
...99. UNINTENDED...
Danang
“Alih tugas di lingkungan Polri merupakan hal yang biasa, wajar dan alami. Dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Dan dinamika tugas guna menjamin kesinambungan pelaksanaan program maupun kebijaksanaan pimpinan.”
“Pada kesempatan ini saya berharap, Kapolsek yang baru beserta jajarannya terus bersinergi dengan instansi terkait. Demi mewujudkan visi dan misi Polri.”
Beberapa potongan akhir kata sambutan yang ia berikan saat memimpin serah terima jabatan (sertijab) 2 Kapolsek baru di Mapolrestabes.
Acara itu telah selesai beberapa menit yang lalu. Bertepatan dengan jamuan makan siang sebagai penutup. Namun justru ia pamit undur diri dengan para pejabat utama dan Kapolsek. Serta Perwira dan undangan lainnya.
“Gak makan siang dulu, Ndan?” Cegah Rendra yang mengekori di belakang.
“Aku ada janji. Ada Pak Waka yang mewakili.” Sahutnya seraya membuka pintu kemudi.
“Aku kembali setelah makan siang.” Pesannya kemudian.
Rendra mengangguk. Memberikan hormat, “Siap, Ndan.” Bersamaan dengan ia yang menyalakan mesin mobil.
Ia melajukan kendaraannya menuju kafe di depan kantor TVS. Siang ini ia akan makan siang dengan Kirei. Sesuai kesepakatan, mereka akan makan bersama. Dan pemilihan tempat sesuai keinginan Kirei.
“Yang deket aja, Mas. Jam 2 aku ada meeting.” Begitu alasannya melalui telepon beberapa saat lalu.
Padahal tadinya ia ingin mengajak ke Sae Care. Chef andalannya menemukan resep baru. Setelah beberapa hari menguji coba. Dan reaksi para pelanggan atas menu tersebut puas, memberikan star rate 5. Dengan begitu hari ini sebenarnya adalah peluncuran secara resmi menu baru. Ia ingin Kirei menjadi salah satu pelanggan yang juga memberikan penilaiannya meski,
“Kalo kata yang lain enak, apa lagi Mas Danang yang nilai pasti aku juga komen setuju.” Tukas Kirei saat ia bercerita soal menu baru. Memang soal selera makan Kirei tipe orang yang tidak ribet. Maunya praktis. Apa yang ada itu yang di makan. Terkecuali yang memang istrinya itu tidak suka. Itu pun cuma beberapa.
Dan selama mereka menikah, Kirei baru bisa memasak makanan kesukaannya saja. Itu juga penuh tragedi, mulai dari gosonglah, keasinanlah, jarinya tersayatlah, dan dapur seperti kapal pecah. Padahal yang dimasak simpel seperti, dadar telur misalnya.
Ia menggeleng sambil tersenyum geli mengingat hal itu.
Jika dinilai soal kelihaiannya dalam masak memasak, Kirei bukanlah tipe istri idaman para suami. Tapi kalau hal lain di luar yang disebutkan baru saja ... Ah, bibirnya tanpa sengaja melengkung ke atas tercetak terang dan benderang.
Bukankah tukang masak sudah ada? Mau yang profesional atau rumahan, tinggal mengeluarkan uang semua bisa ada di atas meja makan.
Bisa dihitung dengan jari masakan apa saja yang baru bisa dimasak Kirei. Seperti ayam lodho, rawon, sop, cap cay, dan tentunya nasi goreng.
Baginya itu sudah cukup dan ia suka. Meski rasanya ya ... ia menipiskan bibirnya. Tapi kalau dimasak dengan cinta jadi beda. Ia terkekeh. Beruntung ada Yumah, yang sigap membantu. Atau ada Mbok Sumi di rumah atas yang selalu memberitahu bumbu-bumbu apa saja. Kirei yang memang cepat tanggap, mampu memahami dan belajar lekas beradaptasi. Sayang, kendalanya cuma satu. Yaitu soal waktu.
Dan ia mengerti.
Kesibukan Kirei. Kesibukannya. Terus beradu. Entah sampai kapan? Ia tak pernah menuntut dan memaksakan.
Tiba di kafe, ia bergegas menuju meja Kirei. Istrinya itu melambaikan tangan.
“Mas ....” Panggil Kirei.
Ia duduk di depan istrinya. Berjarak meja persegi di antara mereka.
“Aku udah pesenin,” ia menatap sekilas Kirei, lalu melihat daftar menu di depannya, “atau mau nambah lagi?”
Ia menggeleng. “Ikut aja.”
Waktu dua jam rasanya sebentar. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Menyimpan sendok dan garpu terbalik di atas piring yang telah kosong. Menegak air putih. Dan mengelap mulutnya dengan tisu.
“Lusa aku ke Jakarta.”
Kirei menatapnya.
“Ada pelatihan public speaking di Mabes selama 3 hari,”
“Seluruh Kapolres dan perwira humas,”
“Kamu gak pa-pa, kan, aku tinggal sebentar?”
Kirei tersenyum, lalu menggeleng.
***
Kirei
Tujuannya kini mengantarkan Danang ke bandara. Satu jam sebelum usai jam kantor. Ia telah meninggalkan pesan melalui Anisa. Setelah dijemput laki-laki itu ia masuk ke dalam mobil begitu pintu belakang terbuka. Menyimpan tas selempang di atas pangkuan.
“Pulangnya sendiri gak pa-pa?” Tanya Danang yang duduk bersisian dengannya di bangku belakang. Sore ini mereka diantar sopir.
“Sudah terbiasa,”
“Sorry ....” Danang sepertinya tidak tega. Tapi ini adalah tugas.
Ia mengusap paha laki-laki itu, “Di rumah, ada Yumah sama Darmo. Don’t worry.” Ia meyakinkan. Bahwa ia akan baik-baik saja.
Laki-laki itu mengusap kepalanya, lalu menggenggam tangannya. “Jaga diri baik-baik, selama aku gak ada.”
Ia mengangguk. Menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu.
“Mas Danang, juga.”
Laki-laki itu mengecup puncak kepalanya, “Always gonna miss you (selalu akan merindukanmu).”
Mereka berpisah tepat ketika panggilan suara bergema untuk penumpang tujuan Jakarta. Laki-laki itu mencium kening, pipi serta puncak kepalanya, “I love you ....” Lalu berlalu seraya melambaikan tangannya.
Ia tersipu malu, ketika ternyata beberapa orang memperhatikan mereka.
Berjalan tergesa-gesa, guna menghindari orang-orang menjadi solusinya. Bertepatan itu dering suara ponsel memanggil.
My brother calling ....
__ADS_1
Ia menunduk menatap layar ponsel, dan cerobohnya ia tak melihat situasi di depannya.
BRUK.
Ia menabrak tubuh seseorang yang tengah berdiri tegap dengan menggeret koper. Tubuhnya oyong ke belakang. Namun dengan sigap orang tersebut menolongnya, meraih tangannya.
“Sori ... sori ....” Ucapnya refleks, masih memegangi tangan orang itu.
“Kirei,”
Sontak ia mendongak menatap orang yang ditabraknya.
“Mas Aldi,”
“Sori ....” Melepaskan tangannya dan sedikit menyentaknya. Tidak menyangka bisa bertemu Aldi setelah kali terakhir mengantarkan pria itu ke panti rehabilitasi.
“Gak apa, Rei.” Sahut Aldi.
“Kamu dari mana?” Imbuh Aldi kemudian.
“Aku ... abis nganterin Mas Danang.”
Hening.
Keduanya sama-sama canggung.
“Kamu,”
“Mas Aldi,”
Menjadi kalimat tak diharapkan yang keluar secara bersamaan.
“Kamu duluan,”
“Mas Aldi duluan,”
Kalimat kedua yang keluar hampir bersamaan lagi.
Hening.
Kecanggungan kembali melanda.
Aldi mengusap tengkuknya. Sementara raut wajahnya sudah seperti semerah strawbery masak sekarang.
Benar-benar terjebak dengan konflik waktu dan tempat yang tak tepat. Hingga keputusannya untuk mengobrol santai menjadi penawaran yang ia berikan. Toh, di tempat keramaian pikirnya. Terbuka, banyak yang lalu lalang. Habis ini ia juga akan memberitahu pada Danang.
Suasana yang tadinya canggung lambat laun sedikit mencair. Meski tidak sepenuhnya. Mereka memutuskan untuk duduk di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari insiden tabrakan tadi. Sembari menunggu keberangkatan pesawat Aldi.
“Mas Aldi mau ke mana?” Setelah beberapa detik mereka duduk. Ia membuka obrolan lagi. Sebab Aldi juga dalam keterdiaman.
“Sori ... lupa!” Sergahnya cepat seraya mengusap keningnya, “Pak Rahmat pernah bilang, Mas Aldi mau ke US. Ambil summer program di sana.”
“Jadi ini ....” Ia menunjuk koper Aldi yang berdiri tegak di sebelah pria itu duduk.
Aldi mengangguk. Tersenyum tipis.
“Oohh ... tentang korlip,”
Aldi menyahut, “Selamat, Rei. Kamu pantas.”
Ia tersenyum samar, “Selamat juga buat Mas Aldi. Semoga sekembalinya dari sana, Mas Aldi lebih sukses.” Doa dan harapannya tulus.
“Thanks, Rei ....” Aldi mengulas senyum, meski tampak terpaksa. Tapi ia bisa memahaminya.
“Sure thing (sama-sama).”
“Soal ... Anisa, dia ....” Ia menjeda sesaat. Berpikir apakah hal ini pantas ia utarakan? Mengingat,
“Beneran sumpah ... gue cuma ....”
“Gak lah ... gue gak mau. Pokoknya gue gak mau. Apa kata dunia, seorang wanita mengemis cinta.”
“Aalaah naif, lo!” Sembur Oka, saat mereka berkumpul bertiga di kafe depan kantor di sela-sela jam break.
“Kalo cinta ya katakan saja. Jaman sekarang bukan lagi diam menunggu. Tapi emansisapi.”
Anisa menyergah, “Emansipasi!”
“Nah, itu.” Oka menyahut.
“Iya, sebelum dia ke US, Nis. Gak ada salah kok. Kita tidak tahu ... jawaban bisa unintended (tak terduga).” Pancingnya. Mencoba memberikan bara api agar Anisa berani.
Tapi sepertinya Anisa berputus asa. Menurutnya Aldi benar-benar hanya menganggap dirinya as a friend (sebagai seorang teman). Tidak lebih!
“Kenapa dengan Anisa?” Tanya Aldi dengan raut bingung dan keningnya mengerut.
Ia menggeleng. Keraguan mulai menghinggapinya.
***
Aldiansyah
Pertemuan dengan Kirei adalah hal tak terduga olehnya. Ia pikir pertemuan terakhir waktu itu ... akan menjadi pertemuan penghujung baginya. Menutup catatan kisah roman picisan untuknya.
Tapi, ternyata Tuhan punya rencana lain. Ia dipertemukan kembali. Dengan dia ....
Obrolan demi obrolan mengalir meski rada canggung. Dan bingung. Tapi, Kirei dengan gayanya mampu mencairkan suasana. Kirei yang supel. Energik. Ceria. Dan ... sejuta pesona yang dipunya. Ia sempat terpukau.
__ADS_1
Lalu ada apa dengan Anisa?
Sahabat Kirei yang akhir-akhir ini memedulikannya. Memberikan perhatian yang tak biasa. Bahkan sirat merona sebagai tanda saat ia bersitatap dengan gadis itu.
Ia menggeleng, lalu menjawab “We’re just friends (kita hanya teman).”
Kirei yang duduk di seberangnya menengadah, menatapnya. Lalu melempar tatapan ke lantai. Menelan ludahnya kasar. Harapannya dan juga harapan Anisa pasti langsung terjun bebas bak pesawat yang hilang kendali dan siap berpasrah diri. Tapi, perasaan itu tidak bisa dipaksakan bukan?
Waktu yang hanya diberikan 1 jam kepadanya serasa bergulir dengan berlari. Beberapa potongan kalimat yang telah meluncur rasanya masih kurang. Ia masih ingin melihat wajahnya. Masih ingin mendengar alunan celoteh bak simfoni yang mengiringi. Meski keterdiaman dan keheningan lebih banyak mewarnai.
Tiba saat ia harus berdiri melangkah untuk pergi. Meninggalkan masa lalu dan menatap masa depan. Entah apa ia bisa? Ia berusaha memantapkan keputusannya.
Meskipun ia sudah belajar dengan kata ikhlas.
Satu hal yang pasti dan ia yakini. ‘Dia’ telah bahagia. Tampak jelas terlukis pada raut wajah dan senyumnya.
Kini gilirannya untuk pergi. Membawa segenap kenangan yang diharapkannya bisa membuatnya perlahan-lahan melupakan. Perlahan-lahan meninggalkan. Dan perlahan-lahan menemukan sosok baru, menggantikannya. Meski ia meragukan.
Langkahnya kian lama kian jauh dari Kirei yang masih berdiri terpaku di belakangnya. Ia tak akan menoleh lagi. Meski dalam hati ingin. Walau langkahnya berat, ia paksa terus berjalan tanpa tersendat. Meneguhkan tekad agar lebih kuat.
Pesawat yang ditumpanginya telah membawanya mengudara. Membelah angkasa, menembus cakrawala. Duduk di kursi samping jendela. Tampak gumpalan awan terlihat berkelompok-kelompok. Berwarna putih seperti kapas. Pandangannya nanar. Ia mendesah, mengembuskan napas.
I’m busy mending broken pieces of the life I had before
(Aku masih sibuk memperbaiki kepingan hidupku sebelumnya)
Heavy for walking
(Berat untuk melangkah)
Even flailed around hopelessly
(Bahkan tertatih-tatih)
Not light to fight
(Tak ringan untuk berjuang)
But I will try
(Tapi aku akan mencobanya)
I need to be strong
(Aku harus kuat)
And your smile is my strenght
(Dan senyumanmu adalah kekuatanku)
I just have to move on
(Aku hanya harus melanjutkan hidup)
Without you
(Tanpa kamu)
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1