
...42. Hinda Woloolo Habarimu?...
Bunda
Ia terkejut saat kedatangan tamu dua orang di mana salah satunya sangat dikenalnya.
Dengan sedikit tergagap, ia mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk dan duduk.
“Bagaimana kabarmu, Nan?” sapa pria tua itu setelah duduk di sofa ruang tamu.
Ia masih terpaku. Hingga akhirnya menjawab,
“Sa-saya ... baik, Tiyamo”
Ya, pria tua itu adalah ayah dari Bang Demas. Idrus Kamaru.
Sudah lama mereka tidak bertemu. Terakhir sejak meninggalnya Demas. Setelah itu tidak pernah ada kontak.
“Di mana cucu-cucuku?” tanya tiyamo.
“Mereka kerja.” Sahutnya.
“Pauwama ....” Ucap pria yang duduk di sebelahnya. Namun pria itu tak melanjutkan bicaranya sebab tiyamo mengangkat tangannya di udara. Artinya ia melarangnya.
“Aku ke sini karena selain rindu dengan mereka -- cucuku. Tujuanku adalah membawa ini ....” Tukas tiyamo seraya menyodorkan sebuah amplop cokelat berukuran folio di atas meja.
“Bukan berarti selama ini aku tidak peduli dengan kalian. Bukan. Karena aku selalu memastikan hidup kalian baik-baik saja,”
“Dan kalian baik.”
Ia yang belum paham maksud dan tujuan tiyamo datang secara tiba-tiba, masih menerka-nerka. Tidak mungkin ada sebab. Jika tidak ada alasan.
“Bukalah ....” Titah tiyamo untuk membuka amplop yang ia sodorkan tadi.
Dengan tangan sedikit gemetar. Ia membuka amplop tersebut. Membuka pengaitnya lalu melonggarkan talinya. Setelah terbuka ia merogoh isinya yang berupa beberapa lembaran kertas yang diklip menjadi satu.
“Bacalah ...!” Titah tiyamo lagi.
...Surat Kuasa...
Yang bertanda tangan di bawah ini selaku pihak I yang memberi kuasa :
Nama : Idrus Kamaru
Tempat tanggal lahir : Gorontalo, 17-5-195x
No. KTP : 7899871230000xx
Alamat : Tenda No.12. Hulonthalangi. Gorontalo.
Menerangkan dengan ini memberikan kuasa kepada :
1. Nama : Kenichi Estiawan Prasetyo
Tempat tanggal lahir : Sendai, 10-10-199x
No. KTP : 12332133220000xx
Alamat : Gawanan No.100. Colomadu. Solo
2. Nama : Kirei Fitriya Tsabita
Tempat tanggal lahir : Sendai, 20-1-199x
No. KTP : 2323231110000xx
Alamat : Gawanan No.100. Colomadu. Solo
Selaku cucu dan ahli waris dari pemberi kuasa sekaligus sebagai penerima kuasa 1 dan 2.
Untuk itu selaku pemberi kuasa pihak pertama memberikan sejumlah aset yaitu:
1. Saham sebesar 25% di PT. Kamaru Nusa Sentana untuk diberikan pada penerima kuasa I.
2. Saham sebesar 35% di PT. Kamaru Nusa Sentana untuk diberikan pada penerima kuasa II sekaligus memegang jabatan dan wewenang sebagai komisaris.
3. Saham sebesar 20% di PT. Kurenai Metal untuk diberikan pada penerima kuasa II.
Demikian surat kuasa ini dibuat untuk ....
Ia masih terpaku memegang surat tersebut. Meski tidak membacanya secara keseluruhan. Tapi halaman pertama jelas ... mengisyaratkan pelimpahan hak aset.
Tapi untuk apa? Kenapa? Pertanyaan itu berdengung di benaknya.
“Ini ....” Tanyanya masih tak mengerti.
“Aku menyerahkan aset-aset itu untuk kedua cucuku.”
__ADS_1
“Tiyamo ... maaf,” cicitnya, “kami—”
“Aku pernah membuat kesalahan terhadap kalian. Dan ini pantas untuk cucuku,” tandas tiyamo.
**
Anisa
Aldi meracau di tempat acara karena mabuk. Beruntung Oka dan Anisa menolongnya. Mengantarnya sampai ke unit apartemennya.
“Nis, buatkan teh jahe!” seru Oka. Yang berusaha merebahkan tubuh jangkung Aldi di tempat tidurnya.
Anisa bergegas menuju dapur. Mencari sesuatu di kulkas. Kosong. Kulkas hanya berisi buah-buahan dan sepotong daging steak.
Ia lalu kembali lagi ke kamar Aldi.
“Mana?” tanya Oka.
“Mana ada jahe di kulkas laki-laki!” tandas Anisa kesal.
“Astaga!” Gerutu Oka.
“Susu beruang ... ada?”
“Issshh ....” Anisa mendesis seraya membalikkan tubuhnya. Ia berdecak kesal. Jelas ini pertama kalinya ia harus merawat orang yang sedang hangover.
“Merepotkan,” sungutnya.
Ia kembali membuka kulkas dan mencari sesuatu. Tak lama berselang. Ia menyodorkan susu beruang pada Oka.
“Minum dulu, Mas” ucap Oka seraya membantunya untuk bersandar.
“Tell me another one (aku tahu kamu bohong),” rancau Aldi. Kalimat yang terus menerus keluar dari mulutnya.
Setelah meminum susu beruang. Aldi kembali di rebahkan.
“Kita pulang!” seru Anisa. Malam sudah larut. Sang ibu juga sudah meneleponnya berulang kali.
“Mas, kita pulang” ucap Oka pamit pada Aldi.
“Dasar! Ngapain ngomong sama orang mabuk. Dia gak bakal nyahut.”
“Udah ... yukk!” ajaknya sudah tak sabar.
“Rei ....” Aldi bergumam-gumam, “tell me another one”
“Apa gara-gara Kirei, ya? Kan sebelumnya dia nyariin Kirei. Tus tau-tau aja ... malah kaya gini.” Oka bergumam namun masih didengar olehnya.
Anisa hanya mengedikkan bahunya santai.
***
Kirei
“Mas, maaf ... gara-gara aku, kamu jadi begini,” ucapnya ketika ia mengobati memar bekas pukulan Aldi. Mengompresnya dengan es batu. Lalu mengoleskan salep arnica topikal untuk mengurangi rasa nyeri dan memar.
Laki-laki itu hanya mengulas senyum.
Tak lama ponselnya berdering.
My brother calling ....
“Ya, Kak,” sahutnya.
“Kamu bisa pulang besok?”
“Ada apa, Kak?”
“Ada hal penting. Gak bisa diomongin di telepon.”
Ia berpikir sejenak. Tak ada salahnya juga pulang. Lagi pula sebentar lagi menyambut puasa. Sekalian nyadran ke makam eyang. Tradisi keluarga bunda di Solo menyambut datangnya bulan Ramadhan.
“Besok, Rei pulang.”
Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Esok paginya mereka tiba di kediaman bunda tepat saat bunda dan Ken hendak pergi nyadran.
“Asalamualaikum,” sapanya saat turun dari mobil. Lalu menghambur bunda. Mencium punggung tangannya.
“Waalaikumsalam ....” Sahut bunda dan Ken.
“Sekarang, Nda?”
“Iya ... hayoo cepetan!” sergah Ken.
“Pakai mobilku aja. Soalnya makanannya sudah ada di jok belakang,” sambar Ken. Yang sudah membukakan pintu penumpang kedua untuk bunda.
Danang duduk di depan bersama Ken yang mengemudi. Sementara Kirei duduk bersama bunda di bangku kedua.
__ADS_1
Tiba di tempat pemakaman umum di pinggiran kota Solo. Mobil berhenti. Di sana telah banyak kendaraan yang terparkir.
Bergegas mereka turun dengan membawa makanan yang telah ditata rapi di sebuah nampan bundar beralas daun pisang yang dihias. Ada nasi gurih, ingkung ayam, sambal krecek, perkedel kentang dan sayur lodeh labu siam.
Untuk lauk pauk kecuali ingkung ayam ditempatkan pada wadah takir. Yaitu daun pisang yang dibentuk segi empat lalu disemat dengan lidi. Sementara kue tradisional juga tak kalah ketinggalan seperti kue cucur, apem dan jadah.
Semua pengunjung nyadran duduk bersila di atas tikar, di tempat yang telah di sediakan oleh panitia. Lalu melakukan doa bersama. Untuk kebaikan saudara, kerabat dan handai taulan yang telah meninggal. Dan kebaikan untuk orang-orang yang masih hidup.
Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Dengan menukar makanan yang dibawa masing-masing pengunjung. Sehingga tercipta kebersamaan antar pengunjung.
Acara terakhir ditutup dengan kerja bakti. Adalah membersihkan sisa-sisa bekas acara makan bersama dan membersihkan lingkungan tempat pemakaman umum sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian. Meski TPU di sini selalu bersih sebab sudah ada penanggung jawab yang membersihkannya setiap hari.
Beberapa kali mereka disapa dan menyapa orang-orang yang kenal. Yang kebetulan tinggal satu kompleks. Dan menjadi pelanggan toko bunda. Pun dengan saudara dari eyang.
“Ini tempatnya eyang,” ucap bunda mengenalkan pada Danang, “yang ini—“ tunjuk bunda pada nisan marmer berwarna hitam dengan tulisan berwarna gold yang menonjol, “— Eyang kakung,” lalu bunda menunjuk nisan yang masih berbentuk kayu, “yang ini punya Eyang uti. Belum sempat diganti nisannya.”
Mereka lalu duduk berjongkok mengitari kedua nisan tersebut. Memanjatkan doa dipimpin Ken.
“Aamiin ....” Mereka menangkupkan telapak tangan pada wajah. Sebagai penutup doa. Menebarkan kelopak mawar, bunga kantil dan bunga melati di atas gundukkan tanah. Menyiram dengan air mawar.
“Eyang uti belum setahun meninggal. Jadi belum diganti nisannya,” ujar Kirei saat mereka berjalan beriringan meninggalkan TPU.
Laki-laki itu hanya manggut-manggut saja.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan TPU bersama kendaraan lain yang juga bertujuan sama.
“Sebenarnya ada apa, Kak?” tanyanya penasaran saat baru saja tiba di rumah. Ia mencuci tangan di westafel dapur. Lalu melepas pashmina di kepalanya.
“Duduk dulu, Rei. Buatkan mas Danang minum,” titah bunda.
“Iya, Nda ... iya. Ini lagi mau bikin minum,” sahutnya yang masih berdiri di dapur. Membuka kitchen set bagian atas. Meraih sirup merah rasa cocopandan. Menuangkan pada gelas.
“Aku juga!” teriak Ken dari ruang tengah yang sedang duduk bersama Danang.
“Minuman datang ....” Ucapnya.
“Sebelum jadi sultan, disuruh-suruh dulu,” tukas Ken berkelakar.
Ia yang sudah duduk di sebelah Danang menipiskan bibirnya, “Ada maunya pasti!” tebaknya.
Bunda datang membawa sebuah amplop cokelat lalu disodorkan padanya.
“Apa, Nda?” tanyanya bingung melihat amplop tersebut.
“Bukalah ....”
“Kemarin baapu ke sini,”
“Membawa ini untuk kamu dan Ken.” Bunda mengenyakkan diri di samping Ken.
Gadis itu menatap sebentar Danang. Lalu melepaskan kait dan melonggarkan tali pada amplop tersebut. Mengeluarkan beberapa lembaran kertas dari sana.
“Surat kuasa?!” dahinya berkerut.
-
-
Catatan
Nyadran : tradisi masyarakat Jawa Tengah dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Biasanya pelaksanaannya di tanggal ke-10 bulan Rajab atau setiap datangnya bulan Syaban. Biasanya datang ke TPU membawa makanan tradisional. Berdoa bersama lalu makan bersama.
Hinda Woloolo Habarimu (Bahasa Gorontalo) : Bagaimana kabarmu?
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberi dukungan....🙏.
__ADS_1