
...61. KF STAR...
-Gorontalo-
Beberapa hari setelah mimpi kedua, ia lebih sering menghabiskan senja dan fajar di pantai atau pelabuhan.
Ia merasakan ketenangan kala sang surya memperlihatkan sisi keteduhannya. Tidak ada yang kuat maupun yang lemah. Sinarnya selalu menghantarkan kehangatan di saat pergantian waktu.
“Rei, sebentar lagi meeting.” Jefri sekretaris baapu mengingatkannya.
Ia tersadar dari lamunannya. Lalu berucap, “Oke, Jef. Makasih,” senyumnya mengembang.
Pertemuan dengan para pemegang saham PT. KNS yang notabene adalah kerabat Kamaru. Akan membahas peresmian dan peluncuran kapal penumpang baru rute Pelabuhan Gorontalo-Pelabuhan Benoa, Bali. Pulang Pergi (PP).
Ia tadinya meminta ijin baapu untuk tidak ikut serta dalam rapat. Tapi justru baapu memaksanya.
“Ini rapat penting. Kamu harus hadir.” Begitu ucap baapu setelah mobil yang membawa mereka meninggalkan rumah menuju kantor tadi pagi.
Suasana di ruangan meeting lantai 3 sudah penuh. Para pemegang saham dan petinggi KNS telah datang. Ia duduk di sebelah kanan baapu. Sementara Paman Tilamuta di sebelah kiri. Di sebelah paman ada Bibi Kabila.
Paman Dambea duduk di belakang baapu.
Meeting telah di buka oleh Paman Dambea sebagai moderator. Lalu menjelaskan agenda pertemuan hari ini.
Peresmian dan peluncuran kapal penumpang dijadwalkan minggu depan. Dan keesokan harinya akan berlayar untuk pertama kali menuju Pelabuhan Benoa, Bali. Harga promo diberlakukan bagi 100 pemesan pertama sejak iklan tayang di berbagai media satu bulan yang lalu.
Lalu rapat dilanjutkan dengan pelimpahan saham yang dimiliki baapu dan neene sebesar 65 persen. Dengan rincian 25 persen dilimpahkan pada Kenichi Estiawan Prasetyo. Dan 35 persen kepada Kirei Fitriya Tsabita. Sementara 5 persen tetap menjadi milik Idrus Kamaru.
Jabatan komisaris dialihkan pada Tilamuta Kamaru. Yang memegang saham sebesar 15 persen. Dan Kabila Kamaru menjabat sebagai Direktur memegang saham 9 persen.
Selanjutnya Paman Dambea diangkat menjadi wakil direktur mendampingi Bibi Kabila. Sementara Laira menduduki manajer pemasaran menggantikan Bibi Kabila.
Pengangkatan jabatan dan pelimpahan wewenang resmi diumumkan dan disahkan. Disaksikan pemegang saham umum sebanyak 11 persen yang dimiliki 6 orang.
Kuasa hukum yang terdiri dari 2 orang tersebut menunjukkan surat-surat legal di layar proyektor. Agar seluruh pemegang saham mengetahui.
Rapat telah usai. Semua peserta rapat mengucapkan selamat dan menjabat tangan Tilamuta, Kabila, Paman Dambea dan, Laira. Termasuk dirinya.
“Selamat, Paman ....” Ucapnya dengan tersenyum. Hanya dibalas anggukan oleh Tilamuta.
Sementara Kabila tersenyum penuh arti, “Datanglah sesekali meski hanya melihat asetmu.”
Ya, ia telah memutuskan bahwa ia menerima pelimpahan aset saham KNS. Tapi tidak dengan jabatan komisaris. Bahkan awalnya ia menolak. Bagaimana mungkin baapu hanya memiliki saham 5 persen saja di KNS. Sementara dirinya?
“Lima persen itu cukup untuk masa tua menunggu waktu,” begitu kata baapu kemarin malam mengumpulkan Paman Tilamuta beserta anak tunggalnya, Bibi Kabila, dirinya, Paman Dambea dan, kuasa hukum baapu.
Sementara anak Paman Tilamuta menjabat Direktur di PT. Kurenai Metal. Lain halnya ketiga anak Bibi Kabila yang masih mengenyam pendidikan.
“Yamo harap kalian bisa menerima keputusan ini. Kitorang semua bersaudara. Harta, kedudukan dan kekuasaan bukan segalanya.”
“Masih ada saham Baapu 40 persen di PT. Kurenai Metal. Jika Baapu dan Neene sudah tidak ada ....”
Ia menggeleng, tidak setuju.
“Saham itu menjadi milik Tilamut dan Kabila. Dan 5 persen di KNS akan diambil alih oleh Kamaru foundation.”
**
Sore hari ia datang ke pelabuhan bersama baapu. Berdiri tepat di depan KM. KF STAR yang didominasi cat berwarna merah. Kapal motor penumpang berkapasitas 1000 orang. Yang akan diresmikan dua hari ke depan.
Beberapa tenaga kerja masih hilir mudik menyelesaikan pekerjaan yang tinggal finishing.
Baapu tersenyum bangga.
“Sudah kutunaikan janjiku.”
“Untuk anak kesayanganmu,”
“Juga cucuku tercinta.”
Ia merengkuh tangan baapu. “Terima kasih, Baapu.”
Mata tua itu berkaca-kaca.
“Ayahmu di sana pasti juga tersenyum bahagia ....”
“Hanya ini yang bisa baapu berikan tuk terakhir kali. Semoga kelak kita bisa berkumpul bersama. Tanpa ada perpecahan dan perpisahan.”
Baapu meneteskan air matanya. Ia pun larut dalam keharuan sejenak. Sebelum mereka beranjak untuk menaiki kapal.
Mereka menaiki kapal di dampingi Kapten Lukita sebagai Nahkoda KM. KF STAR. Juga Hendra sebagai chief officer. Melalui ramp door, mereka menjelajahi ruangan demi ruangan melihat fasilitas yang disediakan oleh KF STAR.
Mengingat baapu dengan keterbatasan fisik. Mereka menyudahi tour kapal hari itu. Tepat saat matahari terbenam.
Tiba di kediaman baapu, neene telah menyambut mereka di teras depan.
Setelah makan malam, mereka berbincang sebentar. Sembari memijit kaki baapu yang tengah berendam di air garam hangat. Tujuannya untuk menghilangkan pegal-pegal, merelaksasi otot-otot kaki, tumit dan telapak kaki. Selain itu juga dapat melebarkan pembuluh darah sehingga sirkulasi menjadi lancar.
__ADS_1
Terapi itu biasa dilakukan jika baapu usai melakukan kegiatan fisik yang menguras tenaganya. Seperti tadi sore ketika mereka harus melihat dan memantau kesiapan acara peluncuran kapal baru.
“Sudah, Rei ... ngana istirahatlah.” Ucap neene yang datang membawa handuk kecil untuk mengeringkan kaki baapu.
“Biar, Rei, Ne.” Ia meminta handuk tersebut dari tangan neene.
Membasuh kaki baapu dengan air hangat baru, lalu mengeringkannya dengan handuk sambil dipijat.
“Biasanya Asti yang bantu Neene,” ujar neene.
“Cucu Baapu cocok jadi terapis daripada jurnalis.”
Ia mencebik.
“Sayangnya ... Rei bukan terapis dan jurnalis. Tapi pengangguran borjuis.” Akunya sombong.
Mereka tergelak bersama. Benar-benar suasana yang akan sangat dirindukan suatu saat nanti.
“Sebentar lagi rumah ini akan sepi kembali,” Baapu menyandarkan punggungnya ke belakang. Ada rongga kesedihan di sana.
“Neene pasti akan merindukanmu.” Timpal neene yang duduk di sofa sebelahnya.
“Kami semua pasti merindukanmu ....” Imbuh baapu.
Seketika hatinya berdesir. Melihat pasangan yang begitu saling menyayangi di usia senjanya.
“Rei juga masih ingin tetap tinggal di sini.” Sahutnya. Menemani hari-hari mereka yang entah kapan lagi akan bisa diwujudkan.
“Mau ngapain kamu di sini? Bundamu, Ken dan Danang membutuhkanmu. Lagi pula, passion kamu bukan di bidang ini. Baapu sudah senang 2 bulan ini kamu menemani kami.”
“Kalau Baapu dan Neene rindu, telepon saja. Rei pasti datang.”
**
Hari peresmian dan peluncuran KM. KF STAR telah tiba. Semua orang di KNS sibuk. Tak terkecuali dirinya. Sebab ialah yang menjadi ikon sekaligus pemilik saham terbesar di KNS.
Ken kemarin sore telah datang. Tapi tidak bersama bunda. Sebab bunda sedang tidak enak badan.
“Bunda sakit?” Tanyanya di telepon ketika Ken hendak berangkat ke Gorontalo.
“Jangan cape. Istirahat cukup. Gak usah ke toko. Semua pekerjaan delegasikan sama Mbak Tin dan Numi. Pokoknya Bunda di rumah istirahat yang cukup. Gak usah ikut kegiatan ibu-ibu kompleks dulu.” Pesannya berderet seperti gerbong kereta api.
Sementara bunda di seberang sana yang mendengarnya hanya terdengar menghela napas.
“Rei, itu pesanmu gak pake koma?” Seloroh bunda.
Ia jadi kesal, kekhawatirannya malah ditanggapi candaan sama bunda. Meski bibirnya mengerucut beberapa senti pun, bunda tidak akan tahu.
Sore harinya ia dan Laira menjemput Ken di Bandara Jalaluddin Gorontalo.
“Gila, ya ... 1 jam nungguin sampai panas nih bokongnya,” protesnya kesal. Sebab pesawat yang ditumpangi Ken mengalami delay di Jakarta.
“Jangan salahin gue. Tuh, pihak maskapainya ada kesalahan teknis. Untung juga nyampe sini. Coba kalo sampai sini tinggal nama, pasti kamu nangis jejeritan ....” Elak Ken mendramatisi.
“Iissh ... mulut gak direm!” Ia menoyor punggung Ken dari belakang. Kakaknya berjalan terlebih dulu di depannya bersama Laira. Asyik mengobrol. Sementara ia seperti tak dianggap, menggeret koper Ken di belakang sendirian.
“Berasa jadi tukang panggul,” sindirnya.
“Eh,” Laira berhenti, “sini biar saya yang bawa.”
“Gak usah, aku aja!” Ken terlebih dulu menyambar koper dari tangannya.
“Kalo gak ikhlas, bilang aja.” Ketus Ken.
“Lagian, kenapa sih datang mepet banget. Jauh-jauh hari kek! Udah tahu acara besok pagi, ini datang mepet.” Omelnya sepanjang jalan menuju parkiran mobil.
“Kakak kerja, adikku sayang.” Sahut Ken. Mereka telah duduk di dalam mobil. Ken duduk di sebelah Laira yang mengemudi. Sementara dirinya duduk di bangku belakang.
Laira melajukan mobil perlahan meninggalkan area bandara.
“Ini juga ijin cuma 9 hari. Gak boleh nambah, tapi kalo bisa dipercepat malah.”
“Hah! Kok bisa!” Serunya.
“Ya, bisa. Namanya kerja sama orang.”
Dan malam harinya ia dan Ken mengobrol entah sampai jam berapa di kamarnya. Yang jelas ia sampai ketiduran. Saat bangun pagi, keberadaan Ken sudah tidak ada.
Kini mereka duduk di barisan bersama petinggi KNS dan pejabat daerah. Kursi tamu undangan juga penuh.
Ia, Ken, Paman Tilamuta dan Bibi Kabila berdiri di belakang baapu saat prosesi pengguntingan pita.
“... KM. Kirei Fitriya Star atau KM. KF STAR saya persembahkan untuk cucu saya,” ucap baapu pada akhir kata sambutannya sembari menunjuk padanya.
Ia pun berdiri. Membungkukkan badan seraya menangkupkan kedua tangannya.
Pemukulan alat musik tradisional polopalo dan pelepasan balon gas menjadi sesi terakhir peresmian hari itu. Sebelum para tamu undangan diajak tour berkeliling melihat keadaan dalam kapal.
__ADS_1
“Kapal ini akan berlayar melewati lintasan cukup panjang. Yakni melewati 10 kota dan 7 provinsi,” terang Kapten Lukita.
“Pelabuhan Gorontalo-Luwuk-Kendari-Raha-BauBau-Makassar-Labuhan Bajo-Bima Sumbawa-Ampanan Lembar dan berakhir di Benoa Bali. Lalu akan kembali ke Gorontalo.”
Rombongan menuju lantai 3, “Kapal ini memiliki panjang 186 meter. Kapasitas penumpang 1000 orang. Kapasitas kendaraan 265 unit mobil dan truk.”
Mereka melihat fasilitas kamar, “Ada 4 kelas yang kami tawarkan. Kelas VIP, kelas 1 dan 2. Hingga kelas ekonomi di lantai 2. Yang semua dilengkap dengan toilet. Juga dilengkapi lift untuk akses tiap lantai agar lebih cepat.”
Kapten Lukita menggiring rombongan menuju ujung dek lantai 2. Melihat berbagai fasilitas hiburan, “Hiburan tersedia mulai bioskop mini, playground, mini market, restauran, kafe dan bar serta tempat nge-gym. Dilengkapi juga musala untuk beribadah.”
Kini rombongan diajak ke fasilitas outdoor. Yang ada di sisi-sisi dek.
Ia dan Ken memilih ke bangunan paling atas. Di mana terdapat anjungan kapal.
“Siap berlayar?” Tantangnya.
Ken berdecak cukup keras, “Buat apa cuti 9 hari. Kalo bukan untuk menuruti kemauan Ratu KNS?” Cibir Ken. Dan sedetik kemudian tergelak saat melihat wajahnya kesal.
“Let’s begin this adventure (mari kita mulai petualangan ini).” Sergah Ken.
Angin menyibak dress panjang yang ia kenakan. Rambutnya yang tertata rapi di gelung kini acak dan berantakan.
Ia merentangkan kedua tangannya. Memejamkan matanya. Menghirup dan mengembuskan napas perlahan.
“Siap bertemu Danang?” Tanya Ken tanpa menoleh padanya.
Ken justru bersenandung tak acuh setelah melempar pertanyaan itu, tangannya menggenggam railing dari besi. Dan tubuhnya condong menantang sang matahari yang sudah naik.
When she was just a girl
She expected the world
But it flew away from her sleep, and dream of...
Para-para-paradise
Para-para-paradise
Para-para-paradise
Everytime she closed her eyes
-Coldplay-Paradise-
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏
__ADS_1