Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
62. De Modunggaya Pooli


__ADS_3

...62. De Modunggaya Pooli...


 


Kirei


Malam ini ia dan Ken berkemas untuk perjalanan panjang mereka. Butuh waktu lima hari sesuai jadwal tiba di Pelabuhan Benoa-Bali.


“Pasti sepi lagi, rumah ini tanpa Mbak Rei,” ucap Asti sedu.


Asti membantu memasukkan oleh-oleh ke dalam koper satunya. Sementara koper merah berisi pakaiannya telah siap. Tersimpan di sisi lemari.


Paman Tilamut tidak tinggal di sini. Begitu pula Bibi Kabila. Mereka hanya akan kesini jika senggang dan ada perlu saja.


“Mbak Rei kapan lagi mau kesini?” Tanya Asti selanjutnya.


Ia terkekeh, “Asti ... Asti, berangkat aja belum. Udah ditanya kapan kesini lagi,” lalu menggeleng.


“Kamu kapan ke Jawa? Kalo ke sana, kabarin ya.”


“Pengen, Mbak. Tapi kapan, ya?” Asti justru balik bertanya.


“Niatkan dari sekarang,”


“As, titip Baapu dan Neene, ya? Tolong kabari kalau ada apa-apa. Terima kasih selama ini kamu sama Bi Una menjaga dan menemani mereka.” Ucapnya.


“Tenang, Mbak. Saya sudah anggap Pak Idrus dan Ibu seperti nenek dan kakek saya.”


“Makasih, Asti.” Mereka saling berpelukan. Selama dua bulan, Asti sudah seperti teman buatnya.


Malam harinya setelah bercengkerama di ruang keluarga ia meminta pada baapu dan neene untuk tidur bersama.


Ken hanya memelototinya sebagai tanda tidak setuju dengan keputusannya. Tapi tak digubrisnya.


Ia hanya ingin memanfaatkan waktu yang sedikit bersama mereka. Sebelum benar-benar meninggalkan Gorontalo.


Tidur di antara baapu dan neene. Menggenggam tangan neene. Hingga mereka benar-benar terlelap.


Ia menjabat tangan Paman Dambea, Laira, Bibi Kabila dan Paman Tilamuta bergantian.


“Selamat jalan, Rei. Sering-seringlah kemari. Menjenguk Yamo,” pesan Paman Tilamuta. Untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat yang panjang dan penuh perhatian dari Paman Tilamuta.


“Makasih, Paman.” Sahutnya.


“Maafkan, Bibi. Kami semua sayang kamu ... jadilah seperti yang kamu inginkan.” Bibi Kabila menepuk bahunya. Lalu mereka saling berpelukan, “kamu selalu mengingatkanku pada ayahmu.” Bisiknya tepat di telinganya. Bibi terlihat menyusut sudut matanya.


Ia mengangguk, “Terima kasih untuk semuanya, Bi.”


“Hati-hati, Rei. Semoga selamat sampai tujuan. Kamar dan barang-barangmu sudah di siapkan semua,” ucap Laira.


“Thanks, Bang ....” Ia tersenyum. Lalu berbisik, “titip perusahaanku, ya ...,” dan tergelak setelahnya.


Ia melempar senyum pada Paman Dambea, “Terima kasih banyak, Paman.”


Paman Dambea membalasnya, “Sama-sama, Rei.


Sampai berjumpa lagi.”


Ia mencium punggung tangan baapu, lalu menghambur ke dalam pelukannya.


“Hati-hati. Selalu kasih kabar.” Pesan baapu. Seraya mengusap punggungnya.


Mereka berpelukan lama. Mendekap rindu entah kapan lagi akan bersua.


Lalu bergantian menghambur dalam pelukan neene.


“Salam buat Bunda,” ucap neene sambil melambaikan tangan.


Ia yang tak kuasa menahan air mata, baru beberapa langkah menjauhi baapu dan neene, ia berbalik badan. Lalu kembali menghambur mendekap sang kakek.


“Baapu dan neene harus sehat. Jaga kesehatan. Rei akan kembali lagi ke sini ....” Tangisnya semakin pecah.


Pundaknya ditepuk beberapa kali oleh baapu, “Baapu selalu mendoakan kalian.” Lalu mencium kepala sang cucu. “Berangkatlah.”


Ia mengangguk, mendekap sekali lagi neene. Lalu berlalu memasuki ramp door.


Ia dan Ken berdiri di geladak utama, tangan kiri mencengkeram besi pembatas, sementara tangan kanan melambai-lambai pada baapu  dan neene yang berada di bawah sana. Begitu pula para penumpang lainnya yang memberikan salam perpisahan terakhir sebelum kapal berlayar pada sanak saudara yang mengantar.


Nahkoda membunyikan suling kapal 2 kali pertanda persiapan sudah selesai dan siap berlayar. Tak lama suling ketiga menyusul, kapal bergerak meninggalkan dermaga menuju tujuan selanjutnya.


Bayangan baapu  dan neene serta para pengiring semakin mengecil dan tak terlihat lagi seiring kapal menjauh dan meninggalkan Pelabuhan Gorontalo.


“Gorontalo ... de modunggaya pooli (sampai berjumpa lagi).” Gumamnya.


“Istirahatlah, Rei ....” Ken mengantarnya sampai depan pintu kamar setelah kembali dari restoran makan siang. Kamar mereka saling berhadap-hadapan.


Kamar VIP yang berada di lantai 3. Satu area dengan kamar kelas 1, bioskop mini, kafe dan bar, restoran dan tempat nge-gym.


Ia duduk di sofa menghadap kaca jendela. Yang langsung tembus keluar. Pemandangan air laut yang menyilau seolah dapat memantulkan benda apa saja di atasnya.

__ADS_1


Perlahan ia mengeluarkan benda persegi panjang dari dalam tasnya yang tergeletak di atas meja.


Sudah lama ia tidak melihat media sosialnya, bahkan membalas chat dan pesan dari teman-temannya. Beruntung fasilitas wifi tersemat pada layanan kamar VIP dan kelas 1.


Sekali membuka aplikasi media sosial ig, ada ratusan pesan yang masuk dan terendap lama. Dari mulai fans-nya sewaktu di TVS, teman-teman kuliah, teman-teman TVS dan ....


Rendra.


Ya, Rendra ajudan Mas Danang yang sengaja men-tag namanya saat laki-laki itu berpose sedang bermain paralayang di Bandungan.


Hatinya tiba-tiba berdebar. Laki-laki itu dengan gagahnya mengenakan kaca mata hitam dan perlengkapan paralayang.


Ia mengusap fotonya. Tanpa ia sadari dan tak sengaja justru memberikan ‘tap love’ pada tampilan foto tersebut.


Banyak komentar yang menyertai foto itu di bawahnya. Yang didominasi kaum hawa. Dan  semua sepakat mengatakan bahwa laki-laki itu idaman mereka.


Ada sejumput rasa menyelinap. Kesalkah? Cemburukah? Atau marah?


Tak biasanya laki-laki itu mengumbar foto di media sosialnya. Bahkan foto di ig-nya  bisa dihitung dengan jari. Itu pun tidak pernah foto sendirian. Pun juga tak pernah foto mengenakan seragam kebanggaannya.


Jari-jemarinya dengan cepat membuka profil akun laki-laki itu. Sebab mereka saling follow.


Terlihat sudah lama laki-laki itu tidak beraktivitas di sana. Bahkan posting-an terakhir, saat mereka berbuka bersama dengan anak-anak karateka. Itu pun secara candid.


Lalu ....


Ia baru tahu jika ada foto dirinya di post yang tengah berdiri di belakang stand bazar. Saat HUT Bhayangkari.


Dengan caption,


‘I am on top of the world  if I am with you (aku bahagia jika bersamamu)’.


Tak sadar bibirnya melengkung ke atas.


**


Danang


Tadi malam ia pulang dini hari saat terjadi penangkapan dua tersangka pembunuh PSK online. Ia terpaksa menghadiahi timah panas pada salah satu kaki tersangka. Sebab keduanya berusaha kabur melarikan diri.


Tersangka berinisial DDK (23) dan IS (19) di tangkap di daerah Pusponjolo. Setelah empat hari menjadi buronan. Pasalnya selama empat hari tersebut, tersangka melarikan diri ke beberapa kota.


Tubuhnya hanya beristirahat selama 3 jam. Itu pun di ruangan kerjanya. Sebab di pagi hari ia harus mengikuti apel siaga di Mapolda.


“Ren, antar saya pulang.” Pesannya pada Rendra setelah apel siaga usai.


Beberapa minggu ini ia telah bekerja keras. Dua bulan lebih tanpa gadis itu menjadikannya workaholic lagi.


Mobil telah terparkir sempurna di depan rumah dinas. Ia bergegas masuk rumah. Tanpa menoleh sedikit pun Darmo yang sedang membersihkan halaman.


“Pulang, Pak.” Sapa Darmo seraya membungkuk.


Tapi majikannya itu tak acuh.


“Mo!” Panggil Rendra.


“Iya, Pak,” sahut Darmo mendekat Rendra.


“Iki, kumbahono klambine Bos (ini,cucikan pakaian Bos).”


Rendra menyerahkan tas jinjing pada Darmo.


“Terus, tase diisi meneh klambi sing resik (terus, tasnya diisi lagi dengan pakaian bersih).” Rendra jadi paham kondisi atasannya. Selama tidak ada istrinya, Rendra yang menyiapkan segala keperluannya. Termasuk pakaian ganti yang harus standby di mobil. Sebab atasannya itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar dibanding di rumah.


Darmo menjawab, “Beres.”


Darmo pria beranak 1 itu bertugas membersihkan rumah dan taman. Sementara istrinya Yumah bertugas mencuci dan memasak.


Selama dua bulan Danang juga tak lagi tinggal di apartemen. Melainkan rumah dinas yang diperuntukkan dirinya.


Ia melepaskan seragamnya begitu saja teronggok di sofa kamar. Hanya mengenakan kaos dalam dan celana panjang ia menghempaskan tubuhnya di kasur. Tubuh dan pikirannya lelah. Mengistirahatkan sejenak di ruangan kantor hanya berbaring di sofa ternyata hanya cukup mengurangi rasa kantuk. Tapi tidak mengurangi letihnya.


Baru saja ia terlelap, suara dering ponselnya meraung dan menggelepar akibat mode full suara dan getar yang di seeting sekaligus.


“Oh ... sialan!” Umpatnya kesal.


Kepalanya terasa berat. Bahkan merasa berputar-putar saat berusaha bangkit untuk menggapai ponsel yang ia lempar sembarangan entah di mana.


Sambil memegangi kepalanya, ia mengedarkan pandangan mencari posisi ponsel.


Ternyata ponsel dan senjata api teronggok di atas sofa bersama seragam atasannya.


Berusaha berdiri meski sempoyongan. Kepalanya berdenyut hebat. Ia terhempas begitu tiba di sofa.


“Ya ....” Sahutnya seraya matanya terpejam. Merasai kepalanya yang masih berputar-putar.


“Lapor Komandan! Operasi Antik Candi menangkap kembali 3 TSK.”


“Bagus,” kini ia memijit pelipisnya.

__ADS_1


“Bapak Wakapolres ....”


“Saya akan datang 15 menit lagi.” Potongnya.


“Baik, Pak.”


Bergegas ia menuju kamar mandi. Mencuci muka untuk menghilangkan kantuk yang masih menyergap. Meski kepalanya masih terasa berat, tapi tidak dipersoalkannya. Mengenakan kembali seragam yang baru. Kemudian keluar kamar.


“Ren.” Panggilnya ketika ia tiba di ruang tengah. Membuka tudung saji di atas meja makan.


Ada ayam lodho kesukaannya, cah kailan, perkedel dan peyek kacang.


“Ya, Mas ....” Rendra yang tengah duduk di sofa sambil menonton televisi mendekat, berdiri di sampingnya.


“Makan,” tawarnya. Tadi pagi mereka belum sempat sarapan. Ini sudah hampir siang. Sarapan yang sudah sangat terlambat pikirnya.


Yumah datang membawakan 2 gelas air putih.


“Kalau gak enak, bilang ya, Pak. Soalnya Ibu Anita cuma bilang makanan kesukaan Bapak aja,” ucap Yumah yang baru beberapa kali memasak untuk majikannya. Beberapa hari setelah ia bekerja di rumah dinas, Ibu Anita meneleponnya. Memberitahu makanan apa saja yang disukai dan tidak oleh majikannya itu. Merasa tak ada respons dari majikannya, Yumah pun berlalu meninggalkan mereka yang tengah melahap masakannya.


Tapi baru Yumah akan melangkah ke dapur, Danang berucap, “Agak Asin ayamnya.”


Yumah pun berbalik badan.


“Pengen kawin yo, Yu ....” Kelakar Rendra.


Yumah tersipu. “Besok-besok takurangi gareme. (Besok-besok dikurangi garamnya)”


Seusai makan mereka mengobrol sebentar sambil menghisap rokok. Baginya rokok sekarang menjadi teman keduanya setelah kesibukan.


Rendra sesekali melihat layar ponselnya. Berselancar di media sosialnya di sela-sela waktu.


Tapi sesaat keningnya berkerut.


Lalu tersenyum menyeringai.


“Kenapa, Lo?” Sergahnya melihat tingkah Rendra. Orang bisa gila gara-gara media sosial. Senyam senyum sendiri.


Bahkan banyak kasus yang ditanganinya gara-gara media sosial. Padahal cuma 2 jari tapi berakhir di balik jeruji. Miris.


Makanya sekarang banyak himbauan, bahwa jarimu adalah harimau mu. Bijaklah menggunakan jari untuk kemaslahatan.


“Sepertinya ada yang rindu sama Mas Danang,” pancing Rendra.


Ia menaikkan alis sebelahnya, “Siapa?”


“Ck, siapa lagi yang di seberang sana?” Dengan cekatan, Rendra bisa memindai keberadaan orang yang tengah me-stalker media sosialnya.


“Teluk Tomini.” Celetuk Rendra dengan senyum mengembang.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2