah. karena ini menyangkut carut marut keluarga Sarah dan itu adalah kakaknya Hendra.
" Dan apa?"
"Satu bulan lalu aku bertemu mereka di Jakarta" Lagi-lagi Hendra terkejut, bukankah ibunya ada di sana tau kenapa tau jika Alvin pun kesana.
"Untuk apa kamu kesana?" Alvin menunduk.
" Untuk mengingatkan Bu Sarah atas diriku"
"A-aapa?
"Itu atas permintaan pak Arvan Hen".
__ADS_1
"Apa kamu masih mencintai mbak Sarah Al?" pertanyaan yang tidak disengaja keluar dari mulutnya begitu saja. Alvin mengangguk dengan lemah.
"Ya tuhan Al, itu sudah berlalu sangat lama, dan kamu sudah punya pacar juga, kenapa bisa?"
"Entah lah Hen"
"Lalu Nika kamu kemana kan?"
"Kami sudah putus beberapa bulan yang lalu"
"Al.... Kowe waras to?" (Al.. kamu masih sehat kan?
"Aku masih menyimpan nama mbak mu di dalam sini Hen." ucap Alvin menunjuk dada kirinya. Hendra mengacak rambutnya sendiri bagaimana bisa ini terjadinya sahabatnya juga kakaknya. bagaimana kelanjutan cerita ini kedepannya. Hendra bingung sendiri.
"Kamu yakin?" Hendra kembali menyakinkan dirinya atas kejadian itu. dan lagi-lagi Alvin mengangguk tanpa ragu.
"Aku yakin bisa menerima Bu Sarah dengan keadaannya, tapi aku yakin dia akan membenciku." ucapnya sedih.
Benar yang dikatakan Alvin, walaupun dia menerima Sarah, belum tentu Sarah mau, karena dia hanya dianggap sebagai murid juga partner Hendra.
"Ini rumit Al, tidak mudah, walau kamu berhasil menikahinya, belum tentu dia menerimamu, aku tau bagaimana mbak Sarah. dan lagi-lagi Alvin mengangguk menandakan setuju akan pendapat Hendra.
.
.
.
bersambung
__ADS_1