
kejadian demi kejadian membuat Hendra tak dapat berfikir jernih, bagaimana tidak, kakaknya yang sudah berumur di sukai oleh oleh brondong, memiliki kekasih yang terlalu banyak skandal dengan para wanita-wanita cantik.
seperti halnya pertemuan Hendra dan Arvan yang sudah di janjikan.
mereka bertemu jam delapan tepat di kafe milik Alvin dan Hendra, ada Alvin disana dan Arvan kaget melihat keberadaan siswa SMA yang sering mengikuti Sarah pergi kemana saja.
"hai mas..." sapa Hendra
"hai...." namun tak lepas tatapan Arvan pada Alvin dan di ikuti oleh Hendra
"kenapa mas?" tanya Hendra pura-pura tidak tahu
"itu bukanya anak SMA yang di sekolahnya Sarah ya hend"
"ooo..itu Alvin mas, teman Hendra, dia bukan anak SMA mas"
"dia kerja disini"
"tepatnya owner di kafe ini, dia partner saya mas"
"hemmmm" Arvan tidak menanggapi lebih lanjut, karena memang bukan itu tujuan nya, dia ingin bertemu Sarah, dia sangat rindu pada kekasihnya itu
"Sarah di mana hend"
"ada di penginapan"
"jadi apa yang akan kita bahas"
"tentang artikel Minggu lalu mas, sebenarnya ada apa dengan kalian"
"kami baik-baik saja hend"
"tidak dengan mbak Sarah mas, dia sangat terpukul dengan adanya artikel pernikahan mas arvan"
"itu hanya artikel palsu, hoax"
"bagaimana mas arvan membuktikan , pasti berita itu sudah beredar di kolega-kolega mas di perusahaan yang mas pimpin" dengan lesu Arvan mengiyakan perkataan Hendra, dan itu yang menghambat nya datang ke Jogja kemarin sore.
"mas sebaiknya mengakhiri hubungan mas dengan mbak Sarah" Hendra menjeda kalimat nya. saya gak tega melihat mbak Sarah harus menderita karena mas yang tidak tegas"
"baiklah saya akan menikahi Sarah, beri saya sedikit waktu"
"satu bulan mas, saya beri waktu satu bulan untuk membuktikan kata-kata mas arvan"
"ya satu bulan, saya janji"
"ya udah mas, kalau mau ketemu mbak Sarah mas ke penginapan saja, mbak Sarah lagi istirahat saat saya kesini"
"ada siapa disana"
"tenang ada Silvia, mas gak bisa macem-macem sama kakak saya"
"hahahaha...kamu bisa aja hend"
"saya juga laki-laki mas, kalau sepi saya juga pengen gitu-gituan ma yayang, apalagi lama gak ketemu"
__ADS_1
pembicaraan mereka sudah tidak serius lagi, mereka membahas hal-hal kecil yang terjadi di dunia usaha mereka masing-masing.
Alvin menatap mereka (Hendra dan Arvan kesal), bagaimana tidak l, mereka sudah sangat akrab, bagaimana bisa dia bersaing dengan arvan yang notabene nya pria mapan dan tampan.
" oke hen kalo begitu saya langsung kesana ya, saya sudah kangen sama kakakmu"
"jaim sedikit dong mas, saya ini adiknya"
"hahahaha kita sama-sama laki-laki hend, tidak perlu ada yang di tutup-tutupi" Arvan menepuk pundak Hendra dan berlalu meninggalkan nya.
"kenapa dia kesini?" Yuda tiba-tiba muncul di belakangnya
"bikin kaget aja yud"
"gak papa, urusan orang tua"
"dih gayamu" Yuda pun berlalu meninggalkan Hendra dan kini bergabung dengan Alvin
Hendra melihat Alvin terlihat kesal, mungkin karena kejadian tadi pagi, tapi Hendra tidak mau mengungkitnya lagi karena profesional kerja mereka.
mereka membahas tentang strategi kerja kafenya ke depan, tapi Hendra yakin pikiran Alvin tidak berada disini, tapi berada di penginapan nya Sarah. terlihat dari bahasa tubuh yang resah dan tidak fokus pada materi yang sedang mereka bahas.
sebenarnya Hendra tidak tega melihat pertner kerjanya itu sedih tapi ini yang lebih baik dari pada ada kesalahan di kemudian hari.
tapi apakah Alvin sebuah kesalahan?? entahlah ini hanya pikiran Hendra saja
****
di tempat lain penginapan Sarah
Sarah masih dikamarnya. dia kesal dengan Alvin bagaimana dia bisa membohongi nya jika dia masih siswa SMA, padahal dia sudah mahasiswa semester akhir. dan sebentar lagi lulus, Hendra pun tidak memberi tau kalau dia adalah mahasiswa... Sarah memeluk dan menutup wajahnya dengan bantal dalam-dalam. ingin menangis tapi apa yang perlu di tangisi, dia hanya kesal pada dirinya.
"mbak, makan yuk mbak Sarah belum makan lho dari pagi" tapi Sarah tidak bergeming tak lama berselang
"mbak ada tamu" Sarah masih tidak bergeming
"Sarah" suara bariton yang sudah jarang Sarah dengar membuat Sarah mengangkat wajahnya dari bantal. Sarah menunggu lagi meyakinkan dirinya
"Sarah ini Arvan, bisa kita bicara sebentar" Sarah langsung berdiri dan merapikan rambut dan pakaian nya. perlahan membuka pintunya.
setelah pintu terbuka Arvan langsung memeluk tubuh mungil Sarah dengan erat, hal itu di sambut oleh Sarah, mereka sepasang kekasih yang saling merindukan, melepas rindu, Arvan menatap wajah Sarah yang kucel karena Sarah hampir semalaman tidak tidur, mata beruang dan wajah bantal ya itulah kondisi Sarah sekarang.
dengan senyum simpul pada Sarah lalu mengecup kening gadis pujaan hatinya itu.
"maaf terlambat" Sarah tidak menjawab hanya mengangguk dan membalas senyum Arvan.
"tunggu aku di depan dulu ya Van, aku mau mandi" Arvan mengiyakannya.
****
di luar kamar Sarah, Arvan di sibukkan dengan suara handphone yang tidak berhenti berdering.
"angkat aja sih mas, berisik tau" Silvia kesal karena kebisingannya benda pipih itu
"gak penting"
__ADS_1
"kalau gak penting, ya gak bunyi mas" balas Silvia membuat Arvan akhirnya mengangkat benda itu.
entah itu panggilan dari siapa, saat handphone diangkat arvan pun keluar dari ruangan itu
"dari siapa sih, kok sepertinya ada yang disembunyikan"
batin Silvia
"Arvan mana sil" tanya Sarah dari arah belakang, Silvia menengok sumber suara lalu wajahnya menunjukan arah dimana Arvan berada
"*kenapa harus Arvan sih kak, kan sudah Arvan jelaskan Arvan tidak mau"
"......
"Arvan yang akan jelaskan pada pemegang saham tentang artikel itu, karena itu semua kesalahan"
"......
"jangan paksa Arvan harus mengikuti semua kemauan ya kak Andin"
"......
"......Arvan capek, kalo boleh memilih Arvan akan kembali pada kerja lama Arvan dari pada mengikuti kemaauan kak Andin"
".......
"udah ya mbak, Arvan ada urusan
".....
"bukan urusan kak Andin*"
"........
sepertinya Arvan tidak menghiraukan suara di sebrang sana yang masih belum selesai berbicara. setelah mengetahui Arvan akan kembali Sarah segera kembali ke tempat duduknya.
"udah selesai mandinya"
"kamu gak lihat"
"lihat, cantik" Arvan melayangkan ciuman di pipi merona gadis itu " kita keluar, aku lapar"
"disini sudah ada makanan kali mas" Silvia menunjukkan makanan yang ada di meja dengan kesal
"maaf sil, aku akan keluar dulu dengan kekasihku, jadi kami makan di luar ya"
"jangan macem-macem lho mas, aku laporin mas Hendra"
"siap Bu satpam" ucap Arvan seperti sedang horoat pada pimpinan nya
"ih sebel deh"
.
.
__ADS_1
.
bersambung