
...14. Dua Hari Saja...
Danang
Satu minggu setelah kekosongan pejabat Dirreskrimsus Polda, pada hari ini Danang Barata Jaya dilantik menjadi Direktur Reserse Kriminal Khusus menggantikan Kombes Pol Sigit Prabowo yang meninggal dunia.
Awalnya ia sangsi karena penunjukkan dirinya mendadak dan beberapa selentingan kabar negatif tentangnya.
"Direskrimsus semenjak Pak Sigit dan kamu yang pegang banyak kemajuan dan perubahan. Banyak kasus terselesaikan. Timur Bandung 1 juga sudah setuju dan mengirim telegram kemarin." Ucap Kapolda di Mapolda dua hari yang lalu saat ia dipanggil menghadap.
Bertempat di aula Ksatria Satya Mapolda Jawa Tengah upacara sertijab (serah terima jabatan) dipimpin langsung oleh Kapolda, dan dihadiri oleh Wakapolda, para pejabat utama polda, para Pamen (Perwira menengah) dan Pama (Perwira pertama), serta ASN di lingkungan polda Jateng dilaksanakan.
Bersamaan itu juga pelantikan Wadir Reskrimsus yang dijabat oleh AKBP Banuaji yang sebelumnya menjabat sebagai Kabag Wassidik.
Resmi sudah ia menyandang Kombes Pol Danang Barata Jaya.
“Sayang Ndan, Ibu Direkturnya kosong,” celetuk Banuaji saat mereka tengah menyantap makan siang di aula setelah acara pelantikan usai.
Bapak Kapolda sudah pergi sedari tadi karena ada panggilan mendadak Kapolri yang sedang kunjungan kerja di Jogjakarta.
Ia tersenyum kecil, “Ada Ibu Banuaji yang mewakili,” kelakarnya. Banuaji baginya teman, sahabat, rekan bahkan sudah seperti saudara.
“Ikhtiar, Ndan. Agar lebih semangat hidup!” Balas pria berumur 45 tahun itu mencibir.
Tahu suasana santai, bagi mereka tak ada batasan antara bawahan dan atasan. Ia menggeleng perlahan kemudian berdecak, “Atau Pak Banu yang mau nyari double, biar tambah semangat hidupnya!” Ejeknya tak mau kalah.
“Gawat, Ndan! Bisa tutup lobang!” Sahut Banuaji dengan terkekeh-kekeh.
***
Kirei
Ia berlarian di koridor terminal tiga bandara Soekarno-Hatta demi mengejar pesawat yang sebentar lagi lepas landas. Beberapa kali panggilan atas namanya bergaung memenuhi indra pendengarannya. Kecepatan langkah menentukan nasibnya beberapa saat lagi. Beberapa kali sempat hampir terjatuh, menabrak ia tak peduli. Bahkan jantungnya dipaksa memompa secara cepat. Baru kali ini ia mengikuti lomba lari demi memperebutkan satu kursi. Oh my god.
Saat ia berhasil memasuki pintu pesawat yang hampir saja tertutup, ia bisa bernapas lega. Finally....
“Seat berapa, Mbak?” Tanya pramugari yang tadi menyambutnya di depan pintu.
“30A ...." Jawabnya terengah-engah seraya berjalan mengikuti pramugari yang memandunya.
“Silakan ....” Pramugari itu menunjuk kursi sesuai tiket.
“Terima kasih,” balasnya dengan mengulas senyum paksa demi menghormati orang lain. Padahal dadanya naik turun sedang berusaha menetralkan denyut jantung yang terpompa cepat. Kelelahan yang luar biasa pikirnya, melebihi lomba lari marathon sewaktu SD yang pernah diikutinya.
Ia menyimpan tas ransel dalam kabin, lalu mengenyakkan diri pada kursi. Melepas tas selempang diletakkannya di atas pangkuan. Setelah bunyi 'klik' sabuk pengaman terkunci aman.
Ia menghela napas. Merebahkan punggung pada sandaran. Peluh membasahi hampir seluruh tubuhnya, terang saja berlarian dari semenjak turun dari taksi di pintu keberangkatan hingga masuk dalam pesawat. Olahraga yang menguras tenaga, bukan?
Napasnya saja masih memburu.
Mendadak ia menepuk keningnya sendiri, duduk tegak. “Bodoh!” gumamnya. Botol air mineral dan tisu yang ia beli di mini market tadi tertinggal dalam taksi.
Ia menghempaskan kembali punggungnya ke belakang. Pasrah. Menunggu jatah snack time masih lama pikirnya.
Pesawat telah berjalan menuju landasan pacu. Pramugari memperagakan safety demonstration kepada para penumpang.
“Para penumpang yang terhormat, kami mohon perhatian Anda sejenak! Sesuai peraturan keselamatan penerbangan sipil kami harus menunjukkan dan memperagakan kepada Anda bagaimana menggunakan sabuk pengaman, masker oksigen ....”
Sementara gadis yang rambutnya dikucir ekor kuda dengan menggunakan topi merah hati senada kemeja yang ia pakai, lebih memilih memejamkan matanya. Meski telinganya masih bisa mendengar jelas suara cabin crew.
Napasnya mulai kembali berangsur normal, namun sekarang yang ia rasakan tenggorokannya begitu kering.
Suara cabin crew masih terus menggema....
__ADS_1
“Baju pelampung Anda ada di bawah kursi dan hanya dipakai pada saat pendaratan darurat di periaran. Kami mohon untuk tidak dibawa pulang.”
“Mau minum?” Ucap seseorang dengan suara berat dan maskulin yang teramat jelas duduk di sampingnya menawarkan minum untuknya.
Seketika matanya terbuka, tepat di depannya sebotol air mineral yang masih dipegang orang itu. Lalu ia menoleh ke samping. Tenggorokan yang tadi kering semakin bertambah gersang dan tandus, sebab ia jelas kesulitan untuk menelan ludahnya.
“Minumlah, pasti kamu haus,” tawar laki-laki itu sedikit mengulas senyum kepadanya.
Mau tak mau ia menerima botol air mineral itu dan berucap, “Terima kasih,” dengan senyum canggung.
“Thank you for your attention and enjoy this flight.” Suara cabin crew terakhir yang di dengarnya sebelum pesawat benar-benar lepas landas.
***
Danang
Ia terkejut saat mendengar suara seorang gadis yang terasa familier di telinganya.
Menatapnya beberapa saat, lalu kembali menunduk memainkan ponselnya. Padahal ponsel dalam mode pesawat seperti ini jelas hanya bisa menampilkan tampilan offline.
Gadis itu napasnya terengah-engah, sepertinya habis berlarian terbukti dialah penumpang terakhir yang masuk dalam pesawat.
Peluhnya pasti telah membasahi tubuhnya. Tapi justru ia heran, aroma vanila yang merasuk dalam hidungnya.
Ia tipiskan bibirnya sembari menawarkan sebotol air mineral dan tak disangka ia pun menerimanya.
Obrolan pun mulai mengalir begitu saja. Ia mewakili TVS diundang dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional sekaligus hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia di Jakarta.
“Dua hari saja, Pak.” Jawab Kirei ketika ia menanyakan berapa lama tinggal di Jakarta kemarin.
“Bapak sendiri lagi tugas di sini?” Tanya Kirei balik tanpa mengenyahkan pandangannya ke depan.
Gadis itu tampak mengangguk, “Selamat yaa, Pak! By the way ... udah menjabat sebagai Direktur di reserse kriminal khusus,” ucap Kirei menoleh sepersekian detik kepadanya lalu pandangannya ke depan lagi. Pasti kabar pelantikan dirinya langsung menjadi berita di media.
Ia tertawa sumbang, “Makasih.”
“Gak ngundang makan-makan, Pak?” Celetuk gadis itu berkelakar dengan menerbitkan senyuman di bibirnya.
“Kamu mau?” Balasnya penuh antusias.
“Yaa, kalo diundang diusahakan datang, Pak. Apa lagi ini makan-makan syukuran, siapa yang nolak!”
Ia tergelak, “Bisaan, kamu!”
Obrolan itu serasa hidup selama pesawat tujuan Semarang itu mengudara. Meski beberapa kali keheningan membentang, tapi gadis itu mampu membawa suasana.
Hingga tak terasa waktu satu jam lima menit berlalu begitu saja. Pesawat mendarat mulus di bandara Ahmad Yani.
“Rei, bareng aku saja,” tukasnya saat mereka berjalan keluar menuju pintu exit.
“Gak usah, Pak. Saya naik taksi saja," tolak gadis itu halus.
“Udah, ayo!” Ia menarik lengan gadis itu supaya mengikutinya.
Kirei jelas terkejut atas perlakuannya, namun justru ia mengulum senyum tanpa disadarinya.
“Kita searah, ‘kan apartemennya. Dari pada buang waktu dan uang.” Ucapnya dengan alasan yang tepat dan gadis itu tak bisa berkilah lagi.
“Mas!” Teriak seorang laki-laki sambil melambaikan tangannya saat ia dan gadis itu muncul di pintu kedatangan.
Ia mengajak Kirei untuk mendekati laki-laki tadi yang memanggilnya.
“Udah lama nunggu?” Tanyanya pada Aksa.
__ADS_1
“Gak juga sih, eh siapa nih?” Ucap Aksa menunjuk gadis itu dengan ekor matanya.
“Kenalin, Rei. Ini Aksa," tunjuknya pada Aksa.
Mereka berjabat tangan, “Kirei."
“Aksa."
Mereka lekas masuk ke dalam kabin mobil.
“Payah nih Pak Direktur. Punya sopir tapi nyewa sopir lain yang bayarannya tinggi,” seloroh Aksa sembari menoleh ke samping di mana ia duduk.
Ia berdecih, “Jadi gak ikhlas nih?!” Semburnya.
“Ikhlas, Mas ... ikhlas. Tapi jangan lupa down payment for this? (uang muka untuk ini)." Aksa tersenyum miring. Jelas bukti ada maksud terselubung di balik perkataan adiknya itu.
“Dasar!” Serunya ketus dan sinis meski itu hanya candaan.
***
Kirei
Mobil tepat berhenti di depan lobi apartemennya.
“Sekali lagi makasih, Pa.” Ucapnya sambil menutup pintu belakang.
“Oya, ini ada undangan buatmu.” Danang yang berdiri menyandar pada pintu mobil mengangsurkan sebuah undangan berwarna biru muda padanya.
Ia tampak ragu menerima, tapi laki-laki itu berkata, “Undangan baby shower temanku. Boleh aku minta tolong kamu untuk menemaniku nanti?” Pinta Danang.
Lalu ia menerima undangan itu, “Aku usahakan, Pak.” Sahutnya dengan mengulas senyum tipis di bibirnya.
“Thanks,” balas laki-laki itu. Danang sudah kembali masuk dalam mobil, dan berlalu hingga mobil itu hilang dari pandangannya.
Berjalan gontai menuju unitnya yang berada di lantai 12. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Dengan sisa tenaga yang ada ia menghampiri meja resepsionis.
Mengambil kunci apartemen yang ia titip di sana. Sembari mengucapkan terima kasih pada Pak Wira sebagai salah satu pegawai keamanan di apartemennya.
Kakinya terus melangkah meninggalkan lobi, namun belum sempat ia menekan tombol lift, Pak Wira berlarian mengejarnya.
“Mbak, Rei!” panggil Pak Wira.
Ia menoleh ke belakang, “Ya, Pak?” Sahutnya.
“Maaf, kelupaan. Ada titipan untuk Mbak Rei," ujar Pak Wira yang mengangsurkan sebuah amplop cokelat padanya.
Sekilas dahinya mengerut, “Makasih, ya, Pak.” Ia menerima amplop tersebut.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir dan membaca serta memberikan dukungan...yaa!
__ADS_1