
...74. Miss Exactly...
Danang
Suara pintu ruangannya diketuk. Lalu muncul Rendra dan seseorang di belakangnya. Ia masih duduk di kursi kerjanya menatap layar komputer dengan jari jemarinya yang sibuk menekan tuts keyboard tanpa menoleh sedikit pun pada Rendra.
“Pak, pengacara Aldi sudah tiba. Silakan, Bu.” Rendra mempersilakan wanita itu untuk duduk di sofa. Lalu Rendra pamit keluar.
Ia yang mendengar Rendra berbicara dengan pengacara itu mendongak. Ia pikir pengacara Aldi laki-laki, sebab Rendra tak mengatakan sebelumnya.
Lalu matanya menangkap seorang wanita yang masih berdiri di saat Rendra sudah melangkah keluar.
Wanita itu mengulas senyum padanya, “Hai, Bang apa kabar?” Sapa wanita itu berjalan elegan mendekat sambil mengulurkan tangannya.
“Sorry ganggu waktu Abang ....” Imbuh wanita itu.
Ia bangkit dari duduknya lalu melangkah memutari meja kerjanya untuk menyambut uluran tangan wanita itu.
“Abang lupa?” Tanya wanita itu.
Ia mengernyit. Sebab ia masih mencoba mengingat-ingat sosok di depannya. Ia banyak bertemu dengan orang. Baik laki-laki dan wanita dari segala usia. Tapi kalau pengacara wanita masih muda sepertinya ....
“Teman kuliah dulu,” wanita itu memberi clue. “Satu bimbingan TA dengan Prof. Suteja”
Jeda sejenak.
“Pra dip ta,” jawabnya ragu.
“Exactly.” Sahut wanita yang berprofesi sebagai pengacara itu tersenyum.
“Silakan duduk,” ia mengajak Pradipta untuk duduk di sofa.
“Sudah lama tidak bertemu sama Abang. Mungkin sudah 6-7 tahun.” Tukas Pradipta seraya mengenyakkan tubuhnya di sofa.
Wanita yang berprofesi sebagai pengacara itu adalah salah satu teman kuliahnya sewaktu mengambil jurusan hukum di salah satu universitas Sumatera Barat. Tak banyak memori yang tertangkap. Sebab ia mengambil jeda waktu kuliah di sela-sela kedinasannya. Sehingga interaksi dengan wanita itu terbatas.
“Jadi setelah lulus kamu melanjutkan kuliah di Jakarta dan ambil profesi advokat?” Tanyanya kemudian menyimpulkan. Setelah wanita itu sekilas bercerita tentang dirinya.
“Exactly,”
“Kalo Abang gimana? Udah lanjut lagi kuliah? Atau jangan-jangan sudah jadi dokter hukum?”
“Aku percaya. Abang lulusan terbaik, pastilah ... gak usah diragukan lagi.” Tebak Pradipta sok tahu.
Ia berdecak, “Sayang tebakanmu salah! Aku malah baru mulai. Terlalu banyak kerjaan jadi agak terbengkalai,” jawabnya.
“Selamat ... pengacara seperti kamu pasti selalu menang setiap menangani kasus.” Imbuhnya menyanjung.
Pradipta tertawa, bahkan terkesan tawa meledak karena merasa tersanjung. Hingga ia refleks menutup mulutnya agar tak mengurangi pesona kecantikannya.
Ia pun ikut geleng-geleng kepala, tergelak sebab tingkah Pradipta.
Tapi seketika ia terkejut ketika pintu ruangannya terbuka,
“Mas ....” Kirei membuka pintu menatapnya kaku.
Ia buru-buru beranjak dari sofa dan mendekatinya, “Eh, kok gak ngabari?”
Sementara Rendra masih terpaku di ambang pintu yang masih terbuka lebar.
“Kayaknya aku salah waktu. Maaf. Aku ... aku tunggu di luar saja,” sergah Kirei yang hendak memutar tubuhnya bersiap meninggalkan ruangannya. Tapi dengan sigap ia menahan lengan Kirei.
“Itu pengacara Aldi. Aku kenalkan,” ia menarik lengan istrinya.
“Dip, kenalin ini istriku ....”
Pradipta berdiri dan mengulurkan tangannya, “Pradipta.”
“Kirei,”
***
Kirei
Ia berada di ruangan Danang hanya sebentar. Lalu pamit keluar menemui Anisa dan Oka yang telah tiba di rutan Mapolres.
Tak berapa lama, Pradipta juga pamit.
Tak banyak yang dibicarakan oleh 2 wanita beda profesi itu saat mereka satu ruangan. Pradipta dengan gaya duduknya yang anggun dan berkelas. Selalu menatap penuh saat suaminya itu berbicara. Tapi yang ia ingat saat Danang berbicara, pasti wanita itu menimpalinya dengan berkata ‘exactly’.
“Siapkan saja berkas-berkas pengajuan rehabilitasi. Kalau memang memenuhi syarat kami pasti pertimbangkan.” Ucap Danang.
“Tapi semua harus tetap berjalan sesuai prosedur,”
“Exactly,” sahut Pradipta.
“Memang barang bukti sabu tidak ada. Karena tersangka baru saja mengonsumsinya. Dan jelas hasil tes membuktikan dia pemakai. Serta barang bukti alat hisap ada dalam mobilnya.”
“Tersangka juga sampai dengan saat ini masih berbelit memberikan keterangan keterkaitannya dengan pemberi sabu. Apakah dia termasuk jaringan pengedar. Atau hanya sebagai pemakai. Kita masih terus mendalami itu.” Lanjut Danang.
“Tim assessment yang akan memutuskan nanti.” Pungkas laki-laki itu.
Kembali Pradipta menyahut, “Exactly,”
Ia mengembuskan napas ketika memasuki ruang besuk rutan bersama Anisa dan Oka. Mereka duduk bersisian di bangku kayu panjang berwarna putih dengan meja kayu berukuran persegi panjang di depannya dengan warna senada.
Ia menepuk-nepuk punggung tangan Anisa yang bertaut di atas meja, “Jangan khawatir ... pengacara Aldi pasti mengusahakan yang terbaik,” ucapnya seraya tersenyum samar.
__ADS_1
Lalu muncul Aldi yang menggunakan seragam tahanan berwarna oranye. Di belakangnya petugas polisi berseragam lengkap.
“Gimana kabarnya, Mas?” Tanya Oka yang langsung berdiri menyambut kedatangan Aldi. Pun dengan dirinya dan Anisa.
Aldi menghempaskan bokongnya di atas kursi kayu panjang yang berada di seberang. Wajahnya kusut, kuyu dengan gurat muram, kumal serta suram jelas terlihat. Rambutnya acak-acakan. Badannya semakin kurus tak terurus.
“Kalian bisa lihat sendiri.” Ketus Aldi.
“Pengacara Mas Aldi akan mengusahakan untuk rehab, dan—” tukas Anisa.
“Aku sudah tahu! Aku hanya korban.” Potong Aldi.
Ia menghela napas perlahan. Sepertinya suasana hati Aldi sedang tidak memungkinkan berbicara pada mereka.
Anisa mengangsurkan kantong eco bag berwarna hijau bertuliskan sebuah minimarket terkenal.
“Kami bawakan cemilan sama buah-buahan untuk Mas Aldi,” ucap Anisa. “Semoga Mas Aldi mau menerimanya,” imbuh Anisa.
Percakapan hari pertama pertemuannya dengan Aldi tak banyak. Pria jangkung itu lebih banyak diam. Tapi sifat ketus, pedas dan menyebalkan masih melekat.
Menurut info yang didapatnya tadi malam Aldi mengalami sakau.
“Sabar, Nis ....” Ucapnya ketika mereka akan berpisah di area parkir Mapolres.
“Gue akan bicara sama Mas Danang. Semoga yang terbaik untuk Mas Aldi.”
“Thanks, Rei. Gue cuma gak tega aja. Keluarganya cuma ngirim pengacara, seperti menyerahkan begitu saja. Padahal di saat seperti ini dia pasti butuh orang yang bisa memberikan support padanya.”
Ia menepuk pundak Anisa, “Percayakan pada pengacaranya. Lo juga jaga kesehatan jangan sampai drop.”
Kemudian menatap Oka yang berdiri di samping Anisa, “Thanks, Ka.”
Oka mengangguk, “Kita doakan yang terbaik untuk Mas Aldi.”
**
Kirei
Sepanjang perjalanan pulang ia lebih banyak diam. Meskipun laki-laki di sebelahnya yang sedang mengemudi mengajaknya berbicara.
“Kenapa gak ngabarin kalo pulang? Kan aku bisa jemput ke Jogja.”
“Pasti kamu cape,” Danang mengusap punggung tangannya yang berada di atas pangkuan.
“Kita makan dulu, yaa?” Laki-laki itu menoleh padanya.
“Di rumah aja,” sahutnya.
“Tapi gak tau Yumah masak gak, nya.”
“DO aja,”
Danang mengusap kepalanya, “Kenapa sih pulang-pulang bad mood?” tanpa merasa bersalah padanya.
Yumah dan Darmo yang sedang menonton TV dengan volume kencang sedikit terkejut ketika mendapati majikannya sudah berdiri di samping mereka.
Ia menggeleng, “Nonton sinetron sampai segitunya. Ucap salam gak kedengar. Suara pintu kebuka juga lewat aja.” Sindirnya sambil terus geleng-geleng kepala.
“Maaf, Mbak ....” Darmo merasa bersalah, lalu mengecilkan volume televisi. Sementara Yumah meringis sambil garuk-garuk kepala.
“Yumah masak apa? Aku laper.” Ia meninggalkan pasangan itu menuju meja makan.
Yumah lekas melesat mengekori, “Mbak Rei mau makan apa. Saya tadi cuma goreng ayam sama nyayur lodeh.”
“Gak apalah, itu juga jadi.” Sahutnya sudah menggeret kursi. Yang penting perutnya terisi. Dari siang berangkat dari Jogja ia lupa belum makan siang.
Yumah bergegas ke dapur membawakan piring dan sendok. Disusul segelas air putih diletakkan di hadapannya.
Sementara Danang baru saja datang dengan 2 boks pizza. Dengan brand terkenal berlogo atap limas berwarna merah dengan tulisan berwarna putih. Lalu meletakan di atas meja makan tepat di sampingnya.
Ia menelan ludah. Aroma yang menguar dari boks itu menari-nari di indra penciumannya, mengajaknya untuk segera membuka dan melahapnya.
“Kesukaan kamu. Tuna melt,”
Laki-laki itu mampu membuatnya tidak berkutik.
Tapi gengsinya masih bertengger di atas rasa laparnya. Ia menyendokkan sayur lodeh ke atas piring yang telah berisi nasi. Mengambil potongan paha ayam goreng.
Danang sengaja menggeret kursi di sampingnya. Membuka satu kotak pizza.
“Heemm ....” Gumam laki-laki itu sambil mengunyah sepotong pizza. Sengaja memanasinya sebab tetap memilih melanjutkan makan di piringnya.
“Mo, bawa nih satu.” Tukas Danang menyuruh Darmo untuk mengambil satu boks pizza. Ketika pria itu hendak mematikan televisi. “Bagi-bagi di depan,” imbuh Danang.
Darmo mengangguk, meraih kotak tersebut. “Makasih, Pak.” Lalu berlalu.
Sementara ia masih mengunyah makanan. Meski dengan terpaksa. Sebab selera untuk melanjutkan makan di piringnya tiba-tiba enyah entah ke mana. Sepertinya pizza di dekatnya lebih menggoda.
“Yakin gak mau?!” Sindir Danang dengan mengulum senyum. Memasukkan potongan pizza kedua.
Ia semakin mempercepat makannya. Berharap lekas meninggalkan meja makan, “Kenyang.” Tandasnya seraya menegak air minum dan berdiri setelahnya. Meninggalkan laki-laki itu yang masih duduk. Terbengong.
**
Danang
Ia mengamati Kirei secara diam-diam. Setelah keluar dari kamar mandi istrinya masih terlihat membaca buku sambil bersandar pada kepala ranjang.
“Belum tidur?” Tanyanya.
__ADS_1
Kirei masih bergeming. Menatap buku yang sengaja ia angkat lebih tinggi. Agar menutupi wajahnya. Padahal itu hanya kamuflase. Istrinya tampak masih kesal padanya.
Ia menyusul naik ke atas kasur. Setelah berganti pakaian santai. Lalu berbaring memeluk paha Kirei yang terbungkus piyama tidur berwarna hijau daun. Menciumnya sekilas. Menyurukkan kepalanya di sana.
“Kalo kamu lagi ngambek lucu.” Celetuknya. “Tapi aku lebih suka kamu cerewet. Banyak omong. Jadi aku tahu ... kamu maunya apa.”
“Kalau kayak gini, aku harus nebak-nebak.”
“Padahal wanita itu paling susah ditebak.”
"Bilangnya gak, nyatanya iya ... susah mengakui karena gengsi. Apalagi kalau sudah bilang terserah, bikin kepala mau pecah."
“Lebih gampang nebak tersangka, motif, tujuan ... bisa dibaca!” Adunya dengan suara yang semakin lirih.
“Tidurlah ... pasti kamu cape.”
Dan baru sepuluh menit berlalu, ia sudah memejamkan mata. Mungkin perpaduan rasa kantuk dan lelah.
***
Kirei
Ya ampun, cuma begitu doang? Geramnya dalam hati. Melihat Danang sudah terkapar dalam lelap.
Ia mengembuskan napas kasar.
Tapi ia tak punya alasan untuk marah. Untuk berdebat. Untuk memaksanya bercerita. Seharusnya Danang yang bercerita terlebih dahulu bukan? Menjelaskan siapa sebenarnya Miss Axactly. Tidak mungkin kan berduaan dalam satu ruangan. Tertawa dan tampak santai. Uhh ... sebal!
Ia pun menutup buku yang dibacanya dengan sedikit kasar. Lalu meletakkan di atas nakas samping ranjang. Jujur kalau ditanya untuk me-review bacaan buku tadi, ia tidak akan bisa menjawab. Sebab tak ada satu pun yang masuk dalam otaknya.
Ia beringsut perlahan. Bangkit dan melangkahkan kaki keluar kamar.
Tiba di ruangan tengah, lampu gantung yang biasa menerangi ruangan sudah berganti dengan lampu temaram. Hanya sorot lampu dari dapur yang masih menyala terang.
Ia menggeret kursi meja makan. Membuka kotak pizza yang masih tergeletak di sana. Matanya berbinar senang ketika mendapati potongan pizza hanya terambil 3. Artinya ia bisa menghabiskan sisanya. Meski pizza itu sudah dalam kondisi dingin.
Potongan demi potongan pizza masuk dalam perutnya. Tanpa sadar ia telah menghabiskan 4 potong. Menyisakan hanya 1 potong lagi. Ia mengusap-usap perutnya. Akhirnya malam ini ia bisa tidur nyenyak pikirnya. Tanpa harus bermimpi sebab sudah mengabaikan makanan kesukaannya.
Tapi, melihat sisa potongan tinggal 1. Rasanya mubazir. Lebih baik dihabiskan dari pada membuang-buang makanan. Lagi pula tidak akan ada besok pagi yang menanyakan keberadaan pizza dan siapa yang menghabiskannya. Pun Yumah juga tidak akan berani.
Namun ketika ia akan mengambil sisa potongan terakhir, tetiba bahunya seperti disentuh. Ia menjengit. Pizza itu jatuh begitu saja. Padahal sedikit lagi potongan itu masuk ke dalam mulutnya.
Tangan Danang mengusap-usap bahunya dari belakang, “Kalau masih laper habisin semuanya. Memang itu buat kamu. Atau ... kalau masih kurang besok kita bisa pesan lagi.” Lalu mencium puncak kepalanya.
Sekarang ia seperti terciduk sebagai tersangka.
Laki-laki itu mengambilkan air minum dan menyodorkan di hadapannya. Lalu duduk di sampingnya.
Ia masih bergeming. Mengurungkan niat awalnya untuk melahap potongan terakhir. Menyimpan kembali potongan pizza yang tidak jadi disantapnya ke dalam boks.
“Kenapa, sudah kenyang?” Tanya laki-laki itu menatapnya. Tapi jelas bibir Danang mengulum senyum.
Ia mengangguk.
“Kemungkinan Aldi bisa rehabilitasi.”
“Sudah tiga kali sakau. Tampaknya dia benar-benar kecanduan.”
Ia masih mendengarkan suaminya berbicara.
“Kamu bisa jenguk dia lagi sebelum dibawa ke panti rehab,”
“Apa karena Miss Exactly?” Tanyanya menoleh pada laki-laki di sampingnya.
Laki-laki itu tersenyum lalu melipat bibirnya.
“Bisa iya bisa tidak?”
Ia berdecak. Lalu menegak minumannya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca, memberikan dukungan berupa like, comment, vote dan gift ... 🙏
__ADS_1