
...40. So Glad On News Team...
Kirei
Hari pertama ia masuk kerja setelah off dua minggu sepertinya menguras tenaganya.
Dari pagi hingga sore hari ia benar-benar di studio untuk melakukan syuting recording.
“Break!” Seru mas Agung selaku campers.
“Kita lanjut besok” imbuhnya.
Ia segera membereskan perlengkapannya. Berganti baju di ruang ganti.
“Rei ....” panggil Gita, makeup artis yang menanganinya.
“Lo, harus melakukan perawatan wajah keknya. Biar mulus ... glowing ... shimmering ... shining ...pokoknya yang enak dipandang kamera lah.”
“Komedo, lo banyak betul. Udah berapa tahun sih gak nyalon?” omel Gita.
“Muka lo, juga kaya kusam gitu,” imbuhnya lagi tanpa tedeng aling-aling.
Ia hanya memandangi wajahnya di cermin ruang make up. Memang betul rasanya sudah lama ia tak melakukan perawatan wajah. Oh, bukan hanya wajah. Melainkan tubuh juga. Dan ia juga tak ingat kapan terakhir ke salon. Sebab saking lamanya.
Apa lagi sewaktu melakukan pelatihan di Kamboja kemarin. Benar-benar dua hari full berinteraksi dengan sang matahari yang begitu gagahnya menyinari bumi Land of the Khemr.
“Nih,” Gita menyodorkan sebuah kartu nama eksklusive padanya. Sebuah salon perawatan kecantikan yang terkenal di kota ini. Letaknya tak jauh dari kantor.
“Makasih, yaa, Gono ....” sahutnya dengan senyum mengembang.
Gita sudah mengerucutkan bibirnya, “Gono ... Gono ... Gita, tau!” semburnya.
“Ups! Iya ... iya. Gita cantik. Secantik Nagita Slavina.” Kekehnya dengan menutup mulutnya.
Nama asli Gita adalah Gono Sujiwo. Tapi semenjak menekuri dunia kecantikan berubah menjadi Gita Sujiwa. Fans berat istri Sultan Andara. Ia jadi ingin tertawa karenanya.
Ia melirik jam tangan di lengannya. Masih sore. Tidak ada salahnya melakukan perawatan wajah dulu. Kapan-kapan baru perawatan tubuh pikirnya. Sebab kalau perawatan tubuh paling tidak memakan waktu yang cukup lama.
Ia melambaikan tangan pada Gita, “Aku duluan yaa ... Git.”
Gita berteriak melengking, “jangan lupa bilang temennya Gita. Tunjukin kartunya. Oke! See you tomorrow!”
Pria berwujud wanita itu memang pandai membuatnya menggelengkan kepalanya. Dengan segala tingkah dan polahnya.
Ia keluar dari studio 2. Menyusuri lorong. Menuju lift menekan tombol 1 yang berarti lobi. Tadi pagi ia sempat menemui Aldi di ruangannya.
“Bagaimana dengan tawaranku kemarin tentang project baru?” tanya Aldi saat ia sudah mendudukkan diri di kursi depan meja kerjanya.
Ia masih gamang. Sebab belum tahu konsepnya bagaimana.
“Ini semacam film dokumenter tapi digabung dengan perbincangan,”
“Tentunya perbincangan yang bermanfaat,”
“So, program kita akan mendokumentasikan suatu topik. Then, disiarkan dalam bentuk perbincangan. Tentu menghadirkan pakar yang sesuai topik.”
“Nah ... kamu jadi host-nya. Bagaimana?”
Ia masih menimbang-nimbang.
Sebenarnya idenya bagus tapi, “Apa program seperti itu rating-nya bagus, Mas?” Ia ragu. Sebab program TV sekarang kalau tidak sinetron, drama, gosip entertain, talkshow, susah masuk rating.
“Don’t worry about it (tenang saja). Program ini masuk news. Jadi ibarat berita yang menginformasikan sesuatu. Bertujuan mendidik dengan kemasan santai.” Tandas Aldi yakin.
Ia menggigit bibir dalamnya.
“Bisa aku pikirkan dulu, Mas?” pintanya.
“Oke. Tapi aku harap kamu mau jadi host-nya. Banyak yang suka cara kamu membawakan program TS” pungkas pria jangkung itu.
Ia tersenyum kecil. Lalu pamit keluar. Sebab harus segera syuting tapping.
“Mbak sudah sampai,” ucap mas ojol yang mengantarkannya ke tempat salon rekomendasi Gita.
Ia segera turun dari motor. Menyerahkan helm berwarna hijau pada mas ojol.
Mendorong pintu kaca bertuliskan ‘push’. Langsung disambut oleh seorang pegawai wanita cantik.
“Silakan ... ada yang bisa saya bantu?” ucap wanita itu.
“Saya mau melakukan perawatan wajah” sahutnya.
Wanita yang tadi menyambutnya mengantarkan dirinya ke bagian resepsionis. Ia juga menyerahkan kartu nama dari Gono, eh Gita Sujiwa.
“Temennya, Mbak Gita, ya?!” antara menebak atau bertanya. Entahlah.
Tapi ia menjawab, “Iya ... temen Gita Sujiwa,” ia melafalkan lengkap nama Gita agar resepsionis di depannya ini tak bertanya lagi.
__ADS_1
Resepsionis bernama Indri tersebut, mengantarnya ke sebuah ruangan khusus wanita.
“Mbaknya tunggu sini. Ini pakaian gantinya. Ruang ganti sebelah sana.” Indri menunjuk ruangan di ujung.
“Bentar lagi beauty therapist akan datang” tukasnya lalu pergi meninggalkannya sendirian.
Benar saja tak lama setelah itu, seseorang mengaku Winda sebagai beauty therapist. Sesuai pesanan Gita, yang menghubunginya. Bahwa ia harus melakukan facial, chemical feeling dan creambath.
***
Danang
Ia baru saja pulang dari kota Pemalang. Memantau perkembangan penyelidikan kasus penggelapan dana desa di dua kecamatan sekaligus yang berbatasan dengan kabupaten Pekalongan. Kasus yang awalnya ditangani oleh polres Pemalang dan Pekalongan itu akhirnya dilimpahkan ke polda.
Tiba di kantor ia melakukan rapat dengan tim bagian pengawasan dan penyidikan. Hingga malam.
Beberapa kali ia memijit tengkuknya. Mencoba meregangkan urat-urat leher yang tegang seharian ini. Ia masih harus kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan beberapa laporan.
Setelah duduk di kursi kerjanya. Rendra menghampirinya, “Besok sidak ke pasar Peterongan dan Johar, Pak. Jam 08.00 WIB. Bersama tim dari dinas perdagangan.”
Ia menatap layar komputer di depannya. Dengan tangan yang sibuk menekan tuts.
“Lalu, setelah makan siang rapat dengan seluruh jajaran direktur di Mapolda. Agenda ....” Rendra menyebutkan poin-poin apa saja yang akan dibahas pada rapat tersebut.
“Done ....” gumamnya.
Dahi Rendra berkerut, “Pak ....” panggilnya. Memastikan bahwa atasannya mendengarkan penjelasannya tadi.
“I hear you,”
Syukurlah bisik Rendra dalam hati. Namun saat ia ingin pamit pulang sebab tugasnya hari telah selesai,
“Carikan aku mobil, Ren” ucapnya.
“Mobil?” ulang Rendra meyakinkan.
“Ya. Mobil yang cocok untuk seorang wanita.”
“Siap, Ndan!”
Begitu laporan selesai, ia bergegas melajukan mobil. Melongok jam di dasbor mobil 21.30 WIB.
Tadi saat rapat, Kirei mengiriminya pesan bahwa sudah pulang. Jadi tidak perlu menjemputnya di kantor.
Jalanan sedikit lengang. Sehingga mobil melaju lebih cepat. Dan lebih cepat pula ia tiba di apartemennya. Dengan langkah memburu, ia ingin cepat segera tiba di unitnya. Sudah tidak sabar ingin melihat gadis yang selalu membuatnya rindu. Meski setiap hari bertemu.
Membersihkan diri. Berganti baju lalu bergegas menyusul ke tempat tidur. Memeluk gadis itu dari belakang. Mencium kepalanya dan menghidu aroma rambut khas vanila.
“Mas, udah pulang?” tanya gadis itu. Lalu berbalik menghadapnya. Namun mata Kirei masih terpejam.
“Baru saja,”
“Tidurlah ... good night, sleep tight." Ia mencium kening istrinya.
**
Kirei
“Kamu pulang jam berapa hari ini?” tanya Mas Danang. Saat ia menyodorkan roti panggang berselai cokelat.
“Biasa sore, Mas. Kenapa?” tanyanya balik. Sambil menggigit roti buatannya. Pagi ini mereka bangun kesiangan jadi tak sempat membuat sarapan. Dan menu andalan jika tak ada waktu yang paling praktis adalah membuat roti panggang.
“Aku jemput.”
“Mas Danang gak sibuk?”
“Hari ini kayaknya sampe sore aja.”
“Nanti kabari kalo sudah mau pulang,” pesan Mas Danang. Laki-laki berseragam cokelat itu tersenyum padanya. Ia pun membalasnya.
Sebenarnya ia ingin meminta pendapat soal. Ah ... tak ada waktu lagi. Mungkin lain kali ia bercerita. Sebab mereka harus berangkat kerja.
Sepanjang perjalanan pun, mereka bercerita yang ringan-ringan saja.
“Kamu bisa nyetir mobil, kan?”
Ia meringis, “Dulu bisa tapi sudah lupa.” Ucapnya. Memang dulu sempat belajar dengan Ken. Tapi semenjak kuliah di Jogja ia tak pernah lagi belajar dan menyetir. Apa lagi setelah bekerja. Rasanya tak ada waktu. Jadi mungkin sekarang ia kagok. Atau bahkan sama sekali lupa. Bawa motor saja ia tidak bisa. Ia selalu memilih jalan pintas dan praktis. Yaitu mengandalkan ojeg atau taksi.
“Nanti kita belajar lagi,” tukas laki-laki itu.
Mobil berhenti tepat di depan lobi. Ia melepas sealtbelt. Danang mencium keningnya. Lalu ia tersenyum, “Mas, hati-hati ya ....”
Turun dari mobil ia masih melihat mobil yang bergerak perlahan meninggalkannya.
Seseorang menepuk pundaknya, yang berhasil membuatnya menjengit kaget.
“Kirain siapa?” tandasnya ketika menoleh ke belakang. Ternyata Anisa.
__ADS_1
“Lo, hutang jawaban. Dan jawaban dari segala jawaban yang harus lo tuntaskan” sergah Anisa.
Mereka berjalan menyusuri lobi. Menyapa beberapa pekerja yang mengenalnya.
“Jawaban apa?” sahutnya santai sambil mengedikkan bahunya.
“Itu bapak polisi yang tadi ngantar, Lo!”
Mereka memasuki lift. Beberapa orang yang berada satu lift, melempar senyum padanya. Semenjak ia menjadi news anchor menggantikan Mba Dian yang masih cuti, banyak orang yang mengenalnya. Menyapanya. Padahal dulu sewaktu menjadi jurnalis lapangan. Jarang orang mengenal dan menyapa. Kecuali memang orang-orang yang berhubungan langsung dengannya.
“Lo, mendadak artis ....” Bisik Anisa.
Ia bergeming.
Ting.
Pintu lift terbuka. Mereka melangkah menuju divisi news.
“Rei, jam 9 ditunggu di studio.” Teriak Oka seraya melongok dari kubikelnya.
Ia yang sudah tiba di depan kubilnya menyahut, “Thanks, Ka”
“News anchor baru kita!” Seru Anisa. Oka sudah menggeret kursi kerjanya mendekatinya. Sementara Anisa berdiri bersandar di kubikel sampingnya.
“Gue dukung, lo.”
“Vote Kirei for indepth reporting category!” tandas Oka.
“Lo, masuk nominasi,” tukas Anisa. Tak kalah membuatnya membelalak.
“Kaget, kan, Lo?!”
“Selama 2 minggu lo cuti. Banyak berita seputar TVS. Yang pasti lo gak up date.”
Jika penghargaan TVS untuk para pekerja memang ia sudah lama tahu. Sebab itu agenda tahunan. Bahkan tahun lalu ia mengikuti acara itu.
Tapi untuk tahun ini, ia tak berharap apa pun. Meski teman-teman seprofesi menggadang-gadangnya untuk dimasukkan dalam kategori. Pun, ia juga tak berharap lebih untuk masuk nominasi. Meski kenyataan yang baru saja didengarnya namanya masuk nominasi.
“Minggu depan penghargaan TVS Award.” Oka mengangsurkan sebuah undangan berwarna gold berlambangkan media televisi yang selama ini menaunginya.
Ia menerima undangan tersebut, “Thanks, Ka ... so glad on news team (senang banget berada di tim berita).” Ucapnya haru. Pasalnya setelah masuk ke divisi news berbagai kejadian peristiwa ia hadapi. Tapi teman-teman divisi saling support. Dan kini ia masuk nominasi penghargaan. Something so astounding (sesuatu yang mengejutkan).
***
Aldi
Ia urung bertanya dan menahan lagi Kirei untuk tetap di ruangannya. Karena ia tahu jadwal gadis itu. Padahal ia ingin lebih lama bersamanya.
Jari jemarinya mengetuk meja kaca kerjanya. Sehingga berbunyi tuk tuk tuk terus menerus.
Pikiran dan hatinya sedang kacau. Entah kenapa? Semenjak ia ke rumah gadis itu. Dan ia harus bertemu laki-laki yang juga sepertinya menaruh hati pada Kirei. Ia merasa bersaing dengannya. Bahkan laki-laki itu bebas masuk ke dalam rumahnya? Who is he?
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberi dukungan....ya 🙏
__ADS_1