
...38. You Belong With Me!...
Ia berlarian di selasar rumah sakit. Setelah turun dan menutup pintu mobil. Laki-laki itu sudah tak dihiraukannya lagi. Padahal berkali-kali ia berucap, “Sayang, hati-hati ....”
“Ambil napas, hembuskan perlahan ... jangan panik. Okay ....” Kata Danang beberapa saat lalu sebelum mereka bergegas pergi ke rumah sakit.
Ia berkali-kali oleng, terhuyung. Menubruk orang lain. Bahkan terjatuh sebab kakinya terpeleset. Tapi tak diacuhkan. Saat ini ia hanya ingin cepat sampai. Di ruangan ICU tempat bunda berada kini.
Mendadak kakinya membeku. Setelah tiba di depan pintu bertuliskan ICU. Matanya nanar. Napasnya masih memburu. Peluh membanjiri pelipis dan lehernya.
Kini kelopak matanya telah dipenuhi cairan bening yang siap meluncur kapan saja.
Danang yang berusaha mengejarnya mendadak juga berhenti tepat di sampingnya. Dengan napas yang tak kalah terengah-engah. Seketika laki-laki itu merengkuhnya.
Isak tangis terdengar.
Sementara Ken menepuk pundaknya.
“Bunda kena serangan jantung,”
“Tapi sudah ditangani ... kita doakan, semoga Bunda baik-baik saja."
Ia menangis tersedu-sedu.
“Bunda akan sehat kembali,” bisik Danang padanya.
“Bunda kuat ... kamu juga harus kuat agar bisa menyemangati Bunda.” Laki-laki itu mempererat dekapannya. Berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan padanya.
Danang mengajaknya duduk di bangku depan ruangan ICU. Ia duduk di tengah antara Ken dan Danang.
Mereka terdiam. Cukup lama. Bergelayut dalam pikiran masing-masing. Menunggu kabar yang belum jelas dari dokter yang menangani bunda.
Setelah tiga puluh menit kemudian pintu ICU terbuka. Seorang berpakaian jas putih keluar dari sana.
Ia, Ken dan Danang bergegas mendekati dokter tersebut.
“Bagaimana kondisi ibu kami, Dok?” Tanya Ken.
“Alhamdulillah serangan kedua masih bisa diatasi. Ibu Anda sudah mulai stabil. Mungkin beberapa jam ke depan kita pantau dulu di ICU,” jelas dokter itu.
“Apa ada kemungkinan serangan akan muncul lagi, Dok? Terus tindakan yang tepat apa? Agar tidak muncul lagi serangan?” Tanyanya memberondong.
“Kemungkinan besar bisa. Untuk lebih jelasnya, mari ke ruangan saya,” tukas dokter itu.
Di dalam ruangan serba putih berukuran 5 x 5 meter itu, dokter Nares menjelaskan dengan detail. Tindakan pemasangan stent jantung sebagai solusi untuk meminimalisir serangan berikutnya. Kelebihan dan efek samping dari tindakan pemasangan stent jantung. Apa saja yang harus dilakukan setelah tindakan itu. Anjuran untuk hidup lebih sehat. Dan hal-hal yang harus dihindari bagi penderita jantung. Terlebih pasien sudah pernah mendapat serangan. Ia dan Ken mengangguk tanda mengerti. Mereka sepakat untuk melakukan pemasangan stent jantung. Secepatnya.
Sementara Danang menunggu di luar. Beberapa kali ia terlihat menghubungi seseorang.
Pemasangan stent jantung berjalan dengan lancar. Ini sudah hari keempat sejak pemasangan itu dilakukan.
Hari ini rencana bunda pulang dari rumah sakit.
Ia mengajukan cuti selama satu minggu. Menemani bunda selama di rumah sakit. Sementara Ken tetap bekerja. Malamnya ia akan bergantian dengan Ken.
Lalu Danang memilih pulang pergi Solo-Semarang demi menemani dirinya. Meski dengan sejuta penolakan ia kerahkan dengan berbagai alasan. Tapi laki-laki itu tetap teguh pendirian.
“Nanti Mas Danang capek ....”
“Kalo sampai sakit, siapa yang ngurus?”
Pernah suatu kali tiba di rumah sakit sampai jam satu dini hari. Alasannya sendang operasi tangkap tangan. Tapi ia tetap pulang demi untuk membersamainya.
“No worries ....” Begitulah selalu jawaban laki-laki itu.
“Kenapa gak pulang ke apartemen saja!” Semburnya kesal. Bagaimana tidak kesal. Laki-laki itu datang dengan muka kusut masai. Gurat kelelahan jelas tercetak di wajahnya. Mas Danang harus mengendarai mobil sendiri dalam kondisi kelelahan.
Belum lagi sepuluh menit ia menyiapkan air hangat untuk mandi. Laki-laki itu sudah tertidur di sofa.
Ia menghela napas.
Rasanya tak tega untuk membangunkannya.
“Rei ... Bunda udah baikkan. Kasihan Mas Danang harus bolak balik,” ucap bunda di suatu pagi saat mereka duduk di teras belakang rumah sambil berjemur.
“Dia yang gak mau, Bunda.”
“Yaudah, besok kamu pulang ke Semarang.”
“Rei masih ada cuti 1 hari lagi,” sahutnya.
“Kamu sama Mas Danang baik-baik saja, kan?”
Sontak ia menoleh ke arah bunda. Mengerutkan kedua alisnya.
“Bunda kok tanya begitu?”
Wanita paruh baya itu menghela napas.
“Bunda ingin pernikahanmu bahagia. Meski awalnya dimulai dari keterpaksaan,”
“Mas Danang baik, kan? Memperlakukan kamu sebagaimana seorang istri?” Selidik bunda. Menatapnya dengan rasa khawatir.
Seketika hatinya nyanyang.
Mengapa ia merasa menjadi pihak yang dikorbankan? Padahal laki-laki itu sudah berusaha menjadi suami terbaik untuknya. Tapi seakan-akan justru Danang yang dipersalahkan.
“Bunda gak usah khawatir ... Rei baik-baik saja sama Mas Danang." Tandasnya meyakinkan.
Sore harinya ia bersiap menyambut kepulangan laki-laki itu. Entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu antusias menyambut kedatangannya. Baginya Danang sudah mencuri separuh hatinya.
Saat makan siang tadi, laki-laki itu mengabarkan sedang berada di Klaten.
Ting.
Aldi: Kapan masuk? Stok tapping kita bentar lagi habis.
Kirei: Senin, Mas.
Aldi: Kamu di mana?
Gadis itu mengerutkan dahinya.
Kirei: Di Solo.
Aldi: Aku di Solo sekarang. Jalan ke rumahmu. Tolong shareloc.
Mendadak ia panik. Aldi mau menemuinya? Sementara Danang sebentar lagi pulang.
Aldi tiba di rumahnya ternyata lebih cepat dari perkiraannya.
“Num, tolong buatkan minuman, ya. Taro aja di teras,” titahnya pada Numi. Pekerja toko yang sering bantu-bantu di rumah.
“Ya, Mbak. Beres." Sahut Numi.
__ADS_1
“Siapa, Rei?” Tanya bunda yang kebetulan lewat dari teras belakang.
“Atasanku ... Bunda. Lagi di Solo katanya sekalian mampir."
“Mau nengok Bunda, juga ....” Imbuhnya.
“Bunda kenapa gak pake kursi roda?” Buru-buru ia memapah bunda ke teras depan.
“Kata dokter, kan harus gerak,” kilah bunda.
“Nanti Nda, kalo udah sembuh benar. Ini masih pemulihan. Jadi pake kursi roda dulu.” Sanggahnya.
Aldi yang tengah duduk di kursi teras seketika berdiri ketika melihat dua wanita yang muncul di hadapannya.
Ia mengulas senyum, “Apa kabar, Tante?” Sapanya sambil mengulurkan tangan.
Bunda menyambutnya, “Ahamdulillah ....” Lalu menyilahkan Aldi dengan kode tangan,
“silakan duduk,”
Ia duduk di samping bunda. Yang kebetulan ada tiga kursi di teras.
Mereka berbincang mengalir begitu saja. Hingga akhirnya bunda pamit, untuk masuk ke dalam. Dibantu Numi bunda meninggalkan ia dan Aldi.
“Rumah kamu nyaman,”
“Aku suka,”
“Kayaknya bikin betah ....”
Ia mengulas senyum, “Makasih, Mas.”
“Oya, aku ada project program baru. Masih ada kaitannya dengan news. Dan ....“
Aldi menghentikan obrolannya. Saat melihat sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumah. Menatap mobil sedan yang tergolong mewah itu. Menanti siapa gerangan yang akan keluar dari sana.
Karena rasa penasaran Aldi bertanya, “Kakakmu pulang?”
“Bu-bukan,” jawabnya terbata.
Aldi terlihat mengernyit, “Ada tamu berarti. Apa aku ganggu?”
Ia berdiri ketika Danang keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.
Laki-laki itu berhenti sejenak menatapnya dan Aldi secara bergantian. Lalu meninggalkan mereka begitu saja.
“Siapa?” Tanya Aldi kemudian.
“Bentar, yaa, Mas. Aku ... ke dalam dulu," pamitnya berlalu tanpa menunggu jawaban dari Aldi.
Ia tidak melihat sosok Danang di ruang tengah juga dapur. Pun begitu juga di teras belakang.
Saat membuka pintu kamar, terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
Gadis itu menyiapkan pakaian ganti laki-laki itu secepatnya. Ia simpan di atas kasur. Lalu berjalan menuju pintu kamar mandi. Dengan maksud mengetuknya. Tapi, tangannya hanya mampu menggantung di udara. Urung ia lakukan.
Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
Hingga ia memutuskan untuk kembali menemui Aldi. Namun saat tangannya menggapai ganggang pintu, suara berat dan maskulin itu menyapa telinganya.
“Sudah pulang?”
Sontak ia berbalik badan. Menatap laki-laki yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dan di atas lutut. Tetesan air dari rambutnya juga masih membasahi tubuhnya.
“Sudah pulang tamunya?” Tanya Danang sekali lagi seraya mendekatinya.
Ia gugup, “Be-belum ....”
Laki-laki itu memepetnya hingga tubuhnya mentok dengan pintu.
Sepersekian detik mata mereka bertumbukan.
Ada desiran merasuk dalam hatinya.
“Mas ....” Ucapnya lirih bahkan mungkin hampir tak terdengar.
“Suruh dia pulang!”
“Hah?!” Ia terkesiap.
Dengan gerakan cepat tangan Danang sudah mengurungnya. Laki-laki itu menatapnya intens.
Ia merasa semakin sesak napas. Sebab jarak keduanya begitu dekat. Bahkan hampir lekat.
“Dia ....”
Laki-laki itu sudah menyerang bibirnya rakus. Tanpa memberikan jeda dan kesempatan menjelaskannya.
Ketika ia sudah mulai kehabisan napas. Ditepuk-tepuknya bahu Danang.
Danang melepaskan ciumannya. Namun masih menatapnya penuh intimidasi.
“Suruh dia pulang!”
“Atau aku yang akan menyuruhnya pulang.” Tandas Danang pelan namun tegas.
“Tidak ada dia atau siapa pun. You belong with me ...!”
Ia berjalan ragu menuju teras depan. Kedua tangannya saling bertaut. Berusaha mencari alasan yang tepat untuk membuat atasannya itu segera pergi.
“Mas ... emm, sorry ... aku ... aku harus menemani bunda kontrol,” ujarnya sesaat ia duduk di teras samping Aldi.
“Mau aku antar?” Tawar Aldi.
“Emm ... gak usah. Bentar lagi Kak Ken datang,” kilahnya berdusta. Oh my god ... please forgive me.
“Baiklah ....” Aldi beranjak dari duduknya.
“Sampekan salam untuk Tante. Semoga lekas pulih dan sehat lagi. Aku tunggu kamu di kantor besok Senin,”
“Kita bahas project baru.”
Ia mengangguk. Mengulas senyum.
Aldi berpamitan. Lalu pergi meninggalkan rumahnya. Dengan sejuta tanya yang mengendap rasa penasaran di hatinya.
Mobil yang ditumpanginya membelah jalan tol Solo-Semarang.
Tidak ada yang memulai berbicara. Mereka dalam keterdiaman. Entah apa yang ada dalam benak dan pikiran keduanya.
Hening membentang lama.
Usai makan malam tadi di rumah. Mas Danang dan dirinya pamit pulang ke Semarang.
__ADS_1
Alih-alih berharap bisa sehari lagi menemani sang bunda. Justru bunda menyuruhnya untuk berkemas. Dengan berat langkah, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.
“Bunda udah sehat. Udah baikan ... ada Numi juga yang nemani Bunda. Saatnya kamu perhatian sama Mas Danang,” ucap bunda sesaat setelah makan malam.
Mobil keluar di exit tol Tingkir-Salatiga. Mengambil jalur jalan biasa.
Ia yang memang sudah hafal jalur akhirnya bertanya, “Kita mau ke mana, Mas?”
“Ada janji sama temen,” sahutnya tanpa menoleh kepadanya.
Kecepatan mobil semakin berkurang saat jalanan semakin menanjak dan sepi.
Ia mengernyit.
Berbagai pertanyaan mencuat dalam benaknya. Tapi diurungkan. Ia tahu. Laki-laki yang tengah mengemudi di sebelahnya sedang diliputi rasa cemburu.
Hingga mobil melintasi hutan pinus. Di kanan kiri gelap tanpa penerangan yang memadai.
Ia semakin mengernyit. Mau dibawa ke mana sebenarnya?
Namun, dari kejauhan tampak lampu menyala dengan terang benderang.
Sebuah papan reklame bertuliskan ‘Selamat Datang Di Griyo Skyway’
Mobil belok ke kiri dan masuk ke area wisata semacam playground.
Danang menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah vila.
“Kita ke sini, Mas?” Tanyanya penasaran.
Danang melepas seatbelt-nya, “Kita turun!” Serunya.
Ia pun mengikuti laki-laki itu. Mengekor di belakangnya. Danang berjalan di depannya dengan tak acuh.
“Temen Mas Danang di mana?” Tanyanya ketika seorang pria memakai seragam bertuliskan griyo skyway membukakan pintu untuk mereka.
“Silakan, Pak.” Ucap pegawai itu.
“Terima kasih,” balas Danang.
Pegawai itu pamit dan menutup kembali pintu.
“Mas Danang kenapa, sih? Marah? Cemburu?” Semburnya kesal sudah di ubun-ubun. Sedari tadi laki-laki seperti tak mengacuhkannya.
“Aku sama Aldi gak ada apa-apa. Cuma atasan dan bawahan. No more ....”
“Dia tadi ke rumah karena,“
Tanpa komando, laki-laki itu mendorongnya perlahan hingga menempel pada dinding. Danang mengurungnya. Menatapnya lekat.
“Tapi dia suka sama kamu,” tukasnya tanpa mengalihkan pandangan.
Ia memejamkan mata sejenak. Menghela napas. Bola matanya memutar malas.
“Tapi aku gak suka sama dia!” Bantahnya.
“Masih ada harapan,” salak Danang.
"Aku juga gak memberinya harapan," kilahnya.
“Dia tidak tau kamu sudah menikah, kan?!”
DEG
Pertanyaan itu bak senjata yang seolah berbalik menghujamnya.
“Mak-maksudnya ...?” Tanyanya dengan menatap laki-laki itu lama. Ia seperti orang bodoh.
“Sebelum dia tahu tentang pernikahan kita. Dia akan selalu mendekatimu.”
“Selalu mengharapkanmu,”
"Bahkan menunggumu."
“Mas ... aku,“
Danang sudah terburu mencumbunya.
“You belong with me,” ucapnya lirih tepat di telinganya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan....ya 🙏
__ADS_1