Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
45. Feeling Blue


__ADS_3

...45. Feeling Blue...


Kirei


Hubungannya bersama Aldi kian parah. Meski mereka berusaha profesional tapi bentang itu sangat kentara. Berulang kali ia menghela napas saat bertemu pria jangkung tersebut.


Saat ia menyerahkan laporan liputan misalnya. Pria jangkung itu tak melihat dan berbicara sepatah kata pun. Saat meeting. Saat berpapasan tanpa sengaja.


Pun saat syuting telusur peristiwa untuk terakhir kalinya. Sebab Dian sudah comeback dari cuti melahirkan. Aldi tetap tak acuh. Menjadi sosok Aldi kembali seperti awal mengenalnya.


Project yang digadang-gadang Aldi akhirnya jatuh ke tangan Anisa. Ia hanya pasrah. Mungkin memang bukan untuknya.


“Nanti aku bantu bicarakan dengan Aldi,” kata Mas Budi saat mereka di lobi hendak berangkat liputan.


“Gak usah, Mas. Mungkin Mas Aldi memang ...."


“Aku rasa Aldi sudah keterlaluan,” sahut Budi.


***


Aldi


Banyak komentar netizen di laman media sosial TVS khususnya news, memprotes absennya Kirei sebagai presenter. Meski Dian sebagai presenter sesungguhnya sudah kembali. Tapi mereka lebih menyukai gadis berlesung pipi itu untuk membawakan program TS.


Pun, acara baru garapannya mendapat respons netizen yang menginginkan Kirei sebagai news anchor-nya saat diperkenalkan di publik sebelum benar-benar tayang perdana.


“Arrgggghhh ....” Pekiknya seraya mengacak rambutnya. Frustrasi.


“Lo, jangan mencampur adukkan perasaan lo dengan kredibilitas yang lo pertaruhkan,” kata Budi beberapa waktu lalu saat mereka bertemu di ruangannya.


“Kirei sudah mendapat hati di publik. Dan lo menutup mata untuk itu ... come on, mana Aldi yang gue kenal. Seorang yang menjunjung profesionalitas.”


“Lo sudah salah langkah,” tandas Budi mengingatkan.


Ia bergegas keluar ruangan. Menoleh sejenak di kubikel gadis itu. Namun nihil. Gadis itu tak ada di meja kerjanya. Ia kembali ke ruangannya. Berjalan mondar-mandir.


***


Kirei


Ia mendapat pesan singkat dari seseorang yang mengatakan ingin bertemu. Membahas hal penting. Sebenarnya ia malas meladeni orang yang tak dikenalnya. Namun orang itu mendesak dan ingin mengatakan hal berkaitan dengan suaminya.


Akhirnya ia memutuskan untuk menemui orang tersebut di kafe depan kantor.


Begitu sampai di sana. Seorang wanita melambaikan tangannya.


Ia sempat berhenti sejenak. Lalu menghampiri wanita itu.


“Anda yang mengajak saya ketemuan di sini?” Tanyanya masih berdiri.


“Silakan duduk,” tawar wanita tersebut.


Ia pun duduk di seberang berbatas meja di antara mereka.


“To the point saja ... ada keperluan apa?” Tanyanya tanpa basa basi.


“Lebih baik kita berkenalan dulu ... agar lebih leluasa ngobrolnya,” wanita itu terkesan elegan. Barang-barang yang melekat di tubuhnya jelas bukan sembarangan.


“Saya Ratu ....” Seraya menjulurkan tangannya.


Ia menjabat tangannya, “Kirei,” dengan muka masam.


“Cih ... selera Danang seperti ini?” Ejek Ratu meremehkannya.


“Sebenarnya maksud Anda apa? Waktu saya tidak banyak. Kalo cuma meladeni hal-hal tidak penting sil ....”


Ratu melemparkan sebuah amplop putih di atas meja tepat di hadapannya. Sehingga isinya berhamburan keluar.


Dadanya mendadak bergemuruh. Tangan yang sedari tadi di atas pangkuan mengepal kuat.


“Saya dan Danang dulu pernah punya hubungan dan ....” Sudut bibirnya melengkung ke atas, “kami saling cinta ....”


Tak sampai selesai wanita itu berbicara. Ia bergegas meninggalkan Ratu tanpa wanita itu menjelaskan lebih dalam lagi hubungan seperti apa yang dimaksud mereka dulu sebenarnya. Sebab melihat dari foto-foto saja ia sudah tak kuasa lagi menginterpretasikannya.


Benar-benar pikirannya kacau!


Ia sudah tak bisa konsentrasi lagi di sisa jam kantor. Pikirannya entah ke mana. Sementara layar komputer masih menyala. Laporan liputan yang harusnya selesai akhirnya mengendap begitu saja.


Wanita bernama Ratu telah mampu meninggalkan sejuta tanya dan rasa cemburu yang menyeruak dalam dadanya.


 


***


Danang


Berulang kali ia mengirim pesan chat istrinya tapi belum ada satu pun yang dibalas. Bahkan masih centang dua abu-abu. Pertanda pesan belum dibuka dan dibaca.


Berusaha menelepon. Nihil tak diangkat. Ia berusaha postive thinking. Melalui penelusuran GPS ponsel, menandakan posisi gadis itu masih di kantornya.


Tapi ia mulai gelisah saat mengetahui posisi ponsel istrinya sudah tak lagi di kantor. Dan kondisi ponsel mati. Artinya ia tak dapat melacak keberadaannya.


“Ren,” panggilnya pada Rendra melalui telepon.


“Ke ruanganku.” Titahnya.

__ADS_1


“Ya, Pak.” Sahutnya ketika Rendra memasuki ruangannya.


“Hari ini safari Ramadan di mana?” Tanyanya seraya mempercepat jari jemarinya menekan tuts keyboard. Matanya menangkap layar komputer tanpa beralih sedikit pun pada Rendra yang berdiri di hadapannya.


“Di ....”


“Batalkan!” Tandasnya cepat memotong kalimat Rendra yang masih menggantung.


“Tapi, Pak ....”


“Ada yang lebih urgent. Kamu kasih tahu Pak Banuaji suruh mewakili aku."


“Beliau juga safari Ramadan, Pak!” Seru Rendra. Kacau balau jika sore ini atasannya itu membatalkannya. Sebab atasannya itu harus mewakili Kapolda berbuka bersama dengan Gubernur dan jajarannya serta para pelaku usaha UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Aula Wisma Perdamaian.


Lengang sejenak. Ia menatap Rendra.


Pada akhirnya ia melempar senyum saat menjabat tangan bapak Gubernur Ndaru Ayodia, wakil Gubernur, dan jajarannya. Senyum yang .... Ya, raganya memang di sini. Tapi tidak dengan jiwanya.


Hatinya gelisah tidak bisa dipungkiri. Keberadaan istrinya saat ini yang belum diketahui menjadi alasan utamanya.


Berbincang sejenak dengan Pak Gubernur di sela-sela menyantap makanannya. Meski menu yang terhidang di atas meja berbagai macam dan menggiurkan. Namun tak ada yang menggugah seleranya satu pun.


“Pak Danang sudah menikah, ya?” Tanya Pak Gubernur.


“Sudah Pak,”


“Oo ... saya kira belum. Kalo belum saya carikan ....” kelakar Pak Gubernur dengan mimik serius. Namun berujung tawa setelahnya.


Mereka berbincang santai, sesekali diselingi tawa renyah.


Mobilnya melaju kencang saat acara safari Ramadan usai. Tujuannya hanya satu. Yaitu apartemennya. Ia berharap istrinya sudah pulang dan menunggunya di sana.


Dengan langkah memburu. Seraya terus berusaha menghubungi nomor Kirei. Jawabannya tetap sama hanya suara operator yang mengatakan nomor tujuan sedang tidak aktif.


Saat pintu apartemen terbuka, jelas lampu belum menyala. Kemungkinan kecil gadis itu belum pulang. Ia masih berharap gadis itu berada di kamar. Tapi....


Sekali lagi nihil.


Ia mengusap kasar wajahnya. Pikirannya berkecamuk.


“GPS mobil ....”Gumamnya ketika tiba-tiba ia teringat gadis itu sudah tiga hari ini belajar membawa mobil ke kantor.


**


Kirei


Ia memilih ikut kegiatan iftar on the road bersama dengan anak-anak jalanan di taman Srigunting. Acara yang diadakan oleh komunitas jurnalis entertain. Yaitu rekan-rekannya dulu selama satu tahun berada di divisi entertain.


Membagikan satu kotak nasi berisi lauk pauk. Satu kotak snack berisi kurma, kue dan puding. Serta  satu botol air mineral. Untuk anak-anak jalanan.


Setelah semua terbagi rata. Mereka duduk bersila di atas paving block. Melingkar sambil bercanda ria. Menunggu beduk azan magrib.


“Buktinya dia gabung lagi sama kita,” timpal Deni yang baru saja ikut gabung dengannya. Duduk di sebelah Devi.


Ia hanya melempar senyum sebagai jawaban.


“Terus gosip lo sudah nikah beneran?” Devi menatapnya.


Mantan teman divisinya ini memang kepo-nya tingkat dewa. Ia mangut-mangut.


“Sama polisi yang katanya ...."


Ia mangut-mangut lagi.


“Ohh ... gosh!”


“Kepo lo, Dev!” Sembur Deni.


Suara sirine pertanda masuk azan magrib meraung-raung. Lalu disusul dengan kumandang azan magrib setelahnya.


Mereka berdoa bersama sebelum menyantap makanan.


“Aamiin ....” Sahutan yang hampir terdengar seperti gumaman secara bersamaan menutup doa.


Setelah berpamitan dengan rekan-rekannya. Ia pun menuju kantong parkir yang berada di gang Spiegel bar and resto.


“Lo yakin Rei gak ikut kita?” Tanya Deni memastikan lagi. Sebab sebelumnya Deni mengajaknya untuk jalan bersama komunitasnya.


“Lanjuut aja ... gue mau balik.”


“Oke deh. See you ....”


Ia melajukan mobilnya perlahan menuju masjid Agung Kauman yang tidak jauh dari taman Srigunting. Melaksanakan salat magrib di sana.


“Mbaknya udah batalin puasa?” Tanya ibu-ibu yang menyapanya ketika ia sedang melipat mukenanya.


“Sampun (sudah), Bu.” Sahutnya sambil mengulas senyum.


Lalu terdengar obrolan bapak-bapak yang melingkar di pojok pendopo masjid. Setelah mereka menuntaskan makan bersama.


“Bagaimana puasa kita seandainya, kita sedang marahan sama istri atau suami ustaz? Apa puasa kita batal?”


“Puasa bermakna menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari,” jawab ustaz.


“Kewajiban itu tertulis dalam Surah Al-baqarah ayat 183: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa,”

__ADS_1


“Jadi jika selama perjalanan kita menjalankan puasa tiba-tiba karena sebab kita marah itu tidak membatalkan puasa.”


“Hanya saja, berpengaruh dalam kualitas puasa seseorang. Mau bapak-bapak pahalanya berkurang?” Ucap ustaz melempar pertanyaan.


“Tidak ustaz,” sahut beberapa jamaah di sana.


“Maka dari itu, hakikat puasa adalah menahan *****. Salah satunya ***** amarah. Seperti hadist Bukhari dan Muslim yang berbunyi : Puasa adalah membentengi diri. Maka Apabila salah satu dari kalian sedang menjalankan ibadah puasa, jangan lah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan -sesungguhnya aku sedang berpuasa-.“


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota menuju apartemennya. Mobilnya ia parkirkan di depan minimarket di lantai 1 gedung apartemen. Ia teringat ada beberapa stok makanan yang habis.


Mengambil beberapa bahan makanan. Buah-buahan. Serta minuman. Bergegas ke kasir untuk membayar.


Saat membuka pintu mini market ia tercenung, “Mas Danang?”


***


Danang


Ia mencoba melacak GPS mobil gadis itu. Tapi alangkah kagetnya, bahwa posisi mobil tersebut di area apartemen ini. Tepatnya di lantai 1 depan mini market.


Dengan jurus langkah seribu ia tergopoh-gopoh menuju mini market. Benar saja mobil berjenis hatchback berwarna merah marun itu terparkir tepat di depan mini market. Ia berusaha mengetuk kaca jendela. Sebab penampakan dari luar jelas tak dapat menembus situasi di dalam. Namun tak ada respons.


Ia putuskan berbalik badan. Dengan tujuan mini market. Namun ia tercenung saat sosok gadis yang dikhawatirkannya  keluar dari balik pintu mini market membawa 2 kantong eco bag berwarna merah.


“Mas Danang?”


Ia rengkuh gadis itu dalam dekapannya. Mengecup puncak kepalanya.


“Kamu dari mana saja?” Kalimat yang pertama keluar dari mulutnya, “aku khawatir ... ponselmu gak aktif,” lanjutnya.


“Aku ....”


“Bukannya Mas Danang safari Ramadan?” Kilah gadis itu.


Jeda sesaat.


Ia menatap penuh manik mata Kirei.


“Kita pulang,” tukasnya. Meraih eco bag lalu menggandeng tangan gadis itu.


Tiba di unit mereka. Kirei lebih banyak diam. Menata barang belanjaan di kitchen set dan kulkas. Ia memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu.


“Aku mandi dulu, ya, Mas ....” Pamit Kirei setelah membereskan barang belanjaannya.


Pun setelah mandi gadis itu tak bersuara. Dalam keterdiaman yang justru membuatnya penasaran. Kirei merebahkan tubuhnya lalu bersiap untuk tidur.


Ia juga lekas mandi. Mengguyur kepalanya dengan air shower mungkin bisa mendinginkan pikirannya. Tak lama menyusul istrinya yang tidur membelakanginya.


“Kamu kenapa?” Tanyanya lirih. Tangannya melingkar di pinggang gadis itu.


“Kenapa ponsel kamu gak aktif?” Imbuhnya. Ia sangat yakin Kirei belum tidur. Hanya menghindarinya.


Tapi gadis itu bergeming.


“Baiklah ... mungkin kamu cape. Istirahatlah.”


“Good night ... sleep tight." Ia mengecup rambut gadis itu.


Menarik selimut menutupi gadis itu hingga sampai bahunya. Lalu ia tidur di sebelahnya.


-


-


Catatan :


Cerita Gubernur Ndaru Ayodia di novel MY GOVERNOR karya Sheisugly.


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan....ya! 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2