Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
69. Bimbang


__ADS_3

...69. Bimbang...


 


Danang


Ia bukan tidak tahu atau menutup mata tentang kejenuhan yang tengah dihadapi Kirei. Ia juga telah membaca surel yang masuk ke alamat email istrinya. Sebab malam itu tanpa sengaja ia mendapati istrinya tertidur di atas meja kerjanya. Berbantal lipatan tangannya sendiri. Dengan layar laptop yang msih menyala.


Ada daftar riwayat di kolom mesin pencarian. Dan semua menyoroti mengenai pemberitaan TVS yang dibeli oleh perusahaan media besar di Indonesia.


Lalu semua seakan berhubungan dengan isi surel tersebut.


Ia menghela napas.


Mengajak Kirei untuk berlibur sejenak mungkin bisa mengurangi kejenuhannya. Pun, ia juga sadar bahwa waktu yang dimilikinya tak cukup untuk membersamai Kirei setiap waktu. Bahkan kalau dihitung-hitung dengan rumus matematika dan statistik waktunya lebih banyak untuk bekerja dibanding untuk keluarga.


Ia menutup map berwarna biru. Laporan oleh Kepala Sub Bagian Operasional dalam bulan ini. Setelah membubuhkan tanda tangan di sana.


Rendra yang sedari tadi berdiri menunggu titah selanjutnya masih bergeming. Meski jika ajudannya itu berhitung waktu, sudah ada 15 menit ia terpaku.


“Ren,” panggilnya.


Baru Rendra tersentak. Mungkin pikirannya juga sedang tidak di tempatnya.


“Ya, Pak.” Jawabnya kemudian.


“Weekend ini kosongkan waktu. Saya mau berlibur dengan keluarga. Nginap di Skyway 2 malam. Hari Sabtunya kita ke Bandungan, hubungi tim paralayang. Juga Arik dan Aksa.”


“Baik, Pak.” Rendra bergegas keluar ruangan. Melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasannya itu.


**


Kirei


“Ya.” Sahutnya saat menerima telepon dari Pak Rahmat. Keningnya berkerut. Ia tak menyangka akan ditelepon oleh atasannya itu. Oh, bukan ... mantan atasannya tepatnya. Meskipun Pak Rahmat sempat berujar, bahwa ia bisa kapan saja kembali ke TVS. Tapi rasanya tetap tidak nyaman. Bagaimana dengan komentar orang-orang terhadapnya nanti. Keluar masuk TVS seenak hati.


“Apa kabar, Rei?” Pak Rahmat bersuara di ujung telepon menanyakan kabarnya.


“Baik, Pak. Kabar saya baik. Bapak gimana kabarnya?”


“Saya juga baik. Cuma kondisi perusahaan sedang tidak baik,” suara Pak Rahmat terdengar sumbang.


“Kamu mungkin sudah mendengar. Atau bahkan membaca berita soal ....”


Jeda sejenak.


“Soal TVS yang dibeli oleh Emtek.”


“Bukan masalah kami tidak mampu bertahan. Tapi mayoritas pemegang saham setuju atas pengambilalihan ini. Dan mereka berharap TVS lebih maju dan mengudara lebih luas.”


Ia masih setia mendengarkan suara Pak Rahmat di seberang sana. Sambil matanya terus mengawasi Danang yang sebenarnya sudah tak terlihat lagi.


“Bisa kita ketemu Senin besok?” Pinta Pak Rahmat.


Ia terlihat berpikir.


“Ada hal yang saya mau bicarakan sama kamu, Rei.” Lanjut Pak Rahmat.


“Baiklah, Pak. Saya akan datang ke—”


“Tidak usah ke TVS, kalo kamu tidak nyaman. Kita bisa ketemu di kafe seberang kantor.” Potong Pak Rahmat seakan paham akan kondisinya.


Sore harinya mereka kembali ke Skyway. Sementara Rendra kembali ke kota.


Ia meminta Danang menemaninya ke Griyo Farm. Kebetulan juga sedang musim panen buah dan sayuran.


Matanya langsung berbinar senang, saat melihat hasil panen berkebun cukup banyak. Ada strawberry, jambu biji, kelengkeng dan berbagai jenis sayuran pegunungan.


“Pasti Yumah seneng banget,” gumamnya. Dua boks sayuran dan buah-buahan siap dibawa pulang.


“Mau buka warung di rumah?” Sindir Danang saat mereka beristirahat di gazebo.


Ia menipiskan bibirnya, “Bukan buka warung. Tapi mau dibagi-bagi.” Selaknya berkilah. Daftar orang-orang yang akan menerima hasil berkebunnya sudah ada di list otaknya.


“Enak ya, Mas tinggal di pegunungan gini. Adem. Gak panas kayak di kota.” Matanya mengedarkan ke seluruh penjuru. Kebun sayur menghampar hijau. Terlihat subur. Lalu pandangannya terpaku pada gunung yang gagah menjulang di depannya. Serasa dekat.


“Yakin, mau tinggal di sini?”


Ia menatap pada laki-laki yang duduk di sebelahnya. Mata mereka bertumbukan sepersekian detik. Lalu ia tersenyum tipis.


“Kalau kamu jenuh di kota kita bisa kapan pun ke sini. Jangan khawatir.” Tukas Danang.


“Mas, Senin besok Pak Rahmat ngajak ketemuan. Ada hal yang mau dibicarakan katanya,” ucapnya kemudian. Mungkin waktu yang pas untuk membicarakan ini dengan suaminya.


Laki-laki itu masih terdiam.


“TVS dibeli Emtek.”


“Mungkin—”


“Kalau kamu mau kembali ke TVS aku mengizinkan.” Potong Danang.


Sontak ia menoleh pada laki-laki itu. Menatapnya. Walau ia ragu. Apa benar Danang akan memberinya kebebasan untuk kembali menjadi jurnalis.


“Asal—”


Hening sesaat.


“Asal?” Ia menunggu kelanjutan kalimat itu.


“Kamu bisa jaga diri. Liputan yang membahayakan seperti kemarin sebaiknya tidak perlu diambil.”


“Kamu bisa jadi jurnalis bagian entertain misalnya, atau bagian lain yang punya resiko kecil.”


“Atau ... presenter. Tidak perlu ke lapangan”


“Mas ....” Ia menggeleng, “kemarin itu udah resiko aku jadi jurnalis. Jadi jangan salahkan profesiku.”


“Semua profesi punya resiko masing-masing. Mas Danang juga profesinya malah lebih berbahaya. Tiap hari ngadepin kriminalitas. Ngadepi orang-orang jahat ....”


“Tapi aku dibekali untuk itu, tidak sembarangan.”

__ADS_1


“Iya, aku tau!” Salaknya.


“Tapi sama-sama beresiko, kan!?” Ia tak mau kalah berdebat.


Danang berdecak, “Ngeyel!” Semburnya.


**


Kirei


Ia menunggu Pak Rahmat di kafe seberang kantor TVS. Baru lima menit yang lalu ia tiba di sini.


Setelah memesan minuman sesaat, Pak Rahmat datang menghampirinya.


“Sori, Rei ... kamu nunggu lama.” Ucap Pak Rahmat.


“Bagaimana kabarmu?” Tangan Pak Rahmat terulur.


Ia berdiri menyambut kedatangan Pak Rahmat lalu tersenyum menjabat tangan mantan atasannya itu,


“Baik, Pak.” Jawabnya.


Mereka duduk berseberangan.


“Aku dengar kamu telah kembali dari Gorontalo dari Anisa.”


“Sebenarnya, aku sudah mengirim email beberapa hari lalu. Tapi lama mendapat balasan, makanya aku telepon kamu. Sori, kalau waktu itu ganggu liburan kamu.”


Ia menggeleng, tersenyum tipis.


“Maaf, Pak. Saya belum sempat membuka email dari Bapak.” Sahutnya.


“Orang Emtek juga kemarin sempat menanyakan kamu.”


“Ya, saya sempat menerima emailnya juga. Tapi belum sempat saya buka.” Terangnya.


“Mereka menawarkan pekerjaan untuk kamu bergabung dengan Emtek media corp.”


Ia terdiam mendengar kabar itu.


“Hanya kamu satu-satunya pegawai TVS yang ditawari kesempatan itu.”


“Ini kesempatan emas, Rei.”


“Media selevel Emtek tidak kaleng-kaleng. Punya televisi nasional 3 channel. Media cetak, online, radio. Bahkan beberapa stasiun TV lokal bergabung dengan Emtek. Termasuk TVS sekarang ini.”


Sepanjang perjalanan pulang ia termenung.


“Mereka menginginkan kamu menjadi presenter di salah satu program acara mereka.”


“Kontrak eksklusif. Kamu ada mendapat fasilitas selama di Jakarta.”


Jakarta?


“Sudah sampai, Bu.” Ucap sopir Mas Danang yang dikirimnya tadi untuk menjemputnya.


“Oh, makasih, Pak.” Ia lekas turun dari mobil. Melempar senyum pada Darmo yang menyambut kedatangannya.


Ia duduk di kursi mini bar. Sambil memainkan sendok untuk mengaduk teh madu yang baru saja dibuatnya.


Bunyi beradu sendok dan gelas tak mengganggunya sedikit pun. Malah menjadi pengiring pikirannya yang sedang pergi mengembara.


“Ini kesempatan emas, Rei.”


Kata-kata Pak Rahmat terngiang kembali.


“Hanya kamu satu-satunya pegawai TVS yang ditawari kesempatan itu.”


Ia memejamkan mata. Sambil tangannya terus bergerak mengaduk teh madu yang jelas-jelas sudah dingin dan madu terlarut sempurna.


“Mbak Rei,” panggil Yumah.


Ia setengah kaget seraya menjengit. Teh madu di hadapannya tumpah sebab tersenggol tangannya yang refleks.


“Waduh ... maaf, Mbak.” Yumah merasa bersalah mengagetkan majikannya itu. Dengan cepat wanita itu ke dapur mengambil lap bersih.


“Biar aku aja, Yu.”


“Sudah, saya saja. Mbak Rei istirahat. Atau saya buatkan lagi teh madunya.” Yumah lekas membersihkan sisa tumpahan teh tersebut.


Sementara ia masih berdiri melihat Yumah yang lebih gesit. Menolak tawarannya.


“Baiklah, kalo gitu aku tinggal ke kamar. Makasih, Yu.” Ucapnya sebelum meninggalkan mini bar.


Nyatanya merebahkan tubuhnya di kamar tak membuat matanya terpejam. Ia membuka surel yang sempat belum dibacanya tersebut. Seketika ia mengernyit ketika mendapati surel itu telah dibaca. Padahal ....


Ia menelepon Anisa untuk meminta pendapatnya. Kata gadis itu terima saja tawaran langka dari Emtek.


“Emtek gitu, lhoh.”


Toh, tidak selamanya tinggal di Jakarta. Pun, Jakarta-Semarang dekat bisa kapan pun pulang. Lagi pula Mas Danang setuju apabila ia kembali menjadi jurnalis. Begitu saran dari Anisa.


Ia menghela napas.


Lalu ia menghubungi Ken. Kakaknya yang masih setia menjadi tumpahan curahan hatinya


“Aku selalu mendukungmu, Rei. Yang terbaik buatmu. Jika Danang mengizinkan, pergilah. Kesempatan tidak datang dua kali.”


“Yang penting kamu bisa jaga diri. Jaga kepercayaan Danang.”


Sepotong kalimat Ken yang masih diingatnya.


Malam ini laki-laki itu pulang larut.


“Sayang, tidurlah duluan. Aku masih ada kerjaan. Mungkin sampai pagi.” Begitu isi voice note dari suaminya. Entah mengapa akhir-akhir ini laki-laki itu lebih banyak mengirimkan voice note dibanding pesan tertulis.


Katanya kalau rindu raganya paling tidak bisa mendengar suaranya. Ia tergelak mendengar alasan gombal dari laki-laki itu.


**


Danang

__ADS_1


Malam ini ia mendapat informasi jika akan terjadi transaksi di daerah pelabuhan. Ia beserta tim Satresnarkoba dan Satreskrim telah siap di tempat tak jauh dari area yang akan berlangsungnya transaksi barang terlarang tersebut.


“Tim 1.” Panggilnya melalui HT.


“Siap. Solo Bandung.” Jawab ketua tim1.


“819?” Tanyanya.


“Siap. Timur Kupang Ambon.”


“Solo Garut,” sambungnya.


“Siap. 86.”


Ia bersama tim 2 berada pada sisi selatan dan timur. Sementara tim 1 mengepung di sisi barat dan utara. Menunggu hampir satu jam lamanya. Mereka tak pantang mundur. Meski tubuh dikerubungi nyamuk rawa. Juga bau menyengat dari selokan pertemuan antara air laut dan pembuangan limbah rumah tangga begitu menusuk hidung.


Umpan kali ini harus dapat. Sebab pengintaian sudah satu bulan lamanya.


Tepat pukul 01.30 WIB umpan yang ditunggu akhirnya muncul juga. Setelah memberi aba-aba untuk cepat bergerak. Mereka lekas mengepung dari segala sudut. Tidak akan membiarkan tangkapan ikan besar kali ini lolos. Sebab umpan ikan kecil telah berada di balik jeruji.


Serangan balik dilancarkan oleh para tersangka. Mereka mencoba kabur. Bahkan melawan para petugas. Menembaki apa pun demi terhindar dari jeratan hukum.


Dor.


Letusan timah panas mengenai sisi bahu sebelah kirinya. Beruntung ia sigap menghindar. Nyaris, hanya berjarak 5 senti meter. Peluru itu mengenai tembok. Melenting lalu jatuh bebas. Meninggalkan jejak di sana.


Beberapa kali suara tembakan berdesing. Terdengar keras di suasana malam yang tampak mencekam. Meski sesekali terdengar suara suling kapal bersandar maupun berlayar.


Tersangka yang berjumlah 6 orang semuanya terkepung. Dua orang menyerahkan diri dengan mudah. Sebab kepala mereka tertodong senjata laras panjang sejenis senapan serbu SS1-V2.


Sementara 4 orang lainnya berusaha melawan. Terus menembakkan peluru ke arah petugas. Ia memerintahkan pada anggotanya agar melumpuhkan tersangka. Sebab semakin membahayakan. Para tersangka terus menyerang dengan melesakkan timah panas. Anggotanya terancam. Pun dengan warga sipil di sekitarnya.


Begitu kata perintah ‘lumpuhkan’. Anggota gabungan Satreskrim dan Satresnarkoba menembakkan senapan serbu SS1-V2 ke udara. Sebagai peringatan awal. Tak diindahkan, lalu melesakkan ke arah para tersangka. Tiga tersangka langsung tersungkur seketika.


 


 


Catatan:


Sandi kepangkatan internal polisi:


Solo Bandung: standby


819: situasi


Timur Kupang Ambon: terkendali aman


Solo Garut: siaga


86: dimengerti


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan like, comment, rate 5, gifts, dan vote-nya .... 🙏.


 


 


  


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2