Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
71. Dopamin


__ADS_3

...71. Dopamin...


Kirei


Pesawat yang ia tumpangi telah mengudara di ketinggian 33 ribu kaki. Lebih tinggi dari puncak Gunung Everest yang hanya 29.029 kaki. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai tujuannya yaitu Jakarta.


Sehari sebelumnya, ia bertemu dengan anak-anak TVS. Aldi, Anisa, Oka dan Mas Budi. Mereka menghabiskan waktu di tempat karaoke hingga tiga jam lamanya.


“Kamu nanti satu kantor sama Anton.” Ucap Aldi. “Paling tidak ada teman lama di sana, jadi kamu tidak sendirian,” lanjutnya. Lalu Aldi mengambil salah satu minuman kaleng bersoda yang berjejer di meja depan mereka. Membukanya lalu menegak isinya beberapa kali.


Anisa dan Oka masih bersenandung walau terdengar sumbang. Menyanyi dengan gaya kocak ala mereka sambil berjoget. Membuat tawanya meladak di udara.


Hareudang hareudang hareudang


Fanas fanas fanas


Syelalu syelalu syelalu fanas dan hareudang


“Jangan khawatir, Rei. Di mana pun kita berada ikatan jurnalis itu kompak.” Budi menambahi, “aku bangga kenal sama kamu.” Pria itu tersenyum padanya.


“Mas Budi bisa aja,” sahutnya tersipu. “Malah Rei yang beruntung banget punya temen-temen kayak kalian.”


Hareudang hareudang hareudang


Fanas fanas fanas


Syelalu syelalu syelalu fanas dan hareudang


-Kalia Siska-Hareudang-


“Kalian nyanyi apa sih?” tukas Aldi ketus. Justru disambut gelak tawa mereka.


Tak terasa pesawat telah mendarat sempurna. Ia telah tiba di bandara Soekarno-Hatta. Kini taksi yang membawanya sudah tiba di apartemen. Tepatnya di daerah Slipi Palmerah.


“Aku udah sampai Mas,” ucapnya di saluran telepon. Memberitahukan pada Danang bahwa ia telah berada di apartemen.


“Coba lihat,” laki-laki itu telah mengubah panggilan telepon menjadi video call.


Ia bisa melihat suaminya itu tengah berada di dalam mobil yang tengah melaju. Mengenakan seragam cokelat. Awalnya laki-laki itu bersikeras hendak mengantarnya sampai Jakarta. Tapi akhirnya hanya sampai bandara Ahmad Yani saja. Sebab ia mendadak mendapat panggilan Kapolda.


“Bagus,” komen laki-laki itu setelah ia menyorotkan kamera ke sekeliling kamar tipe studio yang ditempatinya.


“Kamu istirahat aja, baru besok, kan mulai kerja?”


“Sesuai kontrak sih, iya.”


“Take good care of your self (jaga diri baik-baik).”


“All the best to you (doa terbaik untukmu),”


“I miss you (aku merindukanmu) ....”


Ia tersenyum menatap wajah laki-laki itu. Dan mereka harus mengakhiri video call sebab mobil Danang telah terparkir di area Mapolda.


“Mas Danang hati-hati ya, jaga kesehatan. Miss you too.” Kalimat terakhirnya sebelum benar-benar sambungan video call itu terputus.


Ia menghela napas. Menyimpan ponsel di atas meja kaca yang langsung bersisian dengan jendela kaca. Menyibak korden berwarna cokelat muda. Ia menengadah. Suasana langit Jakarta begitu cerah dari kamar lantai 26 yang dihuninya.


Lalu menata barang-barangnya yang ia simpan di lemari sisi ranjang, yang tinggi menjulang hingga langit-langit kamar. Percis apartemen yang ia sewa dulu sebelum menikah dengan Danang. Hanya saja furnitur dan fasilitasnya lebih lengkap. Dapur minimalis bergabung dengan kitchen set, lemari es dua pintu serta dispenser yang menyatu di dalamnya. Terdapat juga microwave di sana.


Ponselnya berbunyi nyaring. Tampak nama Gemala yang tertera.


Sedikit ragu. Apa benar Gemala yang meneleponnya. Semenjak acara pertunangan Gayatri ia tidak pernah berhubungan dengannya.


Panggilan pertama telah berhenti. Namun beberapa detik kemudian panggilan kedua masuk kembali.


“Ya, Mala ....” Sahutnya.


“Mbak Rei,”


Ia mengerutkan alis, suara Gemala terdengar aneh. Tergesa-gesa dan ....


“Mala minta tolong, sampaikan ke Mas Danang. Mala cancel ke Palembang. Jadinya ke Jambi. Tadi ngubungi Mas Danang tapi gak diangkat.”


“Mungkin beberapa hari Mala gak bisa di hubungi sebab ....”


Tut ....


Sambungan telepon terputus. Ia menatap layar ponselnya. Menunggu, berharap Gemala meneleponnya kembali. Tapi sudah lima menit berlalu, tak ada tanda-tanda. Ia mencoba menelepon Mala, namun nihil. Di luar jangkauan.


**


Kirei


Pagi ini ia berangkat ke kantor Emtek di daerah Senayan City dengan memesan ojeg online. Ia memilih armada itu sebab menurutnya lebih cepat. Meski risikonya ia harus menghirup dan di kelilingi polusi dari asap kendaraan yang bergerak pelan akibat terjebak macet.


Namun laju ojeg yang ditumpanginya terus bergerak bebas hambatan. Menerobos beberapa kendaraan roda empat yang berjalan melambat bahkan tersendat.


Tadi malam, ia kembali menelepon Danang melalui sambungan video call. Hanya memastikan laki-laki itu sudah makan apa belum. Tapi malah melebar ke mana-mana. Bahkan keberadaan Gemala ternyata menyangkut penelitiannya.


“Beneran Mala gak apa-apa, Mas? Di sana sendirian?” Ia memastikan keraguannya. Sebab Mala anak gadis yang selalu terpenuhi keinginannya. Manja. Dan dia tidak pernah hidup susah. Bagaimana gadis itu harus tinggal di hutan dan berpindah-pindah pikirnya. Ia sendiri bahkan belum bisa membayangkan.


“Aku sudah meminta tolong teman di sana. Untuk membantunya.” Ucap Danang.

__ADS_1


Ia sedikit lega mendengar itu.


“Tidurlah ... sudah malam,”


“Belum ngantuk,” sergahnya. Padahal matanya sudah berat, tapi ia ingin berlama-lama menatap laki-laki yang tengah duduk di balik meja kerjanya itu.


“Beneran udah makan?” tanyanya kembali entah yang ke berapa kali.


“Sudah, sama Rendra.”


Ia menatap lama laki-laki itu yang juga tengah menatapnya.


“Kangen,”


Ia beringsut dari sandaran kepala ranjang. Menjadi tiduran. Menyimpan ponsel bersandar pada bantal agar tetap tegak berdiri menyorotnya. Lalu berbaring miring menghadap ponsel yang menampakkan suaminya di sana.


“Temeni Rei, tidur ya, Mas ....” Pintanya.


“Tidurlah, aku temani dari sini.”


“Pekerjaan apa sih, yang membuat suami aku jam segini masih di kantor?” Gila, rasanya kalau ia jadi laki-laki itu tak akan sanggup. Jam kerja yang tak kenal waktu. Sekarang saja jam 11 malam masih berkutat di kantor.


Danang terkekeh mendengarnya.


“Mas Danang jangan sering begadang,”


“Harus tetep jaga kesehatan. Rei gak mau Mas Danang sakit saat kita jauhan.”


“Nanti siapa yang jagain?”


“Siapa yang ngerawat, coba?!”


Hening sesaat.


Ia menatap wajah teduh itu dengan sorot rindu, “Pengen peluk, cium ....”


Laki-laki itu langsung tergelak mendengarnya.


Ia yang mungkin dihinggapi rasa kantuk berat tak sadar mengucapkan itu. Sebab beberapa kali ia mengoceh diselingi dengan menguap. Hingga tak sadar ia terlelap begitu saja. Dengan layar yang masih menampilkan sosok Danang di sana.


“Mbak udah sampai,” suara abang ojeg membuyarkan ingatannya tadi malam.


Ia menemui resepsionis. Ternyata kehadirannya telah ditunggu. Resepsionis itu mengantarkannya ke lantai 8. Dan dirinya dipersilakan untuk menunggu di salah satu ruangan.


Seorang laki-laki tampak mendorong pintu kaca. Seketika ia berdiri dan menatap laki-laki itu.


“Mas Anton?” Ia sedikit terkejut pertemuannya dengan Anton mantan seniornya di TVS.


Anton mengulurkan tangannya, “Apa kabar, Rei?” Pria itu melempar senyum padanya.


Anton terkekeh, “Pasti Aldi yang ngasih tau,” tebaknya.


“Cuma, gak nyangka secepat ini. Emtek besar. Aku gak tau Mas Anton di divisi apa.”


“Ayo kita duduk, dulu.” Sergah Anton. “Keasyikan ngobrol, sampai lupa.”


Ia duduk di seberang Anton. Sementara wanita di sebelah pria itu terlihat memperhatikannya. Duduk di sebelah Anton.


“Oya, perkenalkan ini Asisten Produksi, Nana.”


Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangannya. Ia sigap menyambut dan menjabat tangan Nana, “Kirei.”


“Jadi sebentar lagi, kita akan meeting bahas program yang akan kamu bawakan.” Lanjut Anton.


“Kamu sudah pelajari program yang di kirim bagian produksi, kan?”


Ia mengangguk.


Meeting berjalan selama hampir 2 jam setengah. Ia baru tahu jika Mas Anton menjadi produser program yang akan dibawakannya.


“Gimana, Rei sudah siap?” Tanya Mas Anton setelah mereka usai melakukan meeting. Sebagian orang telah meninggalkan ruangan.


“Siap, Mas.” Jawabnya.


“Aku harap program kita sukses. Dan aku yakin kamu bisa membawa program ini go public dan mendapat tempat di hati penonton.” Pungkas Anton.


Sore harinya ia langsung mempelajari naskah perdana yang akan tayang besok pagi. Meski program yang dibawakan sebagian off air dan sebagian lagi on air. Tapi membaca script itu wajib baginya sebagai seorang host.


Bertempat di lantai 8 di dalam ruangan yang tak jauh dari meeting tadi. Ia duduk sembari menekuri beberapa berkas di depannya.


**


Danang


Tadi malam setelah melakukan video call dengan Kirei sampai istrinya itu terlelap. Ia langsung melesat ke TKP. Yang pasti ocehan gadis itu meningkatkan hormon dopaminnya. Dan tentu membuatnya lebih bersemangat.


“Pengen peluk, cium ....”


Ia menggeleng seraya mengulum senyum mengingatnya. Kirei tidak pernah mencurahkan keinginannya seintim itu.


Tiba di lokasi ia lekas turun. Beberapa tersangka yang diamankan berjejer menghadap dinding tembok dengan tangan terangkat ke atas. Diskotik Highlight.


Operasi Antik Candi selama satu bulan digelar telah merazia banyak korban dan pengedar. Baik pengguna, pengedar kelas teri, bahkan gembong narkoba yang ditangkap beberapa waktu lalu.

__ADS_1


“Lapor Komandan. Tersangka berjumlah 10 orang, positif. Tujuh pria, tiga wanita.” Laporan Kasatresnarkoba.


“Bawa mereka ke markas. Lanjutkan penyelidikan lebih dalam.” Titahnya.


“Siap. Laksanakan!”


Ia memperhatikan satu persatu para tersangka yang digiring masuk ke dalam mobil patroli. Tiga wanita dan tujuh pria. Tapi seketika dahinya berkerut saat melihat satu sosok yang dikenalnya.


***


Aldi


Tiga bulan terakhir ia lebih sering melarikan diri ke tempat hiburan malam. Entah apa yang membuatnya betah berteman dengan dunia tersebut.


Bukan sekedar hanya mencicipi minuman beralkohol. Tapi ia sudah melangkah lebih jauh dari itu. Ia merasa setelah mengonsumsi barang itu. Pikirannya rileks. Tubuhnya ringan. Dan seketika beban pikiran hilang.


Ya, ia telah terjerat dengan benda laknat dan haram.


Tatkala menghadapi kenyataan bahwa gadis yang dicintainya telah menjadi istri orang membuat dunianya terhempas. Meski ia menerima dan berusaha lapang dada. Tapi ia butuh teman untuk mengenyahkan gadis itu dari hati dan pikirannya.


Adalah alkohol dan benda haram itu menjadi teman akrabnya akhir-akhir ini.


Ia tahu apa yang diperbuatnya adalah salah.


Hingga sesaat yang lalu, ia di telepon seseorang yang terbiasa memberikan barang haram tersebut untuk menjemputnya di kafe dekat diskotik Highlight. Sebab sudah satu minggu yang lalu ia memesan barang tersebut.


Keduanya bertransaksi di dalam mobil di area parkir kafe.


“Nih,” orang itu menyodorkan sesuatu yang terbungkus dalam kertas bekas.


Ia menukarnya dengan sejumlah uang.


“Selamat bersenang-senang ... tapi, ingat pesanku.” Kata-kata orang itu sebelum keluar dari mobilnya. Ya, ia tidak boleh menyeret namanya apabila ia terciduk polisi.


Dengan gerakan cepat dan terburu, ia lekas membuka bungkusan kertas itu. Di dalamnya terdapat bungkusan plastik klip berukuran kecil berisi serbuk putih.


Ia membuka plastik itu dengan tangan bergetar. Dan bersyukurnya terbantu dengan pencahayaan minim dari luar. Sebab tidak mungkin ia melakukan aktivitas ini di dalam mobil dengan pencahayaan terang. Bisa mengundang kecurigaan orang-orang.


Semua berjalan lancar. Proses pembakaran benda itu sempurna. Hingga akhirnya ia bisa menghisap asap memabukkan itu dengan lega dan puas. Tubuhnya kini merasakan gairah semangat dan euforia.


Ia lekas membereskan alat bantu hisap tersebut. Menyimpannya dalam plastik hitam. Memasukkan dalam tas kecil dan menyimpan di bawah jok mobil.


Semua aman.


Mobil melaju dan berhenti tepat di depan diskotik Highlight. Ia melesat masuk ke dalam tempat hiburan malam itu. Merasakan tubuhnya yang ringan. Perasaan membuncah bahagia. Ia duduk bersama teman-teman yang baru dikenal beberapa bulan ini.


“Baru dateng, lo?!” Sapa salah satu temannya. Ia hanya membalas dengan mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama musik yang keras, memekakkan telinga.


Namun baru akan menegak segelas minuman berwarna merah, ia dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang berpakaian preman. Ia dan yang lainnya langsung digiring berkumpul di pojok ruangan dengan kedua tangan berada di atas tengkuk leher.


Musik langsung berhenti. Terganti suara gaduh dari petugas dan beberapa pengunjung yang protes.


Ia baru menyadari jika mereka adalah polisi.


Degup jantungnya seketika berdebar hebat. Berirama cepat dan tak menentu. Wajahnya pias. Jelas ia takut. Ia resah. Gusar dan keringat dingin langsung menyergap.


Tubuhnya di periksa oleh salah satu petugas berpakaian preman. Semua bagian tak terkecuali. Bahkan ia harus melepas sneakers  dan kaos kakinya.


“Lanjut ....” Ucap salah satu petugas polisi yang memakai seragam cokelat.


Tak menemukan benda mencurigakan ditubuhnya. Lalu ia digiring ke ruangan lain. Di sana ia ditanya tentang hal pribadi seperti nama apakah sesuai dengan kartu tanda pengenalnya. Dompet dan ponselnya telah disita petugas.


Ketakutannya kian menyeruak mendesak hormon dopamin yang sedang naik-naiknya langsung terjun bebas. Terhempas bahkan tak membekas. Ternyata benda laknat itu tak bisa menolongnya dari rasa ketakutan yang mendera.


Ia di giring ke kamar mandi di ujung ruangan. Setelah diberi petugas sebuah botol kecil untuk menampung air seninya.


Pasrah. Berharap keajaiban berpihak padanya.


Tetapi, tindakan yang tidak dibenarkan tetaplah kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan. Apa pun, ia harus menerima risiko itu.


Ia kini digiring oleh petugas masuk ke dalam mobil patroli.


-


-


Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2