
*flashback on*
"Arvan kenapa?" tanya Devan pada Rico saat tiba di kantor Arvan.
"Kurang tau dok, tapi sejak beberapa hari Arvan sering mengeluhkan sakit kepalanya."
"Ada obat yang pernah di konsumsi selain obat dari saya?"
"Dia sering mengkonsumsi ini." Rico menunjukan obat yang ada di laci Arvan.
"Dari mana dia dapat?"
"Entahlah, mungkin dari Surabaya waktu itu."
" Apa hanya ini?"
"Setahu saya iya"
"Baiklah lebih baik kita cek lengkap di rumah sakit"
"Bagaimana dengan Bu Sarah?"
"Jangan beritahu dia dulu, lebih baik kita langsung saja." perintah Devan. Lalu mereka bergegas menuju rumah sakit dan melakukan semua tes tanpa sepengetahuan Sarah.
Sarah menghubungi Arvan berkali-kali tidak ada jawaban, lalu dia menghubungi Rico, hasilnya pun sama. " Kemana mereka semua ini? bikin kuatir saja."
"hHuwaaaaaaaa" Tiba-tiba suara tangis dari lantai atas.
" Ya ampun, Arsa..." Sarah langsung membalikan badan dan lari seribu bayangan.
"Kamu kenapa sayang?maafin mommy ya, mommy ninggalin kamu sendirian," Sarah mengelus-elus bagian sakit yang di tunjuk Arsa.
"Mommy mau kekantor Daddy, Arsa mau ikut?"
"Alsa tidak mau pelgi, mau di lumah sama mommy." Ucap Arsa dengan cedalnya sambil memeluk mommy-nya. Sarah bingung karena Arvan tidak dapat di hubungi. "bagaimana ini?" suara Sarah lirih.
"Sayang, mommy tidak bisa menghubungi Daddy nak, bagaimana kalau kita pergi ke kantornya." Sarah mengajak Arsa untuk kedua kalinya.
"Alsa mau di lumah mommy." sambil cemberut.
Sarah menghela napas berat, bagaimana dia bisa dapat menghubungi Arvan jika Arsa seperti ini. " Ya sudah, sekarang mommy mau cari pak Jono dulu ya setelah itu kita bermain."
"Oke mommy." jawab Arsa dengan menunjukan jari jempolnya menandakan dia setuju dengan mommy-nya. Sarah menggendong Arsa yang masih berusia tiga tahun di atas tempat tidurnya lalu meninggalkannya kembali.
"Arsa tetap di atas tidak boleh turun sendiri!" kemudian Sarah berjalan terburu-buru ke depan, biasanya pak Jono ada di sedang membersihkan mobil atau yang lainnya.
"Bi Inah lihat pak Jono?"tanya Sarah saat bertemu Inah di depan tangga.
"Mungkin di depan Bu, karena di belakang tidak ada."
"Oke terimakasih." balas Sarah dan berlalu meninggalkan asisten rumah tangga itu setengah berlari. Sarah mengedarkan pandangannya mencari sosok pak Jono di teras dan garasi, tapi tidak menemukan nya. kemudian dia ke halaman, mungkin saja sedang menyiram tanaman, dan benar saja pak Jono sedang mambantu tukang kebun membersihkan taman. "pak Jono." panggil Sarah
"Iya Bu?" pak Jono pun berlari kecil mendekat pada Sarah.
"Pak tolong ke kantor pak Arvan ya, karena saya hubungi tidak dapat menghubungi Arvan!"
"Ibu sudah menghubungi kantornya atau sekretaris nya?"
"saya tidak sempat berfikir demikian pak, tolong saja pak Jono kesana memastikan keadaannya!"
"Baik Bu, saya kekantor bapak sekarang, harap ibu tenang dulu, sampai di sana saya akan langsung menghubungi ibu" pak Jono mencoba menenangkan majikannya itu. Pak Jono pun pergi dan Sarah kembalinya Arsa.
__ADS_1
.
.
Drrtt
drrtt
"Iya pak Jono?" Sarah menjawab benda pipih yang berdering itu.
"Saya Rico Bu"
"Ya Tuhan Rico, kenapa susah sekali menghubungi mu" keluh Sarah
"Maaf Bu, ini saya di Hospital, bapak Arvan tadi tidak sadarkan diri"
"A-pa?"
"Iya Bu, maaf baru memberitahu sekarang, tapi sekarang bapak sudah siuman"
"Tapi baik-baik saja kan Rico?"
"iya Bu, saya akan jemput ibu dan mengambil beberapa pakaian pak Arvan. "
"Baiklah.Cepat, aku akan menyiapkan pakaian nya." Sarah langsung menutup ponselnya bergegas ke kamar dan bersiap, tidak lupa dengan Arsa.
.
.
Di Hospital dr.Devan tidak mengatakan sesuatu yang berarti, hanya mengatakan bahwa Arvan kelelahan. dan Sarah pun percaya.
Setelah kejadian itu, entah mengapa seperti ada yang berbeda dengan Arvan, Arvan yang gila kerja lebih banyak di rumah dan sering mengajaknya pulang ke rumah ibunya( ibu Fatimah).
"Aku tidak tau apa maksud pak Arvan" ucap Alvin yang dibuat bingung dengan penuturan Arvan.
"Aku tau kamu pria yang baik, kalau tiga tahun yang lalu mungkin kamu masih mahasiswa yang malas-malasan, tapi saya lihat kamu berbeda sekarang, karena itu semoga keputusan ku tepat."
"Saya tidak bermalas-malasan pak, anda tau sendiri waktu itu usaha saya sudah ada di beberapa kota"
"Tapi kuliah mu terabaikan bukan"
"Ya saya akui kalau itu anda benar"
"Aku tau kamu masih menyukai istriku"
"Bu Sarah bukan mainan pak, saya mohon pikirkan baik-baik"
"Setelah aku pergi, aku harap kamu bisa menjaga Sarah dan menyayangi Arsa sebagai putramu"
"Pak Arvan .... Anda"
Alvin tidak dapat melanjutkan kalimatnya, dia bingung harus menjawab apa, karena dia tidak tau berada di situasi seperti apa. Apakah dia harus bahagia atau, sedih? Terasa berat napasnya saat ini.
Bisa di bilang bahagia mungkin dia punya kesempatan mendapatkan pujaan hatinya yang memang masih tersimpan rapi di sana, tidak ada yang bisa mengusiknya. Dia sedih karena dia mendapatkan karena suami pujaan hatinya itu memiliki penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
"Pikirkan baik-baik permintaanku, mungkin dua tahun lagi aku akan meminta jawaban mu." Arvan pergi dar hadapan Alvin, sedangkan Alvin masih membatu di tempatnya.
.
.
__ADS_1
"Kenapa kayak habis melihat hantu" tegur Hendra dari belakang. Alvin hanya menoleh sekilas lalu kembali ke posisi semula. "Al, kamu kenapa? kali ini Hendra menggoyang tubuh Alvin agar segera sadar.
"Hen, coba pukul aku!"
"Hah, apa?
"Coba pukul aku!" suara Alvin sedikit meninggi.
PLAAAKK
"ADUH."
"Kamu kenapa to?"
"Aku enggak mimpi Hen, aku nggak mimpi" Suara Alvin kini bergetar.
"Al Kowe rapopo to (Al kamu tidak kenapa-kenapa?"
"Hen aku kudu piye? (Hen aku harus bagaimana?)"
"Ada apa? Cerita!"
Mendengar Hendra memintanya bercerita dia hanya melihatnya saja mematung.
"lah Ki bocah mlongo maneh ( lah ni anak bengong lagi), kenapa to Al?"
"Maaf hen, aku belum bisa cerita sekarang mungkin nanti" Alvin menepuk pundak sahabat itu dan berlalu meninggalkan nya.
"Al, urusan kita belum selesai"
"Tunda dulu Hen, aku masih ada urusan lain, PENTING!" Jawab Alvin sambil lalu.
.
.
"Dari mana Van, kok baru pulang" tanya Sarah pada Arvan saat memasuki kamar.
"Cari udara segar sayang, gimana Arsa sudah tidur?"
"Lihat saja sendiri" jawab Sarah ketua karena kesal.
"Maaf, tadi tidak bilang padamu" Arvan mengikuti istrinya berbaris dan memeluknya dari belakang.
"Aku MENCINTAIMU "
"Aku tau "
"Jangan marah, itu membuatnya ku sedih"
"Jujur lah kamu kemana?"
"Aku hanya ngopi sayang, di kafe dekat sini" jawab Arvan jujur, tapi tidak detail.
.
.
Bersambung
Maaf reader kesayangan akuh, lama banget up-nya karena moodnya acak-acakan 🙈🙈 semoga sabar ya menanti.
__ADS_1
Selamat membaca