
...28. Bon Appetit...
“Mbak Rei, ada paket,” panggil Gladis, resepsionis kantor saat dirinya melewati lobi dari liputan di lapangan.
“Thanks, Dis ...,” balasnya dengan mengulas senyum menerima paket itu.
“Sama-sama, Mbak. Enak ya ... Mbak. Ngiler juga nih tiap lunch dapat kiriman," ujar Gladis.
Lagi, ia menerbitkan senyum.
Gladis mungkin sudah hafal. Beberapa hari ini ia selalu mendapat kiriman lunch box. Dan ini paket ketujuh makan siang yang ia terima setelah masuk kerja pasca-sakit.
Bibirnya melengkung ke atas.
Setiap hari Danang mengirimkan makan siang untuknya. Disertai ucapan pada note, “Bon appetit (selamat menikmati) ....”
Pun dengan sarapan. Selalu tersedia di meja makan. Hasil buatan tangan laki-laki itu. Dari omelete, nasi goreng, roti bakar, sandwich. Katanya, “Aku udah terbiasa hidup di asrama. Apa-apa dikerjain sendiri. Apa lagi hidup nomaden selama kerja. Mau gak mau ya harus bisa masak.”
Berbanding terbalik dengan dirinya. Ia juga hidup mandiri selama kuliah dan kerja. Tapi tak mau ribet soal makanan. Tinggal beli, praktis menurutnya.
Ia terkadang malu. Sebenarnya yang berstatus istri itu dirinya atau Danang? Tapi laki-laki itu lebih cocok. Buktinya dia lebih cekatan, terampil dan tahu seluk beluk makanan dan masakan. Ups.
“Widdihh ... secret admirer?” celetuk Anisa yang berpapasan dengannya di depan pintu lift saat mereka sama-sama hendak naik ke lantai 3.
Jelas beberapa kali Anisa memergokinya memegang kantong plastik dengan nama restoran berbeda-beda yang sangat familier. Tentunya terjamin kesehatan dan gizinya.
Pernah juga Anisa yang menerima paket titipan resepsionis untuknya. “Dari siapa sih?” tanya Anisa penasaran saat mereka sudah berada dalam lift.
“Temen.”
“Yaelahh ... kalo temen rugilah traktir tiap makan siang. Kecuali temen tapi demen ...,” cibir Anisa dengan terkekeh.
Ting.
Pintu lift terbuka. Mereka berjalan beriringan menuju divisi news.
“Kemarin kata Oka, pernah lihat lo turun dari sedan mewah? Apa itu orangnya?” Anisa menerka-nerka.
Ia bergeming.
“Kalau iya gak pa-pa kali. Gue seneng, temen gue gak jomlo lagi ... tapi nanti jadi gak seru dong! Gak ada Tom dan Jery ....” Anisa tergelak puas.
Kepalanya hanya menggeleng menanggapi. Oka dan Anisa memang ember. Tak bisa dipercaya!
Sesampainya di kubikel. Ia mengenyakkan tubuhnya di kursi. Membuka kantong plastik. Lunch box kali ini berisi ayam bakar, lalapan sambal kecap dan sayur capcay.
Ia buru-buru mengirimkan pesan ke seseorang.
Kirei : Thank you ... lunch is here!
Masih centang abu-abu dua. Ia menyimpan kembali ponselnya di atas meja.
Menikmati makan siang yang terasa nikmat. Meski beberapa hari ini laki-laki itu sibuk ke luar daerah. Tapi tak pernah sekalipun lupa mengiriminya.
***
Aldi tersenyum masam saat orang tuanya sudah membuat keputusan bahwa pertunangan mereka dibatalkan. Berita yang menyita masyarakat tentang predikat ‘pembunuh’ pada calon besan jelas alasan yang sangat tepat sebagai faktor utama.
Belum lagi para petinggi yang mengadakan rapat guna memutuskan status Candra Birawa sebagai salah satu pemegang saham di TVS. Hampir seluruh pemegang saham setuju Candra dipecat secara tidak hormat sebagai Komisaris.
Jelas nama TVS dipertaruhkan. Begitu juga karirnya diambang penentuan. Sebab ia tetap mempertahankan liputan program bertajuk ‘Telusur Peristiwa’.
Beberapa kali ia dipanggil produser eksekutif-Pak Rahmat. Lalu kemarin ia menghadap News Director.
Ia menghela napas perlahan.
Putusnya pertunangan dengan Kiesya jelas meringankan sedikit bebannya. Ia merasa hubungannya semakin ke sini semakin hambar. Keisya yang agresif. Pemaksa. Manja dan kurang menghargai orang lain.
Entah mengapa rasa cintanya kini berubah.
Tak ada lagi debar-debar saat berada di dekatnya. Semua seolah berhubungan dengannya hanya lah sebatas keterpaksaan. Menguap begitu saja!
Hubungan pertemanan dan bisnis orang tua menjadi latar belakang semuanya. Kini hubungan orang tua mereka renggang. Akibat kasus yang menyandung keluarga Birawa.
Entah apa ia juga senang?
“Al ...,” panggil Budi yang langsung masuk ke dalam ruangannya sebab pintu sudah terbuka.
“Duduk, Bud." Aldi menyahut.
Budi duduk di kursi depan meja kerjanya. Kameramen itu dipanggil untuk membahas liputannya tentang Candra.
__ADS_1
“Gimana nasib liputan kemarin? Lanjut atau—“ tanya Budi.
“Lanjutkan!” tandasnya, “statusnya sudah dipecat dari dewan komisaris. Jadi tidak ada hubungannya lagi dengan TVS.”
Jari-jemari Budi mengetuk-ngetuk meja, “Lalu apa tidak akan mempengaruhi reputasi TVS? Your reputation is at stake, too? Pasti mereka akan mencari-cari berita.” Budi yakin kasus Candra akan melebar ke mana-mana.
“Kalo soal pribadi itu urusan, gue.” Aldi menyanggah. “Episode kasus mutilasi di telusur peristiwa kita pending dulu. Meski resiko rating program kita taruhannya. Kita tidak bisa bertindak gegabah, Bud.”
“Headline media nasional maupun lokal sedang running story kasus ini. Kita tidak perlu mengikuti mereka. Tetap di jalur berimbang. Dari pada progam ‘TS (Telusur Peristiwa)’ temporary cessation,” tandasnya yakin. Ia akan tetap bertahan dengan program itu dengan dukungan produser eksekutif dan news director.
***
Kirei membawa map snelhecter ke ruangan korlip. Bermaksud menyarahkan laporkan liputan. Namun sayup-sayup ia mendengar seseorang menangis di dalam sebab pintu yang tak menutup sempurna.
“Al ... kumohon, jangan putuskan pertunangan ini. Bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu. Aku sayang kamu, Al ...,” rengek Keisya.
Nama Keisya juga hancur akibat ulah papanya. Ia bahkan harus mengundurkan diri sebab tak tahan dengan gunjingan karyawan kantor dan media. Semua seolah menghakiminya sebagai anak seorang ‘pembunuh berdarah dingin’
“Apa kamu tega, Al? Membuatku semakin terpuruk?” lanjut Keisya lagi dengan tangis yang semakin memilu.
Aldi masih bergeming.
Ia buru-buru melangkah mundur sebab tak ingin dikira menguping. Nahas, menabrak seseorang. Meski badannya oleng, tapi tak sempat jatuh. Dengan refleks cepat ia bisa menyeimbangkan lagi.
Sementara Anisa menggerutu tak jelas seraya mengusap-usap bokongnya yang terjatuh terduduk.
“Sorry, Nis ... betul ... gue gak sengaja,” tukasnya setelah berbalik badan lalu membantu Anisa bangkit.
“Kenapa sih, Rei! Jalan pake mundur segala! Lo berubah jadi undur-undur, yaa?” ketus Anisa terus menggerutu namun justru terlihat lucu di matanya.
Ia terkekeh, “He he he, pissss ...!” mengacungkan jari tengah dan telunjuk.
“Lo dari mana?” tanya Anisa yang sudah terlihat lebih baik. Mata Anisa menyapu tubuhnya dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.
“Ada yang aneh?” sahutnya.
“Gue curiga, lo dari ruangan korlip?”
“Kok, lo tahu?!” sanggahnya.
“Tuh ...,” Tunjuk Anisa pada map snelhecter yang dibawanya.
“Ada apa!?” sungut Anisa penasaran bercampur masih kesal. Pinggangnya masih terasa sakit.
“Sorry ... pake banget. Gak sengaja sumpah nabrak lo tadi. Gue tadi gak sengaja dengar pembicaraan Aldi sama tunangannya. Padahal niat gue cuma mau nyerahin ini.” Ia menunjuk map yang masih dipegangnya.
“Tus ... tus ... lo denger apa?” tanya Anisa kepo, sebab Anisa sempat bertemu Keisya di depan ruangan divisi news. Meski wanita itu menggunakan masker demi mengelabui semua orang.
“Aldi mutusin pertunangannya,” tandasnya.
Anisa mencebik, “Ah ... kalo itu sudah jadi rahasia umum, Rei. Bukan news update ... lo aja yang kudet!” cibir Anisa.
“Hah! Masa sih?!” Ia mengerutkan keningnya.
Sore harinya selepas jam kantor Anisa mengajaknya pergi ke sebuah mall di daerah Sekayu. Sebagai penebus rasa bersalah, akhirnya ia mengikuti ide Anisa. Lagi pula ia juga perlu membeli perlengkapan yang akan dibawanya selama ke Kamboja.
Persyaratan ke Kamboja semua beres. Tinggal menunggu paspor jadi. Ia sudah bisa bernapas lega. Tapi, ia belum memberitahukan pada Danang perihal pelatihannya ke sana. Pikirnya masih ada waktu besok-besok. Toh, keberangkatannya juga masih sepuluh hari lagi.
“Lo, mau beli apa?” tanya Anisa saat dirinya memegang blouse floral berlengan pendek.
“Pengen ini sih ...,” sahutnya dengan tangan masih memegang blouse tersebut. Namun ia tampak berpikir lama. Kamboja dan Indonesia sama-sama negara tropis. Pastinya cocok dengan pakaian yang adem dan menyerap keringat.
“Udah ambil aja,” timpal Anisa, “lo butuh buat ke Kamboja, kan?!”
Ia mengangguk.
Lelah berkeliling mereka memutuskan rehat sekaligus mengisi perut sebelum pulang. Namun saat memasuki resto cepat saji ia dibuat nanap kala melihat seseorang yang sangat dikenalnya duduk berdua bersama seorang wanita. Pun dengan laki-laki itu yang terkejut melihatnya.
Secepat kilat ia menarik paksa lengan Anisa yang sudah memilih tempat duduk, “Kita jangan di sini deh!” sentaknya. Langkahnya memburu.
“Lho ... kenapa, bukannya—“
“Kita pulang aja!” serunya. Rasanya ia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Entah mengapa, dadanya rasanya sesak. Napasnya naik turun sebab langkah yang tergesa-gesa.
Anisa yang masih digeret lengannya, terseok-seok di belakangnya.
“Eh, tunggu donk! Kenapa sih?” protes Anisa. Tapi tak diindahkan olehnya.
Taksi mangkal di depan mall menguntungkannya untuk segera masuk. Anisa yang terus mengekorinya dengan paksa. Terus menggerutu-gerutu tak jelas.
“Gue anter ke rumah lo dulu,” ucapnya seraya melepaskan cengkeraman tangannya saat mereka sudah duduk di dalam taksi.
__ADS_1
“Lo, kenapa sih?! Lihat hantu? Atau lihat secret admirer lo itu?” cerca Anisa.
“Perum Griya Asri, Pak. Jalan ....” Anisa menyebutkan alamat rumahnya. Setelah sopir taksi menanyakan turun di mana.
Ia masih bergeming seraya menyandarkan punggungnya ke belakang. Ponselnya berkali-kali berdering nyaring. Namun ia tak acuh.
“Issh ... ponsel lo berisik. Angkat Rei!” tandas Anisa sebal.
Bukannya mengangkat telepon yang masuk ia justru menolak. Lalu memindahkan mode ‘hening’. Ia tidak mau diganggu siapa pun saat ini.
Taksi yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah Anisa. Rumah bergaya minimalis dengan pohon kelengkeng di halaman depan.
Pernah sekali ia mampir ke sini. Dan ini untuk kedua kalinya. Ia pun ikut turun dari taksi, setelah Anisa membayar ongkos.
Anisa mengernyit, “Lo, mau mampir?” tanyanya heran. Ia pikir, Kirei hanya akan mengantarkannya.
Kirei mengangguk tanpa bersuara sedikit pun.
“Ya udah, yuukk!” ajak Anisa saat membuka pagar rumah.
“Assalamu’alaikum," sapa Anisa ketika membuka pintu.
“Wa’alaikumsalam," sahut seseorang dari dalam. “Baru pulang?” tanya ibunya Anisa.
“Malam, Tante,” sapanya seraya mengulas senyum sambil mengulurkan tangannya. Yang langsung disambut Ibunya Anisa. Lalu ia mencium punggung tangannya.
“Nak Kirei, gimana kabarnya? Udah lama ya, gak maen sini?”
“Baik, Tan.” Ia masih berdiri di ambang pintu.
“Eh ... masuk ... masuk.” Ibunya Anisa menyergah.
“Lo gak kemaleman nanti pulang?” tanya Anisa, sebab waktu sudah malam jam 8. Mereka duduk di kursi kayu jati, ruang tamu.
“Kalo lo gak mau cerita ya, udah. Gue mau mandi dulu. Gerah nih,” ucap Anisa saat ibunya datang membawakan teh dan camilan keripik.
“Bu, ada yang mau numpang mandi,” seloroh Anisa. “Di apartemennya lagi kehabisan air.” Anisa terkikik melihat ekspresinya yang memelotot dan mencebik tak terima.
“Boleh ... di sini air lancar terus. Tante ambilkan handuk yaa?” tawar Ibunya Anisa.
“Eh ... gak usah, Tan,” sahutnya tak enak. Refleks berdiri. Namun baru saja ia melangkah ke kamar mandi, “Rei, ada yang nyariin tuh ....”
-
-
__ADS_1