Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
Episode 2


__ADS_3

“Saat aku telah melupakanmu tetapi kenapa kamu kembali hadir di kehidupanku” - Rara


10 Tahun kemudian...


Rara menghela nafas kesal. Ini sudah sekian kali dia sudah menjelaskan pada polisi bertulang dan tak berdaging di hadapannya, tetapi polisi ini selalu saja menuduh hal yang sama. Menuduh kalau Rara mabuk sambil mengendarai mobilnya, sedangkan Rara merasa kalau dia tidak melakukan yang di tuduhkan olehnya.


Memang benar Rara habis menghadiri salah satu pesta ulang tahun temannya di salah satu club malam, tetapi dia hanya meminum 2 gelas alkohol dan itu tidak dapat membuatnya mabuk. Buktinya dia masih dapat mengendarai mobilnya.


“Dasar, anak muda jaman sekarang, kerjanya mabuk-mabukkan!” kata polisi itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku tidak mabuk, pak,” Jawab Rara dengan ketus.


“Mana mungkin?! Lihat, bau badanmu itu bau alkohol dan bau rokok lagi,” kata salah satu polisi wanita sambil mengendus tubuh Rara.


“Shit!”


“Dimana aku harus tanda tangan?” Suara yang menginterupsi perdebatan kecil antara Rara dan polisi yang tak berperikewanitaan.


Rara mematung dalam beberapa detik. Dia menoleh ke arah sumber suara, di belakangnya, dan...


“Ka..kamu,” Rara bergumam.


Astaga! Seorang pria dari masa lalunya, seorang pria yang mampu membuat Rara menangis semalaman di dalam kamarnya dan mampu membuat dia tidak bernafsu makan selama berminggu-minggu. Pria yang bisa di bilang cinta pertamanya. Pria itu adalah Christian Adam William. Cinta pertama yang mampu membuat Rara menjomblo untuk


sekian lama.


Bagaimana mungkin mereka bertemu kembali? Di kantor polisi? Bertemu setelah sekian lama, tapi Tian terlihat lebih ... Ehm.. Hot..


“Maaf, pak, bisa ceritakan dahulu kronologi kejadiannya?” tanya sih polisi yang berbadan gemuk itu.


“Begini Pak Polisi, aku tidak mau berbasa-basi karena aku sangat sibuk dengan urusanku, jadi aku datang untuk menandatangani berkas kesaksian dan untuk sisanya aku sudah menyerahkan kepada pengacaraku,” kata pria itu yang membuat Rara melongo melihatnya serta polisi yang dihadapannya ini, saling bertukar pandang.


“Maaf, Pak Christian, tetapi untuk saat ini kami membutuhkan anda untuk sedikit kerja samanya. Sih mbaknya ini sudah melakukan kesalahan dan pelanggaran dengan menabrak mobilmu dan di tambah lagi dia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk,” Jawab Pak polisi bertubuh tambun itu.


“Sudah aku katakan kalau aku tidak mabuk Pak,” sela Rara dengan cepat. Seolah dia tidak terima dengan fitnah yang di tuduhkan kepadanya.


“Begini Mbak Rara, kami butuh pernyataan darimu saat ini untuk menindak lanjuti kasus ini . Jadi, keterangan darimu akan kami jadikan landasan untuk mengambil keputusan, apakah kamu akan kami tahan atau tidak,” jelas sih Pak Polisi berkumis.


“Hm.. Ok, begini saja Nona Rara, kita buat keputusan cepat saja karena aku malas jika berurusan lama-lama dengan hal ini. Aku memberikan kamu pilihan, pertama kamu ganti rugi kerusakan mobilku atau kita selesaikan secara hukum,” kata Tian.


“Hmm,” Rara berpikir dengan apa yang harus dia ambil.


“Oke..oke.. aku akan ganti rugi,” Kata Rara, saat melihat Tian yang sudah bangkit dari tempat duduknya hendak keluar.


Mendengar jawaban dari Rara, tanpa di sadari oleh Rara. Tian tersenyum ketus seakan penuh


arti.


“Oke, jadi semuanya dengan cara damai dan baik-baik. Jadi, kalian berdua bisa pulang,” Kata polisi berkumis itu.


Akhirnya Tian keluar dari kantor polisi dan di ikuti Rara di belakangnya sampai ke mobil Tian.


“Hmm, jadi, Nona...”


“Rara, nama saya Clara,” jawab Rara dengan ketus.


“Oke, Nona Rara, Kalau di lihat dari kerusakan dari mobilku, kira-kira kerugiannya 50 juta,” kata Tian sambi melihat bekas tabrakan yang dilakukan oleh Rara.


“Apa 50 juta? Kau gila apa?!” protes dari Rara.


“Hei, kamu tidak lihat jenis apa mobilku dan kau pikir aku harus mempoles yang lecet aja?!” protes Tian yang tidak mau kalah.


Astaga, kenapa gue enggak mikir sampai kesini? Akh, gara-gara tiga polisi itu.. 50 juta? Duit dari mana?  Minta Papa, bisa-bisa aku di coret dari kartu keluarga, Rara berguman dalam hati.


“Ini kartu namaku, kita bisa diskusikan kapan kamu membayar ganti ruginya,” katanya sambil menyerahkan kartu nama.


***


“Rara, kamu tidak mau bangun? Ini sudah jam berapa?’ Siska yang menggoyang tubuh Rara. Rara yang terganggu dengan hal itu langsung bangun walau dengan malas.


Karena kejadian semalam membuat Rara tidak berniat untuk pulang ke rumah, untung saja sahabat baiknya ini bersedia menampung dirinya di rumah.


Rara tersadar dengan apa yang terjadi semalam, dia menyangka kejadian itu adalah mimpi tidurnya ternyata tidak setelah dia melihat kartu nama dari sih pemilik mobil tersebut.


“Agghhhhh,” teriak Rara sambil mengacak-ngacak rambutnya.


“Kenapa?” tanya Siska.


“Oh, itu, semalam aku ketemu dia,” ucap Rara yang beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


“Siapa?”


“Tuh,” tunjuk Rara dengan mulutnya menujuk kartu nama yang tergeletak di kasur. Melihat itu, Siska mengikuti apa yang di tunjukkan oleh Rara. Dengan rasa penasaran Siska mengambil kartu nama itu dan membacanya,” Chriiisstiiaan A. Williiaam,”ucapnya yang seakan mengeja nama tersebut.


“Christian? Chris..tian...,” ucap Siska mencoba mengingat siapa dari pemilik dari nama Christian.


“Ahh, jangan bilang Christian sih cinta pertama yang belum bisa dilupain oleh seorang Rara,” katanya.


“Rara..Rara.. Kapan kamu benar-benar akan melupakan dia?” tanya Siska yang menggeleng-gelengkan kepala.


“Aku sudah melupakannya, hanya saja, dia pergi dengan kesalahpahaman,” ucap Rara dengan mengelak.


“Sungguh? Kamu sudah melupakannya? Karena kesalahpahaman atau karena kamu masih menyukainya?” ledek Siska.


Memang Siska mengetahui isi hati sahabatnya ini, walau saat ini Rara berpacaran dengan Reza, Siska sangat yakin kalau sahabatnya ini belum sepenuhnya melupakan Tian.


Reza adalah kakak tingkat mereka saat berkuliah dan juga dia  tak lain sahabat dari Rendy. Rara dan Reza


telah berpacaran selama 5 tahun.


Sebenarnya Reza menyukai Rara semenjak Rara masih berseragam putih abu-abu, tetapi Reza tahu kalau Rara sangat menyukai sahabatnya itu. Setelah Reza tahu kalau Tian pergi dari kehidupan Rara, membuat Reza berani untuk mendekatkan dirinya pada Rara.


Reza selalu ada untuk Rara di saat Rara senang maupun sedih, hubungan mereka semakin dekat saat Rara menjadi adik tingkatnya di kampus dan sampai akhirnya Reza mengatakan cintanya pada Rara, tetapi sayang, saat itu Rara menolak dengan alasan dia ingin fokus untuk kuliah. Hal itu tidak membuat Reza menyerah, saat


Rara telah lulus kuliah, Reza mengatakan cintanya kembali untuk kedua kali, dan sepertinya Dewi Fortuna berpihak pada Reza, Rara menerima cinta Reza.


Hubungan Rara dan Reza harus kandas, di saat Reza harus pergi ke Kalimantan karena pindah tugas kerjanya. Keputusan itu di ambil setelah mereka melakukan pacaran jarak jauh lebih dari 1 tahun, keputusan itu di ambil karena ternyata mereka berdua tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Walau mereka sudah tidak menjadi sepasang kekasih, tetapi hubungan di antara keduanya sangatlah baik, layaknya seperti kakak dan adik.


Dan kini di saat Rara benar-benar melupakan rasanya pada Tian, tetapi mereka seakan di pertemukan kembal oleh Tuhan.


“Sudahlah, aku harus berangkat kerja karena aku tidak mau sih gendut botak itu mengamuk karena aku terlambat,” teriak Rara yang sudah beranjak ke kamar mandi.


“Hei! Bagaimana kamu bisa bertemu dengan dia?” teriak Siska.


“Aku menabrak mobilnya,” teriak Rara dari kamar mandi?”


“Apa?!” Siska yang langsung membuka pintu kamar mandi.


“Bagaimana bisa? Kamu minum berapa banyak?” kata Siska yang langsung duduk di closet wc.


“Aku tidak mabuk, itu aku karena sih botak gendut yang meneleponku, jadi aku mencari ponselku yang ada di tas. Kau tahu, sih botak itu menyuruhku untuk bekerja di hotel pusat,” sebuah penjelasan dari Rara.


“Aku tidak sengaja menabraknya dan siapa suruh dia memarkir mobil sportnya di pinggir jalan,” gerutu Rara.


“Kamu pikir dia bodoh memarkir mobil di tengah jalan, dan kamu terlalu bodoh jika menabrakan mobilmu ke mobil mewah itu,” kata Siska.


“Ya, sudah mandi sana. Jangan lupa makan sarapanmu di meja serta obat pereda sakit kepalamu yang aku taruh di sebelah sarapanmu!” suruh Siska sambil dia meninggalkan Rara yang sedang mandi.


Beruntung tadi Rara sudah diberikan obat pereda sakit kepala, jadi dia sudah merasa lebih baik. Sehingga dia dapat berangkat kerja dengan sangat baik.


***


Entah sebuah kesialan atau bagaimana, Rara yang terburu-buru berangkat kerja, tiba-tiba mobil yang dia kendarai mendadak mati.


Rara berusaha untuk menstarter mobil berulang-ulang kali.


Kayaknya semalem baek-baek aja ini mobil. Kok sekarang mati sih,gerutu


Rara.


“Astaga, aku mohon jangan begini dong. Mobil sayang, ayo, idup, yah,” ucap Rara dengan sangat panik. Bagaimana tidak panik? Selain dia berangkat yang agak kesiangan dia juga baru teringat kalau pagi ini dia akan ada rapat.


Udahlah, gue naek taksi onlie aja,ucap Rara dengan nada jengkel.


Kalau aku hari ini telat ikut rapat, aku harus menghilang dari muka bumi, ketimbang aku harus berurusan sama sih botak gendut itu!!!, ucap Rara dengan nada frustrasi.


Tiba di kantor, Rara dengan terburu-buru memasuki lift. “ Ah, selamat, aku tidak terlambat” kata Rara sambil melihat jam di tangannya.


Rara dengan sangat yakin kalau dia tidak terlambat dalam menghadiri rapat hari ini, tetapi tetap saja dia mendapatkan ceramah dari bosnya yang gendut botak nan menyebalkan tersebut.


Rara merasa pertemuannya dengan Tian kemarin membuat dirinya penuh kesialan, dari dia yang harus berurusan dengan kantor polisi, mobilnya mati mendadak dan sekarang dia sarapan dengan ceramah bosnya itu.


“Kamu yakin?” Kata bosnya yang bernama Bima itu setelah dia puas berceramah.


“Iya, Pak,” ucap Rara.


Bukannya dia yang kemarin menyuruhku uuntuk pindah ke hotel pusat, tetapi kenapa sekarang dia seperti terkena amnesia mendadak?, gerutu Rara.


Selama 5 tahun Rara bekerja menjadi karyawan bosnya itu membuat dia sudah sangat bersabar menjadi asistennya dari bos yang super genit yang bagi Rara dia sangat menyebalkan.

__ADS_1


“Baiklah, kalau itu kemauanmu. Semuanya sudah di urus,” kata Pak Bima.


Dasar sih botak plin-plan,kata Rara dalam hati.


Sebenarnya  ini sebuah keputusan yang tepat dan yang Rara impikan dari dulu, yaitu dia ingin lepas dari bos yang menyebalkan itu.


Hotel pusat? Setidaknya aku tidak akan lagi bertemu dengan bos yang seperti dia,ucap Rara dalam hati sambil meembereskan berkas-berkasnya.


***


Sepulang kerja, Rara yang telah membersihkan diri dan langsung merebahkan diri di kasur, dan dia mengingat kartu nama yang di berikan Tian padanya.


Dia mengambil kartu yang berada di dalam tasnya, dan dia juga mengambil buku tabungan dalam lemarinya. Dia melihat-lihat isi saldo tabungannya yang sangat pas dengan biaya ganti rugi pada Tian.


Dengan pertimbangan yang cukup matang, akhirnya Rara menghubungi Tian untuk menyelesaikan semuanya, dia berharap jika dia tidak akan lagi bertemu dengan Tian, karena Rara takut jika rasa itu muncul kembali sebab dia sudah sangat susah payah untuk melupakan dia, tetapi disaat dia sudah benar-benar melupakan, orang yang telah di lupakan itu datang kembali.


Rara : Tian, ini Rara.. berapa nomor rekeningmu? Aku akan membayar ganti rugi atas kesalahanku yang menabrak mobilku.


Tian : Sungguh? Baiklah, ini nomor rekeningku, ABC 2320059750 a.n Christian A. William


Tanpa basa-basi, Rara langsung mentransfer senilai 50 juta. Setelah berhasil mentransfer, Rara menunduk sedih karena tabungannya selama dia bekerja sudah habis ludes tak tersisa.


“Huuaa.. tabunganku..”ucap kesedihan Rara.


Rara mengingat-ingat siapa saja yang bekerja di Hotel pusat. “Oia, ada Inka dan Deska,” kata Rara sambil mencari ponselnya.


Rara langsung menghubungi kedua temannya yang bekerja di Hotel pusat untuk menunggunya besok di lobi hotel.


***


Pagi ini, Rara menyambut mentari dengan senyum ceria karena dia mengingat kalau mulai hari ini dia tidak akan melihat muka sih botak mesum itu.


Sampai di lobi hotel, “RARA..” teriak Inka dan langsung memeluk sahabatnya itu.


“Pelankan suaramu, apa kamu tidak malu orang melihat kita?” kata Rara dengan berbisik.


“Biarlah,” kata Inka dengan cuek.


“Bagaimana kamu bisa sampai di pindahkan di hotel ini? apa paman dan spupumu tahu kepindahanmu kesini?” tanya Inka.


“Hmm,” angguk Rara.


“Sudahlah, yang penting aku tidak akan bertemu lagi dengan sih botak itu,” gerutu Rara.


Sudah lebih dari 3 bulan, Rara bekerja di Hotel pusat dan yang membuat Rara bahagia adalah dia memiliki seorang atasan yang sangat baik tidak seperti bosnya yang terdahulu.


Rara tidak menyangka kalau bosnya yang terdahulu selain mesum, ternyata dia terlibat kasus korupsi. Begitulah berita yang Rara dengar saat banyak gosip yang membicarakan mantan bosnya itu.


Hari ini pun, ternyata hari yang di tunggu-tunggu oleh para karyawati yang bekerja disana. Karena hari ini putra dari Pak Adam pemilik dari Hotel AW akan bekerja menggantikan ayahnya Pak Adam.


Sebelum Rara bekerja disana, sudah banyak gosip mengenai putra dari Pak Adam ini. Dari dia adalah seorang pria yang memiliki fisik yang nyaris sempurna sampai bahkan ada gosip yang mengatakan kalau dia gay, sebab dia adalah pria yang cukup dingin dengan wanita. Padahal dengan status dan fisiknya banyak wanita di luaran yang menjadi kekasihnya.


“Oia, Rara, hari ini setelah makan siang, putra Pak Adam akan datang. Kamu juga ikut kumpul di ruang rapat,” suruh Pak Andi Direktur Hotel yang juga orang kepercayaan Pak Adam sekaligus paman dari Rara.


“Kenapa enggak pas jam makan siang sih,pak?" tanya Rara.


“Hmm.. Sana kamu coba bilang ke Pak Adam,” perintah Pak Andi yang membuat Rara manyun. Mana mungkin Rara yang hanya karyawan biasa dapat mengatur sang pemilik hotel tempat dia bekerja.


Akhirnya Rara menyudai obrolan dengan Pak Andi. Rara berjalan menuju lift. dia masuk ke dalam lift dan memencet tombol 1.


Di dalam lift cukup banyak orang, mengingat kalau ini sudah jam makan siang. Saat Rara yang baru saja keluar


dari lift hendak pergi keluar kantor untuk makan siang. Tanpa sengaja dia bertatapan dengan seorang pria yang tengah berbicara dengan seseorang yang kini berjalan ke arahnya. Pria itu adalah pria dari masa lalunya.


Rara yang menatapnya tanpa berkedip tidak percaya dengan siapa yang dia lihat. Sama dengan pria yang dia tatap, pria tersebut pun yang tengah berjalan, tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah melihat Rara.


Pria itu sadar siapa yang dia lihat, kini pria tersebut yang awalnya terlihat ramah berubah menjadi pria yang dingin memancarkan aura yang menakutkan. Bagaimana tidak? Pria yang tadinya ramah, setelah melihat Rara, Pria itu menatap Rara dengan dingin dan dapat membuat Rara yang menatapnya menjadi takut.


Ha? Itu ‘kan Tian? Kok dia bisa di sini? Mati gue! Dia ‘kan benci banget sama gue!,ucap Rara dalam hati.


Saat jarak mereka semakin dekat, secepatnya Rara mengangkat tasnya untuk menutupi wajahnya yang unyu-unyu itu, tetapi pria itu lebih dahulu mengacuhkannya dan melawatinya begitu saja, seakan mereka berdua tidak saling kenal.


BERSAMBUNG ^^


****


 


 

__ADS_1


__ADS_2