
...76. Aku Bukan Paranormal...
Danang
Ia melajukan mobil mengarah ke kota atas. Sesuai pembicaraannya dengan seseorang yang telah diteleponnya beberapa saat lalu.
Kirei yang duduk di sebelahnya masih terdiam. Pandangannya lurus, kadang ke samping kaca jendela.
Ia menghela napas. Mood istrinya benar-benar susah diprediksi. Tadi malam mereka sempat mengurai rindu. Tapi dengan cepat kembali ke mode dingin dan jutek.
“Ini ke mana?” Tanya Kirei yang melihat sekeliling pepohonan pinus dan palem berjajar rapi. Sepertinya Kirei belum pernah kesini.
“Pasti nanti kamu juga tahu,” sahutnya sambil menerbitkan senyum. Semanis mungkin.
“Mas, jangan main teka teki. Aku lagi gak mood!” Seru Kirei.
Ia bergeming. Terus melajukan mobil hingga tiba di depan sebuah bangunan.
“Ayo, turun.” Ajaknya. Melihat Kirei masih berdiam diri melihat sekeliling.
“Rumah siapa?” Tanya Kirei menatapnya penasaran. Tapi ia tak menjawabnya.
Justru malah melempar senyum. Lalu membantu melepas seat belt istrinya. Mencondongkan tubuhnya lalu berbisik, “Nanti aku kasih tau.” Memanfaatkan jarak yang begitu lekat dengan mengecup sekilas pipi Kirei.
Kirei memutar bola matanya malas. Namun pada akhirnya istrinya turun juga.
***
Kirei
Ia tidak tahu dibawa ke mana oleh suaminya. Sempat berkata mengajaknya ‘pulang’ tapi ternyata bukan pulang ke rumah yang ia maksud.
Entah rumah siapa. Yang jelas terlihat masih bangunan baru. Dan ia sama sekali belum pernah ke daerah sini.
Ia mengekori laki-laki itu di belakangnya. Ketika turun dari mobil tadi angin sepoi-sepoi langsung menerpa tubuhnya.
Terlihat kota Semarang di bawah sana. Sebab ia sedang berada di kota atas. Dataran tinggi yang lebih sejuk. Masih segar udaranya. Dan yang pasti bebas banjir. Mungkin kalau suasana malam lebih indah dan romantis. Bisa memandang gemintang dengan bebas tanpa penghalang. Serta di bawah sana lampu menyala kerlap kerlip. Bibirnya merekah membayangkan itu.
Kakinya terus melangkah melewati pintu pagar yang telah terbuka sedari tadi. Ada garasi luas yang bisa menampung 2 mobil. Lalu carport yang berlantai batu alam dan tanaman rumput di sela-selanya. Di sebelah kanan ada taman yang langsung menyambung ke bagian teras depan. Lantai taman berselimut rumput gajah mini. Ada pohon Ketapang Kencana yang tingginya mungkin seperti tinggi suaminya. Di ujung berbatasan dengan pagar tembok terdapat kolam ikan.
Ia terpesona sesaat. Langkahnya terus menyusuri batu alam yang ditata sebagai jalan setapak menuju teras depan.
“Silakan Ibu Komandan,” Danang berdiri di ambang pintu utama yang terbuka lebar.
Ia mencebik, “Mas Danang belum jelasin sama aku.” Gerutunya dengan kaki yang terus berjalan melewati laki-laki itu. Ia tak peduli.
Laki-laki itu malah terkekeh. Ia semakin kesal.
Suasana di dalam lebih adem. Ia mendongak. Menatap langit-langit plafon bangunan yang tinggi terbuat dari material kayu. Lampu gantung chandelier yang menjuntai indah berbalut kristal.
Rumah dua lantai dengan jendela kaca yang besar membuat penerangan bebas masuk saat siang hari. Selain itu juga terlihat lapang, modern dan elegan.
Matanya mengedar ke sekeliling ruang tamu yang simpel. Hanya berisi sofa panjang dan sofa tunggal dengan bentuk bulat.
Danang menariknya untuk melangkah lebih dalam. Memasuki ruangan yang sepertinya ruang keluarga. Namun masih kosong di sana. Ia bisa langsung melihat dapur dan meja makan yang menyatu di ujung ruangan tanpa sekat.
“Mas ....” Ia sudah tidak tahan untuk tidak mengunci mulutnya. Rasa penasarannya semakin menuntut kejelasan. Danang masih terdiam.
Dari ruang tengah ia bisa langsung ke teras belakang. Menggeser pintu kaca dengan sekali tarik. Matanya langsung menangkap hamparan pohon hijau di hadapannya. Ia menunduk ke bawah, di sana ada sisa tanah yang lumayan cukup luas.
Ia mendekati railing balkon kaca. Menggenggam erat batang stainless sebagai tumpuan. Lalu memejamkan mata sejenak. Ia menghela napas perlahan. Merasai udara segar yang masuk dalam paru-parunya. Yang beberapa saat lalu sesak akibat terdesak beban perasaan yang entah ia sendiri sulit menjabarkannya.
Hingga tak menyadari laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya. Melingkarkan tangannya di perutnya.
“Kamu suka?” Tanya Danang seraya mendaratkan dagu di pundaknya.
“Rumah kita,”
“Hadiah anniversary pernikahan kita yang pertama.” Tukas Danang. Mengecup bahu dan kepalanya.
“Mas ....”
Tiba-tiba hatinya berdesir. Ia mengusap lengan yang masih melingkar di perutnya. Lalu berbalik memutar tubuhnya menghadap laki-laki itu.
“Terima kasih,” ucapnya. Berjinjit lalu memberikan kecupan sekilas di pipi laki-laki itu.
“Ini terlalu mewah.”
“Terlalu berlebihan ....” Sambungnya.
Laki-laki itu menggeleng.
“Untuk kamu tidak ada yang berlebihan. Semua sudah sesuai porsi. Aku sudah pertimbangkan dan pikirkan sebelumnya.”
“Ini semua pantas. Untuk kamu. Istri aku yang paling cantik. Paling segalanya ....”
Ia langsung menyergah, “Jangan gombal!” Semburnya. Matanya membola memberikan ancaman.
Danang terkekeh, “Biasanya wanita paling senang digombalin. Dipuji dan disanjung.”
“Kecuali aku!” tolaknya cepat dan tegas. Ia bukan wanita dari sekian itu.
“Tapi beneran ini bukan gombal. Suer!” Danang merengkuhnya.
__ADS_1
Ia membalas melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki itu.
Jeda sejenak. Hanya suara desau angin yang terdengar.
“Kamar kita tepat di atas. Mau lihat?”
Ia mengangguk.
**
Rendra
Sabtu ini ia berencana menemui seseorang yang acap kali mengganggu pikirannya. Mumpung weekend pikirnya. Itu artinya ia bebas tugas. Tugas negara dan harusnya tugas dari atasannya juga.
Tapi harapan itu seketika pupus manakala ia mendapat telepon dari atasannya.
“Ren ... tolong siapkan rumah kota atas sekarang juga.” Itu perintah melalui telepon tadi pagi saat ia masih bermimpi. Bertemu pujaan hati sang dokter gigi. Yang dijumpainya saat ia memeriksakan gigi di Rumah Sakit Kariadi.
Sayang, untung tak dapat diraih. Malang tak dapat di tolak. Mimpinya seketika lenyap bersamaan dengan titah sang pimpinan kekuasaan.
Dengan malas ia menghubungi pihak jasa cleaning service panggilan. Bukan itu saja, selang beberapa menit kemudian panggilan berikutnya kembali masuk.
Dengan berat ia menggeser ikon hijau dilayar ponselnya lalu menyahut, “Ya, Mas.”
“Pastikan jam 12 sudah siap. Bersih. Wangi dan rapi. Ruang tamu isi dengan sofa yang menurutmu cocok dan bagus.”
“Jangan lupa, kamu cek setiap sudut.”
“Kamar utama jangan ketinggalan. Aku berencana menginap di sana nanti malam. Dekor seromantis mungkin. Anniversary pernikahan yang pertama tidak boleh gagal.”
“Pokoknya ....” Atasannya masih mengoceh di ujung sana. Entah apa yang dibicarakannya.
Ia menjauhkan telepon itu. Telinganya panas. Sebab rencana pedekate dengan si pujaan hati harus kandas.
“Gagal maning ... gagal maning!” gerutunya seraya bangkit dari kasur.
Pagi itu ia mengarahkan mobilnya ke kota atas. Namun sebelum ke sana ia harus berkeliling mencari kebutuhan untuk mengisi kamar utama atasannya.
Oh my gosh!
Apa ia sekarang menjadi seorang paranormal?
Ia harus meraba-raba. Kebutuhan macam apa yang pasti harus tersedia untuk kamar pengantin. Oh bukan, bukan ... ralat! Sepasang pengantin lama yang akan berbulan madu tepatnya.
Jangankan bulan madu. Statusnya sendiri saja masih abu-abu. Semenjak dikatakan baligh ia pernah beberapa kali pacaran. Dan juga gagal di tengah jalan.
Ternyata menyandang pegawai negeri sipil di lingkungan Polri tak serta merta meningkatkan performanya.
Ia menghela napas.
Tiba di sana para pegawai cleaning service panggilan itu telah memulai pekerjaannya. Tadi ia sempat menyerahkan kunci cadangan sebelum bergegas ke toko mencari kebutuhan lainnya.
Dengan dibantu 5 orang akhirnya pekerjaan itu tuntas. Ia bisa tersenyum lega. Untuk terakhir kali menjelang kedatangannya, sang atasan menelepon,
“Ren bagaimana?”
“Beres, Mas!”
“Thanks, Ren ....”
**
Kirei
Ia menapaki anak tangga satu persatu menuju lantai 2. Di sana terdapat 3 kamar tidur. Ruang santai dan tetap mengandalkan kaca besar sebagai ventilasi dan penerang alami di kala siang hari.
Danang membuka pintu kamar utama.
Ia mengernyit. Masih berdiri di ambang pintu.
“Welcome to the our bedroom .... (selamat datang di kamar tidur kita)”
“Gak salah?” Sahutnya. Suasana kamar temaram. Semua korden tertutup rapat. Hanya pantulan dari lampu tidur di atas nakas.
Bau aroma terapi dari nebulizer langsung menyeruak. Menerobos indra penciumannya.
Danang ikut mengerutkan dahi melihat ekspresinya datar saja, “Gak suka?”
“Memangnya kita mau ngapain di sini?” Ia masuk ke dalam melewati laki-laki itu. Matanya melihat taburan kelopak bunga mawar merah membentuk simbol ‘love’ di atas seprei berwarna abu bergaris diagonal putih. Senada dengan korden yang juga berwarna abu-abu.
Ada sepasang angsa yang saling berciuman dari kreasi handuk. Lalu sebuah kotak bertuliskan 'Victoria’s secret'. Matanya terpaku pada kotak itu.
Danang memeluknya dari belakang.
“Untuk kamu,” padahal laki-laki itu tidak tahu menahu soal desain kamar dan kotak yang tergeletak di atas kasur. Ternyata Rendra dapat diandalkan pikirnya. Ia harus memberikan Rendra bonus.
“Mas ....” Ia memutar tubuhnya menghadap Danang. Merenggangkan pelukan.
“Tahu gak kenapa aku uring-uringan?” Tanyanya.
“Kenapa aku malas seharian ini?”
Laki-laki itu terdiam.
__ADS_1
“Aku cuma pengen satu.”
“Pengen dimengerti ... that’s it,” tukasnya.
“Tapi kayaknya Mas Danang gak ngerti dan gak peka!” Nadanya berubah sedikit naik.
“Gak usah repot-repot kayak gini! Pasti Mas Danang nyuruh Rendra buat ini semua. Ya, kan?!” Tebaknya dan desaknya tepat sasaran.
“Duh ... aku malu jadinya sama Rendra. Masa Rendra yang beliin itu,” dagunya menunjuk pada kotak tampak mewah yang harganya pasti sesuai rupa.
Ia masih bergeming. Mendengarkan istrinya yang sepertinya sedang mengeluarkan uneg-uneg. Dan kekesalannya.
“Terserah Mas Danang deh, aku ... aku masih bad mood. Masih males ....”
Laki-laki itu terlihat mengernyit.
“Kalo gitu, aku minta maaf ....” Jurus andalan yang pernah Banuaji ajarkan. Pokoknya salah tidak salah seorang laki-laki harus meminta maaf untuk melunakkan hati wanita kalau sedang kesal.
“Aku bukan paranormal. Yang bisa tahu mau kamu apa tanpa bertanya.”
“Sementara kamu juga diam. Gak mau cerita.”
“Sayang ... aku lebih suka kamu banyak omong. Cerewet kayak ibu-ibu di pasar kalo lagi nawar belanjaan.”
“Jadi aku ngerti, gak diem kayak gini.” Tandas Danang.
Ia menipiskan bibirnya. Lalu berputar kembali menjauhi Danang, menuju jendela. Menyibak korden. Sorot matahari dari luar langsung menerangi kamar. Ia menatap keluar kaca jendela.
“Pokoknya aku mau Mas Danang jaga jarak dengan perempuan mana pun.” Ia berbicara membelakangi laki-laki itu.
“Mau sama mantan yang statusnya janda,”
“Miss exactly yang statusnya pengacara,”
“Atau siapa pun perempuan di luaran sana yang suka dan mendekati Mas Danang.”
“Tidak ada mereka dalam hubungan kita!”
“Kecuali ....”
“Kecuali siapa?” Danang menyahut dengan tetap berdiri di tempatnya semula.
“Kecuali Mama, Bunda, Bi Darmi, si Jum, Ganisha, Gayatri, Gemala, dan para janda tua yang perlu dikasihani.” Jelasnya.
Laki-laki itu tergelak keras. Berjalan mendekatinya.
“Rupanya ada yang cemburu.” Danang merangkul pundaknya.
Ia menyangkal, “Bukan cemburu tapi untuk mengantisipasi.”
Danang mengatupkan bibirnya. Menahan tawa yang hendak meledak. Meraih bahunya dan memutar posisinya menjadi saling berhadapan.
“Oke ... oke. Take my word for it (pegang janjiku). Hanya ada Kirei Fitriya Tsabita seorang di sini,” Danang meraih tangannya lalu menempelkan di dada laki-laki itu. Mata mereka saling bersitatap. Kemudian punggung tangannya dikecupnya. “Juga disini ....” Tangannya dibawa ke atas kepala laki-laki itu. “Dan terakhir ... di sini ....” Seketika ia melotot ketika tangannya menyenggol sesuatu di bawah sana,
“Mas!!” Pekiknya.
-
-
Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungan atas karya ini ... 🙏.
__ADS_1