Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
72. To Be Continued ....


__ADS_3

...72. To Be Continued .......


 


Kirei


Kejutan berlanjut di keesokan harinya. Ia bertemu Gita Sujiwa sebagai makeup artist-nya.


“Gue gak nyangka ketemu lo lagi.” Kalimat yang keluar saat Gita membersihkan wajahnya. Ia duduk di kursi rias. Mendongakkan wajahnya.


“Gue kira, lo masih di TVS,” imbuhnya.


“Gue kerja di mana aja, Rei. Di sana oke. Di sini lebih oke.”


Ia tergelak.


“Lagian lo ngilang gak ada kabar. Gak pamit pun sama gue. Mentang-mentang udah sukses banyak duit. Manusia macem gue dilupakan!” Gita mengoleskan toner pada wajahnya.


“Gue nitip pesan sama anak-anak. Sori banget. Waktu itu gue bener-bener buru-buru,” ia memejamkan mata saat Gita membubuhkan pelembab. Lalu meratakannya dengan jemarinya.


“Tersampaikan sih, cuma kaget banget. Lo ngedadak pergi. Gue denger lo ke Gorontalo?” tanya Gita. Lalu memoleskan lapisan foundation dan meratakan dengan spons makeup.


“Cuma 2 bulan,”


“Eh bentar,” Gita merogoh ponselnya yang berbunyi beberapa kali di dalam tasnya yang tersimpan di kursi sebelah. Tampak wajah Gita berubah. Mengernyit. Lalu terdengar sahutan ‘astaga’  sembari menutup mulutnya. Setelah panggilan telepon terputus. Gita meletakkan ponselnya di atas meja rias.


“Lo udah denger belum?” Tanya Gita.


“Apa?” Sahutnya tak mengerti.


“Aldi ... Aldi kena razia narkoba.”


Ia ternganga, tidak percaya. “Gak mungkin!” Sanggahnya.


“Itu dia, gue juga gak percaya! Tapi ini akurat, gak mungkin Mas Agung ngasih berita bohong.”


Kabar mengenai Aldi yang terjaring razia sedikit mengganggu pikirannya. Pria itu bahkan sempat ikut berkumpul sehari sebelum keberangkatannya ke Jakarta.


**


Kirei


Setiap minggu ia harus roadshow goes to campus melanjutkan program lama menggantikan host sebelumnya. Lalu di sela-sela roadshow, ia juga harus syuting program talkshow yang dibawakannya.


Minggu pertama masih di seputaran Jakarta. Minggu kedua di Kota Bandung. Lalu minggu ketiganya ke Kota Surabaya dan Malang.


“Maaf, Rei gak bisa lama, Ma.” Ucapnya saat menemui Mama Anita di toko bakery-nya. Ia mencuri-curi waktu yang hanya 2 jam break. Sebab dalam sehari ia mengunjungi 2 kampus sekaligus.


“Salam buat Papa.” Sangat disayangkan pertemuan kali ini tidak bisa bertemu dengan papa. Kata mama, papa sedang ke Jember.


Lalu minggu keempat ia harus terbang ke Makassar. Berharap bisa ketemu dengan Maega di kota itu. Tapi ternyata, “Aku lagi sandar di Kendari.” Ujar Maega.


Tiga hari di Makassar ia kembali ke Jakarta tepat saat matahari baru sesaat yang lalu kembali ke peraduan.


Lelah tak terkira. Ia berjalan gontai di lobi apartemennya. Rasanya tubuhnya remuk redam. Hampir satu bulan ia disibukkan dengan syuting dan roadshow. Tapi semua seakan luruh ketika melihat laki-laki yang dirindukannya berdiri merentangkan kedua tangan menyambutnya.


Ia langsung berhamburan memeluknya. Tidak peduli lagi berada di mana. Hanya satu keinginannya meluapkan rindunya.


Dua minggu lalu saat janji temu dengan laki-laki itu. Yang tadinya sudah direncanakan. Harus batal sebab keberangkatannya ke Surabaya dan Malang dimajukan. Kecewa, harus pupus memendam rindu yang entah kapan bisa bertemu. Tak mengharap banyak mulai saat itu.


Namun hari ini benar-benar ia sangat bahagia.


“Mas kapan datangnya?” Tanyanya saat mereka sudah berada dalam lift. Tangan mereka masih saling menggenggam.


“Satu jam yang lalu, mungkin.”


“Hah! Lagian kenapa gak ngasih tau?” Gerutunya. Ia merasa tak enak dengan laki-laki itu.


“Terus kalau aku ngasih tau, emangnya kamu bisa datang secepatnya?”


Ia menelan ludahnya, betul juga pikirnya. Tapi ....


Ting.


Pintu lift terbuka.


“Maaf buat Mas Danang menunggu ....” Cicitnya.


Justru laki-laki itu mengancak-acak rambutnya, “Yang penting kita sudah ketemu, kan?”


Ia mendorong pintu unitnya setelah memasukkan pass code.


Tapi begitu laki-laki itu ingin merengkuhnya ia menahan dada Danang dengan tangan kanan, dan tangan kirinya membungkam mulutnya sendiri. Lalu melesat pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Memuntahkan semua makanan yang satu jam lalu disantapnya ke dalam kloset.


“Sayang ....” Danang menyusulnya. Memijit tengkuknya perlahan, “kamu sakit?”


Ia menggeleng, lalu mengeluarkan kembali isi perutnya. Perutnya seperti diaduk-aduk. Tapi kali ini hanya berupa cairan saja. Mulutnya mendadak pahit. Keringat dingin menjalar. Dan ia merasakan sedikit pusing.


Ia menekan tombol flush. Lalu berupaya berdiri tegak meski sempoyongan. Dibantu laki-laki itu ia membersihkan mulutnya di wastafel.


Danang memapahnya hingga ia duduk di tepi ranjang. Laki-laki itu melekatkan punggung tangannya di dahinya. Keningnya berkerut.


“Pusing?” Tanya Danang.


Ia mengangguk pelan.  Beringsut merebahkan tubuhnya. Danang membantunya untuk menata bantal.


“Ya udah, kamu istirahat saja.” Laki-laki itu mengusap dahinya, lalu berdiri mengambilkan minuman hangat dan membantunya meminumkannya.


***


Danang


Ia menarik piyama tidur dari tumpukkan baju di lemari. “Biar nyaman ganti baju dulu,” ucapnya setelah duduk di sisi istrinya yang berbaring. Tanpa menunggu persetujuan, ia melepas kancing kemeja yang dikenakan Kirei.


“Mas ... biar nanti sama aku aja,” Kirei menahan lengannya pada saat akan membuka kancing ke dua.


“Lagian Mas Danang juga masih cape, kan?”


Tangannya masih berhenti di sana. Ia menatap Kirei.


“Mass ....”


“Kamu lagi sakit, gak mungkin aku ngebiarin gitu aja.” Ia melanjutkan membuka kancing berikutnya. Tampak pembungkus merah menyembul dari baliknya. Sangat kontras dan menantang dengan kulitnya yang putih dan bersih. Tak dipungkiri, sudah satu bulan lamanya ia menahan rasa rindu dan keinginan untuk .... Ah, tapi nalarnya masih berada satu tingkat di atas hasratnya. Ia masih bisa mengatasi.


Membuka kemeja Kirei lalu menggantikannya dengan piyama tidur. Tapi, ia sedikit ragu. Ketika harus melepaskan rok sepan sebatas betis Kirei. Ia memejamkan mata sejenak. Kedua tangannya sudah melepas kaitan di balik pinggang istrinya dan menurunkan resletingnya. Perut rata nan halus, lalu semakin ke bawah segitiga bermuda yang juga berwarna merah tampak membungkus belahan yang begitu diinginkannya. Sepertinya untuk yang ini hasratnya sudah dua tingkat di atas nalarnya. Ia kembali memejamkan mata sekaligus menahan hasrat yang sudah di ujung tanduk.


“Yang di bawah biar aku aja, Mas.” Sergah Kirei.


Tampaknya mampu membaca pikirannya. Sementara tangannya masih menggantung memegang rok yang sudah turun sampai di pertengahan paha istrinya.


Ia sedikit lega mendengar kalimat itu. Meski sebenarnya ia tak tega. Melihat Kirei yang masih lemas bangkit dari tidurnya lalu melorotkan rok. Sehingga begitu jelas dan nyata pinggang hingga kaki yang menantang untuk dijelajahi. Ia menggeleng, meraih selimut untuk menyelimutinya, tapi sejurus kemudian,


“Aku gak mau pakai selimut. Gerah!” Tukas Kirei yang mengenakan celana tidur pendek berbahan satin.


“Gerah?” Ia mengernyit. Menurutnya suhu di kamarnya sudah pas. Tidak dingin dan panas.


**


Kirei


“Mas, bangun ....” Ia membungkuk, mengusap pipi laki-laki itu. Sementara Danang hanya menjawab, “hmm,”


“Nanti ketinggalan pesawat,” sambungnya.


Danang masih bergeming.


Dengan gerak cepat ia mencium pipi laki-laki itu agar lekas bangun. Dan ternyata itu cara jitu. Danang membuka matanya, “Jam berapa?”


“Jam 5,” sahutnya seraya menegakkan tubuhnya.


“Kamu udah enakan?” Danang melihatnya sudah mandi dan tampak lebih segar. Meski masih menggunakan piyama tidur.


Ia mengangguk, “Aku hari ini ada tapping. Nanti abis lunch.”


“Buruan, mandi. Rei udah siapin sarapan.”


“Tapi aku pengen sarapan yang lain.”


Ia seperti berpikir, menggigit bibir bawahnya. Lalu duduk di tepi ranjang bersisian dengan laki-laki itu yang sudah bersandar pada kepala ranjang. “Mas Danang mau apa? Biar aku pesenin.” Meski rasanya mustahil mencari sarapan sepagi ini dengan rentang waktu mepet. Sebab jam 8 Danang harus tiba di bandara.


“Atau Mas Danang bisa nyari di bandara apa maunya. Soto, nasi goreng, bubur, sandwich, semua ada di sana. Kalau sekarang ....”


Laki-laki itu sudah menarik lengannya. Ia yang tak siap langsung terjerembap dalam dada Danang.


Ia bukannya tak menginginkannya, tapi ....


Danang merengkuhnya begitu erat. “I wish you were here,” bisik laki-laki itu tepat di telinganya. Membuat seketika bulu-bulu halus tengkuknya meremang dan menjalar ke seluruh tubuh.


Kode. Ini kode bisiknya dalam hati. Bahkan ia pun menginginkan itu.


“Mas ....” Ia ikut mengeratkan pelukannya. Menghidu dalam seraya memejamkan mata. Merasai aroma laki-laki itu, laki-laki yang sangat dirindukannya.


Tanpa aba dan kata, semua bergerak sesuai hati. Bukan nalar dan logika lagi. Melainkan hasrat yang membara. Bahkan tiket pesawat belum ada apa-apanya. Semua seakan tak berharga jika menyangkut peleburan rindu.


Dengan napas memburu seolah semua saling berkejaran dengan waktu.

__ADS_1


Piyama tidurnya sudah tanggal berserakan di lantai. Menyisakan 2 penutup atas dan bawah berwarna ungu tua.


Danang yang berada di atasnya menatapnya lekat. Lalu mengernyit, “Warnanya kok ganti?”


Ia yang setengah sadar sebab merasa sedang melayang di awang-awang terperanjat, “Hah?!”


“Aku suka warna merah,” laki-laki itu menyergah. Namun dengan cekatan melepas pengait di balik punggungnya dan melemparnya begitu saja. Entah benda itu sudah mendarat di mana.


Ia yang belum siap untuk memulai lagi, bibirnya sudah dikunci. Di paksa untuk menahan napas. Sebab Danang kembali membuatnya melayang. Memberikan apa yang dibutuhkan. Melayani bak raja kepada permaisurinya. Semua bagai kilatan tapi sungguh nyata. Ia merasakannya. Ia menikmatinya. Bahkan terlena akan buaiannya.


Perlakuan laki-laki itu sungguh membuatnya membuncah bahagia.


Penyatuan singkat tapi membuat mereka meledak di penghujung temu. Sesingkat pertemuan yang harus diakhiri hari itu juga.


Ia melambaikan tangan saat taksi yang membawa laki-laki itu bergerak perlahan meninggalkannya.


Dua bulir air mata ikut mengiringi kepergiannya. Ternyata rindunya begitu menyiksa.


Tapi detik berikutnya ia tersenyum malu. Menggelengkan kepala. Mengingat kelakuan mereka beberapa saat lalu.


“Mas udah jam 10 lewat,” mereka ketiduran setelah kegiatan yang begitu melelahkan namun melenakan. Artinya Danang harus memesan ulang tiket pesawat. Artinya juga harus kehilangan uang dengan percuma.


Dengan gampang laki-laki itu menyahut, “Bisa pesan lagi.”


Ia menghela napas. Begitu mudahnya laki-laki itu berbicara.


“Katanya ada yang kangen ... pengen dicium,” tukas Danang. Mencibirnya.


“Tapi gak gitu juga,” salaknya sambil berdecak.


Ia hendak bangkit, tapi laki-laki itu menahannya.


“Aku masih kangen, bolehkah—”


Menggantungkan kalimat. Tanpa persetujuan dan jawaban darinya. Ia sudah disergap kembali. Laki-laki itu mengungkungnya, tak membiarkan sejengkal pun terlewati menyusuri setiap tikungan, tanjakan, turunan, gundukan dan tempat-tempat terekstrem yang membuat getaran dan gelenyar aneh dalam perutnya yang menggelitik. Menguarkan rasa panas bak disengat listrik.


Namun, suara dering ponsel Danang berulang kali membawa mereka kembali pulang. Pulang dengan keterpaksaan.


Ya, Rendra memberitahukan pada atasannya bahwa ada rapat bersama seluruh jajaran pejabat utama dan Kapolsek jam 2 siang.


“Ren bisa di undur? Ganti hari?” Ia melakukan proses tawar menawar. Melobi bawahannya demi meneruskan yang tadi sempat tertunda. Bukankah sesuatu yang tanggung itu selalu menyiksa? Meskipun sudah babak kedua.


“Maaf, Pak. Sudah dua kali ditunda. Semenjak dua minggu yang lalu. Harusnya tadi jam 10 jadwal rapat. Tapi ....” Rendra berinisiatif untuk memundurkan jam 2 siang. Sebab ke tidak jelasan keberadaan atasannya.


Laki-laki itu mengusap wajahnya. Mengacak-acak rambutnya.


“Saya sedari tadi menghubungi Bapak tidak diangkat. Pesan saya tidak dibaca. Saya pikir—”


Danang langsung memotong, “Sori ... sori, pesawat ada kesalahan teknis. Jadi penerbangan ditunda. Sekarang saya menuju bandara. Tolong kamu jemput saya nanti di bandara.”


“Saya dari jam 9, Pak sudah menunggu di bandara. Saya pikir pesawat dari Jakarta jam 08.15 sesuai jadwal.”


Dan lagi, lagi runtuh kewibawaan seorang Danang Barata Jaya. Sosok yang terkenal  perfeksionis, tegas, disiplin, dan tepat waktu. Entah alasan apa lagi yang akan dibuatnya.


Ia tersenyum melihat suaminya.


“Mas mau lanjut atau?” Tantangnya sambil menipiskan bibir.


“To be continued ....”


Laki-laki itu langsung melesat ke kamar mandi.


-


-


 


Terima kasih yang sudah berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2