Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
70. Blessing


__ADS_3

...70. Blessing...


Kirei


Ia merasakan sebuah lengan merangkul pinggangnya. Lengan kokoh dengan telapak tangan lebar dan jari jemari panjang. Kemudian ia berbalik menghadap tubuh Danang yang tidur di sebelahnya.


Tampak gurat kelelahan di wajah laki-laki itu. Entah jam berapa dia pulang. Sepertinya bukan larut malam tapi mungkin menjelang pagi.


Matanya mengarah lurus pada jam dinding yang tergantung tepat di atas foto pernikahan mereka. Foto sederhana. Berbalut kebaya putih, riasan natural. Sementara laki-laki itu mengenakan kemeja putih dengan jas hitam. Tampak tegang, kaku, dan ah ....


Ia menatap kembali wajah yang terlelap itu. Wajah yang garang saat harus menghadapi kejahatan. Tapi begitu teduh saat bersamanya. Seperti matahari. Begitu terik di siang hari, namun begitu teduh dan hangat saat senja dan fajar. Itulah perumpamaan kamu.


Hari ini ia hampir melupakan satu hal.


Meletakkan lengan kokoh itu di atas guling. Menyingkap selimut dengan perlahan. Lalu bangkit dari atas kasur.


Yumah terlihat sibuk di dapur. Tadi malam ia sudah berpesan pada Yumah untuk  menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan.


“Sori, Yu. Aku kesiangan.” Ucapnya begitu tiba di dapur.


“Maklum, Mbak. Tadi subuh Pak Danang kayaknya juga baru pulang. Kebetulan Mas Darmo juga mau berangkat ke masjid. Pas banget, ngepas mobil Pak Danang baru datang.”


“Oya,” artinya dugaannya benar laki-laki itu baru saja pulang.


“Oya, Mbak, baju kotor di kamar belum saya ambil. Saya gak enak mau masuk. Segen saya ....”


“Tunggu sini bentar. Yang ini lanjutin, ya,” pesannya pada Yumah untuk memotong buah naga yang baru saja di pisahkan dari kulitnya, “dipotong seperti ini, dadu.” Imbuhnya.


Lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu masih terlelap.


“Kebiasaan,” gumamnya. Baju kotor teronggok di atas sofa. Padahal sudah disediakan keranjang khusus di pojok ruangan, samping kamar mandi.


Mengeluarkan benda-benda berharga dari sakunya. Dompet, ponsel, melepaskan ikat pinggang dari celananya. Atribut yang menempel pada baju dinas. Tapi sejurus kemudian ia mengernyit. Ada beberapa noda darah di sana.


Ia mendekati suaminya yang masih terpejam. Membungkuk. Menyibak selimut perlahan. Matanya menyelisik. Dari ujung kaki ke atas. Lalu menyingkap kaos dengan pelan. Agar laki-laki itu tidak terganggu.


“Gak ada luka,” ucapnya dalam hati.


Lalu matanya beralih pada lengan. Semakin ke atas hingga ke wajah.


Ia menghela napas lega. Tidak ada luka di sana. Mungkin ini darah orang lain pikirnya. Ia kembali berdiri tegak. Membenarkan kembali selimut seperti semula.


***


Aksa


Setelah mengikuti prosedur ketat. Pemeriksaan dengan metal detector baik pada  mobil maupun penumpangnya. Ia dipersilakan untuk masuk.


Tidak ada pengecualian.


Darmo yang kebetulan sedang menyiram tanaman berlari kecil menyambutnya lalu membukakan pintu untuknya. “Silakan, Mas.”


“Makasih. Pada ke mana penghuninya? Kok sepi!”


“Oh, Mbak Kirei lagi masak di dapur sama Yumah.”


Aksa terus melangkahkan kaki menuju dapur.


“Mbak,” sapanya ketika mendapati Kirei tengah sibuk mengaduk-aduk masakan di atas kompor.


“Eh, Sa ....” Balas Kirei, “udah datang. Mas Danang masih tidur.”


“Jam berapa ini, masih molor?”


“Tadi subuh baru pulang.” Tukas Kirei.


Ia meninggalkan wanita itu. Kemudian duduk di sofa. Menyalakan televisi.


“Telah terjadi penangkapan terhadap gembong narkoba dini hari tadi di Semarang.” Begitu ucap presenter yang membawakan berita pagi.


“Pelaku berjumlah 6 orang, 4 di antaranya dilumpuhkan karena melawan petugas.”


“Berikut pernyataan Kapolrestabes Semarang ....” Presenter itu menyebut nama kakaknya lengkap.


Tampak wajah kakaknya itu tersorot kamera.


Ia mengernyit, “Pantes pulang subuh.” Gumamnya.


**


Danang


Ia menyadarkan punggungnya di kepala ranjang. Menguap beberapa kali. Lalu matanya menatap Kirei yang terlihat keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk kimono.


“Mas Danang sudah bangun?”


“Wangi,” justru kata itu yang keluar dari bibirnya.


“Mandi gih,” ucap Kirei. Matanya masih terus mengekori setiap gerakan Kirei.


Gadisnya, ah bukan gadis lagi. Tanpa sadar ia melengkungkan bibirnya ke atas. Istrinya itu tengah mematut diri di depan cermin. Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


“Mau ke mana?” tanyanya.


Kirei memutar tubuhnya. Lalu mendekatinya dan duduk di tepi ranjang.


“Mas Danang mandi dulu. Baru aku jawab mau ke mananya,”


Ia menipiskan bibirnya, “Siapa takut.” Namun sebelum beranjak, lengannya di tahan.


“Rei, nemuin darah di baju Mas Danang.”


Justru ia tersenyum, “ Darah korban,” tukasnya santai.


“Maksudnya? Korbannya sampai berdarah-darah gitu?”

__ADS_1


“Sedikit, cuma kena tembak.” Ia bergegas meninggalkan Kirei yang masih termangu.


Cuma?


Kirei menggeleng.


“Kok pake baju ini?” tanyanya ketika melihat tumpukan baju dan celana di atas kasur saat keluar dari kamar mandi. Kemeja lengan pendek dan celana jeans. Ia pikir mau santai sejenak di rumah sebelum siang nanti ke kantor.


“Udah, gak usah protes. Pokoknya dipake.” Kirei menyambar handuk membantu mengeringkan rambut dan punggungnya. “Kalau pake handuk tuh yang bener. Masa airnya masih netes-netes gini,” protes istrinya.


Namun hanya ditanggapi senyum olehnya.


“Kita pergi ke mana?” tanyanya lagi. Melihat Kirei yang begitu rapi dan cantik. Membantu mengancingkan kemejanya.


“Pokoknya nurut aja!” Tandas Kirei.


Saat keluar kamar. Ia begitu terkejut di ruang tengah telah berkumpul sahabat-sahabatnya. Arik dan keluarga. Aksa, Dipa, Rendra. Anak-anak rumah singgah yang tak lain anak-anak karatekanya.


Ia langsung menoleh pada istrinya yang berdiri di sampingnya, seolah bertanya ‘ada acara apa?’


Kirei tersenyum, “Acara spesial buat Mas Danang.”


Ia mengernyit. Mencoba mengingat-ingat. Spesial?


Ah, masih bulan depan ulang tahun pernikahannya.


“Bukan anniversary pernikahan kita?” Kirei seakan mampu membaca pikirannya.


Ia semakin mengernyit.


“Ulang tahun Mas Danang.” Ucap istrinya.


Rasa haru langsung menyeruak. Ia merengkuh istrinya itu. Menciumi puncak kepalanya.


“Terima kasih ....”


Kirei mendongak menatapnya.


Ia menciumi kening, pipi dan bibir istrinya, “Terima kasih,” ucapnya bahagia.


“Malu,” Kirei berucap lirih sambil matanya melirik ke arah orang-orang yang tengah menatap mereka.


“Huuuuuu ....” Suara sorak begitu terdengar riuh rendah, lalu mereka saling mengurai pelukan.


Mereka tersipu. Bahkan banyak anak-anak di bawah umur yang melihat adegan tadi. Oh my god.


“Sorry ....” Mereka melangkahkan kaki mendekati kumpulan orang-orang yang menunggunya.


Ia menyapa Arik, Aksa, Dipa dan semuanya yang hadir. Sungguh kejutan luar biasa untuknya. Ia melirik sekilas istrinya yang tengah tertawa-tawa sambil memangku salah satu anak Arik.


Hatinya berdesir. Rasa bahagia, haru, suka cita melingkupinya. Semoga ia bisa merasakan ini terus. Selamanya. Bersama Kirei. Dan tentunya orang-orang yang disayanginya.


**


Kirei


“Mas, udah tidur?” Tanyanya menoleh pada Danang yang sudah terpejam matanya. Lalu mengubah posisi berbaring miring menghadap laki-laki itu. Tangan kanannya dijadikan bantalan.


Ia yakin laki-laki di sebelahnya itu belum tidur. Tangan  kirinya bermain di atas dada suaminya yang berbaring terlentang.


“Selamat ulang tahun,” ucapnya.


“Maaf, kadonya cuma bisa ngumpulin teman-teman Mas Danang aja. Padahal tadinya mau ngasih surprise tapi sampai sekarang belum nyampe.” Kesal juga sebenarnya. Ia sudah pesan barang itu seminggu yang lalu. Namun sampai waktu yang diperkirakan barang pesanan itu belum sampai juga. Salah dia juga mungkin. Memesan barang dari luar negeri dengan rentang waktu cuma satu minggu.


Laki-laki itu masih terpejam.


“Tapi aku senang. Mas Danang gak nyangka aku bisa ngumpulin mereka, kan? Hee ... dibantu Rendra sih,” ia terkekeh mengingat hal itu.


Rada kecewa juga sebenarnya, awalnya tadi malam mau bikin surprise. Tapi, sayang laki-laki itu baru pulang menjelang pagi.


“Mbak, Mas Danang kemungkinan tidak bisa pulang cepat. Ada perkerjaan mendadak. Penting.” Bunyi pesan singkat dari Rendra.


Oke, ia tetap menjalankan opsi kedua. Membuatkan acara pada keesokan harinya.


“Tolong, beritahu temen-temen Mas Danang di kantor, ya. Besok sore aja seusai jam kantor.”


“Siaaap. Aman, Mbak.” Balas Rendra.


Dan di luar ekspektasi-nya. Ternyata teman-teman kantor Mas Danang banyak yang datang. Ia bahkan harus meminta tolong Rendra lagi untuk menghubungi pihak katering agar menambah porsi. Syukurlah semua berjalan lancar. Tentunya tidak ada yang mengecewakan.


“Sudah?” Suara berat dan maskulin itu terdengar.


Ia mendengus, “Mas Danang pura-pura tidur?”


Laki-laki itu mencolek pipinya, lalu mengubah posisinya berbaring miring menghadapnya. Sehingga mereka sekarang saling berhadapan.


“Aku dengerin dulu apa kata ibu komandan. Baru siap laksanakan.” Seloroh Danang sambil mengulum senyum.


Ia berdecih, “Gak lucu, Mas!” semburnya kesal.


“Aku harus kasih SP Rendra, sudah berani kerja sama dengan ibu komandan tanpa ijin.”


Ia semakin kesal, “Kalau sampe Rendra kena SP, berarti Mas Danang berhadapan sama aku.”


Danang berdecak, “Sebegitunya belain Rendra.”


“Iya donk! Tanpa dia, aku keteteran. Lagian gak mungkin aku ngubungi temen-temen Mas Danang satu-satu. Dia tuh udah banyak banget bantuin aku dari nyariin katering. Terus ngubungi anak-anak singgah, ngundang temen-temen kantor. Terus—”


Danang menyergap begitu saja bibirnya. Ia terbelalak. Mengerjapkan mata atas tindakan Danang yang spontan.


“Terima kasih ....”Bibir Danang mengembang seketika.


“Ini untuk ucapan terima kasihnya,” lalu mengecupi seluruh wajahnya tak terkecuali. Membuatnya engap sebab sulit bernapas.


“Bernapas, Sayang ....” Danang mengejeknya ketika ia melihatnya terengah-engah.

__ADS_1


“Gimana mau bernapas,” sungutnya sebal.


Laki-laki itu merengkuhnya.


“Baru kali ini aku dapat hadiah ulang tahun spesial banget.”


“Mas Danang gak kecewa, kadonya belum sampai?” tanyanya masih menyembunyikan kepalanya dalam dada laki-laki itu.


“Mereka datang itu udah jadi kado spesial.”


“Apa lagi ditambah malam ini,”


“Malam ini?” ia mengernyit.


“Hem,” Laki-laki itu mencium kepalnya berulang kali. Mengeratkan pelukannya.


“Malam ini ... membuat kembaran kita di sini ....” bisiknya tepat di telinganya. Membuat bulu tengkuknya langsung meremang.


“Maasss ....”


**


Kirei


Pagi harinya ia menyiapkan sarapan suaminya. Sambil menunggu laki-laki itu keluar dari kamar. Asap dari kopi hitam itu masih mengepul. Baunya langsung menyergap hidungnya.


Yumah meletakkan nasi goreng di atas meja makan. Sementara dirinya menyiapkan roti panggang.


“Yu, untuk yang lain sudah?” tanyanya memastikan pada Yumah yang tengah menata piring dan sendok. Maksud yang lain adalah petugas jaga di depan, sopir dan Darmo. Mereka juga disediakan sama dengan makanan yang ia makan.


“Sudah, Mbak.” Sahut Yumah.


“Ini bawa untuk mereka,” ia menyorongkan piring berisi roti panggang pada Yumah.


Bergegas Yumah meninggalkannya, tepat saat Danang keluar kamar.


Mereka saling melempar senyum ketika mata bertemu pandang. Lalu ia duduk di sebelah Danang yang menggeret kursi.


“Mas mau apa?” tawarnya.


“Roti panggang aja. Tapi bolehlah nasi gorengnya dikit aja.”


Ia mengambilkan nasi goreng untuk laki-laki itu, “Segini?”


“Cukup.”


“Hari ini mau ke mana?” tanya Danang sembari mengunyah makanan.


“Di rumah aja,” ia memasukkan potongan roti panggang ke mulutnya.


“Gak ke TVS?”


Ia berhenti mengunyah.


“Mas Danang, kan udah baca surelku.” Tukasnya.


“Kalau kamu yakin ingin mengambil tawaran itu. Aku mengizinkan.” Putus Danang. Tak ada salahnya memberikan kesempatan padanya.


“Benar, Mas?” ia meyakinkan keputusan suaminya.


“Mas Danang gak keberatan aku ke Jakarta?” Ia menatap suaminya.


Jeda sejenak.


Laki-laki itu telah menghabiskan nasi gorengnya.


“Aku tidak mungkin mengekang kamu hanya karena aku egois mau bersama kamu terus. Aku juga terkadang sibuk. Kamu juga sering nungguin aku di sini gak pasti. Bisa malam, pagi atau malah gak pulang. Lagian baca kontrak kamu cuma 3 bulan.”


Danang tersenyum padanya.


“Sebentar,”


“Kalo ada senggang aku bisa ke sana. Nyusul kamu.” Pungkas laki-laki itu.


Tanpa aba ia langsung menghambur dalam pelukan laki-laki itu, “Makasih, Mas.” Ucapnya. Ia tak bimbang lagi. Keputusan suaminya adalah keputusannya.


Awalnya ia sudah ingin mengubur tawaran dari Emtek. Toh, ia bisa menerima tawaran media lain.


JawaTra misalnya. Menawari dirinya jadi editor liputan. Atau Bengawan Post menawarinya menjadi jurnalis.


Tapi ternyata laki-laki itu memberikan kesempatan emas itu padanya.


Itu artinya, dalam seminggu ini ia harus mempersiapkan segala sesuatu termasuk dirinya untuk berangkat ke Jakarta.


Ia mengantar laki-laki itu hingga teras depan, mencium punggung tangannya. Lalu laki-laki itu mencium keningnya. Kemudian bergegas masuk mobil. Ia melambaikan tangan, ketika mobil yang membawa suaminya berlalu perlahan meninggalkannya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2