
...89. Number One...
Kirei
Danang melajukan mobilnya bukan menuju rumah dinas. Apartemen. Apalagi rumah di kota atas. Tapi suatu tempat. Dengan masih berpakaian yang sama setelah pulang dari kediaman Pak Banuaji. Dalam rangka acara syukuran akikahan anaknya.
Ia langsung menyergah begitu tahu, “Ini mau ke mana, Mas?”
“Nanti kamu pasti suka tempatnya.” Bukan jawaban yang tepat memenuhi keingintahuannya. Justru semakin membuatnya penasaran.
Ia menghela napas. Menyandarkan kembali punggung ke belakang.
Rasa sesak yang mengimpit tadi malam sudah lebih berkurang. Danang memperlakukannya dengan sangat baik. Hampir seharian ini. Beda jauh. Pada saat kedatangannya dari Jakarta. Menyambutnya dengan raut yang biasa saja. Tanpa banyak bicara. Seolah ia sebagai terdakwa.
Bahkan laki-laki itu mengakui bahwa dirinya egois. Bar-bar. Kolokan. Suka mengatur. Dan memang ia merasakan atmosfer itu.
Tangan kanan yang berada di atas pahanya direngkuh laki-laki itu. Dibawa ke depan dadanya. Dikecupnya sesaat.
“Mas ... lagi nyetir,” ia mengingatkan laki-laki itu. Tangan kanan memegang kendali setir bulat. Tangan kiri menggenggam tangannya erat.
Danang menoleh padanya, menebar senyum.
“Serius, Mas.” Desaknya, “gak lucu aja. Orang yang biasa ngasih pengarahan ‘berkonsentrasilah dalam mengemudi’ tapi gak ngasih contoh yang baik.” Sindirnya.
Laki-laki itu malah tergelak.
Ia jengah. Melempar pandangan ke jendela samping. “Mau ke Skyway?” Tanyanya dalam gumaman. Sebab arah mobil ke luar kota. Namun Danang tetap tak menjawabnya.
Hingga mobil berhenti tepat di sebuah kafe. Berpelang nama ‘Sae Care’. Dengan halaman luas dan hijau. Berlatar belakang Gunung Ungaran yang gagah. Kafe dengan konsep tradisional. Bisa dibilang semi resto. Tapi tetap menyasar selera pasar.
Bangunan utama mirip pendopo. Yang ia lihat pertama kali saat turun dari mobil. Banyak anak muda yang nongkrong di sana. Danang menggenggam tangannya saat ia masih berdiri menatapi bangunan di depannya.
“Kita masuk,” ujar Danang. Melalui ruang pendopo disambut dengan musik yang mengalun lembut.
Tapi laki-laki itu terus mengajaknya melangkah melewati pendopo menuju area belakang samping. Bangunan gazebo terbuat dari kayu yang dilengkapi tirai putih panjang. Melambai-lambai diterpa angin sore.
“Kita cari yang ada tempat duduknya.” Kata danang, “lihat jalan.” Imbuhnya kemudian.
Ia segera awas. Melihat pergerakan langkahnya.
Jalan setapak dengan motif zig-zag yang ditumbuhi tanaman merambat. Mereka tiba di gazebo yang tertutup kaca. Tetap dengan tirai putih menjuntai. Namun tidak lesehan. Melainkan kursi rotan berbalut bantalan berwarna putih setengah lingkaran.
Seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka, “Silakan, Pak ....” Seraya menjura.
Ia tersenyum, “Makasih.” Mereka duduk bersisian.
“Mau makan, apa minum aja?” Tawar Danang.
“Minum aja, Mas.” Sahutnya. Baru saja di tempat Pak Banuaji mereka telah makan besar. Dan kondisi perutnya masih kenyang.
Danang memesan minuman, “Air guraka 1, kopi barata 1, ” ucapnya. Pelayan mengangguk lalu berlalu pergi.
Ia mengernyit.
“Air apa, Mas?” Tanyanya ulang. Sebab asing. Bahkan indra pendengarannya baru mendengar pertama kali ini.
“Air guraka.”
“Minuman tradisional.” Sambung Danang.
Ia merogoh ponsel dalam tasnya. Membuka kunci pengaman. Berselancar di media sosial ig-nya. Tak ada yang menarik pikirnya. Lalu melihat pesan whatsapp, paling banyak dari chat group Komed-fussy. Hanya membaca tanpa berkomentar. Lalu menutup kembali semua aplikasi. Menyimpan ponsel dalam tas.
Sementara Danang juga tengah fokus menatap layar ponsel. Dengan muka serius. Berdecak, lalu menatap ke arahnya, “Kenapa?”
Ia menggelengkan kepalanya, mengangkat sudut bibirnya.
“Soal kerjaan,” jawab Danang. Lalu memperlihatkan layar berupa chat padanya.
“Bukan itu.” Selanya. Sepertinya Danang selalu memastikan ia tidak mencurigai apa pun mengenai laki-laki itu.
Pelayan datang membawakan pesanan mereka, menyimpan di atas meja bulat berlapis kaca yang juga terbuat dari rotan. “Silakan, Pak Danang beserta Ibu ....” Ucap pelayan tersebut, kemudian undur diri.
Ia menatap Danang. Meminta penjelasan lewat sorot matanya.
“Sepertinya, ada yang harus jelasin soal ini.” Sindirnya ketika Danang bergeming.
Danang mengulas senyum, “Soal apa?”
“Pura-pura dalam perahu,” ia mencibir seperti gumaman. Lalu menggapai gelas bening berwarna cokelat pekat. Potongan slice kacang kenari mengapung di atasnya.
Ia menyesap sedikit. Mencoba merasai yang dihadirkan dari minuman tradisional tersebut. Sensasi hangatnya jahe dengan gula aren langsung mengentak kerongkongan.
“Kayak bandrek,”
“Mirip.” Sahut Danang, “ini minuman tradisional dari Halmahera. Chef khusus yang meracik minuman.”
Ia menyimpan kembali minumannya di atas meja.
“Terus ....” Ia ingin memancing laki-laki itu untuk bercerita lebih dalam. Banyak hal yang ia belum tahu tentang laki-laki itu.
“Bahannya sih simpel katanya. Cuma jahe merah direbus sama air dan gula aren. Kasih taburan kacang kenari waktu nuangkannya ke gelas. Kalau suka susu, bisa ditambah.” Jelas Danang.
Oo ... I see, susu dalam gelas kecil di samping minuman miliknya tadi itu berarti fungsinya. Ucapnya dalam hati.
“Mas Danang hapal banget seluk beluk resto ini.” Selidiknya.
Laki-laki itu mengulum senyum, “Untuk masa depan anak-anak kita nantinya.”
Mendadak semburat rona merah dan rasa panas menjalari wajahnya.
“Aku harus memikirkannya dari sekarang.”
“Dua puluh enam tahun lagi, aku pensiun. Gaji aku gak seberapa.”
“Kalau sekarang dia lagi proses di dalam sini ....” Danang meraba perutnya, “bisa jadi anak kita masih kuliah pas aku pensiun nanti. Apa lagi kalau dia mau ambil S2. Belum adik-adiknya juga butuh untuk sekolah.”
Dadanya berdesir hebat.
“Aku gak sekaya bundanya. Pemilik saham terbesar KNS. Tapi aku usahakan mereka tercukupi dengan keringatku. Dengan jerih payahku,”
__ADS_1
“Mas,” suaranya tercekat.
“Ya ... aku tahu. Kamu gak menuntut lebih dari aku. Tapi itu tugasku. Tanggung jawabku.” Sahut Danang seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Memang betul, ia tak pernah mempermasalahkan materi dari Danang.
“Namanya Sae Care. Cafe-resto ini milik aku sama Aksa,”
“Saham di Arba Techno,”
“Sedikit investasi di Jene Chocolate. Kebun cokelat dan pengolahannya di Jember. Milik beberapa purnawirawan."
“Itu aja. Kayaknya masih kurang ... kalo nanti anak kita ada 5. Pasti banyak kebutuhan.”
Ia menggeleng.
Danang tergelak, “Bundanya gak ACC Yaudah dikurangi 1 jadi 4.”
Ia menipiskan bibirnya.
“Jangan minta dikurangi lagi. Empat itu pas. Gak sedikit juga gak banyak.”
“Biar rame rumahnya.” Pungkas Danang.
Ia menghela napas. Mengembuskan perlahan.
“Minggu depan jadwal ketemu lagi sama dokter,” tukasnya.
“Bertepatan dengan berakhirnya kontrak aku,”
Jeda sesaat.
Danang merengkuhnya. Membawanya ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepalanya.
“Sudah yakin?”
Ia mengangguk perlahan.
**
Danang
Tepat jam 8 malam mereka tiba di rumah. Darmo sigap membukakan pintu.
“Makanan sudah siap, Pak.” Ucap Darmo.
“Kalian aja yang makan. Kita udah tadi.” Sahutnya.
Langsung menuju kamar menyusul istrinya.
Kirei terlihat masuk kamar mandi. Ia mengecek ponselnya. Membalas pesan. Menelepon seseorang. Lalu meletakkan ponsel di atas nakas setelah selesai. Duduk di tepi ranjang. Tangannya membuka kancing kemeja satu persatu. Hingga tanggal semua menyisakan kaos singlet berwarna putih.
Ia melangkah menuju kamar mandi. “Sayang ... masih lama?”
Tak ada suara dari dalam. Pun dalam keadaan hening.
“Rei,” panggilnya lagi.
Ia mencoba memutar ganggang pintu ke bawah. Dan benar pintu dalam keadaan tidak terkunci. Ia mendorong pintu dan menutup kembali. Menyibak shower curtain, istrinya tertidur dalam bathup sambil mendengarkan musik.
“Mas, kok di sini?” Ucapnya setengah kaget.
“Aku juga pengen mandi. Dari tadi nungguin kamu gak keluar-keluar.”
“Ternyata ketiduran,”
“Aku ikutan masuk, ya?” Pintanya.
Kirei langsung menjengit. Refleks duduk tegak.
Namun ia sudah melepas begitu saja celana panjang dan kaos singletnya. Ikut bergabung ke dalam bathup.
“Masss!!” Kirei menggeram.
Ia mengulum senyum penuh kemenangan. Malam ini dialah yang akan menguasai sekaligus memastikan semua under control-nya.
Meski Kirei pada awalnya berusaha mengelaknya. Tapi ia punya sejuta cara meluluhkannya. Yang akhirnya Kirei mengikuti permainannya.
Bunyi kecipak-kecipak akibat pergerakan tubuh dalam air menguar. Diselingi suara decapan dari mulut mereka. Air beriak-riak mengikuti pergerakan tubuh mereka yang semakin cepat dan memburu. Bahkan sebagian meluap tumpah akibat gesekan keduanya.
Bukankah ia belum pernah mencoba di sini? Seketika bibirnya melengkung ke atas membentuk seutas senyuman.
Semua di bawah kendalinya. Membimbing serta memastikan Kirei nyaman dan ikut merasakan kenikmatan.
Peluh dan air tak ada beda. Semua menyatu membasahi tubuh keduanya. Pun air yang tadinya hangat kembali dingin. Cepat mengembalikan suhu tubuh mereka yang naik nol koma sekian derajat celsius akibat terbakarnya kalori.
**
Kirei
Pagi ini ia menyiapkan sarapan untuk Danang. Laki-laki itu berangkat lebih pagi. Sidak ke beberapa Polsek.
Ia sendiri pun telah siap. Pesawat yang akan membawanya berangkat jam 8 tepat.
“Yu, kalau masak jangan pedes-pedes ya. Mas Danang gak suka pedes. Terus buat sekali masak untuk sekali makan. Mubazir kalo nyisa.”
“Ya, Mbak.” Sahut Yumah.
“Yang depan udah?” Ia memastikan penjaga pos keamanan mendapat makanan yang sama, “sekalian buat kamu sama Darmo.”
“Udah, Mbak. Kami nanti aja,”
“Yaudah kalo gitu. Aku bangunin Mas Danang dulu,” ia meninggalkan meja makan menuju kamar utama.
Danang baru saja keluar dari kamar mandi, saat ia membuka pintu. Ia mengulas senyum, “Kirain belum bangun.” Sangkanya, lalu mengambil handuk kecil dari tumpukan lemari. “Sini, Mas aku bantuin biar cepet.”
Laki-laki itu menunduk. Ia sedikit berjinjit. Mengeringkan rambut suaminya. Sekaligus tengkuk leher dan punggungnya yang masih basah.
“Kebiasaan yang gak ilang-ilang!” Omelnya, “kalo pake handuk yang bener. Semua harus kering.”
Danang masih terdiam, justru merengkuh pinggangnya.
__ADS_1
“Mass ....” Cicitnya, “sudah.” Namun saat hendak bergerak ia dilingkupi tangan kokoh suaminya.
“Sebentar saja. Masih kangen.” Kilah Danang. Mengecup keningnya tepat saat ia menengadah.
“Masih kurang?” Tukasnya. Namun wajahnya merona mengatakan kalimat itu.
“Kamu mau?”
“Bapak Danang sudah ada panggilan pekerjaan. Gak boleh absen. Nanti kena sanksi.”
“Kamu tetap number one.”
Ia berdecak, tapi tak sempat berbicara sebab detik berikutnya bibirnya telah disergap. Ia yang kaku dan tanpa persiapan mulai menikmati ritme sentuhan Danang.
Mengalungkan tangannya ke leher laki-laki itu. Bahkan tangan Danang telah menyelusup di balik blouse yang ia kenakan.
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan pintu membuat keduanya mengurai pertautan bibir. Napas mereka memburu.
“I love you,” ucap Danang menciumi wajahnya. Lalu melepaskan pelukan dan menyambar baju seragam yang telah ia siapkan.
Ia membuka pintu, “Kenapa, Yu?”
“Ada Pak Rendra, Mbak. Sudah menunggu.” Jawab Yumah.
“Suruh tunggu di meja makan,” titahnya pada Yumah. Asisten rumah tangga itu pun bergegas pergi.
“Mas, aku bisa naik taksi. Mas Danang gak usah antar aku. Nanti telat.” Ucapnya ketika membantu memakaikan atribut. Menepuk pundak yang telah terpasang lambang PDU tiga bunga sudut lima.
“Gak apa, aku antar dulu ke bandara.” Lalu mengecup pelipisnya.
Ia menggeleng, “Mas Danang bisa telat. Aku gak mau.”
“Yaudah kalo gitu biar sopir yang ngantar.” Putusnya.
Ia pun mengangguk menyetujui keputusannya.
Ia melepas suaminya hingga teras depan.
“Take care on the way (hati-hati di jalan),”
“I love you.” Pungkas Danang seraya mencium keningnya. Lalu masuk ke dalam mobil.
Ia kembali masuk ke dalam, “Yu, aku pamit ya.” Ucapnya pada Yumah yang menungguinya di ruang tengah.
“Jangan lupa pesenku yang tadi.” Peringatnya. Yumah mengangguk, “beres, Mbak.”
Ia masuk ke dalam mobil. Mengangkat ponselnya yang berdering nyaring,
“Ya, Mas ....”
“Udah jalan, Rei?” Sahut suara dari seberang.
“Udah ... on the way ke badara.”
“Siiip ... hati-hati. Aku tunggu di kantor.”
Tuut.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1