
...17. Not The End...
Kirei
Hampir dua minggu telah berlalu sejak ia mengetahui terungkapnya kematian sang ayah. Gadis itu kembali disibukkan dengan pekerjaan yang seakan-akan tidak ada habisnya.
Baru pulang meliput demonstrasi para buruh rokok di tiga kabupaten Jepara, Kudus dan Pati menyangkut soal kenaikan cukai rokok. Bahkan demo itu sudah berjalan berhari-hari. Para buruh pabrik rokok dan petani tembakau mengancam akan melakukan demo di depan kantor Gubernur jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Pekerja dan buruh rokok merasa menjadi korban atas banyaknya pabrik yang tutup akibat regulasi dan kebijakan yang tidak adil.
Jelas saja kenaikan cukai rokok yang mencapai dua digit berkisar di angka 13-20% merugikan Industri Hasil Tembakau (IHT).
Ponselnya berdering tepat ia keluar dari kamar mandi. Masih menggunakan bathrobe sembari menggosok-gosokkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Menyambar ponsel di atas nakas. Mengernyit melihat nomor yang menghubunginya. Sempat mati lalu nomor itu masuk lagi memanggil.
“Ya ....” Sahutnya saat ia menerima panggilan telepon itu.
“Kamu sibuk hari ini?” Tanya seseorang di seberang sana.
“Pak Danang?” Tanyanya untuk memastikan dugaannya.
“Sorry, aku pakai ponsel lain. Kamu sibuk hari ini?
“Ini hari Sabtu. Saya libur”
“Oke. Sebentar lagi aku jemput kamu.”
“Maksudnya?”
“Kamu masih meliput kasus mutilasi itu, kan?”
“Iya ....”
“Kita akan datangi family dari pihak ibunya.”
“Lebih baik kita berangkat sekarang. Karena lokasinya jauh di pinggiran.”
Begitu sambungan telepon itu mati, ia sempat berpikir sejenak. Tidak mungkin ia mengajak Mas Budi. Pasti dia sedang quality time bersama keluarganya, setelah hampir satu minggu sibuk bekerja. Ia tidak ingin mengganggunya. Akhirnya ia putuskan untuk berangkat sendirian.
Setelah memasukkan semua perlengkapan liputan ke dalam tas punggung, ia bergegas keluar sebab nomor asing yang sempat menghubunginya tadi sekarang meraung-raung lagi di ponselnya.
Mengenakan celana jeans warna hitam 7/8 yang sedikit longgar berpadu dengan kemeja abu-abu polos. Tak lupa sneakers putih kesayangannya. Ia sedikit berlarian kecil menuju lobi.
Seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 175 senti meter dengan potongan rambut crew cut, memakai kaca mata hitam yang bertengger pada hidung mancungnya. Mengenakan kaos polo hitam yang pas di body-nya. Berdiri bersandar pada pintu samping mobil dengan pandangan menunduk melihat ponsel di tangan kanannya.
Perfect.
Sepersekian detik ia terpukau dengan pemandangan di depannya.
“Sudah siap?” tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Danang.
Ia mengerjapkan mata, mengenyahkan keterpukauannya beberapa saat yang lalu.
Kemudian mengangguk, dan masuk melalui pintu yang telah dibukakan oleh Danang. Dengan berlari kecil laki-laki itu memutari mobil dan duduk di balik kemudi.
Mobil perlahan melaju meninggalkan apartemennya. Membelah jalanan yang padat kendaraan.
Beberapa saat mereka saling terdiam. Tak ada yang memulai berbicara. Hingga suara ponselnya memecah keheningan.
“Ya, Kak.” Sahutnya dalam telepon.
“Kamu jadi pulang hari ini, kan, Rei?” Tanya Ken memastikan kepulangannya. Karena beberapa waktu lalu ia mengabari akan pulang saat weekend.
“Maaf, Kak. Sepertinya gak jadi. Aku ada liputan mendadak, Kak.”
Terdengar helaan napas dari ujung telepon, “*O*kelah, kalo gitu. Nanti aku sampein ke Bunda. Tapi kamu hati-hati. Besok kalo sempat aku sama Bunda ke Semarang.”
“Ya, Kak. Mudah-mudahan hari ini selesai liputan.”
“See you. Salam buat bunda.”
Ia sempat marah dan kecewa sama Ken dan bunda perihal mereka menutupi kasus kematian sang ayah yang sebenarnya. Namun, ia tidak bisa tak mengacuhkan mereka. Apa lagi bunda dengan tenang menjelaskan alasannya sepenuh hati.
“Maafkan Bunda, Rei. Bukan maksud menutupinya dari kamu. Waktu itu belum cukup umurmu untuk ikut mengetahui kejadian itu apa lagi harus menanggung beban,” ucap bunda saat menelepon beberapa waktu yang lalu.
“Bunda sudah mengikhlaskan kepergian Ayah,”
“Memang sudah jalannya,”
“Sekarang bukan lagi memperdebatkan kenapa dan mengapa itu terjadi. Bunda yakin mereka akan mendapat balasannya. Meski bukan sekarang. Tapi percayalah, Rei. Semua perbuatan manusia akan ada pertanggung jawabannya, sekecil apa pun,”
__ADS_1
“Kamu dan Ken bisa seperti sekarang, Bunda sudah bahagia. Buat apa mencari mereka jika harus ditukar dengan kebahagiaan kalian.”
Pandangannya menerawang mengingat percakapannya dengan bunda. Bunda sudah ikhlas. Lalu apakah ia juga akan mengikhlaskannya?
Ia mendesahkan napas.
“Rei,” panggil Danang menoleh padanya saat mobil berhenti pada lampu merah.
“Ya,” sahutnya tanpa mengalihkan matanya yang lurus ke depan. Di luar cuaca cukup terik waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Lampu merah berganti warna hijau. Danang kembali melajukan mobilnya bersamaan dengan kendaraan lain yang memadati jalan raya.
“Apa sebuah kasus kematian bisa diungkap lagi setelah belasan tahun?” gumamnya.
Danang mengernyit, "Maksudnya?"
“Apakah masih bisa kasus kematian seseorang diungkap lagi ke pengadilan setelah 14 tahun?” ulangnya tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
“Bisa, jika ditemukan bukti-bukti baru.”
Ia menggigit bibir dalamnya. Apakah ini sebuah harapan?
“Kenapa?” tanya laki-laki yang duduk di sebelahnya.
Ia menoleh sebentar pada Danang yang fokus mengemudi, lalu tersenyum kecil.
“Gak, Pak. Saya hanya ingin tahu saja. Saya buta hukum.” Kilahnya.
“Kira-kira masih lama Pak, tujuan kita?” tanyanya saat menyadari waktu sudah berjalan satu jam.
“Kita butuh sekitar tiga jam lagi menuju ke sana. Tidurlah kalo kamu mengantuk,” ucap Danang, lalu menekan tombol radio untuk mengusir kebosanan.
Gadis itu merebahkan punggung dan kepalanya ke belakang agar lebih rileks. Lamat-lamat terdengar lagu dari radio.
Don’t wanna close my eyes
I don’t wanna fall a sleep
Cause I'd miss you babe
And I don’t wanna miss a thing
Danang terdengar ikut bernyanyi meski lirih, namun ia masih jelas mendengarnya.
“Saya suka filmnya ... dan lagunya tentunya,” sambungnya dengan senyum mengembang.
Danang yang mengemudi geleng-geleng kepala, “Aku pikir kamu hanya suka lagu-lagu anak jaman sekarang,” tak habis pikir batinnya. Gadis cantik itu bisa menyukai lagu rock lawas.
“Aerosmith. Termasuk band favorite.” Aku Danang.
“Berarti Bapak generasi old, ya? Kan, band itu di era 80-90an.”
“Memangnya kamu bisa tebak umurku berapa?” tanya Danang.
Ia berpikir, memperhatikan wajah laki-laki di sampingnya “Ganteng,” sayangnya cuma dalam hati.
“Tiga puluhan mungkin?”
“Tepatnya.”
“Sekitar 33 atau 34?” sahutnya.
Laki-laki itu terkekeh, “Hampir mendekati. Tapi sayangnya aku lebih muda dari tebakanmu.”
“Iya kah?”
Ia mengangguk tanda mengiyakan.
“Kenapa? Gak percaya? Bisa lihat KTP-ku.”
“Percaya, Pak. Bapak kan sudah disumpah untuk mengayomi masyarakat. Untuk jujur dan mengedepankan pelayanan ....” Kelakarnya dengan terkekeh menyindir.
Laki-laki itu mengulum senyum, “Bisaan kamu!”
“Lebih baik kita makan siang dulu, sebelum melanjutkan perjalanan,” usul Danang dan ia mengiyakan.
Mobil berhenti tepat di sebuah warung makan yang menjajakan berbagai makanan. Ada mangut lele, mangut beong, opor enthog, tahu tempe bacem, sayur lodeh lombok ijo (cabe hijau), buntil daun talas, botok dan trancam (urap tapi bahan mentah semua).
Gadis itu memilih trancam beserta mangut lele. Tak lupa dengan tempe bacem. Meski warung makan sederhana di pinggir jalan raya, tapi cita rasa masakannya enak dan lezat.
Perjalanan mereka lanjutkan kembali setelah makan siang. Waktu tempuh yang masih lama membuat Kirei mengantuk, ditambah dengan perut kenyang.
__ADS_1
***
Danang
“Atur saja kursinya, Rei. Biar kamu bisa tiduran”
“Gak kok, Pak. Belum ngantuk” kilah Kirei berdusta.
Padahal matanya sudah 5 watt, tapi rasa gengsinya sepertinya lebih besar dari pada sebuah pengakuan.
“Kamu keras kepala juga, yaa!” serunya mencibir.
Tapi Kirei tak menjawab. Gadis itu justru mengganti channel radio. Ia berharap suara musik yang cepat dan menghentak bisa mengusir kantuknya.
Tapi apa dikata, siaran radio tak ada yang sesuai keinginannya.
“Bapak gak punya lagu yang nge-beat gitu, ya?” ujar gadis itu sambil tangannya tetap memilah-milah channel radio mana yang sesuai hatinya.
Ia tersenyum masam, “Nih,” ia mengangsurkan sebuah flashdisc berwarna merah.
“Tapi isinya musik pop rock semua,” ia mengulas senyum.
“Apa tuh?”
“Cold Play, Green Day, Linkin Park, Bon Jovi Aerosmith ... kayaknya kamu gak akan suka!” tebaknya.
“Takutnya bukan selera kamu juga?” lanjutnya.
Gadis itu menipiskan bibirnya, nekat mencolokkan flashdisc dan ....
“Ini selalu saya dengar Pak, kalo pas lagi pulang ....”
“Kesukaan kakak saya juga ....”
“Mungkin lagu ini keluar, saya belum lahir atau jangan-jangan masih bayi ....” Kirei terkekeh dengan renyah.
And I will love you, baby, always
And I'll be there forever and a day, always
I'll be there 'til the stars don't shine
'Til the heavens burst and the words don't rhyme
And I know when I die, you'll be on my mind
And I'll love you, always
Mereka akhirnya bernyanyi bersama.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir dan membaca serta memberikan dukungan...yaa! 🙏
__ADS_1