
...111. I love You, Kakak Baik...
Kirei
Ia baru saja duduk setelah kembali dari ruangan meeting jurnalis. Undangan ITA berwarna emas telah mendarat di mejanya. Ia mengusap sampulnya. Di sana tertera,
Kirei Fitriya Tsabita
Jurnalis TVS
Lalu membuka undangan tersebut. Namanya tercantum dalam nominasi public figure inspiratif terpopuler. Di mana namanya bersanding dengan nama-nama populer lainnya. Ada 5 nama yang tak asing. Semua punya keunggulan dan karakter masing-masing. Siapa pun pemenangnya itulah bentuk penghargaan dari kerja keras.
Kemudian ia menutup undangan itu kembali. Menyimpan ke dalam tasnya.
Kriiiiing ....
“Rei, tolong kamu take over si Yasmin nanti siang. Dia mendadak harus pulang ke Jogja. Pagi ini ibunya baru saja meninggal.” Suara Pak Rahmat melalui interkom kantor.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ia terkejut begitu mendengar berita itu dari atasannya. Pasalnya tak ada kabar apa pun sebelumnya.
“Jam 11.30. Live.” Imbuh Pak Rahmat.
Hening sesaat. Yasmin news anchor Seputar Jateng mendadak off. Jadi ....
“Rei,”
Sementara siang nanti Danang menghadapi sidang tesis.
“Rei,” panggil Rahmat lagi.
“Eh ... i-iya, Pak.”
“Oke. Thanks, Rei.”
“Em ... Pa-pak?”
Tut ... tut ... tut
Huft.
Ia mendesahkan napas ke udara. Sedangkan ia sudah berjanji dengan Danang untuk menemaninya, memberikan support saat laki-laki itu menghadapi fase penting dalam hidupnya. Lalu ia disuruh menggantikan Yasmin menjadi news anchor bertepatan dengan itu. Sungguh ia dilema dan bingung. Ia tidak bisa menolak dua-duanya. Pun, juga tidak bisa menghadiri dua-duanya. Pilihan yang sulit.
Ia bergegas menghampiri Oka di bilik kubikelnya.
“Ka, emang gak ada, ya pengganti Yasmin?” tanyanya masih berdiri di depan kubikel pria berkaca mata itu.
“Hah?” Oka menengadah, menatapnya.
“Yasmin?”
“Kenapa, Yasmin?” Oka justru balik bertanya.
Ia menaikkan alis sebelah, “Lho, lo gak tahu? Yasmin gak bisa masuk. Ibunya meninggal pagi ini. Baru saja. Kemungkinan off 1 minggu.”
“Oh ... my god!” Oka terperanjat. Sebagai PJ program seputar Jateng ia tak tahu hal ini. Tapi, ia bisa memaklumi. Yasmin tengah berduka. Mungkin saja pikirannya sedang kalut dan sedih. Oka lalu menyambar ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Entah siapa yang dikirimi pesan.
Dan ternyata memang benar. Dalam sekejap group chat divisi news langsung dipenuhi ucapan bela sungkawa terhadap Yasmin.
“Jadi, gimana nih?” Lanjut Oka. Berdiri berkacak pinggang. Memikirkan pengganti Yasmin secepatnya. Bukan perkara mudah soalnya.
“Gue juga baru tahu. Dia kayaknya gak sempat ngasih tahu ke kita. Cuma ke Pak Rahmat aja.”
“Mana, Pak Rahmat minta gue gantiin dia—”
Oka memotong, “Nah, gue setuju lo gantiin Yasmin.”
Ia kembali menghela napas seraya mengusap perutnya.
“Masalahnya gue gak bisa, Ka. Nanti siang Mas Danang sidang tesis. Gue harus nemenin dia.” Dalihnya. Jelas ia tak mau membuat kecewa suaminya juga.
“Sidang tesisnya jam berapa?”
“Jam 10.30,”
“Oh ... damn it!” Umpat Oka. Sementara live seputar Jateng jam 11.30 WIB.
“Coba hubungi Mbak Dian!” Titahnya. Ia berjalan bolak balik. Sesekali matanya melihat jam dinding yang menempel di tembok ruangan divisi news. Ya ampun, sudah jam 9. Artinya waktunya sudah semakin mepet.
Oka masih sibuk menghubungi Dian—presenter TS.
Tak berselang lama, satu tangan pria itu kembali berkacak pinggang.
“Gimana?” tanyanya antusias. Meski ekspresi Oka sudah bisa ditebak.
“Shit! Posisi Dian lagi di Jakarta. Baru balik nanti malam.”
“Anisa udah balik belum?” Anisa tengah meliput status siaga Gunung Merapi yang sedang erupsi di Pos Jrakah-Boyolali. Tiga hari belakangan ini Gunung Merapi itu memuntahkan lava pijar dan awan panas.
Oka menggeleng.
“Cari alternatif lain, Ka!” Serunya.
Oka berusaha menghubungi sejumlah presenter yang bekerja sama dengan TVS. Di antaranya Prisil, Semeru, Lingga dan Oriza. Dan ke semuanya ....
Telapak tangan Oka terbuka ke atas dibarengi dengan mengedikkan bahunya.
Oh my god!
Pundaknya seketika turun bersamaan desahan napasnya.
**
Danang
Ia sebenarnya sedikit kecewa ketika beberapa menit lalu Kirei mengatakan akan menyusul ke tempat sidang. Berhubung istrinya itu mendadak harus menggantikan news anchor yang berhalangan hadir. Padahal harusnya mereka menemaninya. Di sini.
__ADS_1
Ah ... tapi bukan berarti ia patah semangat!
Ia bahkan melarang Rendra, Banuaji dan rekan-rekannya yang ingin datang menemaninya. Dengan alasan jam kantor. Dan waktu sidang yang bisa dibilang tidak sebentar. Bisa jadi 90-120 menit. Atau malah lebih.
Sambil menunggu waktu jadwal sidangnya yang akan dimulai 30 menit lagi ia justru memanfaatkannya dengan melihat Kirei saat memandu acara talkshow melalui prerecord streaming di ponselnya. Matanya fokus menatap layar pada ponsel. Sesekali bibirnya menipis. Sesekali sudut bibirnya ke atas. Dan sesekali ikut terkekeh ketika ada hal lucu.
Ting.
My wife : Mas, maaf banget kita gak bisa nemeni ke sana. Tapi, doa kita yang terbaik untuk Mas Danang. Semoga dilancarkan, dimudahkan dan lulus. Aamiin.
Ting.
My wife : Semangat untuk ayah! Love you so much 😘.
Bibirnya menyunggingkan senyum ketika membaca 2 pesan yang masuk dari Kirei. Bukannya membalas, justru ia kembali melanjutkan menonton video prerecord streaming istrinya.
“Danang Barata Jaya.” Panggil dosen pembimbingnya dari balik pintu.
Ia mendongak.
“Ya, saya, Pak.” Sahutnya.
“Sepuluh menit lagi, ready?”
Ia mengangguk, “Siap.”
Dosen pembimbingnya itu mengacungkan jempolnya, “Good!” sembari melempar senyum.
Jantungnya tetiba berdegup lebih kencang. Ia mengucap, “Bismillahirahmannirahim.” Lalu mencium video Kirei yang masih berputar. “Doain aku, love you more.” Mematikan ponsel dan menyimpan dalam tas punggungnya.
**
Kirei
Ia berusaha profesional. Meski separuh hatinya dalam keadaan tidak menetap. Melakukan siaran langsung selama 60 menit dengan 5 kali break.
Ia tahu, laki-laki itu dalam pekerjaannya selalu totalitas. Dan ia yakin Danang pasti bisa melalui sidang kali ini. Amunisi beberapa malam rasanya tidak akan mengecewakan. Seperti tadi malam ia menemani laki-laki itu belajar sekaligus menyelesaikan beberapa pekerjaannya di rumah.
“Kalo ngantuk tidur duluan.” Ucap Danang yang menatapnya dengan beberapa lembar laporan peliputan.
Ia tersenyum, “Bentar lagi, Mas. Dikit lagi.” Kilahnya.
“Ngeyel!” Danang menghampirinya yang duduk di sofa. Mengenyakkan tubuhnya di sebelahnya. Menunduk dalam lalu mencium perutnya dan mengusapnya.
“Kasihan mereka, sering diajak begadang akhir-akhir ini.” Danang meraih lembaran kertas di tangannya. Meletakkan di atas meja.
“Mereka pengen ngawani ayahnya belajar,”
“Ya, tapi gak boleh sampai gadang. Ini sudah jam 11 malam.”
“Mas Danang udah selesai?” tanyanya menatap laki-laki itu penuh.
“Udah.” Terpaksa Danang harus berbohong.
Ia menangkup tangan suaminya yang masih berada di atas perutnya, “Rei, yakin. Mas Danang besok bisa melewatinya. Bisa menjawab semua pertanyaan. Semoga semua dipermudah.” Ucapnya, sekaligus menjadi doa dan harapannya dalam hati.
“Rei, take!” seru Mas Agung. Menyadarkan lamunannya tentang tadi malam.
Ia mengacungkan jempolnya, “Siap, Mas!”
**
Papa Bagas
Ia dan istrinya telah duduk di kursi tunggu ruang sidang pasca-sarjana anaknya. Sembilan puluh menit lebih sudah berlalu sejak anaknya itu masuk ruangan. Tapi belum ada tanda-tanda kemunculannya dari balik pintu.
Sementara ia baru saja datang 10 menit yang lalu. Di sebelahnya, istrinya duduk dengan memangku sebuah buket bunga mawar merah.
Momen seperti ini mengingatkan dirinya beberapa tahun silam. Di mana ia juga mengalami hal yang sama. Hanya waktu itu istrinya yang sedang duduk di sebelahnya ini, datang bersama Danang kecil yang baru berumur 1 tahunan. Tepatnya seminggu sebelum pernikahan Demas-Nani.
Sudut bibirnya melengkung ke atas.
Ia tak pernah menyangka takdirnya akan seperti ini.
Suara kepakkan sepatu menggema di koridor. Ia menoleh ke sumber suara bersamaan dengan istrinya.
Rendra, Banuaji dan beberapa rekan Danang datang memberikan support. Ia tersenyum menyambut mereka.
**
Kirei
Tepat syuting selesai ia bergegas meninggalkan studio. Dengan menggunakan dress floral berwarna hijau daun berbalut kardigan berwarna senada dan makeup yang masih sama.
Berkali-kali ia melihat jam di ponselnya. Sudah 2 jam laki-laki itu sidang. Dan kata mama baru saja keluar 10 menit yang lalu.
“Pak Mus, agak dicepetin dikit ya,” pintanya pada sopir yang membawanya.
Peluhnya terus mengucur. Napasnya setengah memburu. Selama kehamilan, ia merasa lebih banyak memproduksi keringat. Duduk di teras rumah saja tanpa melakukan kegiatan bisa berkeringat dengan sendirinya. Apa lagi ini! Harus berjalan dari tempat parkir ke ruang sidang yang lumayan menguras tenaganya.
Selama kehamilan yang semakin membesar ia juga kesusahan mengatur pernapasannya. Perasaannya napasnya menjadi pendek-pendek. Apa ini efek selama hamil? Batinnya mengira-ngira.
Ia berkali-kali menyeka titik-titik embun yang bergulir di dahi dan pelipisnya. Sambil mengatur pernapasannya. Langkahnya terus menyusuri koridor gedung.
Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat rombongan mama, papa, Danang dan teman-temannya. Ia mengulas senyum dan berhenti seketika.
Tapi tak disangka, Danang berlari ke arahnya. Lalu menghamburnya.
“Terima kasih doa-doanya.” Laki-laki itu mencium kepalanya berulang kali.
“Aku lulus!” Seru Danang.
Ia mengusap punggung suaminya, “Selamat, Mas.” Balasnya dengan mata berkaca.
**
__ADS_1
Danang
Satu bulan setelah sidang. Ia kini duduk di antara ribuan wisudawan di gedung Prof. Sudarto. Mengenakan toga. Baju kebesaran dan kebanggaan setiap mahasiswa pada akhirnya. Senyum terbit di wajah semringahnya. Apalagi di barisan kursi belakang para undangan seseorang yang spesial dalam hidupnya duduk manis menantinya. Sesekali ia melongok ke belakang demi melihat kondisi istrinya yang tengah mengipasi wajahnya dengan selembar undangan.
Namanya dipanggil MC guna memberikan kata sambutan sebagai perwakilan wisudawan terbaik program magister. Bersyukur, ia bisa menamatkan pendidikannya dalam kurun waktu tercepat 1,9 tahun dan predikat dengan pujian.
**
Kirei
Matanya memanas ketika Danang berdiri tegak di podium. Rasa haru, bangga, puas menguar memenuhi rongga paru-parunya. Apalagi pencapaian yang didapat Danang sangat luar biasa. Ya, laki-laki itu menjadi wisudawan terbaik di program magister.
Suara maskulin dan berat itu masih terus berdengung. Sesekali mendapat tepuk tangan meriah. Hingga terdengar namanya disebut.
“... and the last but not least. I’d like to thank you ... istri saya tercinta,” Danang menunjuk keberadaannya. Hampir semua orang memalingkan arah kepadanya.
“Saya mohon untuk istri saya berdiri,” pinta Danang. Meski kikuk akhirnya ia berdiri. Menjura sejenak.
“Terima kasih telah menemani hari-hari saya. Hari-hari pelik harus membagi pekerjaan dan pendidikan. Tidak mudah. Tapi istri saya selalu bilang ‘di balik kesedihan ada kesenangan, di balik kesempitan ada kelonggaran, di balik kekalahan ada kemenangan dan di balik kegagalan ada kesuksesan’. Inilah realitas kehidupan.”
“Terima kasih yang tak terhingga ....” Lanjut Danang. Butiran cairan bening dari sudut matanya luruh.
“Terima kasih juga untuk anak-anak saya. Mereka adalah support system bagi saya.”
Ia kembali duduk ketika Danang mempersilakan dirinya duduk kembali. Kata sambutan itu masih terus berlanjut.
“Mas, boleh mampir gak ke Vijhoek cafe?” pintanya ketika mobil mereka mengarah pulang. Rendra dan teman-teman suaminya telah lebih dahulu berpamitan.
“Untuk istri aku yang lagi ngidam apa pun boleh.” Sahut Danang.
Ia menatap laki-laki itu sejenak. “Makasih, Mas.”
Danang mengusap kepalanya.
“Sebentar, sini tangannya.” Ia meminta laki-laki itu untuk memberikan tangannya. Saat mobil mereka telah terparkir di depan kafe.
Tangannya mulai menggulung lengan panjang Danang hingga ke siku, “Nah, biar kesannya gak formal.” Sudut bibirnya ke atas.
“Mas Danang nunduk,” titah selanjutnya, dan laki-laki itu menurut. Ia melepas dasi Danang. Lalu melepas kancing pertama dan kedua dari atas.
Danang memanfaatkan kesempatan jarak yang begitu dekat itu untuk mencium keningnya.
“Mas ... lagi di parkiran,”
Justru Danang terkekeh kembali mendaratkan bibirnya di pipinya.
“Iissh ....” bibirnya mengerucut.
“Hahaha ... kamu gemesin!” Danang membingkai wajahnya. “Aku pengen seperti ini terus.” Mata mereka saling bersitatap. Sepersekian detik.
“I love you,”
Dikecupnya keningnya.
“I love you,”
Dikecupnya kedua matanya.
“I love you,”
Dikecupnya kedua pipinya. Yang membuatnya semakin tersipu berbunga-bunga. Pasti pipinya merona sekarang.
“I love you, Kirei Fitriya Tsabita ....”
Dikecupnya bibirnya dengan kelembutan. Benar-benar ia tidak bisa lagi berkata-kata. Hatinya membuncah bahagia. Raganya seolah tak ada di tempatnya. Jiwanya melayang terbang ke angkasa. Ia tak pernah menyangka akan dihujani berjuta-juta cinta oleh laki-laki ini.
Bahkan ia tak menyangka pernikahan yang pernah disesalinya. Pernikahan yang tak pernah diharapkannya mengantarkannya pada kebahagiaan sekarang ini. Inikah kebahagiaan sejatinya?
“Love you too,” ucapnya ketika Danang menghentikan ciumannya. Dahi keduanya saling melekat.
Ia mengukir senyum, “I love you, kakak baik.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1