
...91. Rumor...
Kirei
Meeting, breifing, baca rundown, reading of script, shooting, menjadi makanan sehari-hari. Apa lagi di penghujung akhir dirinya membawakan program.
“CUT!!” Seru Sutradara. Tampak kesal. “Retake!” Imbuhnya.
“Fokus-fokus!” Anton tak kalah menyemangati.
Pengambilan gambar untuk segmen 1 berjalan lamban. Konsentrasinya pecah. Tarikan napas begitu berat. Pun embusan yang syarat beban.
Ia sudah tak bisa lagi menyembunyikan gurat wajah pudar. Kepalanya juga berpendar. Tapi tidak mungkin ia minta tambahan break. Bintang tamu sudah menantinya lima belas menit yang lalu di ruang tunggu. Sepuluh menit lagi segmen kedua dimulai. Meski bukan siaran langsung. Tapi acara semacam talkshow bukan main-main. Harus minim kesalahan dan pengulangan.
“Come on ... come on,” ucapnya dalam hati. Menyemangati diri sendiri.
“Kamu kenapa Rei?” Tanya Anton yang menghampirinya.
“Sepertinya kamu sedang menghadapi masalah, atau ada sesuatu?”
Ia masih terdiam. Menatap sekilas wajah Anton.
“Maaf, Mas.” Tukasnya.
“Ingat! Profesional. Fokus. Kesampingkan dulu masalahmu.” Cecar Anton. Kemudian berlalu.
Bukan tanpa alasan konsentrasinya terpecah sore ini. Tadi siang pada saat sedang menyantap lunch box. Ia didatangi seorang wanita yang mengaku istri Anton.
Menyerahkan foto-foto kebersamaan dirinya dengan Anton. Saat mengobrol di lobi sepulang kerja sambil menunggu hujan kemarin sore. Pada saat satu mobil, ia duduk di bangku sebelah Anton. Lalu foto saat mereka duduk di studio di berbagai momen.
Ia mendesahkan napas.
Semua angle foto percis seperti ‘hanya berdua’ dan ‘terlihat mesra’. Padahal kalau ditelisik lebih dalam ia tak pernah berduaan dengan Anton. Pasti bersama kru dan yang lainnya. Sungguh fitnah lebih kejam! Pikirnya.
“Tolong buktikan kalo kamu tidak ada hubungan dengan ini!” Seru istri Anton seraya menyerahkan foto-foto tersebut.
“Kamu sudah menikah, 'kan? Bagaimana jika itu terjadi dengan kamu!”
Dan yang menohok hatinya adalah, “Jangan memanfaatkan kebaikan Mas Anton!”
Sumpah demi apa pun itu. Ia tidak pernah berpikiran seperti itu. Bahkan ia sudah menganggap Anton sebagai kakak. That’s it! Kebaikan Anton sejak pertemuannya di TVS dulu hingga kini tak pernah disalahartikan. Apakah ia dimanfaatkan seseorang? Atau ada yang mengambil keuntungan dari kabar murahan ini?
“Rei!” Panggil Astrada menepuk pundaknya. “Retake.” Imbuhnya.
Ia mengangguk. Bergegas kembali ke panggung. Berusaha untuk mengenyahkan segala prasangka yang ada. Agar take selanjutnya tidak mengalami kendala.
Meski segmen satu berjalan alot dan retake beberapa kali. Beruntung segmen kedua, tiga, empat hingga lima akhirnya berjalan mulus.
“Kenapa, Rei?” Tanya Gita saat ia kembali ke ruangan ganti setelah syuting berakhir.
“Lo ada masalah?”
“Gak biasanya lo kayak gini!” Gita mencecarnya.
Ia duduk di kursi menghapus makeup-nya perlahan. Melihat sekilas Gita yang masih menatapnya.
“Hangout, yuk!” Ajak Gita. Duduk di sebelahnya.
Ia menggeleng, “Sorry gue gak bisa.”
Pun keesokan harinya saat ia baru saja tiba di kantor. Bisik-bisik dan berisik di belakangnya kian mengusik. Pandangan sebagian karyawan yang bertemu dengannya seolah menghakiminya. Menyudutkannya punya hubungan terlarang dengan sang produser.
Begitu juga di hari berikutnya ternyata masih sama. Ia seperti bahan olok-olokan. Meski hanya berdengung di belakang.
**
Kenichi
Hari pertama kedatangannya ke Jakarta sengaja tidak ingin memberitahukan adiknya. Ia langsung menuju hotel tempatnya menginap sekaligus tempat diselenggarakan pelatihan.
Hari kedua masih sama ia terjebak padatnya waktu pelatihan. Sehingga belum sempat menemuinya. Barulah di hari ketiga ia mendatangi apartemen adiknya. Namun ia justru dikejutkan dengan kondisi apartemen Kirei yang kosong. Padahal hari mulai berganti malam.
“Di mana?” Sahutnya ketika sambungan telepon dijawab.
“Lagi di luar, sama Gita.”
Ia berdecak, “Aku lagi di apartemen nih.”
“Kakak yang main petak umpet. Siapa suruh ke Jakarta diem-diem.” Salak Kirei.
Ia mendesis, “Aku ke sana sekarang.”
***
Kirei
Tak ada salahnya menerima tawaran Gita keesokan harinya. Yaitu salah satu mall terbesar di daerah Karet Tengsin tujuannya. Yang tidak jauh dari kantornya.
Alasan lain ialah bertepatan sedang diselenggarakannya bazar di mall tersebut. Bertempat di lantai dasar. Berbagai barang elektronik terpajang di sana. Sekilas matanya terpana dengan kamera terbaru di depan etalase stan fotografi.
Tertulis Canon EOS 5D Mark IV dengan sensor full frame beresolusi 30,4 megapiksel dengan tingkat sensitivitas hingga ISO 32000. Dilengkapi fitur teknologi dual pixel, procesor image DIGIC 6+, anti flicker, dan masih banyak keunggulan lainnya.
Ia berdecak kagum.
“Hemmm ... 4.151,6 USD,” gumamnya. Kamera jenis DSLR yang dipunyai sudah jauh tertinggal. Meski masih bisa digunakan. Tapi ia patut berbangga, sebab mampu membeli kamera tersebut dengan hasil keringatnya sendiri. Menjadi editor freelance di sebuah penerbit buku saat masih di bangku kuliah.
“Lo mau beli?” sergah Gita menghampirinya.
__ADS_1
Ia masih menatap kamera itu tanpa beralih sedikit pun.
“Harganya bikin nguras kantong,”
Gita tersenyum mengejek.
“Cih ... Ratu KNS segitu aja bilang mahal!” Ken yang baru datang dari belakangnya menyambar sarkastis.
“Ambil!!” Provokasi Ken.
Ia berdecak. Lalu memberengut.
“Nanti aja deh,” sahutnya urung. Meninggalkan etalase. Ia bukan tipe yang suka menghamburkan uang. Justru selalu penuh perhitungan.
Tapi ia sempat mengambil gambar kamera tersebut. Paling tidak suatu saat entah kapan ia ingin memilikinya. Untuk sekarang biar lah cukup melihat gambarnya dulu. Pikirnya menyenangkan hati.
Masih di lantai yang sama mereka bertiga masuk dalam restoran Jepang.
Setelah memesan makanan, mereka duduk di salah satu meja yang kosong. Kebetulan malam ini pengunjung ramai.
“Kapan Maega datang, Kak?” Tanyanya sambil menghisap minumannya melalui sedotan.
“Mungkin besok,” jawab Ken.
Ia melipat bibir, “Sudah launching kah?”
Ken tampak mengedikkan bahunya santai.
“Eh ... makan-makan-makan!” Seru Gita ketika pesanan mereka telah datang.
“Git, itu bukannya—” Matanya bergerak mengikuti seseorang yang semakin menjauh melewati restoran tempat mereka.
“Mas Anton sama istrinya.” Sahut Gita.
“Kenapa, Rei?” Tanya Ken.
“Gak apa!” Salaknya.
“Aku udah tahu.” Gita menyergah. Seraya memasukkan sukiyaki ke dalam mulutnya dengan bantuan sumpit.
Ia menelengkan kepalanya ke arah Gita, “Tentang rumor lo sama Mas Anton.” Sambung Gita.
Ia mengernyit. Begitu juga Ken, “Memangnya rumor apa?” Sahut Ken.
Nyenyat.
Ken menatapnya.
Sudut bibirnya terangkat ke atas samar, “Just a rumour,”
“Rumor bisa jadi fitnah.” Tandas Ken.
“Fitnah itu diciptakan oleh orang yang membenci kamu, Rei. Disebar oleh orang-orang yang dungu. Dan akhirnya dipercaya oleh orang-orang bodoh.” Tukas Gita.
Ken menyambar, “Agreed.”
Ia menggigit bibir bawahnya, “Aku gak tau siapa yang nyebar fitnah itu.” Tuturnya tak bersemangat. Ramen di depannya mendadak tak mengusik hidung dan perutnya. Padahal di awal tadi sangat menggiurkan dan menggoda.
“Dan aku gak tau motif orang itu apa?” Pikirannya lelah. Hari-harinya terteror dengan rumor yang sengaja digulingkan. Apakah istri Anton dibalik semua ini? Rasanya tidak mungkin. Atau?
**
Kenichi
“Rei, kamu yakin dengan keputusanmu?” Tanyanya ketika mereka telah tiba di unit apartemen adiknya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
“Pertimbangkan,”
“Jangan merumitkan diri sendiri.” Pungkasnya.
Kirei masih terdiam. Duduk di kursi dengan jemari yang sibuk pada layar ponsel.
Jeda sejenak.
“Terus aku harus gimana? Gosip, gak bener!” Ucap Kirei kesal.
“Setiap tempat. Setiap keadaan ... bagaimanapun ada yang suka. Ada yang gak suka dengan kita. Kita juga gak bisa maksain mereka untuk suka sama kita. Ya, 'kan?” Ungkap Kirei.
Kirei menghela napas, “Kadang cape, Kak. Tapi kalo kita menyerah, bukankah mereka senang?”
“Ruminating!” Tukasnya. “Harusnya kamu cari solusinya,”
Ia berbaring miring menghadap adiknya, “Buktikan itu tidak benar!” Tandasnya. Lalu bangkit berdiri, “aku balik.” Ken memakai sneakers-nya, “apa perlu aku turun tangan?”
“Besok aku ke sini lagi.” Ucapnya ketika masih di ambang pintu. Lalu berlalu seiring pintu yang menutup perlahan.
***
Kirei
“Mas ....” Sapanya ketika video call itu tersambung. Melihat Danang yang tengah duduk di sofa menonton TV.
“Hemm,”
Ia menatap laki-laki itu lekat. Tak berkedip.
“Rei, kenapa?” Tanya Danang mengalihkan pandangannya ke layar ponsel.
__ADS_1
Ia tengah bersandar ke headboard. Menggeleng, lalu tersenyum tipis.
“Rei,” panggilan khas Danang yang menandakan, jika ia harus jujur.
“Are you okay?”
Matanya memanas. Cairan bening sudah bergumul di pelupuk mata. Tak berapa lama dua bulir air matanya meluncur bebas.
“Hei,”
“Apa suamimu perlu ke sana sekarang?”
“Gadis kecil gak boleh nangis. Tenang ada kakak baik di sini.”
“Kakak baik akan melindungimu,”
Ia menggeleng lalu terkekeh. Menyusut hidungnya yang berair.
“Cuma ... pengen nelpon aja.” Kilahnya.
“Pengen denger suaranya. Pengen lihat wajahnya,” sambungnya.
Danang berdecak. Berkata lembut, “Tell me now,”
Ia menghela napas berat. Ia sendiri ragu dan bingung. Kenapa ia begitu cengeng. Begitu rapuh. Di hadapan Danang. Sama sekali bukan dirinya. Dua bulir air matanya meluncur kembali.
Tapi dengan cepat ia mengatakan, “Aku kangen ....”
Danang bangkit dari sofa. Berjalan menuju kamar. Duduk bersandar di kepala ranjang.
“Sayang,” Danang menatapnya lekat, “besok pagi aku ke sana.”
Ia lekas menyalak, “Aku gak apa-apa. Don’t worry.”
“Kalo gitu ceritakan. Siapa yang buat istri aku nangis kayak gini?"
Ia menggeleng.
“Rei,” tegurnya bersanding intimidasi.
Ia menceritakan kejadian yang menimpanya. Rumor. Gosip yang menyudutkannya. Meski beberapa kali ia pernah diterpa kabar murahan seperti ini. Tapi entah mengapa kali ini seperti meruntuhkan pertahanannya. Mencabik-cabik kesabarannya.
“Aku percaya padamu.” Tandas Danang.
“Abaikan yang lain,”
“Aku sepenuhnya percaya sama kamu,” ulang Danang meyakinkan.
-
-
Catatan :
Ruminating adalah kondisi fase stres awal. Diakibatkan oleh permasalahan atau kesedihan yang mendalam yang menjebak situasi kejiwaanya. Biasanya dilatarbelakangi oleh trauma, abuse dan bullying di masa kecil.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1