
Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu
Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku
'Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu
Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
__ADS_1
Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)
..........
"Lho lagunya kok gini." batin Alvin. lalu dia menatap Sarah yang mulai berkaca-kaca. "Bu Sarah enggak papa?"Tanyanya pelan.
"Al, ayo kembali ke Rumah sakit, tidak seharusnya aku disini." ujar Sarah dan beranjak dari kursinya.
"Aduh Al..." Sarah merintih kesakitan. dengan sikap Alvin berdiri dan membantu Sarah duduk kembali.
"Sakit? yang mana?" tanya Alvin seolah menjadi suami siaga. "Tenangkan dulu ya Bu, tarik nafas perlahan." sambungnya mencoba membuat Sarah tenang agar rasa sakit di perutnya berkurang. Sarah mengikuti instruksi Alvin dan memang nyeri itu mereda. "Gimana, lebih baik?" Sarah hanya mengangguk dan tak lama makanan datang. "mbak tolong matikan lagunya, atau ganti saja." ujar Alvin pada pelayan.
"Baik tuan, maaf saya salah putar lagu." setelah selesai menyajikan pesanan pelayan itu pun pergi dan mengganti lagunya.
"Maaf lagunya bikin ibu sedih."
"Enggak apa-apa Al, mungkin saya baper aja." ucap Sarah dan mulai menyuapkan makanannya. Alvin dengan sabar mengambilkan lauk-pauk yang di inginkan Sarah. "Makasih Al."
"Minum dulu Bu!" Alvin memberikan gelas berisikan jus jeruk pada Sarah. "Setelah ini, ibu mau kemana?"
"Kita balik saja ya Al, kayaknya kita sudah lama disini."
"Enggak pengen jalan ketaman dulu?sekalian olah raga biar kuat, Bu Sarah kan jarang jalan ." saran Alvin , dan dia juga menunggu wa dari dokter Devan.
"Boleh, sebentar saja ya."
"Oke," dengan senang hati Alvin menemani Sarah jalan-jalan di taman. "Suami siaga gue." ucap Alvin pada dirinya sendiri.
__ADS_1
.
.
"Tidak..."
"Tidak mungkin dok." ucap Sarah sambil bersimpuh terkulai lemas di lantai. Alvin mendekat meraih tubuh Sarah. "Al, tidak mungkin kan Al..... hikz hikz."
Alvin tidak menjawab tapi dia hanya mengeratkan pelukannya.
"Arvan sudah menyerah Sarah, kamu harus rela melepasnya!" ucap Devan dengan pelan, dia merasa kasihan kepada Sarah. tapi ini kemauannya Arvan yang tidak biasa dia tolak. Tubuh Sarah menggigil karena lelah menangis.
Prak prak prak suara sepatu mendekat Kel kamar Arvan.
ceklek
"Sarah..." Sarah menoleh karena merasa namanya di panggil. dan Alvin melepaskan pelukannya.
"Mami...., Arvan mi..." Sarah mengulurkan tangannya ingin di peluk ibu mertuanya itu.
"Sarah..,"Ibu Sinta memeluknya erat, merasakan beratnya penderitaan Sarah beberapa bulan terakhir ini, dan sekarang dia tengah hamil besar. dengan kacaunya hormon ibu hamil dia juga harus rela menderita dan menjaga suaminya yang tengah koma." kamu sabar sayang, kamu harus kuat! ada mami di sini." ucap ibu Sinta.
"Mommy.." Arsa yang dari tadi berdiri di belakang Oma nya. Sarah langsung meraih tubuh anaknya dan menangis tergugu, tapi dia kesulitan karena perutnya yang tengah membesar. "Mommy jangan nangis ada Arsa disini dengan mommy." bukanya menjadi tenang tangis Sarah semakin menjadi."
.
.
__ADS_1
.BERSAMBUNG.
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰