
...15. The Unknowable...
Kirei
Hari Pers Nasional sekaligus hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) diselenggarakan di balai pertemuan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Dihadiri oleh ratusan wartawan seluruh Indonesia yang tergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia. Termasuk Kirei yang mewakili TVS.
Seharusnya ia dan Aldi yang hadir, namun bertepatan dengan hari pertunangannya dengan kekasihnya, akhirnya ia sendiri yang mewakili dari TVS.
Pertunangan?
Apakah ia harus bahagia atau sedih? Bahagia sebab atasannya itu pasti juga bahagia yang akan menular ke semua orang. Atau sedih karena dua makhluk menyebalkan itu akan bersatu dan entah ke depan akan seperti apa?
Lebih kejam? Lebih pedas kalau bicara seperti cabai setan sambal bawang kesukaannya, atau .... Ah, gadis itu tersenyum mengingat Aldi dengan segala hal yang membuatnya kesal, emosi dan terkadang baik.
Acara sudah berjalan di pertengahan. Setelah sebelumnya Bapak Presiden RI memberikan kata sambutan. Kini menginjak acara ramah-tamah.
Sore harinya ia mampir ke galery art yang berada di ruangan sebelah masih di gedung yang sama. Di sana terdapat berbagai foto sejarah yang menceritakan perjalanan terbentuknya pers di Indonesia dan sejarah dibentuknya organisasi PWI.
Berbagai jepretan hasil jurnalis yang masuk dalam journalist award setiap tahun juga di pajang di sana.
Seketika tubuhnya membeku dan terpaku saat tepat matanya menangkap sebuah foto dengan tulisan,
...‘Solidaritas Wartawan untuk Demas’...
Lalu di sebelahnya terpampang sepuluh deret nama kasus pembunuhan wartawan, dengan nama ‘Demas Prasetyo’ berada di urutan pertama.
Matanya memanas, cairan bening yang mengumpul di kelopak matanya seketika luruh. Dadanya bergemuruh. Bagai tertajam pisau belati pada dadanya, begitu perih, nyeri sampai berkedut, dan sesak.
“Kamu kenal dengan Demas?” tanya seseorang yang berdiri di sampingnya.
Namun ia masih bergeming.
Entah sejak kapan seseorang itu berada di sampingnya dan sejak kapan memperhatikan dirinya.
“Kasus Demas adalah kasus pembunuhan yang paling lama belum terungkap” lanjutnya lagi.
“Aku kira, kamu punya hubungan emosional dengan Demas?”
Ia akhirnya menoleh ke samping, demi melihat seseorang yang mengajaknya berbicara dan itu membahas tentang kematian orang yang paling berharga dalam hidupnya. Dialah ayahnya Demas Prasetyo.
“Kenalkan, saya Laira.” Ucapnya mengulurkan tangan saat ia tepat menoleh pada laki-laki itu.
Tersenyum kecil ia membalas, “Kirei,” sembari menyambut uluran tangannya.
“Kamu dari TVS?” tanya Laira, namun tak dijawabnya. Jelas dalam name tag yang menggantung di lehernya ada namanya dan asal media. Itu sudah sangat jelas menerangkan identitasnya.
“Kamu tahu tentang kematian Demas?” tanyanya antusias. Pandangannya kembali menatap foto itu.
“Sedikit. Tapi yang jelas kasusnya the unknowable ....”
Alisnya mengkerut. The unknowable?
Seingatnya waktu itu ia berumur 10 tahun saat ayahnya meninggal setelah tiga hari di rawat di Rumah Sakit.
Memang sebab meninggalnya karena penganiayaan kasus perampokan yang ia dengar. Dan orang yang menganiaya ayah sudah di penjara, kasusnya selesai. Ia masih belum mengerti!
“Kamu gak akan nemui kasus pembunuhan Demas ini di mana pun. Media seolah di bungkam, karena kasus dianggap selesai sebab tersangka sudah ditangkap dan di penjara. Tapi itu semua demi menutupi dalang besar di balik kasusnya,” kata Laira dengan menatap foto di depannya.
__ADS_1
“Tapi Demas adalah satu dari sepuluh wartawan yang hingga saat ini belum jelas sebab kematiannya. Semoga tidak ada lagi Demas-Demas lain yang bernasib sama.” Pungkas Laira dengan berlalu meninggalkannya yang masih terpaku.
Malam harinya saat acara gala dinner di tempat yang sama ia bertemu lagi dengan Laira. Laki-laki berambut ikal itu ternyata anggota dewan pers.
Sempat mengobrol sebentar, lalu bertukar nomor ponsel.
“Boleh aku minta artikel atau file tentang kematian Demas,” ucapnya disela-sela acara gala dinner yang hampir usai.
Laki-laki itu mengangguk, “Boleh saja, kirimkan alamatnya ke ponselku.”
**
Agak ragu ia membuka amplop cokelat tersebut yang baru diterima saat tiba di apartemen. Dirogohnya beberapa lembaran kertas yang sepertinya telah usang karna warna kertas yang memudar. Artikel yang di muat dalam koran lama dan majalah yang sekarang sudah tidak beredar.
...‘Wartawan senior Demas Prasetyo dibunuh karena berita’...
Seketika mulutnya menganga, ia bungkam dengan telapak tangannya. Tubuhnya lunglai, lemas tak berdaya dan tak mampu menyokong. Ambruk. Kertas yang ia pegang jatuh berhamburan di lantai.
Dengan gerakan cepat dan tergesa ia meraih ponsel yang masih tersimpan dalam tas selempangnya.
Jari-jarinya bergetar saat menekan nama seseorang di daftar kontak. Suara dari seberang menyahut.
“Hallo ....”
“Rei, kenapa Rei?”
“Kakak masih lembur di kantor.”
Ia masih dalam keterdiamannya.
Hening menjeda.
“K-Kak ....” Dengan suara gemetar dan terbata.
“Ya, kenapa Rei? Kamu sakit?”
“A-apa benar ... A-ayah meninggal karena di-dibunuh?”
Hening.
Hening.
Hening.
Cukup lama keheningan membentang antara keduanya.
“Kamu tahu dari mana, Rei?”
“Jawab Kak! Apa benar?!” Desaknya penuh emosi.
“Kakak tidak bisa menjelaskan secara detail lewat telepon. Sebaiknya kita bertemu kalo mau membahas itu.”
“Apa benar, Kak?” desaknya lagi dengan tatapan nanar.
Terdengar helaan napas berat di ujung sana, “Ya,”
Sambungan telepon terputus.
Air matanya bergulir membasahi pipi. Kemarahan dan kekecewaan melingkupi dirinya. Selama empat belas tahun ia bagai manusia bodoh menerima penjelasan begitu saja bahwa ayahnya meninggal karena perampokan dan kasus itu selesai. Tapi kenyataan yang baru saja diterimanya berbeda. Lalu di mana keadilan selama ini untuknya dan keluarganya?
__ADS_1
Pun dengan sang bunda dan kakaknya yang tidak pernah menyinggung sebab kematian ayah. Mungkin saat meninggalnya ayah ia masih berumur 10 tahun, belum tahu apa-apa. Tapi selama ini ia merasa dibodohi.
Ponselnya bergetar dan meraung-raung namun ia abaikan. Nama ‘my brother’ beberapa kali muncul di sana.
Tak berselang lama beberapa kali bunyi notifikasi tetap tak diindahkannya.
Ia begitu lelah. Kenyataan yang dihadapinya membuatnya kecewa. Entah kecewa pada dirinya sendiri atau kecewa dengan orang-orang yang selama ini menyembunyikan kebenaran atau kecewa dengan orang-orang yang membuat ayahnya meninggal dengan tragis.
Tubuhnya berbaring meringkuk sambil mendekap foto ayah yang sedang menunggang kuda bersamanya 14 tahun yang lalu. Air matanya tak juga kunjung berhenti justru semakin deras berderai hingga ia terisak hebat.
Maafkan Kirei, Yah. Baru sekarang Kirei mengetahui kebenaran ini. Kirei janji akan menuntut keadilan untuk ayah. Ucapnya dalam hati.
***
Kenichi
Hatinya tak tenang setelah sang adik meneleponnya tiba-tiba. Beberapa kali ia meraup wajahnya kasar. Menyugar surai hitamnya hingga acak-acakan.
Ia menghela napas kasar, setelah beberapa kali mencoba menelepon balik dan mengirim pesan tak juga dibalas. Khawatir. Takut. Cemas. Perasaannya dan pikirannya berkecamuk.
Adalah hari ini yang ia takutkan. Selama beberapa tahun ia sembunyikan dan tutup rapat akhirnya terkuak juga. Ia dan sang bunda sudah ikhlas. Sudah berusaha melupakan kejadian itu dan menata kehidupan baru. Tapi mengapa justru sang adik harus mengetahui pada akhirnya?
Meski ia tahu betul, profesi sang adik sebagai jurnalis berpeluang besar untuk cepat mengetahui sebab kematian ayahnya.
Pasti dia kecewa dan marah padanya. Karena sebagai kakak ia justru menyembunyikan, dan dia mengetahui dari orang lain.
“Maafkan Kakak, Rei.” Gumamnya dengan raut wajah sesal.
Seribu alasan yang ia teguhkan selama ini justru menjadi boomerang untuknya sendiri.
-
-
Terima kasih ya sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ....ya! 🙏
__ADS_1