
...52. Kamu Dan Kenangan...
Danang
Ia hanya bisa menatap dari kejauhan gadis itu meninggalkan rumah sakit. Duduk di kursi roda dan didorong oleh Ken.
Dadanya berdenyut sakit saat ia harus merelakan separuh hatinya pergi. Pergi dengan kebencian. Dengan kemarahan.
Lalu sampai kapan? Sampai kapan ini semua berakhir?
“Ya, hallo ....” Sahutnya saat ia menerima panggilan telepon.
“Ditunggu papa di rumah,”
Ia memutuskan panggilan begitu saja. Memasukkan ponsel dalam saku celananya. Melajukan mobil dengan pikiran yang entah ke mana. Yang jelas satu tahapan kehidupannya kini telah tercerai berai. Hancur lebur.
***
Kirei
Pandangannya kosong selama perjalanan. Menatap ke luar kaca. Tak ada gairah. Tak ada secercah harapan yang mampu membuatnya kembali. Tubuhnya lunglai.
Pun saat ia di tempat pusara sang ayah. Duduk berjongkok dengan tertunduk menangis.
“Sudah ... lebih baik kita doakan ayah.” Bunda mengusap bahunya lalu ikut duduk berjongkok.
Ken memimpin doa.
“Aamiin ....” Mereka menangkupkan telapak tangan ke wajah. Setelah mengakhiri doa.
Tiba di kediaman bunda. Ia langsung masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya dengan meringkuk. Mendekap tubuhnya sendiri. Merasakan kesakitan yang begitu mengimpit.
Selama beberapa hari ia mengurung dirinya. Ditemani malam-malam sepi. Merasa terpuruk dengan segala kejadian yang menimpa padanya.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini?” Sergah Ken saat masuk dalam kamarnya.
“Kamu menyiksa diri sendiri ... buat apa?”
Ia bergeming. Duduk di atas jendela yang terbuka lebar seraya memandang rembulan malam ini yang hanya bersinar redup. Sebab tertutup awan yang mengabu. Rambutnya berkibar-kibar diterpa angin malam.
“Justru orang-orang akan menertawakanmu dengan kamu terpuruk! Come on, Rei!” Ken mendengus.
“Ingat Rei, kita tidak akan bisa mengubah masa lalu sekeras apa pun kita berusaha ... jadi sudah saatnya ķamu bangkit, untuk masa depan kamu. Untuk kebahagiaanmu!”
Ia tetap bergeming. Bahkan saat Ken sudah keluar dari kamarnya.
Setelah Ken keluar dari kamarnya. Giliran bunda yang masuk dengan membawa ponselnya. Lalu menyodorkan padanya.
“Baapu, ingin bicara.” Ucap bunda pelan.
Ia menengadah. Menatap bunda seolah meminta persetujuan. Bunda mengangguk pelan.
“Hallo ....” Sapanya.
“Apa kabarmu, Rei? Baapu rindu.” Sahut suara dari seberang.
“Baik, Baapu.”
“Maaf,”
“Untuk apa minta maaf? Baapu hanya rindu saja. Ingin mendengar suaramu. Apa lagi kalau kamu bisa ke sini. Pasti Baapu senang.” Suara baapu terdengar terkekeh.
“Neene juga rindu. Titip salam buat kamu dan Ken.”
Setelah panggilan telepon terputus. Ia menyerahkan kembali ponsel itu pada bunda. Bunda menggeret kursi beroda dari meja kerja ke sampingnya.
“Pergilah ke Gorontalo kalau memang kamu ingin menenangkan diri.” Bunda sudah berusaha memberikan suntikan semangat padanya. Tapi rasanya masih sulit untuk berdiri tegak kembali.
“Pasti baapu dan neene akan senang kedatangan cucu kesayangannya.” Bunda melempar senyum padanya.
Sehari setelahnya ia menemui Pak Rahmat selaku atasannya.
Menyodorkan sebuah amplop putih pada meja Pak Rahmat, “Saya minta maaf, Pak.” Ucapnya menjadi pembuka. Resign mendadak. Di tengah program acaranya yang sedang berlangsung. Pasti mengecewakan banyak pihak.
Pak Rahmat mengerutkan alisnya, “Ini apa, Rei?” Tanya Pak Rahmat. Setahu Pak Rahmat hari ini ia masih terhitung cuti. Lalu mendadak mendatangi atasannya itu. Mungkin Pak Rahmat terkejut.
“Sa-saya mengajukan resign, Pak.” Katanya dengan terbata-bata. Sungguh ini keputusan yang berat dan krusial. Setelah semalaman ia berpikir.
Pak Rahmat semakin mengerutkan alis, tangannya menjeremba amplop putih tersebut.
“Kenapa mendadak, Rei?”
“Saya ... saya mau ke Gorontalo, Pak. Tidak tahu sampai kapan.” Pandangannya menunduk ke meja.
“Rei ... Rei ... saya tahu. Kamu itu passion-nya di bidang ini. Mana mungkin kamu akan meninggalkan profesi kamu ini.” Pak Rahmat justru tergelak, tak percaya.
“Maaf, Pak. Saya ke sini untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Dan sekalian pamit.” Ia menatap Pak Rahmat sekilas, lalu menunduk lagi. Tangannya meremas celana yang dikenakannya.
Pak Rahmat menghela napasnya berat.
“Saya keberatan!” Tandas Pak Rahmat.
Ia tercengung.
“Itu ... artinya?” Ia menelan ludahnya.
“Ya ....” Pak Rahmat memasukkan amplop surat pengunduran dirinya ke dalam laci meja kerjanya tanpa dibuka terlebih dahulu. Apa lagi dibacanya.
“Pergilah ... suatu saat kalau kamu bosan kerja di Gorontalo, datanglah lagi ke sini. Kami akan menerimamu kapan saja, Rei. Asal ....” Atasannya itu tahu sebab kemarin ia mengajukan cuti tambahan. Lalu alasan pergi ke Gorontalo karena ada sanak saudara di sana.
Ia menunggu kelanjutan kalimat Pak Rahmat.
Atasannya itu tersenyum, “Asal jangan minta gaji selama kamu gak kerja di sini. No work no pay.”
Sontak ia tertawa. Ya, tawa yang beberapa hari ini telah menghilang, meski tak selepas sebelum-sebelumnya.
Wajahnya semringah, “Terima kasih, Pak.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya dan berdiri. Kepalanya menunduk sebagai penghormatan. Pak Rahmat juga ikut berdiri menyambut tangannya, lalu menepuk pundaknya.
“TVS akan selalu terbuka lebar untuk kamu kembali.”
Setelah menemui Pak Rahmat di lantai 5. Ia menuju ruang divisi news di lantai 3. Menjumpai Aldi.
Meski Aldi juga keberatan dengan keputusannya. Tapi pria jangkung itu tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
“Dengan sangat berat, Rei ... terpaksa aku melepaskan.” Begitu kalimat terakhir yang Aldi katakan.
Kemudian ia menuju kubikel rekan-rekan kerjanya. Berpamitan dengan Anisa, Oka dan tentunya Mas Budi.
Anisa yang melepasnya dengan air mata bercucuran. Yang otomatis merusak eyeliner gadis itu. Sementara Oka dan Mas Budi dengan wajah muramnya.
“Jangan lupa kabar-kabar. Di mana pun, kapan pun ....” Ancam Anisa dengan bersungut-sungut.
Ia memeluk Anisa, “Thanks for everything, Nis. Gak ada lo gak rame,” cibirnya.
“Lo kira gue iklan rokok!” Sembur Anisa. Di saat sedih begini masih saja sahabatnya itu bercanda.
“Lo nambah hutang penjelasan sama gue. Resign mendadak. Gak bawa oleh-oleh. Trus tiba-tiba aja pamitan! Pokoknya gue sumpahin lo balik lagi ke sini suatu saat!” Anisa menggerutu tak jelas.
Ia terkekeh, begitu pula Oka dan Mas Budi.
“Ka, pamit yaa ....” Ia menepuk pundak laki-laki berkaca mata itu. “Terima kasih buat semua, Ka.”
Oka membalas menepuk pundaknya, “Gue juga. Thanks banget sama lo. Selama kita partner, Lo banyak membantu gue.”
“Dan ... Lo, juga masih punya hutang sama gue!”
Ia mengernyit.
“Hutang gak bawain kue lapis surabaya. Jadi itu gue anggep hutang. Suatu saat lo datang ke sini lagi wajib bawa kue itu.”
Sedetik kemudian ia terkekeh.
“Mas, terima kasih banget ... thanks banget... gak ada Mas Budi. Rei gak jadi siapa-siapa.” Mendadak matanya memanas. Air matanya sudah bergumul di sana.
“Mas Budi the best ....” Ia mengacungkan 2 jempolnya lalu menyusut sudut matanya.
Kameramen itu merengkuhnya, “Kamu sudah aku anggap adik sendiri, Rei. Semoga pilihanmu tepat. Kalau pun kamu kembali. Kami semua masih terbuka menerima kamu.”
Lalu Oka dan Anisa juga menghambur. Mereka berempat saling berpelukan dan menguatkan.
“Salam buat Mas Agung dan Gita. Juga teman-teman news lainnya,” tukasnya ketika mereka mengurai pelukan.
Meraih tas ransel. Matanya menyapu meja kubikelnya. Mengusap meja kerja tersebut, yang selama ini menjadi teman kerjanya.
Detik ini ia harus melangkah lagi dari nol.
Semua sudah beres. Ia bergegas meninggalkan divisi news.
Melambaikan tangan pada semuanya seiring langkahnya yang berat untuk meninggalkan tempatnya bernaung selama ini.
Lalu tujuannya sekarang adalah apartemen.
“Rei ... aku temani kamu ke atas,” ucap Ken saat mobilnya tiba di depan lobi apartemen.
Ia menggeleng, “Aku sebentar, Kak.” Kilahnya.
“Baiklah. Kalau kamu butuh bantuan. Telepon aku.” Pesan Ken.
Ia mengangguk. Lalu keluar dari mobil. Sepanjang perjalanan menuju unitnya dadanya bergemuruh. Nyalinya tiba-tiba menciut.
Ia sendiri sebenarnya ragu. Tapi, ada berkas-berkas yang harus diambil. Jadi mau tidak mau. Ia harus ke apartemen itu lagi.
Dengan sedikit bergetar jari jemarinya menekan pass code. Dan ‘bip” pintu terbuka dengan pass code yang masih sama. Kakinya terpaku. Rasanya berat untuk melangkah masuk ke dalam.
Berusaha menguatkan diri. Memaksakan tubuhnya untuk melawan perasaan tak nyaman.
Ruang tamu sekaligus ruang TV yang masih sama. Di mana ia sering duduk berdua dengan laki-laki itu. Mengobrol, menonton bola hingga pagi, lalu ciuman pertamanya juga dilakukan di sofa itu. Ah ... ia dengan cepat menggelengkan kepala.
Matanya menyapu area dapur yang tidak berubah sedikit pun. Justru ia mengingat laki-laki itu yang sering memasak untuknya.
“Coba,” laki-laki itu menyodorkan sepiring nasi goreng. Lalu menyuapkan ke mulutnya.
Ia tersenyum, “Enak, Mas.”
Lalu laki-laki itu mencium kening dan puncak kepalanya, “Morning kiss ....” Katanya.
Kemudian esok paginya, sepiring omelete tersaji di atas meja makan. Besoknya lagi sandwich. Dan begitu seterusnya hampir tiap pagi. Laki-laki itu menyediakan sarapan untuknya. Menikmati sarapan bersama sambil mengobrol apa saja.
Ia menggeleng. Kenangan itu masih tertinggal utuh. Bahkan tidak ada yang terlewat sedikitpun.
Lalu ia menuju kamar utama. Meraih ganggang pintu dan mendorongnya perlahan.
Kasur yang sama. Dengan sprei yang juga sama Semua tampak rapi dan dingin. Tidak ada bekas jejak laki-laki itu di sana.
Ia melangkahkan kakinya menuju ranjang. Mengenyakkan tubuhnya di sana. Mengusap permukaan kasur itu lembut. Pikirannya melayang.
“I wish you were here (aku merindukanmu) ....”
Kalimat itu terngiang di telinganya. Bagaimana laki-laki itu memperlakukannya dengan segenap cinta. Menghujaninya dengan limpahan kasih sayang dan perhatian.
Air matanya kini telah meluncur bebas, tapi dengan cepat ia menyekanya. Ia tidak ingin larut dalam kenangan. Dalam kesedihan. Dengan gerakan cepat ia membuka lemari pakaian. Tapi lagi dan lagi pakaian laki-laki itu tersusun rapi di tempatnya. Biasanya jika mengambil pakaian, laki-laki itu serampangan. Sehingga tumpukan menjadi berantakan.
“Mulai sekarang aku yang akan mengambilkan baju ganti. Menyiapkan di atas kasur. Mas Danang gak boleh protes!” Serunya kesal karena melihat tumpukan baju yang amburadul. Sementara laki-laki itu malah terkekeh. Mulai saat itulah ia yang selalu menyediakan baju ganti laki-laki itu.
Ia mengusap tumpukan baju laki-laki itu. Pikirannya melalang buana. Mendapati semua kenangan bersamanya. Utuh.
Mendadak ia kembali sadar. Menekan kode akses brankas yang ia tahu gabungan tanggal lahirnya dan tanggal lahir laki-laki itu. Ternyata tidak berubah.
Mengambil beberapa berkas. Kemudian menutup kembali brankas. Lalu meraih koper berukuran sedang berwarna merah. Mengisinya beberapa pakaiannya.
Lalu bergegas keluar kamar. Namun, ia menghentikan langkahnya sebelum meraih ganggang pintu.
Dengan ragu ia melepas cincin pernikahannya. Meletakkannya di atas nakas.
***
Danang
Ia harus kembali ke apartemen karena harus mengambil beberapa pakaian kerjanya di sana. Dua hari ke depan ia harus dinas ke Jakarta.
Selama ini ia tidur di apartemen Aksa. Entah mengapa ia belum sanggup untuk kembali ke apartemen itu. Banyak kenangan. Yang pada akhirnya menyesakkan dada. Membuatnya sakit.
Menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Menekan kode akses unitnya. Melangkah masuk ke dalam. Tapi ....
Ia merasakan kehadiran gadis itu di sini. Ya ... di sini. Meninggalkan jejak aroma parfumnya. Jejak kehadirannya.
Bergegas ia melangkahkan kaki menuju kamar utama. Dugaannya benar. Ketika ia melihat jejak kasur yang seperti diduduki dan ia yakin gadis itu baru saja ada di tempat ini. Lalu ia membuka lemari pakaiannya. Ada beberapa pakaiannya yang sudah tidak ada. Ditambah lagi dengan travel bag kesukaannya yang juga sudah tidak ada di tempatnya.
__ADS_1
Seketika tubuhnya langlai.
Ia mengusap beberapa tumpukan baju gadis itu yang masih tertata rapi.
“I wish you were here ....” Gumamnya.
Tapi matanya tanpa sengaja menangkap benda berkilauan di atas nakas.
DEG
Perlahan ia mendekat. Menjeremba benda tersebut. Tetiba hatinya berdesir hebat. Indra penglihatannya memanas. Ia memejamkan mata seiring air matanya yang rebas.
Apakah ini keputusan terakhirmu?
**
Kirei
Setelah berpamitan dengan Ken, ia bergegas masuk ruang tunggu. Lima belas menit lagi pesawatnya lepas landas.
Tangan kanannya masih memegang paper cup berisi capuccino. Pagi ini ia benar-benar diserang kantuk. Setelah tadi malam tidak bisa tidur sama sekali.
Setelah panggilan para penumpang jurusan Jakarta diumumkan untuk segera naik. Ia segera melempar paper cup ke dalam tong sampah.
Dan yap, masuk tepat pada tempatnya. Ia tersenyum kecil. Lalu bergegas masuk seraya menyerahkan boarding pass pada petugas.
***
Danang
“Thanks, Ren ....” Ucapnya pada Rendra yang telah mengantarkannya ke bandara.
“Sama-sama, Pak.”
Ia bergegas melangkah dengan terburu. Ini sudah terlambat. Gara-gara tadi malam ia tidak bisa tidur. Sehingga baru terlelap setelah jam 5 pagi. Akibatnya ia bangun kesiangan.
Dengan langkah memburu ia menyerahkan boarding pass pada petugas. Menggeret kopernya dengan sedikit berlari.
Napasnya masih terengah-engah saat ia duduk di kursi kelas bisnis. Ini seperti deja vu. Pikirannya melayang saat berjumpa dengan gadis itu dalam pesawat. Dua hari saja. Dua hari di Jakarta tapi ternyata mereka dipertemukan di dalam pesawat yang sama. Duduk bersisian.
Ia memejamkan matanya, tapi justru bayangan gadis itu hadir.
“Dua hari saja, Pak.”
“Bapak sendiri lagi tugas di sini?”
“Sama, aku juga lagi tugas di sini. Dua hari saja.”
“Selamat, ya, Pak. By the way udah menjabat sebagai Direktur Ditreskrimsus ....”
“Makasih.”
“Gak ngundang makan-makan nih, Pak?”
“Kamu mau?”
“Ya, kalo diundang diusahakan datang, Pak. Apa lagi ini makan-makan syukuran, siapa yang nolak!”
Seketika matanya terbuka.
Pesawat telah mendarat sempurna di bandara Soekarno-Hatta. Bergegas ia mengambil travel bag-nya di kabin. Keluar melalui pintu depan.
***
Kirei
Sementara ia keluar melalui pintu belakang karena posisi duduknya di deretan paling ujung. Setelah mengantre keluar ia melangkahkan kakinya menuju koridor sentra transit. Melanjutkan penerbangan lanjutan dengan menunggu selama dua jam sebelum akhirnya terbang ke Gorontalo.
Namun sebelumnya ia mengantre di depan toilet. Melepaskan kaca mata hitamnya lalu menggantungnya di kerah kaos yang ia kenakan.
Tak berselang lama, ia keluar dari toilet. Mengenakan kembali kaca mata hitamnya. Dan kini ia mengenakan hoodie berwarna merah. Memakai tudung di kepalanya.
Berjalan menyusuri koridor. Lamat-lamat ia mendengar namanya dipanggil. Tapi secepat kilat ia menepisnya. Tidak mungkin.
***
Danang
Sekilas ia melihat bayangan gadis itu berjalan cepat menuju ujung sentra koridor transit. Ia berusaha mengejarnya. Ia yakin itu Kirei. Istrinya. Mengenakan hoodie merah kesukaannya. Dan tas ransel yang selalu ia bawa ketika bekerja. Percis tak salah lagi.
“Kirei ....” Panggilnya menggema.
Tapi seketika kakinya terhenti saat petugas transit menanyakan tiket lanjutan padanya. Ia hanya bisa pasrah.
Bayangan gadis itu semakin menjauh dan menghilang ditelan keramaian. Ia mengusap kasar wajahnya. Memejamkan mata dan mendesahkan napas kasar ke udara. Apakah ini cuma halusinasi?
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... ya 🙏
__ADS_1