Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
58. Here Without You


__ADS_3

...58. Here Without You...


-Gorontalo-


Kirei


Ia menyuapi neene yang sedang sakit. Tadi pagi neene mengeluh kurang enak badan. Sempat demam, setelah minum obat dari dokter, demamnya sudah turun.


“Sudah ....” Tangan neene mendorong perlahan sendok yang ia sodorkan.


“Neene sudah kenyang,” imbuhnya.


Ia menyimpan piring di atas nakas. Lalu mengelap sudut bibir dan mulut neene secara pelan dengan tisu.


Neene tersenyum, dan ia membalasnya dengan senyum.


“Neene cepet sembuh, yaa. Kalau sudah sembuh kita jalan-jalan.” Ia mengusap punggung tangan neene yang bertumpu di atas perutnya.


Wanita berusia lanjut itu terlihat berkaca-kaca. Di usianya yang mungkin sebagian besar  teman-temannya sudah pergi untuk selamanya. Tapi dirinya masih diberi kesempatan untuk menikmati dunia. Berkumpul dengan keluarga tercinta.


“Rei bagaimana kabar bundamu dan Ken?” Tanya neene.


“Kita video call saja ya, Ne.” Usulnya sambil merogoh ponsel pemberian Ken di saku celananya. Ponsel yang diberikan Ken sesaat sebelum keberangkatannya ke Gorontalo.


“Assalamu’alaikum ....” Sahut bunda sambil melambaikan tangan.


“Wa’alaikumsalam, Bundaaa ....” Rengeknya manja.


“Bunda sehat?”


“Sehat, alhamdulillah. Kamu sendiri gimana, Rei?”


“Rei, sehat, Nda. Tapi ... Neene lagi sakit.” Ia mengarahkan ponsel pada neene yang sedang terbaring.


“Mama ....” Sapa bunda.


“Maaf, Nani belum sempat ke sana.”


Neene tersenyum, “Kamu sehat, Nan. Mama sudah tua jadi ya, beginilah suka sakit-sakitan.”


Kini Rei ikut berbaring di samping neene. Memeluk wanita yang masih menyisakan kecantikan di usia lanjutnya itu, “Nda ... aku kangen,” ucapnya dengan manja.


“Neene juga kangen, ya, kan ... Ne?” Ia menelengkan kepalanya meminta pengakuan yang sama pada sang neene.


“Rei ... jangan manja. Kamu harus merawat dan menemani Neene.”


“Mama, kalau Rei salah tegur saja. Jangan dibiarin manja.” Tukas bunda.


“Dia tidak manja, mandiri dan perhatian sama semua ....”


“Makasih ... Ne,” ia spontan mencium pipi sang neene.


Wanita berusia lanjut itu tersenyum melihat tingkah cucu perempuan satu-satunya.


“Neene istirahat, ya ... sudah waktunya tidur.” Ia meletakkan ponselnya berdiri menyandar lampu tidur yang ada di atas nakas. Sambungan video call itu masih terus berjalan. Sehingga bunda di seberang sana bisa melihatnya yang menyelimuti neene.


“Nda ....” Katanya, ketika ia sudah menutup pintu kamar neene.


“Kamu yakin, mau kerja di sana?” Tanya Bunda. Kemarin seusai pulang dari kantor baapu, ia menceritakan keinginannya untuk bekerja di perusahaan baapu.


“Ya ....” Kini ia telah berada di kamarnya yang dulu menjadi kamar ayahnya. Lalu bersandar pada kepala ranjang, kakinya diselonjorkan.


“Mas Danang,” seketika raut mukanya berubah saat bunda menyebut nama laki-laki itu.


“Rei ... dia masih suamimu. Dia wajib tahu ke mana pun kamu pergi. Lebih baik ....”


Ia menggeleng, “Aku belum siap, Nda.”


“Biarkan seperti ini,” lanjutnya. Lalu ia menghela napas berat.


“Tapi jangan lama-lama. Kesabaran seseorang ada titik jemunya. Jangan sampai ....”


“Rei, gak tahu, Nda.” Sergahnya cepat. Memotong kalimat bunda yang belum selesai.


“Kalau memang dia melepas ikatan ini. Rei terima,” ucapnya ragu. Tapi ia berusaha meyakinkan diri sendiri. Toh, sudah tidak ada lagi yang harus dipertahankan, bukan? Semua terlalu menyakitkan pikirnya.


“Nak, pernikahan itu bukan main-main.”


“Pikirkan baik-baik. Bunda hanya berharap yang terbaik untuk kalian.”


Sambungan video call itu pun berakhir.


Sore harinya ia menemani neene duduk di taman belakang. Sembari memberikan makan pada ikan koi yang berenang ke sana kemari.


“Ikan-ikan ini langsung didatangkan dari Jepang,” Tukas neene.


Neene menunjuk satu ikan koi yang meliuk-liuk lincah berwarna merah putih dan ada tanda merah bulat di kepalanya. “Itu hadiah dari sahabat baapu sewaktu ayahmu masih SMA.”


Matanya mengikuti pergerakan ikan koi yang ditunjuk neene. “Seperti bendera Jepang.” Gumamnya.


“Ya, itu pemberian Tuan Akihito. Sahabat baapu."


“Oya ... ikan koi umurnya panjang ya, Ne?”


“Ya ... punya Tuan Akihito ada yang berumur 60 tahun. Asal perawatan dan pemeliharaannya bagus.”

__ADS_1


Ia manggut-manggut.


“Rei pernah dengar juga ada ikan koi yang berumur 200 tahun.”


Kali ini neene yang manggut-manggut tanda setuju.


“Hinda woloolo koadaan Mama? (Bagaimana keadaan Mama?).” Tanya Bibi Kabila yang datang dari arah belakang mereka, bersama anak ketiganya bernama Ilahudu yang masih sekolah di bangku SMP.


“Ma pio-piohu (sudah baik).”


“Maaf ... kitorang terlambat kemari,” Bibi Kabila sudah duduk di sebelah neene. Sementara Ilahudu berdiri di belakangnya.


“Sudah tidak apa-apa. Ada Kirei yang jaga Mama. Lagi pula ngana sibuk.”


Bibi Kabila menatapnya sekilas.


“Neene sudah lebih baik, Bi. Dokter tadi pagi mengatakan Neene hanya kelelahan.” Sahutnya menimpali yang masih duduk di pinggir kolam.


“Mama jangan kecapean, lagi pula kenapa harus ke bandara kemarin?” Bibi Kabila mencibir sambil meliriknya.


“Sudah, tak apa ....” Neene menengahi.


 


**


-Semarang-


Danang


“Oh ... sial!” Umpatnya. Gara-gara Banuaji menyodorkan racikan mojito asli Kuba membuatnya teler tadi malam. Pagi ini ia bangun kesiangan. Kepalanya masih terasa berat. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB.


Dengan gerakan cepat ia membersihkan diri. Mengenakan seragamnya beserta atribut yang menempel.


Tak lupa memakai kaos kaki hitam dan sepatu PDH kulit berwarna hitam yang mengilat.


Hari ini acara lepas sambut dirinya di kantor Mapolrestabes jam 9 pagi.


Ia mengusap layar ponselnya. “Oh ... sial! Riwayat panggilan dari Rendra menghubunginya beberapa kali. Lalu pesan singkat dan chat dari Rendra juga berderet.


“Ya, Ren ....” Sahutnya cepat. Seraya meletakkan ponsel pada car holder HP. Tangan kanannya mengarahkan setir.


“Pak, jam 9 acara lepas sambut ....” Rendra mengingatkan atasannya itu takut ia lupa. Sebab atasannya belum juga muncul. Sementara semua sudah siap.


“Sorry!”


“Pak Dandim dan Pak Walikota sudah di jalan menuju kemari, Pak.”


“Berapa menit lagi mereka sampai?”


Ia menggigit bibir bawahnya. Tak ada waktu lagi pikirnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Setibanya di Mapolrestabes ia disambut Rendra yang sudah menungguinya sedari tadi. Tak lupa jajaran pejabat utama dan seluruh Kapolsek di bawah Polres kota besar Semarang.


Rendra membisikkan sesuatu di telinganya, “Pak Dandim dan Pak Walikota belum datang.”


Ia tersenyum semringah, ternyata keberuntungan masih berpihak padanya.


Penyambutan dirinya begitu meriah, saat memasuki pintu Mapolres ia mendapatkan pengalungan rangkaian melati. Tak lupa juga buket bunga yang harusnya diterima oleh istrinya sebagai ketua Bhayangkari. Tapi terpaksa ia menerimanya.


Lalu dengan langkah pasti diiringi korsik Polres ia menuju Mapolres diikuti pejabat Kapolres lama melalui barisan pasukan pedang pora. Yang dipimpin oleh salah satu Kapolsek. Dengan diiringi tarian keprajuritan Polwan. Ia dan pejabat lama melangkah sambil menyalami satu persatu pejabat utama, Kapolsek, serta para Perwira hingga di lobi.


Ia memasuki aula yang telah didekor sedemikian rupa. Di sana telah duduk jajaran forum koordinasi pimpinan daerah kota. Para tokoh masyarakat dan agama.


Ia menjabat tangan mereka satu persatu. Lalu duduk di kursi yang telah disediakan.


“Selamat Bang ... pulang kampung.” Ucapnya pada Samosir. Kapolrestabes lama sekaligus senior dan temannya sewaktu di Akpol. Beliau mendapatkan penempatan di Polda Sumut.


“Lo juga, di sini-sini aja. Istri lo mana?” Tanya Bang Samosir.


“Lagi di luar kota,” kilahnya. Alasan yang tepat.


“Bah ... resiko wanita karir.” Seloroh Samosir tersenyum mengejek.


Ia tersenyum kecut. Menatap sekilas istri Bang Samosir yang duduk di sebelahnya. Lalu melempar senyum ketika mereka bersua pandang.


Tak berselang lama rombongan Dandim dan Walikota datang.


Acara berjalan lancar dan khidmat. Tiba saat gilirannya memberikan kata sambutan.


“... Saya memohon kepada seluruh elemen masyarakat kota Semarang, mendukung kinerja kepolisian. Saya berharap dukungan, hubungan dan komunikasi yang baik yang selama ini telah terbangun antara pemerintah kota, masyarakat dan kepolisian tetap terjaga dan semakin membaik di masa yang akan datang.”


Dan kini memasuki acara hiburan dan ramah-tamah.


Ia mengobrol dengan Pak Dandim dan Pak Walikota sebentar, sebelum mereka pamit undur diri.


Rendra dan tim korsik yang tadi menyambutnya telah berada di panggung depan.


“Selamat siang semua ....” Ucap Rendra yang memegang microphone.


“Lagu ini spesial untuk Bapak Kapolrestabes yang baru,”


Ia menggeleng saat mendengar intro lagunya ...


A hundred days have made me older

__ADS_1


Since the last time that I saw your pretty face


A thousand lies have made me colder and I don’t think I can look at this the same


But all the miles that seperate


Disappear now when I’m dreaming of your face


I’m here without you, baby


But you’re still on my lonely mind


I think about you, baby


And I dream about you all the time


I’m here without you, baby


But you’re still with me in my dreams


And tonight it’s only you and me, yeah


 


Ia menggeleng lagi menatap Rendra. Sambil menodongkan jari membentuk pistol ke arahnya.


Rendra terlihat menahan tawa sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Menyerah.


Tapi sedetik kemudian ia menikmati lagu tersebut. Ikut menyanyikan. Walau dalam hati mengumpat sebab lagu ini benar-benar penjabaran dirinya saat ini. Here without you (di sini tanpamu).


 


The miles  just keep rollin’


As the people leave their way to say hello


I’ve heard this life is overrated


But I hope that is gets better as we go, oh yeah yeah


I’m here without you, baby


But you’re still on my lonely mind


I think about you, baby


And I dream about you all the time


I’m here without you, baby


But you’re still with me in my dreams


And tonight girl, it’s only you and me, yeah


-Here without you-3 doors down-


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ....🙏.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2