
...18. You Raise Me Up...
Kenichi
Sedikit kecewa mendadak sang adik membatalkan kepulangannya. Padahal esok di hari ulang tahunnya yang kedua puluh lima, ia dan bunda berencana memberitahukan semua. Sebab mereka percaya Kirei akan bijak menyikapi dan bertindak setelah itu. Meski awalnya sang adik kecewa dan marah itu masih wajar menurutnya.
Pun dengan Bunda yang terlihat gurat kecewa atas pembatalan itu. Bunda sudah menyiapkan kue ulang tahunnya, bahkan memesan tumpeng nasi kuning.
Kebiasaan bunda setiap suami dan anak-anaknya ulang tahun. Membuatkan kue tart dan tumpeng nasi kuning. Lalu dibagi-bagi ke tetangga sekitar.
Tidak ada perayaan mewah. Maupun kado mahal. Hanya bertiga. Saling berpelukan, menguatkan, mendukung, dan memberikan support terbaiknya.
Dulu sebelum ayah meninggal, kebiasaan itu bahkan dilakukan jauh sebelum pulang ke Indonesia.
Kebiasaan selama lima tahun di Negeri Matahari Terbit itu pun selalu dilakukan. Membagi makanan ke tetangga apartemen.
“Kita ke Semarang aja, Ken,” usul Bunda sebab mubazir pikirnya kue tart sudah jadi, tumpeng nasi kuning pun sudah di pesan.
“Dia lagi liputan di luar kota, Nda” tukasnya. Meski sang adik mengatakan esok sudah pulang ke Semarang. Tapi bisa jadi? Mendadak feeling-nya tak enak.
“Besok pagi-pagi kita ke Semarang.” Titah Bunda.
***
Danang
Ternyata lagu menghentak, nge-beat, rock atau apa pun itu tak membuat gadis itu tahan dengan kantuknya. Terbukti setelah lagu Bon Jovi yang kedua usai, gadis itu terlelap juga.
Ia sengaja menghentikan mobil di pinggir jalan, mengatur posisi kursi agar bisa lebih nyaman. Menatap gadis itu lebih lama.
“Kirei Fitriya Tsabita,” gumamnya.
Lalu senyumnya mengembang sempurna. Mendadak hatinya berdesir. Ada perasaan menyelinap yang ia sendiri tak tahu apa namanya.
Tangannya terhenti di udara, saat gadis itu bergumam-gumam tak jelas dalam tidurnya.
“Dalam tidur saja, kamu masih ngigau. Apa yang sedang kamu pikirkan?” lirihnya dengan tatapan menyendu.
Perjalanan ia lanjutkan kembali setelah memastikan Kirei terlelap dan nyaman.
Hingga matahari sudah condong ke barat, mobil telah memasuki daerah kabupaten yang dituju. Tapi menurut GPS butuh sekitar 45 menit lagi sampai lokasi.
Mobil sudah memasuki jalan sepi, hanya satu dua kendaraan yang melewati. Bahkan jalanan berlubang di sana sini.
Dug.
Kepala gadis itu terantuk saat ban mobil masuk ke dalam lubang besar. Padahal ia sudah berusaha untuk menghindarinya. Kirei terbangun sambil bergumam, “udah sampai, ya, Pak?” Tanya Kirei sembari menegakkan badan menengok ke sisi jendela.
“Sorry ... jalanan rusak,”
“Kamu sampai terbangun.”
“Kayaknya lelap banget tidur saya, yaa ... hehe, maaf ngebiarin, Bapak nyetir sendirian ” ucap Kirei merasa tidak enak. Sekaligus malu.
Barangkali selama ia tidur ada liur yang menetes, “Ya, ampuunnn,” pekiknya dalam hati. Refleks mengusap ujung bibirnya. Namun seketika ia lega, tak ada bekas liur di sana.
__ADS_1
“Kamu lelap banget. Hampir dua jam.”
“Hah!” Gadis itu terkesiap. Perasaannya mengatakan baru sebentar ia terlelap.
“Kita bentar lagi sampai,” ujarnya.
Mobil memasuki kawasan hutan pinus milik perhutani. Sepertinya udara di luar lebih segar. Ia membuka kaca jendela.
Benar saja udara segar langsung menyeruak. Menyergap indra penciuman mereka.
“Segar banget,” gumam gadis itu seraya menghirup udara banyak-banyak lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
Plong.
Mobil belok ke jalan tanah yang belum tersentuh aspal. Hanya ada beberapa rumah saja, itu pun dengan jarak satu dengan yang lainnya cukup jauh.
“Bapak, yakin di sini rumahnya?” tanya gadis itu. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Sepertinya,” jawabnya agak ragu. Menurut anggotanya yang dulu pernah ke sini sewaktu mengambil sample DNA keluarga untuk dicocokkan dengan sample DNA korban alamatnya sama.
Tapi setelah tiba di lokasi. Bentuk rumah joglo dengan pagar hidup setiap rumah yang sama persis membuatnya bingung.
Ia terpaksa menghentikan mobil di bahu jalan.
“Sudah sampai, Pak?” tanya Kirei.
Ia menggeleng, lalu keluar mobil tanpa menjawab. Terlihat ia mendekati seorang pria paruh baya yang sedang duduk di teras rumahnya.
Tak lama ia pun kembali dan duduk di belakang kemudi. Melajukan mobil secara perlahan. Hingga pada deretan rumah yang paling ujung mobil berhenti, sebab jalan setapak tak memungkinkan mobil masuk.
“Kita sudah sampai,” tukasnya.
***
Duduk di bangku anyaman bambu yang warnanya sudah pudar, bahkan dengan gerak sedikit saja bisa menimbulkan suara berisik.
Kriyet...kriyet....
Ia meringis menatap laki-laki yang duduk di sampingnya. Dari tadi ia menahan hajat ingin buang air kecil. Tapi sungkan pada sang pemilik rumah yang tak kunjung menemui mereka.
Kata anaknya yang menerima mereka tadi, pak Giwok sedang di sawah belum pulang. Biasanya pulang sebelum azan maghrib.
Melihat ia yang seperti gelisah dan tak nyaman, Danang bertanya penasaran, “Kamu kenapa?”
Ia menggigit bibir dalamnya, “Saya ... saya kebelet pengen pipis, Pak.” Ucapnya tersipu.
Jelas laki-laki itu menahan tawa melipat bibirnya. Lekas bangkit dari duduk dan entah ke mana menghilang. Lalu datang bersamaan dengan anak Pak Giwok yang tadi menyambutnya.
“Mbaknya mau pipis?” tanya anak Pak Giwok, “mari ikut saya,” imbuhnya.
Ia bergegas mengekori gadis berambut panjang itu.
“Tapi, maaf jedhing-nya (kamar mandi) kayak gitu,” gadis bernama Wulan itu menunjuk sebuah kamar mandi dengan bangunan seng tanpa atap dengan tinggi sedada orang dewasa yang terpisah dari rumah utama. Tiba-tiba ia teringat meja kubikelnya, hampir mirip pikirnya.
Lega. Setelah hajatnya terpenuhi.
Kembali ia masuk ke dalam ruang tamu. Tapi sosok Danang tak terlihat di sana. Celingak-celinguk ia mencari keberadaannya, ternyata dia sedang merokok di pojok teras.
__ADS_1
Senja telah menghilang, berganti malam. Lampu-lampu penerangan dengan minim pencahayaan sebab rata-rata penduduknya menggunakan lampu bohlam dengan bias kekuningan. Di dukung rumah-rumah joglo yang berdinding papan kayu natural membuat suasana semakin dalam keremangan.
Pak Giwok dan sang istri tepat pulang saat azan maghrib berkumandang. Letak sawah yang jauh dari kediamannya membuatnya agak pulang terlambat dari biasanya. Sebab di sawah sedang tahap penggaruan (bajak) sebelum tanam bibit.
Keramahan Pak Giwok dan keluarganya saat menyapa mereka dan menjawab pertanyaan yang ia ajukan tak perlu diragukan lagi.
“Jadi adik Bapak yang bernama Narni itu ke Semarang setelah menikah dengan suaminya?” tanyanya dengan menyesap teh tubruk yang disajikan dalam cangkir lurik yang masih mengepulkan asap tipis.
“Ya ... mereka pergi ke kota, katanya mau memperbaiki hidup di sana. Nyatane, kok kaya kue dadine. Kepriwe ndean? (ternyata, kok seperti ini jadinya. Bagaimana coba?)”
“Satu bulan setelah menikah tepatnya. Mereka pamit pergi ke Semarang. Mau kerja di pabrik sepatu. Beberapa kali mengirim kabar, saat hamil. Terus saat melahirkan anak perempuannya. Dia juga cerita anaknya ia beri nama Aluna. Tapi saat kelahiran anaknya itu suaminya di PHK. Ia pun sudah tidak bekerja sejak hamil tua.”
Ada gurat kesedihan terpancar pada wajah tua Pak Giwok. Apa lagi mengetahui sang keponakan meninggal dengan cara tragis dan sangat menyedihkan. Bahkan istri Pak Giwok tak kuasa membendung tangis.
Tapi menurut pengakuannya, ia tak menyangka jika ponakannya itu akan dititipkan pada yayasan yang tak jauh dari kontrakkan adiknya. Padahal sebelum keberangkatannya ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan sawit Narni tak menyinggung soal itu.
Pikirnya keponakannya akan dibawa serta.
Nahas, sang ponakan harus mengalami takdir yang mengerikan. Sudah bernasib menjadi bayi malang saat berumur 4 bulan harus ditampung di yayasan, lalu dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua sebab keduanya meninggal karena bus yang ditumpangi menuju Sumatera mengalami kecelakaan.
Padahal Pak Giwok masih mampu jika sekedar menampung keponakan untuk hidup bersamanya.
Ya, hidup pas-pasan seperti yang ia ceritakan. Makan dengan singkong rebus bersanding sayur bobor bayam hasil petik di kebun sendiri seperti malam ini yang disajikan di atas meja untuknya.
Hubungan darah itu lebih kental dari pada air. Apa pun kondisi dan situasinya, keluarga tempat kembali pulang. Keluarga akan menyokong kita, memberikan kita kekuatan dan perlindungan. Begitu pula yang terjadi pada keluarga Pak Giwok.
Hampir tiga jam mereka melakukan sesi tanya jawab dengan santai tanpa intimidasi, mengalir begitu saja.
Waktu bergerak begitu cepat. Ia kembali memasukkan buku catatan, kamera, recorder ke dalam tas punggungnya. Berniat untuk mengakhiri dan pamit.
Tapi sepertinya semesta sedang tak berpihak pada mereka. Gemuruh dan kilat petir menyambar sedari tadi. Pun hujan jatuh membasahi bumi dengan begitu derasnya.
Berlarian mereka menuju mobil.
-
-
Catatan :
DNA adalah deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat. DNA merupakan materi genetik yang menentukan sifat dan karakteristik fisik seseorang. Manfaat tes DNA atau tes genetik bukan hanya untuk mengetahui garis keturunan atau identitas seseorang, melainkan juga untuk mendeteksi penyakit tertentu. (Sumber: Alodokter.com)
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberi dukungan....ya! 🙏
__ADS_1