Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
7. Never Give Up....


__ADS_3

...7. Never Give Up .......


Tertatih Kirei melangkahkan kaki menuju kantor Ditreskrimsus. Sudah kadung janji dengan Pak Wadir untuk membuat liputan khusus. Berbekal surat tugas dan segala peralatan penunjang liputan.


Ia duduk di kursi kayu yang berjejer di selasar gedung tersebut.


Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Beberapa kali ia meringis menahan perih dan nyeri bagian lututnya yang terluka sebab terjatuh tadi malam. Mas ojol hanya terluka ringan lecet bagian lengan. Sementara ia, cindera lutut robek meski tidak dalam, lengan lecet-lecet dan membiru.


Ia paksakan untuk berjalan dan bekerja sebab waktu deadline penayangan program di depan mata.


Beberapa kali ia menunduk untuk mengecek ponselnya. Membalas beberapa pesan singkat dan mengintip media sosialnya.


“Rei,” sapa Mas Budi lalu ikut duduk di sebelahnya.


“Udah lama?” Tanyanya.


“Lumayan.”


“Eh ... lengan kamu kenapa, Rei?” Tanya Budi khawatir sambil menunjuk lengannya.


“Ehee, jatuh Mas tadi malam.” Jawabnya cengengesan.


“Rei, Rei ... kalo kamu sakit kita bisa batalin liputan hari ini.”


“Eh, gak kok, Mas. Cuma lecet doang. Beneran gak apa-apa.” Sergahnya berkilah.


“Gak apa gimana? Lihat tuh, membiru gitu. Pasti nyeri kan? Gimana ceritanya bisa jatuh?”


“Tadi malam pas naik ojol. Ada mobil yang nyerempet.”


Mas Budi terlihat geleng-geleng kepala, “Kamu itu suka maksain diri. Aku gak mau tiba-tiba kamu pingsan seperti waktu di RS Bhayangkara waktu itu.”


Ia tersenyum kecut, “Waktu itu gak sampai pingsan, Mas. Cuma lemes aja. Lagian itu liputan pertama. Sekarang udah biasa.” Kilahnya demi liputan hari ini tetap berjalan.


“Ya, sami mawon tho! Lemes hampir pingsan. Profesional sih profesional ... tapi lihat sikon juga Rei. Kalo lagi gak fit gini bisa ngrugiin diri sendiri bahkan orang lain, tau gak?!” Tandas Budi.


“Iya deh ... iya,” ia mencebik. Mas Budi memang rekan terbaik. Pengertian, baik budi seperti namanya.


“Sudah lama?” Tanya seseorang dengan suara khasnya yang berat dan maskulin.


“Belum, Pak.” Jawab Mas Budi.


“Ayo ke ruangan saya,” ajak Danang.


Dua lelaki itu berjalan dengan langkah lebar di depan, sementara ia tertatih untuk berjalan tertinggal di belakang.


Mereka telah menghilang di balik pintu, sedangkan ia masih meringis menahan perih dan nyeri setiap lututnya bergerak.


“Harus kuat!” Gumamnya.


“Rei!!” Panggil Mas Budi yang keluar lagi dari balik pintu.


“Lho, kaki kamu juga sakit? Kenapa sih maksain gini!” Gerutu Mas Budi tapi tetap membantunya memapah berjalan. “Kita batalin aja lah, liputan hari ini!” Salaknya.


“Gak apa-apa, Mas. Suerr!” Ia mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


“CK, dasar! Ngeyel!” Decak Budi menghadapi gadis yang keras kepala seperti dirinya.


Mereka pun masuk dalam ruangan Pak Wadir. Namun mata Pak Wadir menatapnya heran.


“Duduk aja di sofa!” Titahnya. Danang mendekatinya dan berjongkok tepat di depannya.


“Eh,” ucapnya, kagok dengan tindakan spontan Danang.


“Kenapa bisa seperti ini?” Tanya Danang dengan mata fokus melihat lututnya.


Ia pun berjengit, melihat lututnya yang sudah mengeluarkan darah hingga menembus celana berwarna krem 7/8 yang dikenakan.

__ADS_1


“Tadi malam jatuh, Pak diserempet,” jawab Mas Budi yang masih berdiri di depannya dengan raut mencemaskannya.


“Tunggu sebentar,” Danang keluar ruangan. Tak lama ia pun kembali dengan sebuah kotak P3K. “Harus cepat diobati, kalau gak bisa infeksi,” tandasnya dengan kembali berjongkok di depan Kirei.


“Maaf ....” Ucapnya permisi sebelum menaikkan celananya hingga di atas lutut.


Ia yang belum pernah mendapat perlakuan seperti itu. Mendadak perasaan aneh meliputinya antara tegang, malu dan ... canggung.


Dengan cekatan dan terampil, Danang mulai mengobati lukanya. Sesekali ia meringis menahan rasa nyeri dan perih.


Luka dibersihkan dengan air hangat, lalu laki-laki itu menekan-nekan luka dengan kasa steril hingga darah yang keluar terhenti. Setelah berhenti pendarahan, mengolesi lukanya dengan salep antobiotik. Lalu ditutup dengan perban bersih.


“Sudah,” ucap laki-laki itu seraya bangkit berdiri setelah selesai mengobati lukanya.


Namun justru ia bergeming. Pandangannya mengikuti setiap gerak laki-laki itu di hadapannya.


“Lukanya hanya sobek kecil tidak dalam. Tapi nanti kalau bengkak dan semakin nyeri lebih baik dibawa ke dokter.”


“Rei, masih sakit?” Tanya Budi.


Ia baru mengerjapkan matanya setelah suara Budi masuk ke indra pendengarannya.


“Gak Mas. Eh ... makasih, Pak.” Jawabnya canggung.


“Kalau hari ini batal liputan gak apa. Kita buat schedule lagi nanti,” usul Danang.


“Gak, Pak. Hari ini bisa.” Sergahnya cepat. Ia tak mau kehilangan waktu hanya sekedar luka kecil di lututnya. Never give up!


“Oke.”


Wawancara liputan pun dimulai. Dengan segala kendala dan kondisinya, akhirnya diputuskan liputan duduk di sofa.


Dua jam telah berlalu. Tujuannya kini menemui pelaku di rutan sementara polda.


“Baik, saya antarkan ke sana. Saya sekalian ada perlu di Polda. Namun untuk mewawancarai pelaku ada batasan waktu. Jadi upayakan seefektif dan efisien mungkin.” Saran Pak Wadir seraya tetap fokus mengemudi.


“Baik, Pak," sahutnya.


“Jadi kalian mau ke yayasan itu?” Tanya Danang.


“Iya, Pak.” Jawab Budi yang duduk di samping kemudi.


“Kapan?”


“Belum tau, Pak. Mungkin setelah peliputan kasus narkoba ini selesai."


“Sebenarnya dari tim kami sudah pernah ke sana.”


“Oh, ya?” Sahutnya senang mendengar kabar itu. Bisa jadi ada info terbaru nih.


“Ya, tapi pihak yayasan hanya memberi alamat saudara dari pihak ibunya. Karena yang menyerahkan korban ke yayasan adalah ibunya."


“Dengan alasan?”


“Ekonomi. Kedua orang tuanya merantau ke pulau Sumatera. Namun nahas bus yang ditumpangi mereka mengalami kecelakaan. Dan mereka termasuk korban yang meninggal di tempat."


Ia yang mendengar cerita itu terenyuh. Bagaimana tidak, hal itu juga dialaminya saat dirinya masih kecil. Ia ditinggalkan sang ayah tercinta karena kecelakaan.


“Kenapa gak dititipkan ke pihak ibu yang masih hidup, Pak?” Tanya Budi.


“Balik lagi. Soal Ekonomi."


Ia menghela napas dalam.


Begitu tiba di rutan Polda. Ia menyerahkan surat tugas peliputan dan surat perijinan untuk menjenguk tersangka.


Gadis 18 tahun itu tampak kuyu. Dua hari yang lalu wajahnya tertutup ninja, sekarang ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa wajahnya.

__ADS_1


Cantik. Polos.


Sebelum camera in action, ia duduk membelakanginya. Sesuai kesepakatan pelaku tidak mau disorot kamera full face. Meski awalnya enggan diwawancara, tapi berkat Pak Wadir akhirnya ia mau juga.


Oh, big thanks for you Pak Wadir.


Wawancara berjalan mulus meski tersendat beberapa hal. Tapi overall puas melihat hasilnya. Dia yang teramat menyesali perbuatannya. Dengan isak sedu sedannya, memohon untuk tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya atas perbuatannya ini.


“Sa-saya sudah membuat malu orang tua saya, Mbak ....” Ujar gadis itu.


Ya, begitulah ... penyesalan selalu datang terlambat. Kalau di awal namanya pendaftaran katanya.


Apa lagi ancaman yang menjeratnya. Gadis delapan belas tahun itu dikenakan pasal 114 ayat 2 subs pasal 112 ayat 2 subs pasal 132 ayat 1 undang-undang RI no 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman seumur hidup atau mati.


Gadis itu semakin terisak, “Saya belum siap di hukum ma-mati. Sa-saya belum membahagiakan orang tua saya,” ujarnya dengan sejuta penyesalan tercetak di wajahnya.


"Lalu kenapa Anda bersedia mengantarkan barang terlarang itu?"


Beberapa menit gadis itu terdiam memaku, hanya punggungnya yang terlihat bergetar. Dan isak tangis terdengar.


"Apa iming-iming uang?"


Gadis itu mengangguk kecil, lalu menggeleng. "Saya tidak tau, kalau itu narkoba," sahutnya.


Hukuman pasti lebih berat. Sebagai kurir dan pengedar. Bahkan melakukannya sudah dua kali. Bisa jadi jika kemarin tidak tertangkap ia akan tetap menjadi kurir seterusnya.


Masa muda yang suram. Harusnya di usia belia, gadis itu bersenang-senang dengan teman SMA-nya mungkin. Atau sedang menikmati masa perkuliahan dengan semangat darah muda. Justru kenyataannya ia harus mendekam di penjara untuk menebus kesalahannya.


Memprihatinkan. Jika ia merasa terdesak karena ekonomi. Jelas sangat salah. Atau hanya dibutakan oleh kesenangan semata?


Ia menghembuskan napasnya kasar. Pikirannya sedang kesal dan kacau. Entah kesal dengan siapa? Yang jelas berbagai alasan yang dikemukakan oleh tersangka sedikit banyak berpengaruh atas pandangan tentang hidup.


Benar kesalahan orang lain menjadikan kita harusnya lebih bersyukur dan menjadikannya guru terbaik agar kita tidak mengulangi dan terjerumus pada lembah yang sama.


Tubuhnya teramat lelah. Setelah seharian beraktivitas di luar. Ia kembali ke apartemen saat senja sudah menyapa. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


Esok saatnya pelaporan liputan. Malam ini ia harus beristirahat dengan tenang.


Mendadak matanya menangkap bingkai foto keluarganya yang tergantung di dinding. Foto kebersamaan untuk terakhir kalinya bersama sang ayah. Foto empat belas tahun silam saat ia dan orang-orang tercintanya bertamasya di kebun bunga Malang.


“Miss you, Ayah.” Gumamnya sembari memejamkan mata. Berharap bisa bermimpi bertemu dengan sang ayah yang teramat dirindukannya.


-


-


Catatan :


Undang-undang tentang narkotika di unduh dari laman hukumonline.com.


Terima kasih yang sudah mampir membaca dan memberikan berbagai dukungannya ...🙏


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2