Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
60. Dusk And Dawn


__ADS_3

...60. Dusk And Dawn...


-Gorontalo-


 


Ia mengelap peluh yang mengucur di leher dan pelipisnya.


Sudah berapa jam ia berjalan namun tak mendapatkan tujuan yang jelas. Semua seolah menjauh. Setiap ia akan meraba dan menjeremba tiba-tiba menjauh dengan sendirinya.


Ia terduduk dengan raut muka kebingungan. Matanya mengedar ke sekeliling. Hamparan luas. Padang rumput hijau. Di manakah ini?


Tak menemukan jawaban pasti. Ia lelah. Tubuhnya merosot bersimpuh. Tertunduk dalam.


Merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Kini matanya menatap langit yang begitu cerah. Berwarna biru. Tanpa cacat dan noda.


Ia melengkungkan bibirnya ke atas. Tersenyum.


Namun sedetik kemudian senyum itu menghilang berganti kerutan di keningnya. Manakala langit biru seketika mengabu. Awan seolah menggantung dan siap menurunkan hujan kapan pun.


Ia bergegas bangkit. Mencari tempat perlindungan. Tapi nihil. Saujana mata semua sama. Padang rumput nan luas tanpa tepi dan batas.


Ia pun tertunduk lesu. Putus asa.


Sayup-sayup ia mendengar suara anak kecil.


“Tangkap, Yah ... ha ha ha ....”


Ia mencari-cari suara itu. Berlari menuju bukit. Napasnya tersengal-sengal saat ia mendapati seorang anak kecil laki-laki tengah bermain bola dengan ....


“Mas Danang?” Gumamnya.


Ya, matanya tak salah lihat. Jelas laki-laki itu adalah Mas Danang, suaminya.


Lalu, siapakah anak kecil itu?


Ia memperhatikan mereka tengah berlarian memperebutkan  bola sambil tergelak-gelak.


“Ha ha ha ....”


“Ayah ... atu menang!!” Seru anak itu riang.


DEG


“Ayah?” Ia mengerutkan dahinya.


“Apa itu anak Mas Danang?”


Ia terus memperhatikan mereka tanpa berkedip sekalipun.


“Way to go, buddy! (Hebat, kawan!)” Mereka ber-high five.


“Let’s go home (mari kita pulang).” Ajak Mas Danang menggandeng anak itu berjalan menjauh.


Melihat mereka semakin menjauh. Ia tergagap. Berusaha mengejarnya.


“Mas! Tunggu ....” Teriaknya memanggil.


Namun ia harus menelan kekecewaan. Mereka sama sekali tak mengidahkannya. Bahkan bayangan itu semakin mengecil dan menghilang.


“Tunggu!!”


“Mas ... please ... tunggu ... please ....” Teriakannya kini hanya lirih. Penuh keputusasaan.


Ia tersedu. Panggilan itu seperti angin lalu.


Tiba-tiba ia terbangun. Matanya terbuka dengan peluh membasahi tubuhnya. Tepat saat azan subuh berkumandang.


Ia bangkit dan menyadarkan punggungnya pada kepala ranjang. Mengusap wajahnya gusar. Ternyata hanya mimpi.


**


Sore hari selepas jam kantor usai, ia melajukan mobil sesuai petunjuk GPS. Adalah Pantai Kurenai sebagai tujuannya.


Setelah beberapa saat lalu sempat berdebat dengan baapu.


“Biar diantar Dambea ... kamu belum tahu jalan.” Ucap baapu.


“Sebentar saja Baapu. Rei cuma ingin ke pantai. Janji. Setelah itu pulang cepat.” Ia mengangkat jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V. Lalu memasang raut muka memelas.


“Janji, Rei gak akan ngebut. Gak akan kemalaman. Rei pengen jalan sendiri.” Ia benar-benar ingin menyendiri.


Cucunya itu memang keras kepala seperti ayahnya.


“Oke!” Baapu menyerah.


“Tapi, jangan kemalaman. Atau Dambea akan menyusulmu.”


“Deal.” Ia tersenyum miring penuh kemenangan.


Dan kini ia berdiri di atas pasir putih tanpa alas kaki. Setelah sekitar 30 menit menempuh perjalanan dari kantor KNS.


Ia mengeluarkan kamera DSLR dari wadahnya. Beberapa kali membidik objek yang menarik. Saat weekday seperti ini tak banyak pengunjung yang datang. Bahkan cenderung sepi.


Kakinya terus melangkah. Mengikuti kata hatinya.


“Beautiful ....” Ucapnya lirih saat matanya menangkap matahari yang mulai tenggelam. Setelah mengambil objek dengan kameranya. Ia duduk di atas pasir. Menekuk kedua kakinya. Ia ingin menikmati senja yang hanya sebentar.


Air laut menyibak-nyibak jari jemari kakinya. Angin yang semakin kencang mengibaskan surainya. Bahkan lama kelamaan celananya ikut basah. Tapi ia tak menghiraukannya.


Ia hanya ingin menikmati senja. Yang sebentar lagi menghilang. Ia tak ingin kehilangan momen sekilas itu.


Matanya terus menatap ke ufuk barat. Cahaya lindap telah berpendar memenuhi langit menjadi sandyakala yang menakjubkan.


Ia semakin mengeratkan rengkuhan pada kakinya. Sebab hawa dingin merasuk ke dalam pori-pori kulitnya.


Senja telah berganti malam.


Ia mendongak ketika seseorang menyampirkan jaket pada punggungnya.


“Anginnya kencang. Nanti kamu masuk angin.”


Ia bangkit dan berdiri menghadap Laira.


“Abang tahu, saya di sini?” Tanyanya.


“Atau kampung halaman Abang di sini?” Satirenya.


Laira terkekeh, “Aku diperintah paman untuk menyusulmu.”


“Paman?” Ucapnya berulang.


“Ya ....” Laira mengangguk.


Ia mengernyit. Meski tidak terlalu jelas terlihat. Namun cahaya bulan yang hampir mendekati purnama di hari ke-13 bulan Hijriyah sangat membantunya. Sebab di pantai ini tidak ada penerangan lampu sama sekali.

__ADS_1


Teringat pesan baapu bahwa Paman Dambea yang akan menyusulnya. Apakah Laira suruhannya?


“Sebaiknya kita pulang.” Sergah Laira.


Ia mengangguk. Janji pada baapu harus ditepati.


Laira mengambil alih kemudi. Sementara ia duduk di sampingnya.


“Kamu lapar?” Laira menoleh padanya sekilas.


“Sedikit,” sahutnya.


“Tapi kita langsung pulang saja. Baapu pasti sudah menunggu,” imbuhnya.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan yang panjang. Hingga tepat pukul 19.30 WITA mereka tiba di kediaman baapu.


“Terima kasih,” ucapnya sesaat sebelum membuka pintu mobil.


Saat kepalanya menyembul keluar dari pintu ternyata Paman Dambea dan baapu telah berdiri menunggunya.


Ia menyapa mereka.


“Sudah puas?” Tanya baapu.


Ia hanya membalas dengan senyuman.


“Laira!” Panggil baapu. Dan pria itu mendekat.


“Terima kasih. Tolong ngana jaga Kirei selama di sini. Kalian sudah saling kenal, kan? Jadi Baapu bisa sedikit tenang.”


Ia menatap Laira dan baapu bergantian, “Bang Laira?”


“Anak saya, Mbak Rei.” Sahut Paman Dambea.


Terdengar lidahnya berdecak, “Pantes,” tandasnya sebal.


Malam itu mereka makan malam bersama. Setelah ia membersihkan diri dan berganti pakaian.


“Bang Laira bukannya ada kerjaan di Jakarta?” Tanyanya ketika mereka telah usai makan malam dan duduk santai di sofa ruang keluarga.


“Sudah tidak lagi.”


Ia mengernyit. Matanya menyipit. Aneh, itu artinya dia resign juga atau?


“Laira selama ini kerja di pers karena permintaan Baapu. Agar dia bisa mengawasi kamu, Rei.”


Ia semakin mengerutkan kening. Maksudnya?


“Baapu khawatir ... kejadian yang menimpa Demas juga akan menimpa kamu. Baapu tidak ingin itu terulang lagi. Maafkan Baapu ... tapi itu cara Baapu melindungi kamu.”


“Kesalahan Baapu pada Demas sudah cukup. Jadi pembelajaran semuanya.” Pungkas baapu dengan raut penyesalan yang kentara.


Matanya berkaca-kaca menatap baapu. Ternyata baapu dan neene begitu sayang padanya. Tetiba ia menghamburkan diri dalam pelukan pria renta yang tidak pernah ia kenal dekat sebelumnya.


“Rei sayang Baapu.” Bisiknya. Air mata yang sedari tadi ia tahan di pelupuk mata akhirnya lolos juga.


“Maaf, Rei belum bisa membahagiakan Baapu dan Neene selama ini,”


“Belum bisa menjadi cucu seperti apa yang Baapu inginkan."


Baapu mengusap kepalanya, “Jadilah seperti apa yang kamu inginkan. Itu sudah cukup buat kami.”


**


Malam ini ia tidur dengan perasaan sedikit lega dan ringan. Meski agak sedikit mengganjal tentang mimpinya kemarin. Tapi ia coba mengenyahkannya. Menyugesti bahwa itu hanya sebuah bunga tidur.


“Assalamu’alaikum ... Nda,”


“Wa’alaikumsalam,” sahut bunda. Yang tengah duduk di sofa depan TV.


“Kangen rumah,” rengeknya.


“Kalau kangen kapan saja kamu bisa pulang.”


“Minggu depan peresmian dan peluncuran kapal baru milik KNS.”


Mendadak muka Ken memenuhi layar dengan hidung diplester, “Selamat ... orang kaya baru.” Seloroh Ken mencibir.


“Issh ... syirik!” Sungutnya sebal.


“Itu kenapa hidung? Komedo bukan diplester tapi diamplas!” Semburnya sarkas.


“Enak aja! Hidung warisan baapu. Gak dapat warisan harta banyak, warisan hidung pun jadi.” Ken terkekeh geli. Hidung baapu memang mancung. Cuma sayang, dirinya hanya mewarisi wajah sang ayah terkecuali hidung.


Ia ikut tergelak.


“Awas minggir! Aku pengen ngomong sama Bunda,” salaknya.


“Nda ....”


“Kemarin Rei mimpi aneh.”


“Aneh gimana?” Sahut bunda dengan mengernyit.


“Rei mimpi bertemu sama Mas Danang, tapi ....” Ia tidak menceritakan mimpi tentang anak kecil yang bersama Mas Danang. Bukan tidak ingin, tapi ia masih ragu.


Lengang sejenak.


“Mas Danang pergi begitu saja. Tidak menghiraukan Rei yang memanggilnya.”


“Apa Mas Danang benci sama Rei, Nda?” Wajahnya bersedu.


Bunda terlihat tersenyum kecil di layar ponselnya.


“Kamu masih sayang sama Mas Danang?”


Ia bergeming. Tak mampu menjawab. Meski dalam hatinya ingin meluapkan perasaan yang tengah melingkupinya.


“Bunda tahu, kalian masih saling sayang. Tak ada salahnya, Rei kalian bersama. Dan seharusnya begitu. Danang tahu, kamu di Gorontalo. Bunda yang cerita.”


Ia menatap layar, meski pandangannya kosong.


“Danang juga masih sayang kamu. Bahkan dia membiarkan kamu mengobati lukamu dengan waktu.”


“Rei ....”


Ia tersentak.


“Aku ... aku gak pantas, Nda. Aku menyakiti semua orang. Mas Danang dan keluarganya pasti kecewa sama aku.” Ucapnya muram. Kesalahannya tak mungkin ter maafkan.


Bagaimana ia memaki laki-laki itu. Bahkan bukan hanya laki-laki itu, tapi juga papa dan keluarganya. Ia mengusir mereka. Rasanya ia sudah tidak pantas lagi berada di antara mereka.


Bunda menggeleng, “Gak, Nak. Papa Bagas pasti paham dan mengerti kondisimu saat itu.”


“Gak mungkin, Nda ....” Ia menggeleng lemah. Sikapnya sudah keterlaluan. Ia sendiri kecewa pada dirinya dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Danang maupun keluarganya. Apalagi setelah mengetahui ikatan persahabatan antara ayah dan papa.

__ADS_1


“Kalaupun Mas Danang mencerai ....”


“Sshh ... pamali,” potong bunda.


“Allah memang tidak mengharamkan perpisahan, tapi membencinya. Jangan sampai, Rei. Selagi masih bisa diperbaiki. Perbaikilah, Nak. Bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.” Tutur bunda.


**


“Come on ... let’s go!” Mas Danang menggandeng anak laki-laki yang mengenakan seragam sekolah preschool. Anak laki-laki yang kemarin ia lihat bersama Mas Danang.


“Yah, jangan yupa dijemputnya jangan telat. Oke!” Pesan anak berumur sekitar 3-4 tahun itu.


Ia melihat mereka begitu dekat. Begitu akrab. Siapa anak kecil itu?


Untuk menuntaskan rasa penasarannya ia mendekati mereka.


“Mas,” sapanya. Menatap penuh laki-laki yang begitu dirindukannya.


“Ak-aku ....”


“Siapa, Yah?” Tanya anak itu. Menatapnya dengan selidik.


Mas Danang berjongkok demi menyejajarkan tingginya dengan anak itu.


“Itu, Bunda ...  Sayang.”


DEG


Bunda?


“Gak, Yah ... atu gak punya Unda. Atu cuma punya Ayah.” Anak laki-laki itu menggeleng kuat. Menolak keberadaannya.


Seketika perasaannya hancur.


Inikah anak yang ia sia-siakan?


Anak yang pernah tidak diinginkannya!


Anak yang tak sudi ia kandung.


“Sayang ....” Ia turut berjongkok di sebelah Mas Danang.


“Ini ... Bunda,” ia menggapai bahu anaknya. Tapi anak itu menepisnya.


“Unda ke mana selama ini?”


“Unda gak sayang sama kami!”


“Atu gak punya Unda! ... atu cuma punya Ayah.” Anak itu malah menangis histeris dan ketakutan.


“Pelgi! ... go away! ... go away! ... atu gak punya Unda!”


“Sayang ... maaf ... maafin Bunda, Nak. Maaf ....” Ia bersimpuh ikut menangis tersedu-sedu saat Mas Danang dan anak itu berlalu meninggalkannya.


“Maaf ....”


“Maaf ....” Bahunya berguncang hebat.


“Bunda minta maaf,” sesenggukan ia meratapi kepergian mereka.


Matanya membelalak seketika. Bertepatan suara azan subuh yang berkumandang.


Ia meraup wajahnya. Dua kali mimpinya seperti nyata. Mimpi yang datang di waktu fajar.


Setelah melipat mukenanya, ia memakai hoodie warna merah marun kesukaannya. Berpesan pada Asti yang sedang di dapur untuk menyampaikan kepada baapu dan neene, jika dirinya keluar sebentar. Tidak lama.


Asti tampak mengangguk mengerti.


Pintu pagar dibuka Pak Husain, penjaga keamanan. Ia melajukan mobil perlahan meninggalkan halaman rumah. Membuka kaca jendela lebar saat melewati pos penjagaan.


Kini mobil melaju menyusuri Jalan Atje Slamet. Berhenti tepat di pinggir Pantai Blue Marlin.


Matahari belum sepenuhnya muncul. Ia mendekap tubuhnya sendiri. Menghalau dingin yang menyergapnya. Meski menggunakan hoodie tapi ia masih merasakan kedinginan.


Ia menatap matahari yang mulai muncul di atas horizon di sebelah timur. Yang memancarkan semburat cahaya kemerahan dan kekuningan. Sungguh sangat indah.


“Dusk and dawn (senja dan fajar),” gumamnya.


Bibirnya mengatup.


Tapi tidak dengan hatinya. Jiwanya. Perasaannya. Mimpi bertemu dengan anaknya yang membencinya membuatnya menjadi manusia yang paling nista.


Ia menyusut air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.


Forgive me.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2