
...75. Melodramatis...
Kirei
Cerita sepotong pizza berakhir dengan dramatisasi tadi malam. Ia sebenarnya tidak rela melihat sisa potongan terakhir harus berakhir di mulut suaminya. Mendadak kesal. Belum lagi bercampur dengan sikap laki-laki itu yang acuh tak acuh. Jawaban yang berbelit dan berkelit.
Ia beranjak dari duduk. Mengentakkan kakinya. Tapi laki-laki itu dengan cepat mencengkeram lengannya. Menariknya untuk kembali duduk. Mereka berhadap-hadapan.
Tanpa komando, potongan pizza itu didaratkan ke mulutnya yang terbuka sedikit. Tentu dengan perantara bibir laki-laki itu.
Matanya seketika membulat. Tapi ia tak bisa menolak. Menggigit kecil potongan dengan mengunyahnya secara paksa.
Danang meraih tengkuknya, mengusapnya perlahan. Sementara tangan satunya menarik pinggangnya agar semakin mendekat.
Ia terbuai sesaat.
Bibir laki-laki itu dengan cepat meraup bibirnya. Jelas suaminya menang telak. Ia yang tadinya masih kaku dan kesal lambat laun menikmati drama sepotong pizza yang masuk ke dalam mulutnya. Ia mencondongkan tubuhnya. Melingkarkan kedua tangannya pada pinggang laki-laki itu. Dan memejamkan mata.
Mereka saling mencecap. Menautkan lidah. Menikmati rasa yang berselimut dalam hati keduanya. Buncah rasa rindu yang bertemu akibat jarak yang mengadu.
Tak dapat dipungkiri. Ia merindukan sentuhan ini. Merindukan buaian dari laki-laki itu. Meski rasanya aneh kali ini. Dominasi rasa saus mayones bercampur lelehan keju. Dan ... seketika ia sadar. Membuka mata. Melepaskan pertautan bibir mereka. Dengan napas menderu.
“Sesuai rekomendasi tim assessment yang terdiri dari dokter, anggota polisi khusus konseling, anggota BNN dan jaksa. Memutuskan Aldi hanya sebagai pemakai. Jadi besok mau dipindah ke panti rehabilitasi.”
“Aldi membeli barang itu dari si M dan baru 3 hari yang lalu si M ditangkap. Pengakuan si M, Aldi hanya pelanggannya.”
“Baru 3-4 bulan terakhir Aldi jadi pemakai aktif.”
“Temuilah dia. Berikan support padanya,” ucap Danang saat mereka sudah kembali ke kamar tidur dan bersiap untuk memejamkan mata setelah puncak drama berakhir dengan ia yang bergegas meninggalkan laki-laki itu tanpa kata.
Padahal dalam hatinya ia bahagia. Meski sekelebat bayangan pengacara Aldi masih membuatnya kesal. Ia menuntut kejelasan dari laki-laki itu. Tapi sepertinya Danang tidak mengerti maksud dan kemauannya.
Ia mengubah posisi tubuhnya miring kedua tangannya dijadikan bantalan, menghadap laki-laki itu, “Makasih, Mas.” Ucapnya.
Danang menatapnya, ikut mengubah posisi tidurnya. Sehingga mereka saling berhadapan.
Lama sepasang mata mereka saling tatap.
“Dia butuh kamu untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Mungkin perasaan dia ke kamu belum tuntas. Ada sesuatu yang membebaninya.”
“Mas ....” lidahnya kelu. Sebenarnya pada awalnya ia ingin melakukan itu. Menemui Aldi dan berbicara dari hati ke hati. Sebab telepon Mas Budi beberapa waktu lalu saat ia baru tiba di Jakarta. Yang mengatakan padanya bahwa Aldi terpuruk semenjak mengetahui status pernikahannya.
“Dia sering mabuk-mabukan. Pekerjaannya terlantar. Bahkan Pak Rahmat sering uringan-uringan sama dia karena hasil kerja yang gak sesuai,”
“Aldi semakin aneh, Rei. Kadang malah berlebihan menghadapi sesuatu. Padahal itu masalah kecil,”
“Puncaknya aku nemui dia lagi teler di apartemen. Sudah 3 hari gak masuk kerja. Dia mengigau dan namamu selalu disebut-sebut. Bahkan bersumpah akan menemui Danang dan menghajarnya sejak tahu kamu resign dan pergi ke Gorontalo karena mengetahui kenyataan tentang kematian ayahmu.”
Laki-laki itu mengusap pipinya lembut, “Selesaikanlah ....”
“Aku percaya sama kamu.” Danang merengkuhnya. Membawanya dalam dekapan. Malam itu berakhir saling berpelukan.
**
Danang
Menurut tim konseling anggotanya yang menangani kasus Aldi. Pria itu terjerumus oleh teman-temannya akibat circle pertemanan yang toksik.
Tapi di balik itu semua. Ada hal utama yang mendasarinya.
Yaitu kekecewaannya atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Rasa percaya dirinya seketika runtuh. Ditambah lagi dengan melihat orang yang dicintainya mengalami depresi akibat kekecewaan atas pernikahannya yang berhubungan dengan kasus kematian ayahnya. Namun Aldi tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia menghela napas dan membuang kasar ke udara.
Kirei harus menyelesaikan ini. Sebelum semua terlambat dan semakin parah. Ia baru tahu jika Aldi begitu mencintai istrinya. Meski ada rasa cemburu yang menyelinap dalam hatinya. Tapi ia berusaha menekan. Ia percaya Kirei tetap menjaga hatinya. Hanya untuknya.
**
Aldi
Ia memakai pakaian yang berbeda pagi ini. Kemeja lengan panjang berwarna putih polos yang ia gulung sesiku dan celana chino. Pakaian yang dititipkan seseorang untuknya tadi malam lewat penjaga. Entah siapa orangnya, penjaga itu juga tidak memberitahukan secara rinci. Yang jelas seorang wanita.
Pagi tadi ia juga diberitahukan bahwa hari ini ia akan dipindahkan ke panti rehabilitasi lewat pengacaranya.
Namun, sebelum berangkat ke sana penjaga memintanya bersiap-siap sebab seseorang ingin bertemu dengannya.
Bukan lagi di ruangan besuk tahanan. Tapi ia digiring ke sebuah ruangan yang berbeda. Setelah memasuki lorong cukup panjang, penjaga yang membawanya membukakan pintu berwarna putih untuknya.
“Silakan,” penjaga itu mempersilakannya untuk masuk lalu menutup pintu kembali.
Ia menatap seseorang yang tengah berdiri bersedekap menatap kaca jendela yang terbuka. Dari sana bisa terlihat taman dan kolam ikan yang dilengkapi air mancur.
Ia masih terpaku berdiri di belakang Kirei.
__ADS_1
“Maaf, kalau Mas Aldi bertanya-tanya kenapa Rei ngajak bertemu di sini.” Ucap Kirei setelah memutar badannya dan menghadapnya.
“Sebentar lagi Mas Aldi dipindah ke panti rehab. Di sana Mas Aldi bisa menyembuhkan diri. Bisa beraktivitas normal. Melakukan apa saja yang Mas Aldi suka.”
Ia masih bergeming.
“Rei berharap Mas Aldi seperti dulu lagi,”
Jeda sejenak. Suara gemercik air dari pancuran menjadi latar pertemuan mereka.
Lalu Kirei berdecak, “Korlip yang ... galak. Judes ... pedas kalo ngomong. Pokoknya menyebalkan.”
“Itu kesan pertama yang aku dapat dari Mas Aldi,”
“Dulu aku sering banget kesel kalo Mas Aldi lagi marah dan seenaknya merintah.” Keluh Kirei.
“Aku ngumpat aja kalo Mas Aldi mau ku jadiin sambal bawang,” Kirei tertawa, “sambal bawang itu dari cabe setan. Pedesnya ampun, bon cabe masih kalah level.” Kirei menunduk seraya menahan tawa.
Sedetik kemudian Kirei menengadah menatapnya, “Mau tau gak, Mas aku ngumpatnya gimana?” Kirei geleng-geleng kepala kala mengingat hal itu.
Sambil memasang wajah marah dan geram, ia beraba-aba mempraktikkan gaya kalau lagi kesal padanya,
“Kalo bukan atasan gue, sudah tak becek-becek jadi sambal bawang buat makan siang!”
Lalu Kirei tergelak.
Ia yang tak sadar melengkungkan bibirnya ke atas.
“Jadi aku ibarat cabe setan?” Tanyanya spontan.
Kirei tersenyum lalu mengangguk, “Maaf ....” Cicitnya seraya meringis. “Sambal bawang itu kesukaanku,”
Ia berdecak, “Apa aku segalak itu dulu?”
Kirei sejenak terdiam, “Gak juga sih. Hanya ....”
“Hanya apa?” Sergahnya cepat sebab penasaran akan jawabannya.
“Hanya kalo lagi kerja gak bener aja. Tapi semua ada hikmahnya kok. Terima kasih, Mas.”
Ia tersenyum tipis. Entah sudah berapa lama ia tidak mengobrol seperti ini dengan Kirei. Sepertinya sudah lama sekali. Tapi anak itu masih sama. Ceria, bersemangat dan ... cantik.
Ia melangkahkan kaki mendekati jendela. Menyelipkan satu tangannya pada saku celana samping. Menatap pemandangan di luar.
Kirei yang berdiri tak jauh dari jendela juga ikut mendekat, berdiri di sampingnya menatap pemandangan di luar sana. Ikan berwarna merah-oranye itu melenggok berenang ke sana kemari. Terkadang dengan gerakan cepat sehingga menimbulkan bunyi kecipak.
“Thank you ... kamu udah datang memberikan support,”
“Aku ... aku memang bodoh. Tergiur dengan barang itu tanpa memikirkan efeknya. Aku ....”
“Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.” Kirei menyergah.
“Kesalahan itu tempat kita untuk memperbaiki ke depan. Agar tidak terulang. Bukan malah menjustifikasi diri sendiri. Rei yakin Mas Aldi mampu melewati ini semua.”
Jeda sesaat.
“Dan semoga ... Mas Aldi bisa menerima Rei yang sekarang ....”
“Kita masih bisa berteman. Masih bisa bercerita, bertukar pendapat selayaknya dulu.”
“Apa jadinya jika waktu itu pilihan dari Mas Aldi antara continue or quit ... dan aku pilih quit,” Kirei menggeleng, “menyerah sebelum berperang. Kalah sebelum merasakan perjuangan.”
“Kata-kata itu jadi motivasi untuk terus membuktikan bahwa aku yakin aku bisa. Aku mampu. Aku harus buktikan! Dan ternyata aku mampu melewati itu semua ... tentunya dukungan Mas Aldi dan semua tim.”
“Tanpa Mas Aldi, Rei tidak bisa seperti ini.” Kirei mengulas senyum.
“Terima kasih ... untuk kesempatan tetap berada di divisi news saat itu. Jadi jurnalis telusur peristiwa. Memberikan peluang menjadi presenter ... news anchor semua berkat Mas Aldi. Sampai Rei di titik ini, Mas Aldi selalu memberikan support.”
“Tanpa kesempatan itu, mungkin Rei bukan siapa-siapa sekarang.” Kirei menatapnya sekilas lalu melempar pandangan kembali ke luar.
Ia menghela napas. Memejamkan mata sejenak. Senyum terbit di bibirnya.
“Kamu pantas mendapatkan semua itu Rei.”
“Kamu punya kemampuan untuk itu. Ditambah passion kamu di bidang ini.”
Kini ia menghadap Kirei. Menatap wanita yang telah membuat hatinya bahagia sekaligus merana. Walaupun ia tidak akan pernah memilikinya tapi wanita itu tetap mengisi relung hatinya yang lain. Mungkin benar ia harus belajar bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia dengan kehidupannya? Meskipun sulit. Sebab sejatinya kebahagiaan sempurna bukankah jika kita bisa mencintai sekaligus memiliki?
Ia menghela napas. Mengulas senyum tipis dan samar.
“Aku sekarang belajar ikhlas, Rei. Ikhlas dengan jalan yang akan membawaku,”
“Walau mungkin keinginanku berbeda dengan takdir yang dituliskan. Tapi sekarang aku pasrah. Jika memang ini jalannya.”
__ADS_1
**
Danang
Pertemuan Kirei dan Aldi sedikit menyisakan kecemburuan. Berdua dalam satu ruang. Bahkan tertawa-tawa. Gestur Aldi jelas menggambarkan pria itu begitu bahagia di dekat istrinya.
Ia merasakan dadanya bergemuruh.
Kamera CCTV di dalam ruangan itu sangat jelas setiap pergerakan. Bahkan ia memesan CCTV yang paling mutakhir. Demi melihat interaksi keduanya dari sudut mana pun.
Tetapi kekhawatirannya menguap ketika tidak ada yang berlebih dari interaksi keduanya. Berakhir dengan berjabat tangan. Lega.
Memang semua sudah ia rencanakan. Dalam waktu yang singkat setelah mendapat hasil dari tim assessment. Bertepatan dengan Kirei pulang.
Pulang?
Astaga! Ada yang hampir terlewatinya.
Ia merogoh ponsel dalam saku celananya. Menghubungi seseorang.
**
Kirei
Ia mengantarkan Aldi hingga tubuh pria itu hilang di balik pintu mobil yang tertutup. Ada Anisa, Oka, Mas Budi dan Pak Rahmat atasannya sekaligus kerabat Aldi.
Terlihat Pradipta berbicara dengan Danang. Wanita itu berjabat tangan dengan suaminya, melempar senyum lalu berlalu masuk mobil. Mengiringi mobil yang membawa Aldi ke panti rehabilitasi.
Ia menatap laki-laki itu bertepatan dengan Danang yang juga melihat ke arahnya. Sepersekian detik mata mereka bertumbukan. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan.
Hingga rekan-rekannya mulai saling berpamitan.
“See you, kapan-kapan kita agendakan nonton atau ke mana gitu.” Ujar Oka yang menjabat tangannya.
“Setuju!” Anisa menyahut. Ia ber-cipika cipiki dengan Anisa.
“Drama kesedihan telah usai. Saatnya bersenang-senang.” Sergah Oka.
“Atur aja,” tukasnya.
"Sampai ketemu lagi, Rei." Tangan Budi melambai sambil berlalu. Disusul yang lain masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil itu melaju meninggalkannya.
Danang mendekat, merangkul pundaknya dari samping. “Kita pulang.” Bisiknya.
Ia pun mengangguk setuju.
-
-
Terima kasih yang telah mampir, membaca dan memberikan dukungannya 🙏.
__ADS_1