
Kring….kring…
Suara bunyi ponsel Rara berkali-kali dan itu sangat menggangu tidur nyenyak Rara. Rara mengutuk siapa saja yang menelponnya dan mengganggu tidurnya saat ini. Dengan mata yang masih tertutup Rara meraba-raba mencari keberadaan ponselnya yang iya taruh di meja sebelahnya.
“Halo,” ucap Rara dengan suara terkantuknya.
“Rara, cepet kamu kelur rumah!” suruh seseorang dari lawan telepnnya.
“Ini siapa?”
“Ini saya Christian.”
“Christian?” jawab Rara mengecek kembali layar teleponnya.
“Pak Tian? Ada apa pak?”
“Cepat ke luar rumah, aku menunggumu di bawah!” perintahnya kembali.
“Ha?” Rara yang langsung beranjak dari tempat tidur, menyalakan lampu dan membuka pinu balkon kamarnya. Dia melihat ke bawah dan ternyata memang mobil Tian sudah berada di bawah.
“Ini masih jam setengah 6, pak” suara Rara memelas.
“Cepat, kalau 10 menit kamu tidak sampai di bawah, aku akan memotong bonus tahunanmu!” sebuah ancaman dari Tian yang mampu membuat Rara terburu-buru. Masih dengan piyama yang dia pakai, dia buru-buru keluar
rumahnya.
“Cepat masuk!” suruhnya setelah membuka kaca mobil.
“I..iya,” jawab Rara yang sembari membuka pintu mobil. Setelah dia memasang sabuk pengaman, Tian baru melajukan mobilnya ke apartemen tempat tinggalnya.
***
Setibanya di apartemennya, Tian menaruh kunci mobilnya di meja ruang tamu dan “ saya lapar,” kata Tian sambil membaringkan tubuhnya di sofa.
“APA?”
“Aku lapar, dan buatkan aku sarapan,” kata Tian dengan santainya.
“Dasar bos gila,” gerutu Rara yang berjalan ke arah dapur.
“Apa kamu bilang?” suara yang sedikit meninggi membuat Rara langsung berlari ke dapur.
Sampai di dapur, dia membuka lemari es dan semuanya penuh dengan bahan-bahan masakan. Tak hanya itu, semula dia tidak melihat penanak nasi, kini sebuah penanak nasi tersedia di dapur milik bosnya itu.
“Hmm.. Pak, berasnya dimana ya?” tanya Rara berteriak.
“Di lemari sebelah kulkas,” Teriak Tian dari ruang tamu.
“Sejak kapan dia punya itu semua??? Jangan-jangan ini sudah dia rencanakan!”,gerutu Rara
Sambil menanak nasi, dia berpikir untuk membuatkan bosnya ini sarapan apa. Akhirnya dia menyari pertolongan dari Mbah Google. Awalnya dia hanya ingin membuatkan Tian telur dadar, tapi dia inget dengan watak bosnya yang menyebalkan itu membuat dia mengurungkan niatnya dengaan membuatkan dia telur dadar. Tapi, semua saran
dari Mbah Google membuat sarapan yang mudah itu adalah telur dadar dengan berbagai kreasi. Dan keputusan yang di ambil adalah telur orak arik dengan di tambah wortel serta daging ayam, dengan bumbu seadanya akhirnya sarapan untuk Tian pun jadi.
Dia menyediakan di piring dan langsung dia taruh di meja makan, setelah semuanya siap Rara langsung menghampiri Tian yang sedang di sofa.
“Pak..” panggil Rara yang tidak ada sahutan dari Tian.
“Buset dah nih orang, dia malah enak-enakan tidur, sedangkan gue harus masak buat dia, emang gue asisten rumahnya?!” dumelan Rara saat melihat Tian kini tengah tertidur dengan pulasnya.
Rasanya melihat Tian yang tertidur pulas, Rara ingin melilitkan tubuh Tian dengan selimut yang menutupi tubuh Tian lalu mengikatnya dengan tali setelah itu akan dia buang ke lautan agar di makan ikan hiu.
“Pak, bangun,” panggil Rara secara sopan hal itu di lakukan karena Rara masih mengingal pria yang di hadapannya ini adalah bosnya. Mungkin jika pria itu kakaknya udah dia pukul pake bantal sofa.
__ADS_1
“Oh, udah matang ya? Lama banget sih,” kata Tian yang langsung melangkahkan kakinya ke meja makan.
Rara memilih untuk tidak ikut makan bersama Tian karena hari ini dia ada janji dengan Inka untuk memakan nasi uduk depan kantor.
“Kamu enggak makan?” tanya Tian.
“Enggak, makanannya buat bapak aja,” ucap Rara.
“Kamu enggak masukin racun ke makanan ini ‘kan?” tanya curiga Tian.
“Kalau saya mau ngeracunin bapak mah udah dari kemarin, kini Tian dan Rara duduk berhadapan, memperhatikan Tian yang kini mengambil sendok yang berisi nasi dan lauk buatan Rara itu, Rara penuh harap kalau Tian menyukai masakannya.
Dan sesaat Tian sudah memasukkan suapan pertama, dengan membulatkan penuh harap dan Rara semakin menelan ludahnya saat Tian tidak ada komentar apapun sampai piring makannya bersih tidak menyisahkan sedikitpun nasi.
Rara yang menyilangkan tangannya memperhatikan Tian,”enak?” tanya Rara sambil menyondongkan badannya.
“Biasa aja!” jawab Tian dengn ketus.
“Biasa aja, tapi bersih tak tersisa ya..” kata Rara mengejek.
“Ayok,” kata Tian.
“Kemana?” tanya Rara bingung.
“Kamu enggak mau pulang? A..ta..u kamu mau mandi di sini?” tanya Tian meledek.
“Ah, ayok kita pulang,” kata Rara langsung berdiri dari tempat duduknya.
“Ayok,pak,” kata Rara meminta Tian bergerak cepat.
***
Setiba di rumah, Rara yang sudah masuk rumah. “Loh, Rara dari mana?” tanya mamanya.
“A..a..bis olahraga,ma,” kata Rara yang terbatah sambil menggaruk-garuk kepala.
“Ka, aku udah gede, enggak usah kali di anter-anter segala,” gerutu Rara.
Selama di kantor, Rara yang sangat mengantuk karena kerjaan bosnya yang membangunkan dia pagi dan menyuruh untuk Rara masak.
Rasa kantuk yang tidak bisa di bendung membuat Rara akhirnya menyerah untuk membuat kopi, seandainya dia bisa tidur pasti sudah dia lakukan.
Seperti biasa jam makan siang Rara sudah berada di kantin dengan sahabat setianya Inka. Rara memilih makanan apa yang akan dia pilih untuk memenuhi perutnya yang sudah lapar.
“Jadi, lu mesen apa,Ra? mau makan aja ribet lu,” tanya Inka.
“Hmm apa ya.. semua nya gue pingin sih,” jawabnya.
“Lu pesen apa?” tanyanya Rara lagi.
“Gue pesen tongseng,” jawab Inka sambil menujuk gambar menu tongseng.
“Hmm, gue ikut lu aja deh,” kata Rara menyerah dengan kebingungannya.
“Ya, udah lu cari tempat duduk, gue yang pesen,” kata Inka
“Oke..” jawab Rara sembari melihat tempat duduk yang kosong.
“Gue duduk sana ya,” tunjuknya.
Tak lama Inka menghampiri Rara menadakan makanan mereka telah di pesan.
“Lu tau ga sih gue kesel banget sama sih Tian,” gerutu Rara.
__ADS_1
“Lah bukannya lu tiap hari kesel ya sama dia, kenapa lagi lu sama dia?” jawab Inka.
“Eh, Ra, ada Tian,” bisik Inka.
Mendengar itu Rara yang sedang asik makan secara reflek dia langsung bersembunyi di bawah kolong meja. Melihat reaksi yang di berikan Rara membuat Inka kebingungan dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu.
“Lu ngapain?” tanyanya
“Sttt.. lu jangan begitu nanti Tian curiga,” suruhnya.
Tanpa sengaja Tian melihat Inka dan langsung menghampiri dia.
“Wah, kamu cewek makannya banyak juga ya,” sindir Tian.
“Hmmm,” katanya sambil menujukkan bahwa adaseseorang di bawah mejanya dengan matanya.
Mengetahui apa yang isyaratkan Inka, Tian yang dengan sengaja mencoba meluruskan kakinya, membuat Rara yang merasa tertendang mengaduh.
Tak puas sampai di situ, Tian melakukannya kembali dan lagi-lagi yang sedang bersembunyi tidak keluar dari persembunyiannya.
“Udah main petak umpetnya?” kata Tian sambil mengintip di bawah meja.
“Eh, Pak Tian, ”katanya sambil keluar dari persembunyiannya
“Sepertinya kalian sudah selesai makan siang. Maaf, sepertinya saya harus bawa sekretaris saya,” kata Tian memberi alasan.
“Oke, Bos,” kata nya yang buru-buru lari menghindar dari Tian.
Niat untuk menghindari Tian, tapi sayang pintu lift mengatakan bahwa dia akan membuka pintunya jika sang Bos sudah berada di depan pintu.
“Ngapain kamu kabur?” kata Tian yang mengagetkan Rara.
“A.. a..anu.. kenapa ya?” kata Rara yang berfikir sambil menggaruk-garukkan kepalanya.
“Kamu ini lain kali kalau bersembunyi tuh yang bener dikit, peratiin tuh kamu pake rok, pake jongkok segala,” gerutnya di dalam lift.
Mendengar itu Rara langsung memperhatikan roknya, dia merasa kalau roknya tidak terlalu pendek.
Rara melirik sebal ke Tian yang sedang melangkah masuk ke ruangannya , dia sebal karena Tian, dia tidak bisa menghabiskan makannya, padahal dia baru 3 suap menyantap nasi dan tongseng daging kesukaannya.
***
“kamu masuh ke ruangaanku,” kata Tian pada Rara melalui telepon.
“Ada apa, pak?” tanya Rara yang kini sudah berada di depannya.
“Ini,” kata Tian sembari menyodorkan kartu Kredit miliknya.
“Buat apa?’ kata Rara dengan ragu.
“Itu buat kamu beli bahan-bahan masakan yang akan kamu masak, ingat hanya beli untuk keperluan kamu masak, bukan yang lain,” jelas Tian.
Rara langsung mengambil kartu itu,”pinnya?” Tian langsung mencatat pinnya di sebuah kertas.
“Saya boleh pulang,pak?” kata Rara.
“Hmm,” hanya sahutan dari Tian yang mengisyaratkan kalau Rara boleh meninggalkan kantor ini untuk pulang karena memang sudah waktunya pulang kerja.
Setelah pulang kerja, Rara pergi ke sebuah tempat yang sudah di janjikan dengan Kak Reza ke sebuah toko baju di salah satu mall yang agak jauh dari tempat dia bekerja, karena dia berharap untuk tidak ketemu bosnya yang menyebalkan itu.
Lagi-lagi Rara harus mengumpat dirinya sendiri yang harus bertemu dengan Tian di mall yang sebesar itu. Awalnya dia menduga kalau pria yang berada di sebuah toko kue itu bukan Tian, tetapi setelah dia memperhatian pria itu dengan intens, akhirnya menyadari kalau pria yang berada di sebrang itu adalah Tian, bosnya. Walau dia melihat Tian dari jarak yang bersebrangan,tetapi dia berdoa dalam hatinya agar dia tidak sampai berpapasan dengan Tian. Lalu dia buru-buru mengajak Kak Reza masuk ke toko baju itu.
Di lain sisi, Tian yang sedang membalikkan tubuhnya, dia melihat wanita yang sedang merangkul pria. Wanita yang dia kenal, Tian melihat wanita itu merangkul pria yang berada di sebelahnya dengan sangat mesra. Melihat itu, tiba-tiba Tian merasa kesal.
__ADS_1
Tian sendiri merasa heran, kenapa dia bisa kesal dengan wanita yang bernama Rara. Mungkin dia kesal karena Rara dengan terang-terangan berselingkuh dengan pria lain, karena Tian paling tidak suka dengan yang namanya PERSELINGKUHAN.
***