Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
50. Deeply Brokenhearted


__ADS_3

...50. Deeply Brokenhearted...


Kirei


Perjalanan ke Surabaya yang memakan waktu sekitar 3,5 jam serasa cepat. Mereka mengisinya dengan bernyanyi bersama. Mengobrol hal-hal yang selama ini tak pernah mereka tahu dari kehidupan masing-masing. Dan tentunya merancang masa depan untuk berdua.


Ah, masa depan?


Ya, laki-laki itu telah membeli sebuah rumah untuk tempat tinggal mereka.


“Kenapa Mas Danang gak kompromi dulu?” Tanyanya. Membeli sebuah rumah bukan seperti membeli kacang rebus bukan? Atau seperti membeli kwaci.


“Baru setengah jadi. Pasti kamu suka.” Tebak laki-laki itu yakin.


“Nanti kamu yang pilih furnitur dan warnanya.”


“Are you sure ... Mr. Danang?” Ia menelengkan kepalanya ke arah laki-laki itu.


“Sure ... Mrs. Danang.”


Mereka saling menatap dan melempar senyuman.


Tiba di kediaman mama, keduanya disambut antusias.


“Ma,” ia mencium punggung tangannya lalu menghambur ke pelukan mama. Kemudian bergantian mencium punggung tangan papa.


“Papa sehat?” Tanyanya.


“Sehat, alhamdulillah ....” Papa tersenyum padanya.


Lalu bersalaman dengan Aksa. Tak lupa menyapa dan berjabat tangan dengan Bi Darmi, Jum, penjaga gerbang Cak Santo serta Cak Abdul yang merangkap tukang kebun.


Setelah melepas rindu, mereka langsung digiring ke meja makan. Menikmati makan siang bersama dengan sajian masih suasana lebaran.


“Kamu kayaknya pucat, Rei? Lagi sakit?” Tanya mama ketika mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga.


“Gak, Ma.”


“Mabuk kendaraan mungkin, Ma.” Danang menimpali.


“Kemarin sempat muntah, ya, kan ... Sayang?”


Mama terlihat mengerutkan alis.


“Coba cek—”


Danang keburu memotong, “Gak mau periksa ke dokter. Katanya cuma masuk angin.”


Mama urung melanjutkan kalimatnya.


“Mau dipanggilin dokter?” Jurus mama memberikan pertanyaan lain, “Dokter keluarga ... rumahnya dekat sini juga,” imbuh mama.


“Nanti aja, Ma. Rei, gak pa-pa. Udah sehat.”


**


Mama


“Nang, apa gak sebaiknya kamu periksakan Kirei ke dokter?” Ia mengenyakkan tubuhnya di samping Danang. Malam itu, Kirei pamit tidur terlebih dahulu.


“Yes!” pekik Aksa. Dengan mengepalkan tangannya kuat ke udara. Sedetik kemudian  tangannya sudah sibuk memencet tombol stik.


“Oh ... damn it!” seru Aksa.


“Hush ... Aksaa! Ora ilok.” semburnya. Anak ini kalau sudah main PS sudah tidak bisa mengerem mulutnya.


“Mama curiga ... Kirei,”


“Yes ... yes ... yes!” Aksa berseru puas untuk kesekian kali menjatuhkan lawan main.


Ia menggelengkan kepalanya melihat reaksi Aksa.


“Gak pa-pa, Ma. Kalo besok gak sembuh, aku bawa ke dokter.” Mata Danang tetap awas melihat layar televisi datar di depannya. Tapi juga masih mendengarnya berbicara.


“Bukan gitu, Nang. Mama khawatir istri kamu hamil.”


Mendadak ia terpaku. Tangan yang menggenggam stik tak bergerak sama sekali.


Momen itu dimanfaatkan Aksa dan, “Goooooollllllll!” Teriak Aksa puas sambil berdiri.


Justru Danang menelan ludahnya, tak menghiraukan Aksa yang senang bukan kepalang sebab tim sepak bolanya menang. Tapi, sepersekian detik kesadarannya pulang.


“Bentar, ya, Ma.” Tandas Danang, melempar stik PS begitu saja di meja. Bergegas meninggalkannya dengan sedikit berlari.


Lagi, ia menggelengkan kepalanya. Heran dengan anak pertamanya yang kurang peka.


***


Danang


“Sayang ....” Suaranya menggema bersamaan pintu kamar yang terbuka.


Tapi seketika kicep melihat istrinya tertidur pulas. Ia perlahan mendekati tubuh istrinya yang bergelung di bawah selimut.


Bibirnya menyunggingkan senyuman.


“Apa aku akan menjadi seorang ayah?” Gumamnya ketika sudah duduk di tepi ranjang. Menyibak surai yang menutupi kening istrinya. Seingatnya sebelum puasa istrinya itu datang bulan. Lantas ini .... sudah melewati satu bulan.


Hatinya membuncah bangga sekaligus bahagia.


Beberapa hari ini memang istrinya berbeda. Dan semakin cantik.


“Sayang ....” Ia mengusap pipi Kirei dengan lembut, “terima kasih,” rasa bahagia melingkupinya. Meski belum ada kepastian. Tapi perasaannya mengatakan bahwa istrinya sedang mengandung anaknya.


Gadis itu menggeliat kecil tapi dengan mata terpejam.

__ADS_1


Ia merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri. Mencium kepalanya, lalu keningnya.


“I love you ....” Lalu merengkuhnya dalam dekapannya.


**


Kirei


“Mas sini aku pakein,” ia sudah meraih kemeja batik dari tangan laki-laki itu. Pagi ini semua keluarga besar Jaya akan menghadiri pertunangan anak kedua Pakde Imam. Mengenakan baju batik keluarga khusus rancangan butik langganan mama.


Memakaikan kemeja pada tubuh kokoh sang suami lalu mengancingkannya satu persatu.


Laki-laki itu memandanginya tanpa berkedip. Kedua tangannya melingkari pinggangnya.


“Mas ... kalo kayak gini gak bakalan selesai pakai kemejanya.” Sungutnya. Tubuhnya dan tubuh Danang begitu lekat.


“Tapi aku suka,” dalih laki-laki itu.


Mereka saling bertatapan. Ia mengusap dada suaminya. “Mas Danang ganjen ....” Tukasnya.


Laki-laki itu justru terkekeh. “Aku ingin seperti ini sebentar. Memandangi wajah istriku sendiri. Kamu cantik.”


“Habis dari acara Pakde Imam kita ke dokter, ya!” Imbuh Danang.


Ia tersenyum. Meski beberapa kali laki-laki itu memujanya tetap saja membuatnya tersipu dan merona. Tangannya kini menjeremba bahu Danang. Dengan mata masih saling tatap. Seolah terkunci percikkan api asmara yang membuat keduanya panas seketika.


Tanpa sadar jarak mereka kian dekat nan melekat. Laki-laki itu menundukkan kepalanya dalam. Demi menekuri setiap inci wajahnya. Hingga kedua hidung mereka menempel sempurna.


Ia memejamkan matanya. Merasai limpahan cinta untuknya.


Menautkan kedua bibir yang tanpa sadar sudah membawanya semakin memperdalam. Berbagi rasa, cinta, dan segenap kata-kata yang tak bisa terungkap. Hanya dengan inilah mereka merasa saling mencintai, saling merasa memiliki.


“Mas ....”Ucapnya ketika laki-laki itu melepas pertautan bibir mereka. Memberi kesempatan untuk keduanya menghirup oksigen.


Napas mereka memburu.


“Makeup-ku ....” Ia teringat. Pasti makeup-nya sudah hancur berantakan.


Laki-laki itu menyeringai. Menarik tengkuknya.


“Hah?!” Ia terkesiap.


Mas Danang menyergap bibirnya lagi.


Tok ... tok ... tok


“Mas ... ditunggu Mama sama Papa di bawah!” seru Aksa dari luar.


Mobil mereka tiba di rumah besar dengan pilar-pilar tinggi menjulang yang tak lain adalah kediaman pakde Imam. Rumah sudah dihias cantik dan mewah.


Mama memperkenalkan anak-anak  Pakde Imam yang kesemuanya perempuan. Anak pertama Ganisha. Sudah menikah dan punya dua orang anak. Ia pernah berkenalan dengan Ganisha sewaktu acara tasyakuran pernikahannya di rumah mama. Anak nomor 2, Gayatri yang akan bertunangan beberapa jam lagi. Lalu anak ke-3 Gemala yang masih menempuh pendidikan sarjana di Australia.


Anak-anak Om Ito juga datang. Dua orang laki-laki seumuran dirinya dan Gemala.


Sementara para laki-laki berkumpul di ruang tamu. Para wanita di ruang keluarga yang luasnya mungkin tiga kali lipat ruang keluarga rumah mama.


“Ya ... Mbak,” sahutnya sambil tersenyum kecil.


Lalu ia mengobrol dengan Gemala.


“Mala semester berapa?” Tanyanya sedikit bergeser duduknya mendekati Gemala.


“Semester 5, Mbak.”


“Ambil jurusan apa?”


“Anthropologhy-Monash University.”


“Hebat,” ia mengacungi jempol. “Banyak mempelajari tentang kebudayaanlah, ya? Udah berencana penelitian di mana?” Tanyanya. Ia merasa cocok dengan Mala. Anaknya asyik diajak bicara.


“Biasa aja sih, Mbak. Justru rencana di sini-sini aja penelitiannya. Karena ternyata kebudayaan Indonesia tuh gak ada matinya. Orang-orang sok banget ke luar negeri mengeksplorasi negara orang. Padahal ... negara sendiri punya berjuta keindahan tempat dan budaya.”


Ia manggut-manggut setuju dengan pendapat Gemala.


Obrolan itu pun mengalir begitu saja. Hingga menceritakan kehidupan selama masa perkuliahan di Australia. Ia antusias mendengarnya. Bahkan dulu melanjutkan program pasca sarjana di luar negeri sudah ada di list mimpinya.


Hingga akhirnya ia pamit ke taman belakang, mencari udara segar. Di sana terdapat kolam renang dan taman yang ditata sedemikian rupa. Bahkan ada playground untuk bermain cucu-cucunya pakde Imam.


Ia melihat anak Mbak Ganisha yang berumur 5 tahun sedang menggapai-gapai balon yang jatuh di kolam renang.


“Siren ....” Panggilnya, “bentar, Tante ambilin, ya.”


Anak perempuan gembul dan menggemaskan itu mengangguk.


Ia mencari-cari  tongkat leaf skimmer yang biasa untuk membersihkan kolam renang dari kotoran dedaunan dan sebagainya. Sebab balon yang posisinya semakin ke tengah membuatnya kepayahan menggapai.


Saat menemukan benda tersebut di sudut taman ia bergegas mengambilnya dan menyerok balon bergambar Elsa dan Hana favorit Siren.


“Ini,” ia menyodorkan balon itu pada Siren sambil tersenyum.


“Makasih Tante cantik.” Balas Siren seraya menerima balon itu. Kemudian bergegas pergi meninggalkannya.


Ia masih mengembangkan senyum, ketika Siren yang menggemaskan itu sudah menghilang di balik pintu. Lalu baru teringat jika harus mengembalikan tongkat leaf skimmer tersebut pada tempatnya lagi.


Saat ia menyimpan benda itu di pojok taman, ia sengaja berjalan mendekati bunga cepiring yang ditanam di bawah jendela. Wanginya menguar menarik indra penciumannya untuk menghidunya. Benar-benar membuatnya rileks dan segar.


Matanya memejam. Merasai seluruh keharuman. Tapi justru tanpa sengaja ia mendengar beberapa orang yang sedang berbicara dari dalam ruangan sebab jendela yang terbuka


“Bagaimana dengan menantumu? Bukankah dia anak Demas Prasetyo?”


“Justru aku bersyukur dia menjadi menantuku. Paling tidak mengurangi rasa bersalahku atas kematiannya.”


DEG.


Ia membeku seketika.

__ADS_1


Dahinya mengerut. Refleks membungkam mulutnya. Menggelengkan kepala tak percaya atas apa yang baru saja didengarnya. Jelas sungguh sangat jelas itu suara siapa.


Dengan langkah memburu. Ia bergegas meninggalkan taman belakang. Tujuannya hanya satu pergi dari rumah itu sejauh-jauhnya.


Menyambar clutch bag-nya di atas meja. Membuka mobilnya dari kejauhan dengan remote. Karena ia tak bisa berpikir lagi di mana letak mobil itu terparkir saking banyaknya mobil di sana.


Dengan dada bergemuruh. Langkah memburu. Pikiran yang carut marut. Ia masuk ke dalam mobil yang terparkir paling ujung dekat pintu gerbang. Bersyukur posisi mobil memudahkannya untuk segera keluar.


"Mbak ...." Sapa security kepadanya. Tersenyum lalu menundukkan kepalanya saat mobil keluar gerbang.


Ia tak tahu mengarahkan mobil ke mana. Meski awan mendung terlihat menggantung di langit. Ia hanya mengikuti nalurinya.


“Justru aku bersyukur dia menjadi menantuku. Paling tidak mengurangi rasa bersalahku atas kematiannya.”


“Justru aku bersyukur dia menjadi menantuku. Paling tidak mengurangi rasa bersalahku atas kematiannya.”


“Justru aku bersyukur dia menjadi menantuku. Paling tidak mengurangi rasa bersalahku atas kematiannya.”


Kalimat itu terus berputar-putar di otaknya. Dadanya terus bergemuruh hebat. Membuatnya memukul setir kemudi, lalu mencengkeramnya dengan kuat.


**


Danang


Ia mencari-cari keberadaan istrinya di seluruh penjuru ruangan namun nihil.


“Mas Danang nyari siapa?” Tanya Gemala saat mereka berpapasan.


“Kirei.”


“Oo ... tadi katanya mau ke teras belakang. Mungkin masih di sana, Mas.”


Bergegas ia menuju teras belakang. Namun lagi dan lagi nihil. Tak ada siapa pun di sana.


Ia berusaha menghubungi ponselnya. Tapi nada sambung selalu sibuk.


***


Kirei


“Halo, Bang ....” Tangan kirinya memegang ponsel. Sementara tangan kanan mengendalikan kemudi setir.


“Ya, Rei.” Sahut suara dari ujung telepon.


“Abang tahu, kan siapa jenderal di balik kematian ayahku?” Tanyanya berulang kali dengan menelan ludahnya.


“Kenapa, Rei?”


“Bang ... kumohon ....”


Hening sejenak.


“Rei ....”


“Please .... aku mohon,” matanya sudah berkaca-kaca. Dadanya sudah sangat sesak. Ia tak akan sanggup mendengar jika praduganya akan mengacu 1 nama yang sama.


“Please ....” Suaranya lirih dan tercekat. Berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.


Jeda sesaat.


“Please ....” Sekali lagi ia memohon. Sebab tak ada suara dari seberang.


“Jendral ... Tarman Fauzi.”


Seketika kilat dan gemuruh menyambar. Bersamaan ponselnya yang jatuh dari genggaman. Pun disusul dengan hujan turun dari langit begitu derasnya. Inikah jawabannya?


Ia mengerem mendadak mobilnya di tengah jalan. Hatinya sungguh hancur dan sakit. Ia benci kenyataan ini. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan yang meluluh lantakkan hidupnya. Ia membecinya! Sungguh ia sangat membencinya!


Bagaimana mungkin?


Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa ia menikah dengan seorang anak dari pembunuh ayahnya. Tidak! Ia menggeleng kuat. Lalu membenamkan wajahnya pada setir kemudi. Berharap ini semua adalah mimpi. Ini semua halusinasi.


TIN ... TIN ... TIIIIIIIINNNNN.


BRAK!!


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan....🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2