Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
24. Papa Familys


__ADS_3

...24. Papa Familys...


 


-Surabaya-


Kirei


Apa yang ditakutkan ternyata tadi malam tidak terjadi. Pukul 22.00 WIB ia yang sudah mengantuk tidur terlebih dulu. Sementara Danang entah ke mana sebab sebelumnya laki-laki itu memberi pesan bahwa akan menemui temannya.


Saat ia terbangun di pagi hari, laki-laki itu sudah tidur di sampingnya. Guling tetap berada di posisi tengah tanpa bergeser sedikit pun.


Dan pagi ini di kediaman mama dan papa telah disibukkan orang-orang yang bekerja. Suara ribut orang-orang yang sedang memasang tenda. Sebagian membereskan ruang keluarga yang akan di gunakan untuk acara nanti sore.


Mama hilir mudik memberikan instruksi pada para pekerja.


“Kirei bantu apa, Ma?” Tanyanya saat melewati mama yang usai menerima telepon seseorang.


“Kamu duduk saja, Rei.” Jawab mama dengan menerbitkan senyuman.


“Semua sudah beres, oyaa ... tunggu bentar ....“ Jeda mama meraih dua buah paper bag berlogo pakaian muslim terkenal di atas meja makan, lalu mengangsurkan padanya "nanti dipakai, yaa ... buat kamu sama Danang,” sambungnya.


“Makasih, Ma ....” Balasnya seraya menerima paper bag tersebut.


“Danang ke mana?” Tanya mama detik berikutnya.


“Tadi sewaktu Rei, turun. Mas Danang lagi mandi ... itu dia, Ma.” Sebutnya saat matanya menangkap sosok laki-laki yang berjalan menuju arah mereka.


“Nang, tolong antarkan undangan tempat Pakde Imam, Om Ito, sama Om Tarman.” Ucap mama sambil menyodorkan undangan itu.


Meski undangan sudah tersampaikan lewat dunia maya kemarin sore, namun rasanya tak elok sebagai saudara tidak mengantarkan langsung pada yang bersangkutan. Apa lagi Pakde Imam yang memang tinggal di Surabaya. Om Ito juga punya rumah di sini meski berdinas di Jakarta. Sementara Om Tarman jangan ditanya, sahabat rasa saudara itu akan marah jika setiap momen keluarganya begitu saja terlewatkan darinya. Semenjak pensiun beliau lebih memilih tinggal di kampung halamannya yaitu Sidoarjo.


“Aku tinggal dulu, yaa ....” Pamit Danang padanya.


Ia tersenyum dan mengangguk. Kemudian menuju dapur. Di sana terlihat Bi Darmi dan Jum yang tengah sibuk.


“Apa yang bisa saya bantu, Bi?” Tanyanya saat sudah berdiri di belakang Bi Darmi.


“Eh ... Mbak Rei,” sahut Bi Darmi menoleh padanya lalu bergeser memberikan ruang padanya, “udah selesei. Semua sudah beres kok, Mbak ....”


“Iya, Mbak. Ibu udah pesan semua. Dari katering, snack, hantaran kue, souvenir, sama Ibu udah beres pokoknya. Kita tinggal bantu nyiapin saja.” Jum menimpali. Jum adalah anaknya Bi Darmi yang ikut bekerja sebagai asisten rumah tangga.


“Tus ini diapain?” Tunjuknya pada kotak karton yang dihias pita bertuliskan namanya dan Danang yang berjejer di atas meja buffet.


“Oh ... ini mau dipindahin, Mbak. Soalnya siang nanti pihak katering datang. Mejanya mau diangkat ke depan." Jawab Bi Darmi.


“Ohhh ... saya bantu, yaa?”


“Ehh ... gak usah, Mbak.” Cegah Bi Darmi.


“Ga apa, Bi. Lagian saya ngapain cuma lihatin Bibi sama Jum.” Ia sudah menyambar kotak karton itu dan memindahkannya ke meja lain yang tak jauh dari meja tempat prasmanan.


Karena penasaran ia bertanya sama Bi Darmi, “Isinya apa ya, Bi? Agak berat.”


“Kata Ibu tadi sih, satu set teko sama mug keramik ....”


Ia mengerutkan keningnya, Danang mengatakan jika memberitahu keluarga perihal pernikahan mereka saja baru kemarin pagi. Lantas kapan memesan souvenir? Tidak mungkin, kan dalam satu hari pesanan ready?


“Ibu tuh sudah jauh-jauh hari, Mbak pesen souvenir ini ....” Terang Bi Darmi seperti tahu rasa penasarannya.


“Iya, soalnya kirain sama putrinya Gus Ahmad ... eh!” Jum lekas membungkam mulutnya yang keceplosan.


“Eh, bukan ... bukan ... maksudnya ....” Wanita itu terlihat gusar.


“Jum!” Seru Bi Darmi.


Ia tersenyum, “Gak apa kok, Bi.” Sanggahnya.


Ia kembali menata souvenir-souvenir tersebut. Tanpa memedulikan ibu dan anak itu yang masih menatapnya serba salah.


Menjelang sore seorang make up artist suruhan mama datang. Memberitahukan bahwa dirinya harus segera dirias sebab acara dimulai tepat setelah bada asar.


Tadi siang beberapa keluarga papa sudah mulai berdatangan. Mama yang anak tunggal merasa senang saat berkumpul dengan saudara dari papa. Mama memperkenalkan mereka satu persatu.

__ADS_1


Papa adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kakaknya yang pertama sudah meninggal sementara istri dan anak-anaknya tinggal di Makasar. Pakde Imam kakak papa kedua dulu pernah menjabat Gubernur Jawa Timur 2 periode. Datang bersama istrinya yang membawa cucu berumur 10 dan 5 tahun. Sementara anak pertamanya akan menyusul sore hari. Anak kedua dan ketiga tidak bisa hadir sebab tinggal di luar negeri.


Lalu adik papa yang bernama Om Ito datang bersama istrinya. Sepertinya wajah Om Ito tak asing bagi Kirei sebab sering wara-wiri di televisi. Ya, Om Ito menjabat sebagai Kabareskrim. Sementara anak-anaknya sedang mengenyam pendidikan di Amerika.


“Ini Om Tarman. Kapolri ....” ucap mama menyebut tahun di mana Om Tarman pernah menjabat sebagai Kapolri saat memperkenalkan pria paruh baya dengan rambut uban tampak menghias kepalanya. Beliau juga masih berjalan tegak meski termakan usia.


“Sahabat papa ....” Sambung mama.


Dan tamu undangan satu persatu mulai berdatangan meski acara dimulai masih satu jam lagi.


Rumah begitu ramai saat acara sudah di mulai. Tamu undangan penuh di luar maupun di dalam. Tenda luar digunakan untuk undangan bapak-bapak, sementara khusus ibu-ibu pengajian di ruangan tengah.


Ia masih duduk di depan meja rias. Mengenakan gamis kaftan off white dengan aksen payet di leher. Rambutnya dibiarkan tergerai hanya di blow. Memakai scarf yang senada dengan gamisnya.


“Sudan siap?” Tanya Danang yang baru masuk kamar.


Ia bisa melihat laki-laki itu dari pantulan kaca di hadapannya.


Mengenakan baju koko yang juga berwarna putih. Ia menerbitkan senyumannya.


“Semua orang sudah menunggu kita.”


Ia bangkit lalu berjalan ke arahnya. Menggandeng tangan laki-laki itu, “Yuukk ....”


Di saat waktu seperti ini, ia harus memerankan pasangan yang bahagia dan saling mencinta bukan?


Satu per satu acara telah dimulai. Semua berjalan lancar dan khidmat. Tamu undangan, kerabat dan saudara telah pulang.


Satu yang masih mengganjal pikirannya. Ternyata Danang telah dijodohkan dengan anak seorang Kiai dari Pasuruan. Ia tak sengaja mendengar mama saat berbincang dengan seorang wanita yang dipanggilnya ‘Umi’.


“Maaf ya, Um. Ternyata niatan kita untuk menjodohkan mereka tidak direstui sama Allah. Mungkin memang belum berjodoh.”


“Gak pa-pa, Mbakyu. Jodoh, pati, rezeki semua Allah yang mengatur. Kita hanya menjalankan saja apa yang telah Allah tetapkan.”


“Semoga, Mbakyu lekas dapat momongan cucu.”


“Aamiin ... makasih, Umi. Tapi masih ada harapan, kan, Um?”


“Setidaknya, gak berjodoh sama anakku yang pertama, tapi masih ada Aksa. Yaa ... kita hanya membuka jalan." Mama always had a way.... Wanita yang di panggil umi tersebut hanya tersenyum membalas mama.


Saat ia membantu Bi Darmi di dapur, mama memanggilnya. "Rei, Mama ingin bicara sebentar ....”


Ia mengangguk lalu mengekori mama di belakang.


Mereka duduk di teras samping. Jum datang membawa dua cangkir teh madu dan kue pukis.


“Makasih, Jum ....” Ucap Mama saat Jum meletakkan teh dan kue tadi di atas meja kecil yang menjadi penyekat di antara mereka.


Jum hanya mengangguk. Menghilang di balik pintu. Mama menyesap teh dengan kaki saling menopang.


“Maafkan, Mama ....” Menjadi awal kalimat pembukanya.


“Bukan maksud ... membuat Kirei berkecil hati,”


Ia belum bisa menerka maksud perkataan mama.


“Souvenir itu ....“


“Kata Bi Darmi, tadi kamu nanyain soal souvenir?”


Ia baru paham.


“Memang souvenir itu sengaja Mama pesan untuk anak-anak Mama jika suatu hari nanti mereka menikah. Dan ternyata kamu yang jadi menantu Mama duluan,”


“Bukan khusus untuk Danang.”


“Jadi jangan salah paham, yaa ....” Bujuk Mama.


“Iyaa ... Ma.”


Setelah makan malam semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Rumah sudah kembali rapi dan bersih. Mama mengerahkan semua pekerja di rumah dan pekerja toko rotinya untuk membantu selama acara berlangsung sampai usai.


“Mas, malam ini laga, kan?” Sambar Aksa yang baru datang bergabung. Aksa baru datang tadi siang.

__ADS_1


“Mau pada ke mana?” Tanya mama.


“Biasalah ... anak muda!” Seru Aksa.


“Sa, Masmu besok pagi pulang ke Semarang. Biar aja malam ini istirahat.”


“Lho ... kan, sama. Aku juga besok pulang, Ma. Satu pesawat lagi.”


Mama menggeleng, “Kalian ini. Kalo dibilang orang tua suka gak nurut!” Sembur mama kesal.


“Sebentar, Ma. Paling lama 2 jam.” Elak Papa menimpali yang tak mau ketinggalan klub kesayangan main di Liga Champions malam ini. Inter Milan versus Barcelona.


“Aku pastiin klub kesayangan kamu kalah.” Ejek Danang menyeringai.


“Squad El Real tetap yang terbaik. Tiga belas kali menjuarai Liga Champions. Di grup B, Real sukses menumbangkan Inter 3-2. Klub kesayangan Papa siap-siap angkat koper.” Balas Aksa.


Klub kesayangan papa Inter Milan memang kalah saat matchday keempat di Liga Champions. Tapi masih ada kesempatan bagi Inter, terutama klub besutan  Antonio Conte itu harus ekstra kerja keras agar lolos fase grup. Malam ini matchday kelima.


“Papa harus merelakan Inter pulang kandang.” Ejek Aksa sarkas, “aku yakin Barca menang 2-1.”


“Apa lagi setan merah ... pernah kalah dengan Red Bull 2-0. Harapan setan merah tipis ... hadeehh kasihaaaan ....” Senyum mengejek  mengembang di bibir Aksa.


“Mas Danang harus terima lapang dada kalo nanti setan merah harus turun kasta ke Liga Eropa ....”


“Cih, guayamu ... Sa!” Geram Papa. Anak bungsunya sudah seperti pengamat bola pikirnya.


“Tenang, Pa. Lawan Real berat kalo nanti bertemu Liverpool. Pernah kalah di LC 4-1.” Tandas Danang.


Obrolan laki-laki berbeda generasi itu saling ejek dan mempertahankan klub masing-masing.


Laki-laki memang identik dengan bola. Tak memandang seberapa usianya. Itulah yang menyatukan mereka.


“Kirei kalo ngantuk tidur aja duluan ... mereka biasa kalo bahas bola tak ada ujungnya,” ujar mama.


Ia hanya tersenyum menjadi pendengar.


“Yukk ... Rei. Kita tinggalin mereka. Lebih baik tidur dari pada gadang gak jelas.” Tandas mama yang memang tak suka bola.


“Mas, aku duluan, yaa ....” Pamitnya pada Danang.


“Tidurlah, nanti aku nyusul.”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan...ya! 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2